
BAB 28
Keanu yang meyakini situasi aman dan terkendali itu keluar dari persembunyiannya. Dirapikannya sarung tangan hitam dari karet yang ia kenakan. Lalu melangkah perlahan ke rumah pria nelayan. Ia tidak langsung menemuinya di depan mata, namun mengendap-endap seperti maling dan memutar ke jalan samping kemudian menyergapnya dari belakang.
Tanpa kata-kata sapaan, dengan entengnya ia memukulkan martil ke kepala nelayan tersebut dengan kencang hingga tempurung kepala itu retak dan berdarah-darah.
"Ouggh!!"
Sudah melakukan itu, Keanu kembali memukulkan martilnya ke wajah pria nelayan yang berbalik menghadapinya.
CRAK CRAK
Hidung pria itu remuk hingga bola mata yang ia punya hampir keluar karena hantaman keras yang dilakukan Keanu.
Pria itu terkapar tanpa perlawanan yang berarti. Namun tangannya meraih-raih dan mencengkeram celana Keanu dengan erat.
"K kau..???"
"Yaa. Aku pria yang kemarin meminta bantuan darimu namun tidak kau pedulikan. Seandainya kau membantuku sedikit saja, aku tidak akan melakukan ini padamu," Keanu berbisik di dekat telinga nelayan.
"Selamatkan aku...."
"Selamatkan? Apa sekarang kau menyesal? Sayang sekali, saat ini aku tengah mengijinkanmu merasakan hal yang sama denganku. Hmm.. Kesakitan luar biasa, namun tak ada seorang pun yang bersedia menolongmu!!!!"
Keanu meraih tongkat besi yang digunakan nelayan untuk membentangkan jaring yang sedang ia rajut. Tongkat pasak tersebut ia cabut dari tanah dan tanpa pikir panjang lagi langsung ia tancapkan ke dada pria nelayan yang terbaring lemah di tanah.
CROK!
Bibir Keanu terangkat sebelah menyaksikan manusia yang sedang sekarat di depan matanya.
"Nikmati rasa sakitmu, bung. Minta tolonglah pada orang-orang jika kau ingin. Pssstt!!! Tapi sayangnya, lokasi rumahmu sudah ditinggalkan orang-orang. Jadi bersabarlah. Tunggu sampai ada yang datang,," Keanu lagi-lagi tertawa.
Sambil tertawa, ia berjalan santai meninggalkan pria itu begitu saja. Karena tongkat besi yang menancap tepat di jantungnya serta darah yang keluar begitu banyak, nelayan itu menghembuskan nafas terakhirnya tepat saat Keanu keluar dari halaman rumahnya.
Satu target sudah ia lenyapkan, kini ia bergegas menuju lokasi korban ke dua.
Di lokasi kedua ini, Ken melihat tempat yang juga sepi penduduk. Mungkin benar tebakannya, banyak yang mengungsi ke kota akibat pembunuhan yang dilakukannya.
Di saat ia mengintai, dilihatnya seorang wanita yang membawa sayuran di dalam keranjang bambunya. Wanita itu menggandeng seorang anak kecil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Karena tidak keluar lagi, Keanu pun mendekati rumah tersebut. Ia berjalan santai sambil membawa martilnya. Begitu ia berdiri di depan rumah wanita itu, ia pun bersiul tenang melantunkan nada lagu yang terdengar horor.
Ia mengelilingi rumah tersebut sambil menyeretkan martilnya ke tembok, jendela dan pintu hingga menciptakan suara berdecit sebagai ancaman mengerikan.
Mendengar suara siulan dan gesekan benda ke dinding dan jendela, wanita yang semula ada di dapur itu mengintip dengan rasa takut dari dalam.
Dilihatnya pria gila datang membawa martil yang berlumuran darah. Ia pun langsung syok dan merinding. Dengan ketakutan yang amat sangat, ia berlari dengan wajah pucat pasi sambil meraih putranya yang bermain di ruang tamu kemudian membawanya bersembunyi di kamar.
"Georgius, kau diam di sini, ya. Jangan keluar sebelum ibu menyuruhmu. Mengerti?!"
"Tapi ibu, aku mau main..."
"Jangan merengek. Berjanjilah pada ibu kau akan bersembunyi di sini sampai ibu membukakan pintu ini untukmu! Jangan bicara dan sembunyikan dirimu dengan baik. Mengerti?"
"Iya, ibu."
GREB
Tepat saat wanita itu menutup pintu lemari pakaian tempat putranya ia sembunyikan, Keanu datang sambil meringis. Senyuman ramah dan barisan rapi giginya justru terlihat mengerikan di mata wanita itu.
"K kau pria yang,-"
"Benar...."
"K kenapa kau kemari?" tanya wanita itu gemetaran.
"Tentu saja bertemu denganmu..."
KLIP
Keanu masuk ke dalam kamar dan menyapukan pandangannya ke segala sudut. Ia mendekati lemari pakaian dengan pelan mencari anak laki-laki yang ia lihat tadi. Namun tiba-tiba, wanita itu mengangkat kursi kayu yang ada di sana dan memukulkannya pada Keanu.
BRAK!
Meski kursi itu patah, rupanya Keanu masih sanggup berdiri tegap. Ia menoleh dengan wajah sinis pada sang wanita. Lirikan matanya saat itu begitu mengerikan hingga membuat takut.
SRAK
Keanu menjambak rambut wanita itu hingga jatuh tersungkur di hadapannya. Kemudian karena wanita itu memegangi kakinya, ia pun menendangnya kuat-kuat.
Masih belum puas, Keanu menempeleng kepala wanita itu beberapa kali, menyeret rambutnya, lalu melemparkannya ke dinding dengan kasar.
Akibat penganiayaan darinya, pakaian wanita itu pun berantakan. Bahkan karena kancing yang lepas, tanpa sengaja membuat bongkahan besar menyembul dari celahnya.
Melihat harta berharga seperti itu, Keanu pun mendekatinya dengan cepat.
"Maafkan aku, tuan. Tolong ampuni aku.." rengekan penuh air mata dari bibir berdarah sang wanita.
Namun Keanu justru menariknya dan menelanjanginya dengan paksa. Begitu ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia akan menyelesaikannya saat itu juga. Seperti orang kesetanan, ia pun mencumbui tubuh sang wanita dengan ganas. Tentu saja wanita itu menjerit-jerit ketakutan seraya melawan dengan sekuat tenaga.
Dari dalam lemari pakaian, anak laki-laki itu mengintip ibunya yang sedang dianiaya. Ia ingin menolong ibunya, namun ia takut!
Ketika wanita itu melihat putranya hendak keluar pun, ia langsung menggelengkan kepala dan menyuruhnya kembali bersembunyi.
"Jangan!" begitu isyaratnya.
Akhirnya, anak itu pun menuruti dan tetap diam di dalam lemari sambil menutup mulutnya yang terus saja menangis.
Karena terus saja melawan, Keanu mel*mat bibir sang wanita dengan penuh hasrat. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu bersuara sedetik pun.
Badai nafsu yang wanita itu hadapi bukanlah sesuatu yang mudah ia hindari. Dengan tubuh yang lemah dan terasa remuk itu, ia merasakan sentuhan lidah yang lihai pada buah dadanya dengan beberapa kali hisapan yang mematikan.
"Aaahh..." tanpa sadar wanita itu melenguh dengan nafas yang tak beraturan.
Belum sempat ia mengatur nafas, Sesuatu yang keras dan menohok bagian bawahnya itu membuatnya mendelik. Belum lagi saat ia merasakan benda keras itu keluar masuk dengan cepat dan sekuat tenaga di dalam anunya, ia pun menggelinjang hebat.
Di situasi yang ia hadapi saat ini, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menyerah pada takdir tentang bagaimana dan seperti apa ia akan berakhir nanti.
Dua tahun hidup sendiri tanpa suaminya membuatnya ingin mengakhiri hidup. Beban berat yang ia tanggung membuatnya frustasi dan sakit kepala. Namun, inikah jalan terakhir baginya untuk menghadapi kematian?
Begitu selesai dengan hasratnya, Keanu mengikat tangan dan menyumpal mulut wanita itu menggunakan underwear yang semula ia kenakan. Tidak lupa juga ia membungkus kepala sang wanita dengan pakaiannya. Kemudian dengan kasar ia menyeretnya keluar dan memasukkannya ke dalam mobil.
••••••
BRUKK!
Choa melihat Keanu membawa seorang wanita telanjang yang bertubuh montok. Kepalanya masih tertutup pakaian dengan tangan yang terikat ke belakang.
"Jangan berani sentuh dia! Urus saja bayi itu untukku!" ucapnya pada Choa.
"I iya."
Begitu Keanu keluar, Choa memberanikan diri bertanya, "Kau, siapa namamu? Mengapa kau harus berakhir di sini?"
Wanita itu menoleh karena mendengar seorang wanita bertanya kepadanya.
"S siapa kau? Apa aku tidak sendirian?"
"Hmm. Ada aku di sini. Juga dua orang temanku yang sedang berbaring di dekatmu," ungkap Choa menceritakan soal mayat Daisy dan Lorena yang masih tergeletak di tempat itu.
"N namaku Jin. B bisakah kau menceritakan padaku tentang tempat ini? Apa kau tahu aku ada di mana sekarang? Huhuhu... putraku sendirian di rumah.. sekarang ini dia pasti ketakutan dan lapar..." wanita yang bernama Jin itu menangis sedih.
"Seharusnya, kau tidak boleh berada di tempat ini, Jin. Tempat ini sebuah neraka!!"
"A apa maksudmu?" Jin merasa takut.
"Sekali kau masuk, kau tidak akan keluar hidup-hidup."
"Apa!!"
"Pria yang membawamu tadi adalah seorang psychopath! Dia pendendam dan gila!!
"Pendendam?" Jin berpikir apa yang menjadi kesalahannya.
Maka ia pun teringat soal malam kemarin saat ia melihat Keanu terpuruk dan meminta tolong padanya untuk mengambilkan obat. Aah!! Benar. Apakah karena itu?
Jin merasa sedih harus meninggalkan putranya seperti ini. Ia pun mengutuk dirinya sendiri karena tidak berani menolong pria itu ketika ia membutuhkan pada malam sebelumnya.
NEXT BAB 29.....