Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Hal yang luar biasa



Loly dan Marsen di buat shock dengan keadaan ruangan Jesslyn yang terlihat seperti kapal pecah, banyak sekali barang-barang berserakan di lantai akibat kekesalan Jesslyn tadi pada Jamie yang membuat mereka salah paham.


"Jes, are you oke? maaf karena aku tidak menemani mu kemarin." Ucap Loly dengan memeluk Jesslyn yang terlihat kalang kabut.


"Benar Jes, aku pikir kau tidak akan seperti ini..." Sambung Marsen.


"Aku baik-baik saja, kalian hanya salah paham. Aku, aku terlalu senang! ia senang, aku akan bekerja di perusahaan...." Ucap Jesslyn dengan cepat.


"Perusahaan? kau mau bekerja perusahaan mana?" Tanya Marsen penasaran.


"Perusahaan milik keluarga Domenic." Balas Jesslyn dengan tersenyum canggung.


"Kau yakin bekerja di perusahaan asing itu?" Tanya Loly dengan tak percaya.


"Iya, aku harus segera ke sana. Maafkan aku, aku akan menemui kalian setelah selesai nanti.." Jelas Jesslyn.


"Baiklah, kami menunggu kabar baik dari mu." Senyum Loly.


"Oh iya, aku membuat red Velvet untuk kalian. Selamat mencoba..." Jesslyn memberikan dua kotak kue pada mereka berdua yang terlihat senang.


"Terimakasih, aku yakin ini pasti sangat enak." Kompak mereka berdua.


"Jika tidak enak, aku harap kau tetap memakan nya hingga habis." Senyum Jesslyn.


"Ya, ya aku tahu." Angguk mereka.


Setelah mengantarkan mereka keluar dari apartemen nya, baru Jesslyn kembali ke kamarnya dengan cepat. Dia tidak menemukan sosok Jamie di sana, apakah Jamie hilang?


"Jamie? tuan Jamie?" Panggil Jesslyn dengan melihat ke sana kemari, hingga akhirnya Jesslyn masuk kedalam kamar mandi. Di sana dia melihat Jamie yang sedang mandi dengan tubuh polos?


"AKHHHHHHHHHHHHH....." Jesslyn menutup pintunya dengan kencang dan segera keluar dari kamarnya, dia terlihat bergetar karena terkejut dan takut. Dia melihat dengan jelas bentuk tubuh Jamie yang begitu sempurna, ada tato lain di atas dada kanannya, di pinggang nya juga, dan..... Jesslyn juga melihat sesuatu yang menggelantung di bawa perutnya.


Wajahnya memerah, tangannya terasa dingin. Dia segera meminum airnya hingga habis, namun dia masih merasa panas. Ada apa dengan dirinya?


Apakah laki-laki itu gila? kenapa dia mandi sembarangan? Jesslyn lupa bahwa laki-laki itu memang gila! tidak, bahkan sangat gila melebihi orang gila sekalipun!


"Aku belum mandi, aku pikir kau akan lama di luar." Ucap Jamie yang keluar dan hanya memakai handuknya saja yang melingkar di pinggang nya.


Tunggu sebentar....


"Jamieeeeeee!!! bisakah kau bersikap dan waras sedikit? kau, kau menggunakan handuk ku juga?" Marah dan kesal Jesslyn.


"Oh ini, aku melihatnya di kamar mandi. Baju ku basah karena kau berteriak tadi sehingga membuat dinding bergetar yang menyebabkan pakaian ku berjatuhan." Jelas nya dengan enteng.


"....." Jesslyn sendiri hanya menatapnya datar, apa-apaan itu? sejak kapan dinding bisa bergetar karena suaranya?


Jamie memilih untuk berjalan-jalan ke arah dapur Jesslyn dengan tampang yang sangat membuat Jesslyn ingin sekali membenturkan kepalanya ke closed!


Bahkan, Jamie terlihat di rumah nya sendiri dengan melihat-lihat isi kulkas Jesslyn dan memakan buah-buahan yang sudah tersedia di atas meja.


"Kenapa tidak ada pisang? aku suka pisang." Tanya nya pada Jesslyn yang terus menatapnya dengan mata yang menyalang, seperti seekor elang yang sedang memperhatikan mangsanya.


"Aku hanya bercanda, tapi itu memang benar jika aku suka pisang." Balas Jamie dengan bersiap-siap untuk lari, karena dia melihat tangan Jesslyn yang sedang bersiap-siap untuk memukulnya itu.


"JAMIE SIALAN! MATI KAU BODOH!" Marah nya dengan berlari kencang hingga membuat Jamie langsung lari terbirit-birit, dia terlihat menyukai ekspresi Jesslyn yang begitu emosi sekarang.


Tok tok tok tok tok


Mereka tidak mendengar suara ketukan pintu itu padahal sudah berkali-kali berbunyi, karena pintu tidak terkunci bekas mengantarkan Loly dan Marsen tadi, seseorang langsung membuka pintu apartemen Jesslyn dan diam mematung saat melihat tuannya yang sedang berlarian.


Tiba-tiba saja langkah Jesslyn terhenti dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka lebar, tubuhnya diam mematung dan tidak bisa berkutik. Jamie yang melihat menjadi heran, apakah Jesslyn terkena struk? setahu nya Jesslyn tidak memiliki riwayat penyakit itu.


"T-tuan, handuk mu...." Ucap seseorang yang tengah mematung di depan pintu dengan tersenyum canggung pada Jamie yang langsung melotot kan matanya, dia melihat di mana letak handuknya itu dan ternyata tersangkut di ujung meja.


Pantas saja Jesslyn diam mematung, mungkin ini pertama kalinya Jesslyn melihat bentuk laki-laki yang selalu tertutup itu.


"Aku benar-benar tidak sadar, aku..." Jamie menyentuh Jesslyn yang langsung tersentak saat itu, dengan wajah yang memerah Jesslyn memukuli tubuh Jamie, kenapa dia begitu sial?


"Bodoh! sialan! mesum!! tidak tahu malu!! enyah kau!!!" Marah Jesslyn dengan terus memukuli Jamie yang jatuh di atas sofa dengan Jesslyn yang ada di atas tubuh nya.


"Ughhh..." Jamie melenguh saat lutut Jesslyn mengenai selengkangan nya, hal itu membuat Jesslyn terdiam sebelum akhirnya sadar dengan posisi nya yang sedang tidak baik-baik saja ini.


Saat Jesslyn hendak bangkit dari tempatnya, Jamie justru menarik pinggangnya hingga tubuh Jesslyn maju menghantam tubuhnya. Wajah mereka berdekatan, bahkan tubuh bagian depan mereka saling menempel.


"Kau menginginkan ku?" Tanya Jamie dengan berbisik di telinga Jesslyn, salah satu tangannya ia gunakan untuk mengelus paha Jesslyn yang ada di samping paha nya. Posisi Jesslyn saat ini adalah duduk mengangkang di hadapan Jamie dengan tubuh yang saling berdempetan, bisa Jesslyn rasakan sesuatu yang menonjol di balik handuk tersebut.


Tubuh Jesslyn bergetar karena merasa tak aman, ini pertama kalinya dia berdekatan seperti ini dengan laki-laki. Dia belum pernah berpacaran dan melakukan sesuatu hal yang aneh, bahkan ciuman pun dia tidak pernah.


"T-tuan, nona... Saya letakan pakaiannya disini, saya akan menunggu di bawah." Celetuk seseorang yang membuat mereka langsung menatap ke arah bawahan Jamie yang sedang menutup pintu.


"Lanjut, lanjutkan saja jangan hiraukan aku hehe..." Ucap nya dengan tersenyum bodoh dan segera menutup nya.


"M-maaf, aku tidak sadar..." Ucap Jesslyn dengan menggaruk tengkuknya dan berdiri di hadapan Jamie yang ikut bangkit juga dari duduknya.


"Segeralah bersiap, aku akan membawa mu ke kantor sekarang." Balas Jamie dengan memalingkan wajahnya dan tidak berani untuk menatap Jesslyn yang hanya mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Jesslyn memegang dadanya yang terasa berdegup kencang. Ada apa dengan nya? kenapa dia seperti ini?