THE PSYCHOPATH'S SECRET

THE PSYCHOPATH'S SECRET
PEMBANTAIAN



BAB 26


Ujung kapak tajam yang ditekan Choa mulai melukai dada Keanu. Bagian tipisnya menembus kulit dan dagingnya hingga berdarah meski hanya satu inci. Lorena yang berlari ke arah Keanu pun mengayunkan martilnya untuk menghantam kepala itu dengan sekuat tenaganya.


Namun karena terburu-buru, hantaman martilnya justru meleset di samping kepala pria itu saat ia memalingkan mukanya.


Entah kekuatan setan dari mana, Keanu dapat menerjang balik Choa dan merebut kapak yang melukai dadanya. Ia bahkan menendang martil yang ada dalam genggaman Lorena hingga terpental jauh.


Kedua wanita yang kini tanpa persenjataan itu pun panik saat Keanu mendekati mereka sambil membawa kapak dengan tatapan matanya yang mengerikan.


"Jangan bunuh aku! Aku mohon! Aku akan menuruti apa maumu, aku janji. Tolong, ampuni aku!" rengek Lorena dengan suara amat ketakutan sambil terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebagai permintaan maaf.


Namun, kemarahan Keanu tidak dapat dicegah lagi. Ia langsung menjambak Lorena dan menyeretnya ke dekat Choa.


"Siapa di antara kalian yang mempunyai pikiran untuk melawanku?"


Dua wanita itu ketakutan. Mereka saling menggelengkan kepala berusaha menutupi kebenaran.


"Cepat katakan!!"


Meski Keanu sudah berteriak dengan murka, dua wanita itu masih saja tidak ada yang mau mengaku. Maka, Keanu mengayunkan kapaknya dan membacok kaki Lorena berulang kali hingga terpotong dan berdarah-darah.


Teriakan menyesakkan dari mulut Lorena tentu saja langsung mengisi seluruh ruangan. Kali ini, Keanu tidak main-main. Ia sudah dibuat marah oleh wanita-wanita tawanannya yang berusaha menyerangnya itu.


Karena Choa amat ketakutan, ia bangkit dan berlari ke meja tempat Keanu menyimpan peralatan mutilasinya. Diraihnya dua senjata tajam untuk melindungi diri dari kebiadaban Keanu.


"Jangan mendekat! Kalau tidak aku akan membunuhmu!!" seru Choa sambil menodongkan senjatanya ke arah depan.


Keanu yang sudah dikuasai amarah tidak merasakan takut sama sekali. Ia terus saja maju mendekati wanita yang sedang menodongkan pisau dan besi tajam kepadanya itu.


Dengan tubuh yang gemetaran, Choa mundur perlahan. Selangkah, dua langkah...


"Apa kau tahu, Kean? Pria menjijikkan sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini! Mengatasnamakan balas dendam? Hahaha! Kau hanya mencari alasan untuk melancarkan semua aksi gilamu!!"


Choa bicara sambil mundur menuju arah jalan masuk ruang rahasia yang berarti juga jalan keluar baginya.


"Kau hanya pria gila menjijikkan yang melakukan pembunuhan untuk menutupi perbuatanmu. Lalu menculik dan memperkosa wanita?? Dasar pria mesum!! Sampai kapan kau akan mengumpulkan dan menikmati tubuh kami secara bergilir seperti ini!! Ha??!!"


Keanu tersenyum menyeringai. Ucapan Choa sangat tepat. Ia benar-benar menyukai gadis berani sepertinya. Gadis yang mampu menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya dengan mudah. Maka, diterjangnya Choa dengan cepat lalu dipukulnya pergelangan tangan gadis itu hingga pisau dan besi yang dibawanya terjatuh.


Begitu Choa kehilangan senjata, Keanu menempeleng keras kepala gadis itu hingga jatuh terkapar. Tanpa ampun, Keanu menyeretnya kembali ke tempat pemasungan. Dan mengikat tangan serta kakinya dengan rantai kembali.


Keanu membuang kapak ke samping dan berdiri dengan lutut menghadapi kepala Choa.


"Karena kau merasa jijik padaku, aku semakin menginginkanmu untuk melayaniku malam ini. Sekarang buka mulutmu dan hisap batangku!" perintah Keanu.


"Aku tidak akan melakukannya!"


PLAKK!


Sekali lagi Keanu menempeleng kepala Choa dengan kencang hingga gadis itu merasakan rahangnya seolah bergeser dari tempatnya.


"Lakukan atau kau akan mati. Pilih sekarang!" kata Keanu seraya menodongkan batangnya ke depan bibir Choa.


Karena masih ingin hidup dan berjuang untuk melarikan diri dari tempat itu, Choa terpaksa melakukan apa yang Keanu perintahkan. Dibukanya mulutnya dengan rasa jijik. Belum sempat mengambil nafas, Keanu menjambak rambut Choa dan menjejalkan batang miliknya ke dalam mulut gadis itu hingga menyentuh tenggorokan.


"Hisaplah!"


Choa menghisap batang Keanu dengan malas. Sebab itulah, Keanu menjadi tidak sabar dan menjambak rambut Choa seraya memaju mundurkan kepala gadis itu agar dirinya mendapatkan apa yang dia ingin.


Siapa sangka, saat Keanu melenguh merasakan batangnya yang mulai mengencang, Daisy tiba-tiba saja menusuknya dari belakang menggunakan linggis yang sejak tadi ada di tangannya.


CROOKKK!!


"Aaahhgggkk!!" Keanu langsung muntah darah. Dan darah dari mulutnya itu pun jatuh mengenai wajah Choa.


Choa pun terkejut ketika melihat pria yang memaksanya untuk menghisap batangnya itu tiba-tiba saja gemetaran dan memuntahkan banyak darah.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daisy ketakutan seraya menyangga perutnya yang mulas seperti hendak melahirkan.


Choa segera mendorong Keanu agar menjauh darinya dan meminta Daisy untuk mengakhiri hidup Keanu secepatnya.


"Bagus! Lakukan lagi Daisy, sebelum dia bangkit kembali!!" Choa melihat Keanu sedang berjuang untuk berdiri.


Ia benar-benar bersyukur karena Daisy berani melakukan hal itu. Satu serangan lagi, pasti mereka mampu menghabisi pria gila itu. Pikirnya.


Dengan gemetaran, Daisy meraih pisau yang ada di lantai dan menyerang Keanu kembali. Kali ini ia menusuk dada kiri Keanu. Lalu menekannya kuat-kuat hingga Keanu merasakan linu.


"A'ahgg.. Kau??" Keanu mencabut pisau itu dan membungkuk kesakitan. Muntahannya pun semakin banyak di lantai.


Pada saat Keanu tengah membungkuk seperti itu, Daisy mencabut linggis yang menancap di punggung Keanu dan berniat menusukkannya kembali ke tubuh pria gila yang dengan kejam telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya itu.


"Hiiiaaaaa..!!!"


Namun siapa sangka? Keanu menahan serangan itu dan memegangi linggis tersebut dengan tangan kirinya.


Daisy yang ketakutan justru melepaskan genggamannya begitu saja. Sebab, Keanu mampu berdiri dan kini mendekatinya dengan penuh amarah.


"Kenapa kau melakukannya, Daisy? Aku membiarkanmu hidup karena kau mengandung bayiku," suara Keanu tercekat dengan mulut yang dipenuhi darah.


"I itu....." Daisy melangkah mundur dengan ketakutan yang luar biasa.


Namun ternyata, Keanu tidak terpancing sedikitpun. Ia terus menyudutkan gadis yang mengandung bayinya itu ke sudut ruangan. Ketika akhirnya terpojok, Daisy pun berdiri dan gemetaran hebat. Rasa mulasnya semakin menjadi tatkala melihat Keanu mengayunkan linggis ke arah kepalanya.


CRAKK!!


Tanpa ampun, Keanu memukulkan linggis ke kepala Daisy dengan sekuat tenaga hingga tulang leher gadis itu pun patah dan memuncratkan darah dari luka benturannya.


Begitu gadis itu terkapar di lantai tidak bernyawa dengan mata terbuka, Keanu menyeretnya mendekat ke arah Lorena.


"Cepat belah perutnya dan ambil bayi itu dari dalam!!"


"Hossh hossh,, aku tidak bisa..." kata Lorena sedang merasakan sakit pada kakinya yang kini buntung sebelah.


"Lakukan atau aku akan memotong kaki kananmu juga! Cepat!"


"Huhuhuhu...." Lorena menangis karena ia benar-benar tidak mampu melakukan itu.


Keanu menempeleng Lorena kuat-kuat. Kemudian berjongkok di depannya.


"Lakukan sebelum bayi itu mati!"


"Aku tidak bisa. Huhuhu...."


"Haaaarrgggh!!!!" teriakan Keanu menggema di seluruh ruangan.


Ia kehabisan kesabaran dan menusuk dada Lorena dengan linggis yang dibawanya beberapa kali tanpa ampun. Darah segar wanita itu pun muncrat ke wajah dan seluruh pakaiannya.


Setelah menghabisi Lorena dengan sadis seperti itu, Keanu menyeret tubuh Daisy dan meletakkannya di atas meja persembahannya.


Kemudian dengan pisau bedah yang biasa ia gunakan, Keanu membelah perut buncit tersebut dengan gampangnya. Sebuah kantung bening berisi cairan ketuban yang sudah bocor itu melindungi seorang bayi yang masih hidup. Begitu ia mengangkat lapisan tipis pembungkus cairan ketuban, itu ia dapat melihat secara penuh bagaimana wujud bayi itu.


OEEEEKK


OOOEEEEEKK


Suara tangisan bayi terdengar ketika Keanu memecah kantung ketuban Daisy. Dengan cepat ia mengeluarkan bayi tersebut sepenuhnya dari perut Daisy yang ia belah. Setelah memutus tali pusat dan menyingkirkan segala yang berurusan dengan isi perut Daisy, Keanu berdiri dan melangkah mendekati Choa.


"Buat dia diam sebentar. Aku akan mengambil air untuk memandikannya," kata Keanu dengan suara khasnya.


Choa yang merasa ngeri setelah menonton pembunuhan terhadap dua wanita yang sempat menjadi temannya itu pun mengangguk dengan cepat.


Tanpa mengulang ucapannya, Keanu pergi ke kamar mandi yang ada di ruang tersebut. Kamar mandi itu hanya ada kolam penampung air, keran, ember kayu berukuran sedang, gayung lalu toilet jongkok.


Lima menit kemudian, Keanu kembali dengan ember kayu berisi air.


"Mandikan bayi itu sampai bersih. Lalu susui dia kalau perlu. Aku akan keluar dan mencarikan pakaian untuknya."


"I iya."


Tanpa bicara lagi, Keanu pergi meninggalkan Choa yang menggendong bayi laki-laki miliknya.


•••••••


TIK


TIK


TIK


Suara tetesan air dari kamar mandi membuat Choa merasa ngeri. Di sekitarnya, bau amis darah menyebar di mana-mana dan menyesakkan pernafasan. Mayat Daisy dan Lorena pun berulang kali membuat dirinya terkaget-kaget.


Beberapa kali Choa melihat mayat-mayat tersebut seolah bangun dan melirik kepadanya. Bahkan paling parahnya, saat ia tidak sengaja memejamkan mata karena mengantuk, ada sebuah panggilan dari arah depannya.


Ketika ia membuka mata, Choa berhalusinasi seakan mayat Lorena dan Daisy sedang merangkak mendekatinya seperti zombi dengan mata merah. Bahkan, bayi yang digendongnya pun seakan menyerupai boneka horor yang tengah menghisap pay*daranya dengan amat kuat hingga seluruh darah dan tenaganya tersedot habis tanpa sisa.


...----------------...


JREEENGGG!!!


Dapatkah kalian bayangkan bagaimana mengerikannya situasi yang Choa hadapi saat itu??


Jangan lupa baca terus lanjutannya,,,


Dan jangan lupa tinggalkan jejak likemu,,,👍🏻


Vote juga boleh bangettt!!


Yaa... ya... yaaaaa 😘


Terima kasih sudah mampir....


.


.


.


BERSAMBUNG....