
Di lembah pohon persik, terlihat seorang gadis duduk di dahan pohon sambil meninum arak, vermentasi dari buah persik.Lalu dia di datangi oleh seseorang,sambil mendongak ke atas orang tersebut menegur gadis tersebut.
"Liu Li, tenyata kau bersembunyi disini," ujar Dewa Mu Lingyu.
"Apakah kau kabur lagi dari ayahmu? "
Liu Li menghelai nafas dan berkata, "Yah,mau bagai mana lagi, Dia selalu saja memarahiku,"jawab Liu Li.
"Dia akan selalu memarahimu,karena,yang Kau lakuka hanya bermain saja," ujar Mu Lingyu.
"Kemarilah aku akan membawamu ke suatu tempat" kata Mu Lingyu lagi.
"Kau mau membawaku ke mana, apakah tempatnya mengasikkan seperti di sini,apakah di sana ada arak juga? " tanya Liu Li.
Mu Lingyu tidak menjawab dan pergi dari sana, melihat Mu Lingyu pergi tanpa menjawabnya, Liu Li pun mengikutinya karena rasa pebasarannya. Mu Lingyu pun tau akan itu, Dia sengaja tidak menjawabnya agar Liu Li mengikutinya tanpa di paksa.
Sekarang sampailah mereka di kaki gunung, Melihat tujuan mereke,membuat Liu Li bingung.Akan tetapi, karena rasa penasarannya diapun terus mengikuti kemana Mu Lingyu melangkah,.Dan,sampailah mereka di depan gerban yang bertuliskan, PERGURUAN KUNLUN.
Sebelum masuk ke dalam, Mu Lingyu mengubah penampilan Liu Li menjadi berpenampilan laki-laki dan menyamarkan aura dewinya. Liu Li bingung tetapi dia enggan untuk bertanya.
--------
Sementara di dalam perguruan Kunlun itu sendiri, terlihat segerombolan pria sedang berusaha menangkap senjata yang di buat oleh gurunya. Tetapi, entah suda berapa lama, belum ada di antara mereka yang berhasil mendapatkannya, guru yang melihat itu hanya tersenyum melihat usaha mereka. Tetapi perhatian guru teralihkan di saat matanya menangkap sosok yang di kenalnya.
"Yo, Hua Rong, sudah lama sekali aku tak mengunjungimu," kata Mu Lingyu,sambil melihat para murit di situ,"sepertinya kau sangat sibuk! " guru Hua Rong hanya tersenyum saja.
Tiba-tiba senjata yang di perebutkan itu terbang ke arah Liu Li dan berheti tepat di hadapannya.Liu Li sangat bingung,senjata itu seakan-akan meminta liu Li untuk memilikinya.Liu Li pun meraihnya. Dan, hap, senjata itu sekarang telah berada di genggamannya. Liu Li melihat senjata itu,dia sangat takjup dengan ukiran yg terdapat di permukan pedang kecil itu. Yah, pusaka itu adalah sebuah pedang kecil. Melihat bahwa senjata itu telah bertuan, membuat para murit Kunlun sedikit kecewa. Pasalnya mereka sudah sedari tadi memperjuangkan senjata itu, tetapi ternyata hasilnya nihil.
Melihat apa yang di dapatkan Liu Li. Mu Lingyu berkata, "Wow, selamat kau telah mendapatkan senjata Kunlu, jadi mau tak mau kau harus menjadi murid di sini," Liu Li pun kaget, dan tidak percaya atas apa yang di ucapkan oleh Mu Lingyu.
"Beberapa waktu lalu ayahmu mengeluh kepadaku akan sifatmu, jadi aku menyarankan agar kau di masukkan ke pergiruan ini, dan sekarang kau tak bisa membantah, karena, selagi ayahmu sudah mengizinkan,ada juga senjata itu yang sudah memilihmu, " ujar Mu Lingyu, melihat ekspresi Liu Li seperti ingin membahta ucapannya,dia pun berujar dengan sedikit ancaman.
"Jika kau tak ingin jadi murit di sini,baiklah,kita akan pulang," mendengar itu Liu Li sangat senang, "Tetapi kau harus mengembalikan pusaka yang ada di genggamanmu itu, bagai mana, pilihan ada di tanganmu sekarang" ujar Mu Lingyu.
Mendengar kalimat terakhir itu, membuat Liu Li dilema.Dia sangat menyukai pusaka itu sejak berada di tangannya, tidak mungkin dia menyerahkan kembali pusaka itu. Dia pun melihat sekitarnya yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi, diapun bertanya kepada Mu Lingyu.
"Di mana pengurus perguruan ini, aku ingin mendaftar jadi murid di sini," mendengar itu Mu Lingyu pun tersenyum, karena dia tau kalau Liu Li sudah mengingingkan sesuatu pasti dia akan memperjuangkannya.Mu Lingyu pun menujuk ke arah guru Hua Rong.Liu Li pun menoleh dan melihat sudah ada yang berlutut di hadapan guru Hua Rong. Tanpa di suruh pun Liu Li segera berlutut dan berujar.
"Baiklah aku akan menerimamu menjadi muritku, dan ingat, kalian harus setia pada perguruan ini," ujar Guru Hua Rong.
"Baik guru" di jawab secara bersamaan oleh Liu Li dan orang di sampingnya.
"Baiklan, sekarang perkenalkan diri kalian"
"baik"
"Aku Yi Yang dari daratan Lijing guru, aku ingin berlati ilmu bela diri untuk melindungi keluargaku," di saat tiba giliran Liu Li memperkenalkan dirinya, dia bingung,pasalnya sekarang dia sedang menyamar, karena perguruan itu hanya untuk pria saja.
"Aku....? " ujar Liu Li terhenti dan menoleh kepada Mu Lingyu, melihat itu diapun segera memperkenalkannya.
"Dia Yun Hai, dia adalah kemenakanku" ujar Mu Lingyu.Mendengar itu Hua Rong pun menatap Mu Lingyu, dan dia pun tau arti dari tatapan itu, dan seakan-akan berbicara melalui tatapan.
"Aku akan menjelaskannya, aku tau kau pasti tau dengan jelas identitas anak ini, " ujar Mu Lingyu melalui tatapannya. Hua Rong cuma mendesah saja. Karena mau bagai mana lagi kalau sudah temannya yang meminta,dia tidak akan bisa menolak.
"Baiklah, kalian berdua di terima di perguruan,dan untuk Yun Hai kau harus memanggil Yi Yang dengan kakak ke 12,karena,dia murid ke 12"
"Tapi guru, aku deluan sampai di sini di bandingkan dia, " protes Liu Li sambil menunjuk ke arah Yi Yang.
"Hei, kau memang sampai deluan ke sini, tapi aku yang deluan mendaftar dan di terima oleh guru, lagian tadi aku melihat, seakan-akan kau enggan masuk ke perguruan ini, " ujar Yi Yang dengan sedikit mencibir. Liu li diam,ingin menjawab tapi apa yang di ucapkan Yi Yang itu benar semua,tapi,yah,namanya Liu Li, dia selalu ingin menang.
"Kau... "
"Sudahlah, " potong guru Hua Rong, "aku sudah memutuskan, Yi Yang menjadi murid ke 12, dan Yun Hai menjadi yang paling bungsu, murid ke 13." mau tak mau Liu Li harus menerimannya,dan Yi Yang menatapnya dengan sedikit berbangga diri.
"Baiklan, sekarang kalian istrahat, kalian pasti sangat lelah,karena kalian datang dari jauh, dan ini Ye Hong Zhuang, dia yang akan mengantar kalian ke kamar masing-masing" menoleh ke pada Hong Zhuang, "antarkan mereka ke kamar kosong yang tersisa."
"Baik guru, " jawab Hong Zhuang,"kalian ikutlah denganku" ujar Hong Zhuang kepada para murid baru itu.
Sementara itu sekarang Guru Hua Rong dan Mu Lingyu sedang ngobrol di gazebo dekat air terjun.
"Bisahkah kau menjelaskan kepadaku mengapa kau mengirimnya menjadi muridku! "
"Baiklah, tampaknya rasa penasaranmu lebih besar dari pada rasa hausku," kata Mu Lingyu, karena,sebelum teh yang di sediakan di minum olehnya,sudah di serbu olah pertanyaan dari Hua Rong.