Trouble maker to my youth

Trouble maker to my youth
Harus terbiasa



Loly dan Marsen menatap Jesslyn yang duduk termenung, saat ini mereka berada di sebuah apartemen mewah yang menjadi rumah Jesslyn sekarang. Awalnya Jesslyn ingin pergi ke luar negeri namun di larang oleh Loly dan Marsen, mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa membiarkan Jesslyn sendirian dalam keadaan seperti ini kecuali jika keadaannya sudah membaik baru mereka akan mengizinkan nya.


"Aku baik-baik saja, kalian pulang saja..." Ucap Jesslyn dengan bangkit dari duduknya.


"Aku..."


"Kami akan pulang mungkin besok pagi Loly akan kemari." Ucap Marsen dengan menarik tangan Loly agar segera pulang, saat ini Jesslyn membutuhkan waktu sendiri.


"Hmm.." Angguk Jesslyn dengan tersenyum.


Melihat keduanya pulang, Jesslyn kembali ke dalam kamar nya. Dia mulai membereskan semua pakaian nya yang ia bawa dari kediaman Liam sebelumnya, itu pun hanya beberapa saja karena semua pakaian mewah nya di buang oleh Liam.


"Hhhh.... Anggap saja kemarin itu hanya mimpi buruk!!" Ucap Jesslyn dengan tersenyum lebar, dia mengikat rambutnya berantakan dan segera keluar dari apartemen itu. Jesslyn hanya memakai kaos putih kebesaran yang menutupi celana pendek hitam nya, rambut yang di ikat berantakan namun justru membuat nya terlihat semakin cantik, tak lupa sendal rumah nya.


Dia tidak peduli apakah penampilan nya ini benar atau tidak, yang jelas dia ingin membeli beberapa kebutuhan masakan dan juga beberapa bahan untuk membuat kue.


Dia ingin membuat kan kue untuk Loly dan Marsen juga, bagaimana pun mereka lah yang sudah membantu nya selama ini.


"BRUGHHH!!"


Jesslyn terkejut mendengar suara keras tersebut, dia segera memutar langkah nya yang baru saja menyebrangi jalan. Dia melihat sebuah mobil yang berhenti mendadak karena hampir menabrak sosok wanita paruh baya, dengan cepat dia segera membantu nya.


"Astaga, apa anda baik-baik saja nyonya?" Tanya Jesslyn dengan membantu dan membawa ke kursi yang ada di depan supermarket itu.


"Apakah dia tidak bisa melihat!! membuat mobil ku rusak saja!!" Marah seorang pengemudi itu dengan keluar dari dalam mobilnya.


"Maaf pak, anda bisa membawanya ke... Tunggu sebentar, ini dia... Ini bengkel langganan saya, katakan saja atas nama Jesslyn Theresa Tire.... Maksud nya Jesslyn Theresa putri." Jelas Jesslyn dengan memberikan kartu nama sebuah bengkel terkenal di sana yang sudah menjadi langganan nya.


"Cihh!!" Marah nya dengan merebut paksa kartu tersebut.


Melihat kepergian nya, Jesslyn tersenyum lega. Dia segera menghampiri wanita itu yang terlihat terluka di bagian siku dan lutut nya, sepertinya terkejut karena kejadian tadi yang membuat nya terjatuh.


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja?" Tanya Jesslyn dengan pelan.


"Saya baik-baik saja, terimakasih karena sudah membantu saya..." Balas wanita tersebut dengan ragu-ragu, di lihat dari wajah nya pun sama seperti nya yang bukan berasal dari negara ini.


"Tunggu sebentar, saya akan mengambil barang belanjaan saya dulu." Ucap Jesslyn dan pergi begitu saja, setelah beberapa saat dia kembali lagi dengan membawa beberapa kantung plastik besar.


"Nyonya, ini minum dulu..." Ucap Jesslyn dengan memberikan botol air mineral.


"Terimakasih.." Ucap nya dengan menerima pemberian Jesslyn.


"Sama-sama nyonya, di manakah rumah anda? saya bisa mengantarkan anda pulang tapi kita harus ke apartemen saya dulu." Ucap Jesslyn dengan menunjuk kamar apartemen nya yang berada di lantai atas.


"Baiklah, maaf sudah merepotkan mu lagi." Ucap nya dengan tersenyum.


"Bukan hal besar.." Balas nya dengan membantu nya untuk berjalan, beberapa penjaga yang melihat Jesslyn kesulitan membawa barang bawaan nya segera berlari untuk membantu, mereka sangat respect terhadap orang-orang di sekitarnya, Jesslyn menyukai hal itu.


Mereka berjalan hingga tiba di depan pintu apartemennya, setelah mengucapkan terimakasih dan memberikan beberapa tip untuk penjaga itu Jesslyn segera masuk dan membantu wanita itu untuk duduk di sofa.


Tak lupa Jesslyn juga mengambil obat P3K nya dan membantu untuk membersihkan luka nya agar tidak terinfeksi.


"Sepertinya nona sangat terampil mengobati luka seperti ini." Ucap wanita tersebut yang membuat Jesslyn tersenyum.


"Saya sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini, jadi... Saya selalu mengobati nya sendiri agar tidak merepotkan orang lain." Jelas Jesslyn dengan merapihkan kembali kotak obat tersebut.


"Ahh tidak, saya hanya kurang berhati-hati Nyonya." Elak Jesslyn namun bisa di lihat jelas oleh wanita setengah baya itu yang masih terlihat sangat cantik.


"Saya lapar, apakah ada makanan?" Tanya nya.


"Ahh saya baru pindah sore ini nyonya, tunggu sebentar saya akan masak. Niat nya saya emang mau memasak dan membuat kue hehe..." Cengir Jesslyn.


"Kau bisa memasak dan membuat kue?" Kaget nya, bukankah wanita sekarang jarang ada yang bisa membuat kue dan juga memasak?


"Bisa nyonya, tunggu sebentar... Apakah anda memiliki Alegri terhadap makanan?"


"Tidak ada.."


"Baiklah..."


Jesslyn segera membawa kantong yang berisi makanan tersebut ke dapur, Jesslyn segera mencuci semua sayur dan ikan beserta daging untuk di masukan ke dalam kulkas sebelum akhirnya mengambil bahan-bahan untuk ia masak sekarang.


Melihat ketelatenan nya, wanita tersebut tersenyum dan diam-diam memotret Jesslyn yang terlihat cantik dan seksi seperti seorang istri yang menyiapkan sarapan untuk suami nya.


"Apakah ada yang bisa aku bantu?" Tanya nya dengan berjalan mendekati Jesslyn.


"Tidak usah, nyonya duduk saja supaya tidak tambah sakit jika gerak." Tolak Jesslyn dengan cepat.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil." Balas nya dengan berdiri di samping Jesslyn yang hendak menolak namun segera di hentikan nya dengan mengambil alih sayuran yang di pegang nya.


"Aku sudah merepotkan mu, aku tidak mau lagi merepotkan mu. Ngomong-ngomong, siapa nama mu?" Tanya nya dengan menatap Jesslyn dari samping.


"Jesslyn nyonya.." Balas Jesslyn dengan tersenyum.


"Jesslyn? Aku akan memanggil mu Jessy, tidak apa-apa kan?"


"Ahh iya nyonya."


"Panggil mama Lita, aku tidak ingin kau berbicara formal seperti ini lagi kedepannya."


"Itu..." Gugup Jesslyn.


"Tidak apa-apa.."


"Baiklah.."


"Ngomong-ngomong, di mana keluarga mu? ap...


TAKKK!


Pisau yang di pegang Jesslyn sebelumnya langsung jatuh begitu saja saat mama Kita menanyakan hal tersebut, melihat itu mama Lita merasa tak enak.


"Maafkan mama, mama tidak seharusnya menanyakan hal pribadi seperti itu." Ucap nya dengan tak enak hati.


"Tidak apa-apa, itu adalah pertanyaan yang biasa. Papa ada di luar negeri dan sudah dua tahun ini belum bertemu lagi karena kesalahan aku sendiri, sedangkan mama? dia sudah pergi setelah melahirkan aku dulu." Jelas Jesslyn dengan tangan yang sibuk membersihkan ikan.


"Lalu suami mu?"