
BAB 9
Matahari mulai nampak di ufuk timur ketika Keanu menangkap seekor kelinci dan membakarnya dengan perapian seadanya. Aroma daging bakar itu tercium sampai di tempat Genie tidur.
Karena aroma daging bakar dari kelinci itu menggelitik hidungnya, Genie pun bangun dan mencari asal bau tersebut.
"Kau sudah bangun?"
"Ya."
Keanu berbohong. Semalaman itu ia tidak memejamkan matanya sama sekali. Meski beberapa kali mencoba untuk tidur, tetap saja ia tidak bisa. Maka, ia pergi mencari tangkapan kelinci untuk sarapan mereka.
"Ini, makanlah. Selesai makan, kita bisa melanjutkan perjalanan," Keanu mengiris sebagian dan menyodorkan daging kelinci yang sudah matang pada Genie.
"Terima kasih," Genie duduk dan menerima daging bakar.
Untuk beberapa menit, mereka diam menikmati sarapan kecil tersebut tanpa roti maupun kentang.
"Kau dapat kelinci dari mana?"
"Dari sini," jawab Keanu santai.
"Di tempat tandus seperti ini?"
"Ini tidak tandus. Lihat saja masih ada beberapa tanaman yang bertahan hidup," jawab Keanu sambil mengunyah.
"Iya juga sih," Genie menikmati daging bagiannya dengan cara mencubit dan menyuapkan ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit.
Tak lama kemudian, daging kelinci itu tinggal jeroan dan tulang belulang saja. Keanu mengakhiri makan paginya dengan mengulum satu persatu jarinya supaya bersih.
"Ayo pulang. Aku akan menyetir," kata Keanu.
"Oke."
•••••
Mobil yang ditumpangi Keanu dan Genie sampai di desa tempat tinggal mereka dengan lancar. Keanu mengantar Genie tepat di depan gerbang rumah gadis tersebut.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Keanu turun dan berlalu dengan cepat. Ia berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya.
Pada saat ia hendak memasuki pintu rumah, seseorang memanggilnya. Rupanya tetangga rumah yang bernama tuan Ferdinand mempunyai urusan dengannya. Pria itu sedang menata kebun di halaman rumahnya dengan gunting taman.
"Hey kau! Berhenti di sana!"
Keanu menoleh, "Ada apa, tuan?"
Pria bernama Ferdinand itu sudah lama menunggu Keanu. Sebab, halaman rumah Keanu yang tidak pernah dibersihkan itu kini ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar. Dan karena itu pula, tumbuhan liar itu menjalar ke rumah tuan Ferdinand.
"Sebaiknya kau mulai mencabuti rumput dan merapikan tumbuhan liar di halaman rumahmu itu. Lihat, mereka meluap dan mengganggu pekarangan rumahku," ucap tuan Ferdinand memasuki pekarangan rumah Keanu.
"Ooh. Itu. Ya baiklah. Lain kali akan aku lakukan," jawab Keanu santai sambil berjalan kembali hendak memasuki rumah.
Namun pria bernama Ferdinand itu mencekal bahu Keanu dan meremasnya kencang.
"Lakukan sekarang juga, atau kau akan menyesali semuanya," kata Ferdinand mengancam.
Keanu menoleh dan menatap tajam tangan Ferdinand yang meremas bahunya.
"Apa kau mengancamku?" Keanu mulai mengenakan sarung tangannya.
"Cepat lakukan!! Habiskan semua tanaman itu atau kau yang akan aku habisi!" ucap Ferdinand kasar.
Tatapan mata Keanu sekarang berpindah memperhatikan mulut pria yang sedang mengancamnya. Menurutnya, itu sangatlah berisik.
Karena Keanu tidak merespon ucapannya dan hanya diam menatapnya, Ferdinand emosi dan menekankan ujung gunting ke leher Keanu.
SRET
"Apa kau lebih suka mati, ha?!"
Keanu tetap diam dan menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya. Ia tidak takut sedikitpun dengan ancaman tersebut.
Ketika ujung gunting kebun itu mulai menggores dan melukai lehernya hingga berdarah, Keanu justru tersenyum miring dan menampakkan muka senang.
"Kenapa kau menyeringai!!"
"Karena ini sangat lucu."
"Apa katamu?"
Dengan perlahan tangan kanan Keanu menyentuh gunting kebun yang ada di lehernya. Kemudian, tentu saja tanpa Ferdinand duga, Keanu berhasil merebut gunting tersebut dan langsung menancapkanya ke dalam mulut Ferdinand.
CRAK!
Gunting besar untuk memotong rumput di kebun itu menembus masuk ke dalam rongga mulut pria bernama Ferdinand dengan cepat.
"Aaakkkhhh,,," pekik Ferdinand.
SROKK!
"Sekarang kau lihat. Siapa yang lebih dulu mati," bisik Keanu di dekat telinga Ferdinand sambil terkekeh gila.
"Aakkgghh... kkhhhggg.."
Keanu mendorong tubuh Ferdinand hingga jatuh ke tanah. Dengan santainya, Keanu menonton detik-detik kematian Ferdinand yang disertai kejang-kejang.
Tanpa menunggu lama lagi, Keanu menyeret pria itu memasuki halaman belakangnya dan menyembunyikannya di dalam rumah. Begitu jasad itu aman tersimpan, Keanu segera menghapus jejak darah yang menetes di halaman rumahnya dengan mencangkuli tanah di halaman tersebut. Bahkan ia berusaha memangkasi tanaman yang berserakan di halamannya.
Di dalam rumah, Keanu menyeret tubuh Ferdinand itu ke ruang belakang. Tepatnya di gudang. Di sana, ada beberapa barang tua milik orang tuanya yang tersimpan. Meski ruangannya sudah dipenuhi jaring laba-laba, Keanu tidak gentar sedikitpun.
••••••••
Pada keesokan harinya, istri dari Ferdinand mencari-cari keberadaan suaminya. Wanita itu mondar-mandir ke sana kemari bagai setrikaan.
"Ada apa nyonya? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Keanu berlagak perhatian.
"Tidak ada apa-apa!" jawab wanita itu ketus.
Keanu diam. Kemudian bicara lagi, "Sepertinya kau sedang gelisah, apa ada sesuatu yang terjadi??"
"Itu bukan urusanmu! Pergi!"
Wanita itu bicara sangat ketus dan tidak sedikitpun menoleh pada Keanu. Karena ucapan dari istri Ferdinand itu, sebuah ide muncul dalam benak Keanu.
"Apa kau sedang mencari suamimu? Dia sedang bersamaku di belakang."
"Hah? Jangan berpura-pura melihatnya!"
"Aku serius. Dia sedang membantuku menata gudang. Apa kau mau bertemu dengannya?"
Tanpa diberitahu untuk kedua kali, wanita itu pergi memutar untuk memasuki halaman rumah Keanu. Tanpa ia sadari, seseorang sedang melirik menatapnya dengan seringai jahat.
Keanu menggiring istri Ferdinand yang bernama Fera itu masuk ke dalam rumahnya dan menuju gudang belakang. Begitu sampai di dalam gudang, Fera melihat jasad suaminya yang tewas mengenaskan dengan gunting taman yang menancap di mulutnya. Ia menjerit ketakutan.
"Aaaaaarrrrhhh!!!" Fera berbalik ketakutan dan hendak melarikan diri.
Namun belum sempat ia berteriak minta tolong pada orang-orang, Keanu sudah menusuk punggungnya dengan tombak ikan. Darah mengalir dari mulut Fera, menetes di atas lantai.
"Kalian suami istri! Tidak bisakah berkata lembut pada orang lain? Jika kalian melakukannya, setidaknya aku akan mencoba berbaik hati pada kalian berdua," Keanu membisikkan sesuatu di dekat Fera sambil menekan kuat tombak yang ia tancapkan hingga menembus ke dada kanan Fera.
Kini wanita itu jatuh terkapar di dekat jasad suaminya. Bahkan, nyawanya pun berakhir melayang sia-sia.
Keanu tertawa sambil berjalan mengelilingi gudang tempat ayahnya dulu. Dibersihkannya satu barang dan barang lainnya.
Ketika matanya melihat sebuah cermin besar di dinding, entah mengapa ia begitu penasaran dan merabanya pelan. Pada saat Keanu berdiri tepat di depan cermin, pantulan wajah di depan cermin itu menampakkan dirinya yang tumbuh sebagai manusia berhati dingin. Wajah tampannya itu begitu datar dan berkarakter jahat.
Saat bercermin seperti itu, Keanu merasakan ada yang ganjil pada cerminnya. Kemudian digesernya cermin itu sedikit ke samping. Maka terlihatlah sebuah grafiti ikan koi di dinding tersebut.
Keanu merabanya dan tanpa sengaja ia menemukan sebuah hal yang menakjubkan. Siapa sangka, begitu ia menekan sesuatu diantara gambar ikan itu, terbukalah dengan perlahan pintu menuju ruang bawah tanah.
"Waahh? Apa ini?" gumamnya takjub.
Beberapa menit kemudian, pintu rahasia itu menutup sendiri. Keanu jadi mengerti, cara pakai pintu tersebut. Maka, ia berlari keluar gudang dan mengambil korek api, senter, kayu dan gombal.
Ia berencana memasuki ruang bawah tanah yang baru saja ia temukan. Ketika akhirnya ia kembali berdiri di depan pintu cermin itu, ia menekan kembali gambar grafiti.
Terbukalah kembali pintu rahasia itu dengan suara batu yang bergesekan. Sebelum melangkah ke dalam, Keanu merapikan letak cermin terlebih dahulu agar tidak ada siapapun yang melihat bahwa dirinya memasuki ruangan rahasia dibaliknya.
Begitu memasuki ruangan, pintu segera menutup dengan sendirinya. Keanu pun mulai menyalakan senternya. Kedatangannya di ruang itu ternyata disambut dengan jaring laba-laba yang ada di mana-mana. Selain itu, tempat itu juga memiliki tangga turun dan sangat gelap.
Ruangan yang memanjang dengan akar-akar tanaman menghiasi lorongnya membuat situasi menjadi amat horor. Belum lagi udara di lorong tersebut terasa sangat lembab dan berbau apek.
Keanu akhirnya sampai di sebuah ruangan besar dan luas dengan rak-rak berisi buku serta berbagai macam hasil tulisan milik ayahnya. Di ruang tersebut terdapat sebuah meja besar yang nampaknya sering digunakan oleh sang ayah pada jaman dulu.
Keanu merasa senang. Tapi bukan senang karena ia melihat peninggalan ayahnya. Melainkan perasaan senang yang condong pada kejahatannya. Seperti apa?
Dalam benak Keanu, muncullah ide untuk membunyikan korbannya di sana.
"Hah, aku rasa ini penemuan yang menakjubkan. Aku akan menggunakan ruang ini di musim salju nanti."
Tentu saja. Keanu tidak bisa menggunakan gua rahasianya yang di laut jika musim salju tiba. Sebab ia tidak bisa berenang di perairan yang membeku selama beberapa bulan lamanya.
Dan beberapa jam kemudian, Keanu sudah memindahkan mayat suami istri yang menjadi tetangganya ke dalam ruang bawah tanah.
Di sana, ia memotong tubuh Ferdinand dan Fera menjadi beberapa bagian. Kemudian ia membungkusnya dengan kantung hitam. Jika malam tiba, ia akan membuang bungkusan mayat itu ke lautan lepas.
.
.
.
Bersambung......