
BAB 7
Keanu tertawa menyeringai begitu selesai membunuh Gricel. Gadis yang beberapa waktu lalu bersama temannya mengatakan dirinya sebagai gelandangan menyedihkan dengan badan yang bau sekali.
Ia ingat. Gricel ini adalah salah satu teman sekolah Rula. Begitupun satu gadis yang lainnya. Maka, setelah membunuh dengan keji seperti itu, Keanu tidak merasa bersalah sedikitpun.
Ia mendekati jasad Gricel dan mengusap bibir gadis itu dengan santai.
"Sungguh sangat disayangkan. Sebenarnya, aku sangat senang saat menyetubuhimu dengan paksa seperti tadi. Tapi apa yang bisa aku perbuat? Kau memilih melawanku. Jadi, pergilah ke neraka dengan tenang," Keanu kini tertawa terbahak-bahak.
Seperti orang yang gila, ia menatap tubuh Gricel dengan tatapan yang liar. Sejak ia melakukan hubungan badan dengan Elissa, istri Gun, Keanu merasa semakin menyukai aktivitas seperti itu dengan wanita.
Dibelainya tubuh telanjang bersimbah darah tersebut. Kemudian sekali lagi ia melakukannya dengan penuh birahi. Keanu benar-benar dikuasai iblis. Ia tidak lagi takut akan perbuatannya yang jahat.
Begitu selesai, ia berpikir bagaimana ia akan membuang mayat Gricel? Ah, tapi tubuh indah itu masih ia butuhkan untuk beberapa hari lagi. Maka dari itu, ia tidak langsung membuang jasad tersebut dan justru membiarkannya tergeletak di sana.
Karena ia butuh makan, akhirnya Keanu kembali ke daratan. Ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan juga mayat Gricel.
Di perjalanan pulang, ia bertemu seorang wanita paruh baya yang sedang mencari ikan di sungai. Melihat wanita itu, Ken jadi ingat akan sosok ibunya. Terakhir kali ibunya meninggalkan dirinya, usianya kira-kira hampir sama dengan wanita tersebut.
Perlahan, Ken berjalan mendekatinya dan berniat membantu. Ia pun menawarkan bantuan dengan tulus.
"Apa kau butuh bantuan, nyonya?" tanyanya.
Wanita itu menoleh dan terkejut. Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang ia takuti beberapa bulan terakhir. Desas desus tentang Keanu yang gila menjadi momok tersendiri bagi penduduk desa.
Wanita itu berdiri mematung. Tubuhnya gemetaran karena merasa takut saat sorotan mata pemuda itu begitu tajam ke arahnya. Dengan warna gelap kehitaman di sekitar matanya, wajah Keanu menjadi begitu menyeramkan.
"Apa aku bisa membantumu, nyonya?" tanya Keanu sekali lagi.
"Eh? TI tidak. Tidak perlu repot," jawabnya cepat.
"Kau sedang mencari ikan, bukan? Bagaimana kalau aku membantumu?"
Keanu meraih tongkat jaring yang ada di tangan sang wanita. Namun dengan cepat wanita itu menolak karena salah paham.
"Pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu."
Wanita itu menepis tangan Keanu dengan kasar. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan pemuda gila yang aneh dan tidak mempunyai keluarga sepertinya.
Keanu memperhatikan tangan kanannya yang baru saja ditepis kasar oleh wanita paruh baya itu. Kemudian dengan pelan ia melirik ke arah wanita yang berdiri di hadapannya tersebut sambil nyengir.
"Apa kau takut kepadaku?"
"Ti tidak."
Wanita paruh baya itu mundur beberapa langkah menuju tengah sungai, sebab Keanu terus saja maju mendekati dirinya dan membuatnya semakin takut.
Keanu meraih sarung tangan hitam yang ada di dalam saku celananya dan mengenakannya dengan pelan.
"A apa yang mau kau lakukan?" tanya wanita itu takut.
"Kenapa kau takut? Tidak bisakah kau melihat ketulusan dariku?" Keanu bertanya sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dengan pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
" A Aku tidak peduli itu. K Kau membuatku takut."
Pada saat yang kebetulan, datanglah tuan Pedrosa. Dia adalah suami dari si wanita.
"Ada apa, Maria?! Apa orang gila ini mengganggumu?" tanyanya sambil membawa kapak.
"Ah, suamiku!! Cepatlah kemari. Aku takut padanya," kata wanita paruh baya yang bernama Maria.
SRET!
Suami Maria mendorong Keanu hingga mundur ke belakang.
"Pergi kau gelandangan gila! Atau aku akan menghabisimu!" bentak Pedrosa.
Keanu tersenyum miring dengan wajah yang jahat. Ia merasa bahwa pria bernama Pedrosa itu sangat lucu. Menghabisimu??
Tidak. Bukan seperti itu urutannya. Urutan yang benar adalah dirinya yang akan menghabisi Pedrosa terlebih dahulu, lalu Maria.
Jadi, begitu pria bernama Pedrosa itu menyabetkan kapak ke arahnya, Keanu mengelak cepat dan berlari bersembunyi di belakang Maria. Ia memeluk erat tubuh Maria dari belakang dan mencumbuinya dengan mesra.
Kedua tangannya meraba tubuh Maria, kemudian meremas buah dadanya dengan sangat menjiwai hingga wanita itu terbawa suasana. Dengan tangan yang semakin berani menggerayangi Maria, Keanu berhasil memancing kemarahan Pedrosa agar menyerangnya.
"Lancang sekali kau! Lepaskan istriku!" Pedrosa mengayun kapak ke samping, namun Keanu menggerakkan tubuh Maria berlainan arah hingga kapak yang diayunkan kepadanya tidak jadi mengenainya.
Keanu meraih dan membalikkan posisi tongkat jaring dari tangan Maria. Kemudian ia gunakan tongkat tersebut untuk membalas serangan dari Pedrosa. Disabetkannya tongkat jaring tersebut ke muka Pedrosa.
PLAKK!
"Kurang ajar!!"
Pedrosa yang terpancing oleh umpan Keanu pun mulai menyerang dengan membabi buta. Setiap kali ia mengayunkan kapak ke arahnya, Keanu menyabetkan tongkat jaring ke tubuh Pedrosa dengan cepat.
Aauu!!!
Pedrosa memekik sakit saat Keanu menyabetkan tongkat ke selangk*ngan nya.
"Tangkap aku kalau kau bisa," Keanu memancing kembali.
Begitu Pedrosa kembali mengayunkan kapak, Keanu menempatkan tubuh Maria tepat di lokasi sasaran.
CRAK!!
"S su,, su,, suami,, ku??" Maria terkena bacokan tepat di tengah kepalanya hingga tewas seketika.
Melihat bahwa kepala istrinya yang justru terkena kapak, Pedrosa berteriak marah. Ia mengejar Keanu ke sungai dan berusaha membunuhnya. Melihat pria gempal itu mengejarnya memasuki air sungai, Keanu tersenyum senang. Pada saat yang tepat, ia menyelam dan menghilang dari pandangan Pedrosa.
"A Apa? Ke mana dia?" tanya Pedro bingung.
Dicarinya Keanu di sekitarannya. Namun tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Tiba-tiba saja, sesuatu yang tajam muncul dari bawah dan menyodok Kem*luannya. Rupanya Keanu menyerang dengan batuan karang yang tajam.
Pedrosa berteriak kesakitan dan jatuh tercebur ke air. Kesempatan seperti itu digunakan Keanu untuk merebut kapak dari genggaman tangan Pedrosa.
"Tidak bisakah kalian bicara baik-baik padaku? Kenapa kalian semua selalu bicara kasar kepadaku, ha?!!"
"K Kau benar-benar gila! Aku harus memberitahu penduduk siapa dirimu sebenarnya," Pedro berkata tercekat.
"Siapa aku? Haha. Siapapun aku. Aku akan menjadi apapun yang ada di dalam pikiran kalian. Jika kalian memikirkan kebaikan tentangku, maka aku akan menjadi baik. Tapi jika kalian memikirkan kejahatan tentangku, maka aku akan berbuat jahat seperti yang kalian pikir," Ken tersenyum menyeringai.
"Cih!! Dasar berandal gila! Aku harus membunuhmu!!"
Pedrosa menarik baju Keanu dan membuatnya tercebur ke air. Mereka saling baku hantam di dalam air dan saling mencekik. Untung saja, Keanu sudah terbiasa menyelam. Maka ia lebih kuat untuk tidak bernafas di dalam air.
Begitu kepalanya lebih cepat muncul ke permukaan, tanpa menunggu lama, Keanu pun mengayunkan kapak yang sempat ia rebut tersebut ke dada pria itu dengan sengit. Satu kali, dua kali, hingga lima belas kali ayunan. Serangan mematikan itu membuat dada Pedrosa tercincang.
Begitu lawannya diam tak bergerak, Keanu menyeretnya hingga mendekati Maria. Dengan cepat ia membuat keduanya seolah baru saja melakukan perkelahian antara suami istri.
Kemudian, ia pergi meninggalkan kedua mayat tersebut begitu saja di sungai.
"Mari kita tunggu kehebohan penduduk desa," ucapnya sambil tertawa.
...----------------...
Keesokan harinya, seorang yang hendak pergi ke pasar melihat mayat suami istri yang tergeletak di sungai. Teriakannya membuat gempar seluruh desa, dimana semua penduduknya masih berada di rumah untuk menikmati sarapan.
Penduduk desa berbondong-bondong melihat keberadaan mayat yang kabarnya tewas mengenaskan. Polisi pun datang untuk mengidentifikasi tempat kejadian perkara.
Dugaan awal penyidikan, sebuah pertengkaran terjadi diantara mereka sehingga saling membunuh dengan kapak.
Keanu berdiri di kejauhan memperhatikan dari balik topinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun.
Setelah puas dengan identifikasi dari polisi, Keanu pergi menuju pasar. Meski hatinya kini sekeras batu, namun lambungnya tetaplah lambung. Yang merasakan lapar setiap berapa jam sekali.
Hari ini, ia tidak pergi bekerja lagi. Ia ingin berkeliling desa mencari kebenaran lain atas kematian orang tuanya.
Ketika sampai di pasar, ia ikut mengantri di depan sebuah truk penjual roti burger. Begitu giliran dirinya tiba, penjual langsung membuatkan burger sesuai pesanannya. Keanu meletakkan uang pembayaran di meja pembelian dan bergerak untuk menerima kotak burgernya.
Semua orang pada mulanya tidak menghiraukan dirinya. Begitu ada salah satu orang yang mengenalnya dan mulai berteriak kasar padanya, lantas yang lain pun ikut mengusirnya.
"Hey! Bukankah dia orang itu?"
"Orang yang mana?"
"Dia kakak Rula!"
"Oh benar! Dia gelandangan gila dan bau tahi itu!" seru beberapa pria.
Keanu menoleh dan mampu mengingat wajah-wajah mereka dengan baik. Beberapa diantaranya langsung menghalanginya untuk mendapatkan burger yang sudah dibayar Keanu.
"Pergi kau dari sini!" seseorang mendorongnya mundur ke belakang.
"Tunggu. Aku hanya mau membeli burger itu," jawab Keanu menggerakkan tangannya meraih-raih ke depan.
Akan tetapi, mereka tidak mengizinkan Keanu mengambil barang yang sudah ia bayar. Dan justru mendorongnya pergi hingga jatuh.
SRAAAKK!!
Bersambung............