Three Lives, Three Worlds

Three Lives, Three Worlds
Bab 21.



"Lihat,bahkan yang mulia tak menoleh padanya,"Kata dewi dua.


"Ia,karena yang mulia telah sadar,yang mana yang lebih pantas untuknya," kata dewi satu.


Baihe yang mendengar itu sangat sedih,dia makin sedih saat mengetahui kalau Rong Bang tak membelanya,atau menghentikan para dewi itu bergosip,bahkan dia seakan membenarkan ucapan para dewi itu.


Baihe,merasa dia adalah sebuah masalah untuk Rong Bang dan anaknya.Jika dia tidak ada,anaknya akan tenang,karena tak akan ada yang merendahkannya lagi,begitu juga dengan Rong Bang.


Flash off.


Beberapa minggu,di saat dia belajar menghafal jalan menuju ke lubang Zhu Xian,saat itu juga dia menenangkan pikirannya,langkah apa yang akan dia ambil,dan tidak merugikan orang lain.Dan saat ini,dia memutuskan untuk melepas semuanya.Dia ingin kembali ke tempatnya.Karena,dia juga pernah mendengar kalau terjun ke lubang itu,kita akan kembali ke tempat asal kita.


Setelah merasa anaknya tertidur pulas,Baihe berjalan ke arah meja,dia mencari kuas dan tinta dengan cara meraba,setelah dapat,dia merobek kain bawah roknya.


Baihe berusaha menulis pesan untuk anak dan suaminya.Karena,jika berpamitan secara langsung,mereka pasti akan menahannya.Setelah lama berkutat dengan alat tulis,yang entah hasilnya bagai mana,yang terpenting bagi Baihe,cukup bisa di baca saja.Di lipanya kain itu dan di simpan di atas meja.Baihe lalu berganti pakaian.Setelah sekian lama dia berlatih,akhirnya,dia bisa melakukan seauatu yang simpel seperti mandi atau berpakaian,untuk warna,dia tidak ragu mengambil sembarang kain,karena warnanya sama,yaitu putih.


Setelahnya,dia mendekati anaknya,dia mencium keningnya,lalu berbisik.


"Baixu,walau kita terpisah,tapi ibu akan tetap menyayangimu,ibu sangat capek dengan perasaan inj,ingat,kau harus berpikir dengan bijak,gunakan akal sebelum bertindak,tersenyumlah walau sakit,agar orang menghormatimu,dan jagalah ayahmu,ibu yakin,ayahmu punya alasan kenapa sampai dia menjauhi kita.Jagalah kesehatanmu,makanlah yang teratur," nasihat Baihe,dengan airmata yang mengalir deras, "Baixu…Ibu pamit" Pamit Baihe,sangat berat rasanya dia meninggalkan anaknya,tapi dia berpikir ini demi kebaikannya.


Baihe beranjak dari sana,dia berjalan sambil meraba-raba,tiba di luar,dia bertemu dengan Chichi.


"Yang mulia,apa ada akan ke danau teratai lagi?" tanya Chichi.


"Hmm…oh ia Chichi,tolong jagalah Baixu untukku yah," pesan Baihe.


"Baik yang mulia,aku akan melindungi putri mahkota dengan nyawaku,yang mulia tenang saja," jawab Chichi,walau merasa aneh,tapi dia berusaha menepisnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu,Baixu lagi tidur di dalam," Lalu Baihe pergi,Chichi yang memandang punggung tuannya yang semakin menjauh,dia merasa kalau akan terjadi sesuatu,tapi dia menepisnya.


-----------


Di aula,Rong Bang menghadap pada kakek kaisar,dia ingi. menyampaiman sesuatu.


"Salam kakek," Hormat Rong Bang.


"Baingkitlah," kata kaisar, "ada apa!" lanjut kaisar.


"Aku ingin mengajukan kalau aku ingin mangangkai Baihe menjadi selirku," pinta Rong Bang,kenapa selir,karena,istri sah,sudah ada Ratu Liu Li.


"Apa,apa kau sudah tidak waras,apa kata para dewa nanti,kau ingin membuat kerajaan langit malu," hardik kaisar.


"Tapi kakek,aku harus menikahinya,karena cepat atau lambat,dia pasti akan mengandung," jawab Rong Bang.


"Apa?" kaisar sangat marah, "apa maksudmu,apa kau…" kaisar tidak melanjutkan,karena dia pasti tau apa yang sudah cucunya ini lakukan.Kaisar sangat marah,saking marahnya mukanya ikut memerah.


"Salam ayahanda," salam paman xue pada kaisar, "Rong Bang kau harus ikut denganku sekarang," kata Paman xue lagi.


"Ada apa!" tanya kaisar.


"Terjadi kegaduhan di kediaman teratai,Baixu tiba-tiba mengamuk," mendengar itu,Rong Bang langsung pergi menuju kediamannya,di ikuti kaisar dan paman Xue.


Dari kejauhan,Rong Bang,melihat pelayan mengejar Baixu yang berlari menuju danau teratai,bahkan sekarang sudah menuju ke lubang Zhu Xian,Mereka bertiga ikut menuju ke sana,setelah sampai,dia melihat Baixu meronta dari dekapan Chichi.


"Ada apa ini?" tanya kaisar,mereka yang ada di sana terkejud,mereka segera bersujud memberi salam,termaksud Chichi.


"Salam hormat hamba pada kaisar," salam hormat mereka semua.Baixu merasa kalau Chichi tidak terlalu memperhatikannya lagi,dengan cepat dia berlari ke arah lubang Zhu Xian,tanpa ragu dia pun ingin melompat.Rong Bang yang menyadarinya segera mengeluarkan kekuatannya,telat sedikit saja,Baixu pasti sudah masuk ke dalam lubang.


Kaisar,paman Xue,dan yang ada di situ sangat terkejud.Sedangkan Rong Bang yang berhasil meraih Baixu,diapun kembali ke tempat orang-orang berada.Karena terkejud,panik,cemas,emosi,takut bercampur menjai satu,Rong Bang tanpa sadar membentak Baixu.


"Apa yang kau lakukan,hah…,,tidakkah kau tau kalau Lubang Zhu Xian sangat berbahaya," bentak Rong Bang dengan suara yang keras,bahkan mukanya merah gelap,saking paniknya.


Baixu yang mendengar itu terkejut,dia pun menangis.


"Jawab aku Baixu,menangis tidak akan menyelesaikan masalah," kata Rong Bang dengan penu tekanan,sambil mencengkam kedua bahu Baixu.


"Rong Bang,pelankan suramu,kau akan menakutinya," paman Xue mencoba melerai,diapun memeluk Baixu yang sedang menangis.Setelah agak tenang Baixu menatap semua orang di sekitarnya,di saat tatapannya jatuh kepada kaisar dan Rong Bang.Melihat wajah mereka,Baixu mengepal tangannya kuat-kuat.


Karena kegaduhan itu,membuat para dewa dan dewi ikut melihat apa yang terjadi,walau dari jauh,tapi mereka bisa mendengar apa yangereka bicarakan.


"KALIAN,KALIAN ADALAH PEMBUNUH," kata Baixu sambil menunjuk kaisar dan Rong Bang bergantian,tanpa takut sedikit pun.


"Puas kalian sekarang,hah…" lanjut Baixu masi dengan keras.


"Apa maksudmu Baixu,jangan lancang,di mana kesopananmu" tegur kaisar


"Ha…ha…ha," tawa Baixu,orang yang mendengarnya sangat merinding.


"Anda menanyakan di mana kesopananku,yang mulia kaisar langit yang agung,cih," cemoh Baixu.


"Lalu aku ingin bertanya,apa kesalahan ibuku,apa hanya karena dia seorang duniawi kalian memandangnya sebelah mata,Begitu," tanya Baixu, " atau kalian merasa,kalian yang tertinggi sampai kalian tidak menganggapnya,hanya karena kau seorang Putra mahkota,dan kau seorang kaisar,begitu," kata Baixu sambil menunjuk kedua orang itu bergantian,dengan tangisnya yang sangat pilu,bahkan para dewa yang mendengarnya turut meneteskan air mata,marasakan sakit yang di alami oleh anak berusia empat tahun kurang sebulan lagi.


Baixu berjalah ke hadapan Rong Bang yang kebetulan sedang berlutut.


"Selamat yang mulia putra mahkota,kau talah berhasil mengusir ibuku,kau berhasil memisahkan aku dengan ibuku,kau berhasil merenggut nyawa ibuku,selamat,selamat," kata Baixu dengan tatapan mata seperti elang,bahkan aura membunuh keluar dari tubuhnya,seperti siap membunuh siapa saja yang ada di depannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rong Bang pada Chichi.Balum sempat Chichi menjawab,suara Baixu mengagetkannya,karena jawaban anak itu.


"Ibuku telah pergi,dengan melompat ke lubang itu," jawab Baixu dengan sangat pilu.