
BAB 29
Ketika itu, Keanu yang gilanya semakin menjadi-jadi tampak sedang mengelap darah yang ada pada tubuh Jin. Karena terlalu berisik, wanita itu tidak lagi berguna baginya.
Ia membunuhnya pagi hari saat ia datang hendak melihat bayi yang dirawat Choa. Bahkan meski Trissa yang seorang anak kecil ada di sana, Keanu tidak menahan-nahan aksi kejinya.
Setelah yakin tidak ada sisa darah yang mengotori jasad Jin, Keanu yang mempunyai gaya baru dalam menangani mayat korbannya pun menyeret sebuah karung berisi beberapa balok parafin. Ia bermaksud membuat patung boneka dari mayat korbannya.
"Kemarin saat aku pergi jalan-jalan, tanpa sengaja melihat patung Maria di pusat kota. Teramat cantik dipandang. Kau tahu? Ide cemerlangku langsung bergejolak," kata Keanu pada jasad Jin.
Faktor lain yang membuatnya terinspirasi adalah keberadaan patung boneka yang terpajang di salah satu rumah desain yang ada di kota dan tidak sengaja ia lihat saat berkeliling kota kemarin.
Dan tanpa sengaja ia juga melewati sebuah pabrik kimia pembuat parafin. Karena truk-truk kemas yang hendak mengirim barang tidak dijaga, Keanu dengan mudahnya mengambil beberapa karung yang ada di dalam truk pengiriman tersebut.
BLUKUTUK...
BLUKUTUK....
BLUKUTUK....
Suara gelembung parafin yang dipanaskan di sebuah loyang besi terdengar sudah mencair. Benda berbentuk balok dan bening itu kini meleleh seperti bubur.
Setelah api dimatikan, Keanu menunggu hingga cairan itu sedikit kental agar mudah baginya memoles tubuh Jin dengan cairan lilin tersebut. Ia merapikan kembali penampilan Jin agar terlihat cantik. Bahkan sempat-sempatnya, ia juga menyisir rambutnya dan memberi pewarna bibir pada bibir wanita itu dengan warna merah dari darah.
Keanu menyeringai puas, bonekanya sudah tampak cantik dengan posisi duduknya. Sedikit demi sedikit, ia melapisi tubuh tersebut dengan lilin yang sudah mulai mengental seperti krim.
Choa yang mengamati perilaku Keanu gemetaran. Ia benar-benar tidak menyangka, ada iblis keji di dalam diri yang kesepian itu.
Sambil mendekap bayi Daisy, ia menggigil ketakutan. Entah kapan tiba gilirannya akan diperlakukan seperti itu oleh pria psyco yang berdiri tak jauh darinya.
Hampir dua jam lamanya, Keanu membuat boneka lilinnya agar tampak sempurna. Ia begitu detile memoleskan lilin ke setiap lekuk tubuh hingga semuanya terlapisi dengan baik.
SRAK
Keanu meletakkan sekop kecil yang ia gunakan ke atas meja. Kemudian ia melepas sarung tangannya dan pergi keluar dari ruang rahasianya tanpa bicara sepatah katapun pada Choa.
•••••
Hari itu, Keanu berpura-pura datang ke rumah Genie untuk menanyakan kabar pencarian Trissa. Ia mengambil hati Genie dengan cara ikut melakukan pencarian.
Sudah dua puluh hari sejak hilangnya Trissa, kepolisian desa belum juga mendapatkan kepastian. Mereka bahkan meminta bantuan dari kota, namun masih juga tidak ada perkembangan.
Dan ketika malam hari Keanu menginap di rumah Genie,
"Apa anak-anak sudah tidur?"
"Ya. Mereka baru saja ku buatkan susu hangat agar tidur mereka nyenyak. Sudah beberapa minggu ini mereka menjadi murung dan selalu bermimpi buruk," jawab Genie sambil duduk lesu di ranjangnya.
"Yakinlah. Bahwa mereka akan baik-baik saja menghadapi kenyataan ini. Aku akan berusaha dengan baik untuk menemukan Trissa. Hmm.. Aku rasa, sebaiknya kau juga harus beristirahat," Keanu mengusap rambut Genie dan mulai menyelimuti pacarnya itu.
Merasa bahwa Keanu benar-benar peduli pada keluarganya, Genie pun menatap wajah pria itu dengan haru.
"Kau sangat memedulikan kami, ya?"
"Tentu saja. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri," jawab Keanu dilanjut dengan senyuman mengerikan yang tidak sempat dilihat oleh Genie.
Ketika Keanu mematikan lampu kamar dan berjalan keluar, tangan Genie menahannya.
"Kau mau tidur di luar?" tanyanya.
"Aah.. Ya."
"Kenapa harus di luar? Kau bisa tidur di sini bersamaku,"
Keanu menoleh pada Genie. Wajah tampan dengan hidung yang mancung tersorot cahaya bulan sehingga menampakkan keindahan.
Ia tidak berpikir bahwa gadis itu sedang menggodanya. Namun kenyataannya berbanding seratus persen.
"Entah mengapa, setiap kau ada di sisiku rasanya aku bisa tenang," kata Genie.
Mata Keanu melirik dan menatap kepala Genie dengan tajam. Ia benar-benar ingin menerkamnya saat itu juga.
Belum juga ia melakukan sesuatu, perlahan Genie bangkit dari tidurnya dan tanpa rasa canggung langsung duduk di atas pangkuannya.
"Aku rasa sebaiknya kita tidur saja se,-" ucap Keanu terpotong saat jari telunjuk Ganie menempel di bibirnya.
Dan dengan beraninya, gadis itu meraih kepala Keanu dan menyesap bibirnya terlebih dahulu. Dengan kedua kakinya yang memagari paha Keanu, ia menggerakkan pinggulnya naik turun membuat sentuhan menggoda.
Keanu jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia membalas Genie dengan tidak kalah panasnya. Tangannya pun merangsek ke bawah tubuh Genie dan membuat permainan yang membuat Genie semakin berkeringat dan menggelinjang.
Tidak butuh waktu lama, keduanya pun menghabiskan malam dengan peluh. Suara pertemuan tubuh mereka terdengar begitu jelas di tengah-tengah malam yang sunyi.
Keanu menghajar Genie habis-habisan hingga gadis itu hampir saja pingsan. Bagaimana tidak? Sudah tiga jam lamanya Keanu masih saja bertahan dan berkuda dengan gila.
Dan pada puncak terakhirnya, Genie benar-benar pingsan. Rupanya ia tidak sanggup mengikuti permainan gila dari Keanu.
Melihat Genie pingsan, Keanu segera meraih pakaiannya dan bergegas pergi ke kamar Tracy dan Teresha. Ia sudah memperkirakan semuanya dengan baik.
KRIEEKK
Dibukanya pintu kamar anak-anak itu dengan pelan. Kemudian ia meraih tubuh keduanya dan menggendongnya di pundak. Untung saja, anak-anak itu tidur dengan lelap sehingga tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.
Ia membawa mereka ke dalam mobil dan pergi menuju rumahnya. Tanpa ada siapapun yang memergokinya.
••••••
Esok harinya, Genie bangun karena jam alarm miliknya berbunyi sangat nyaring. Ia tidak menemukan Keanu di sisinya. Ke mana dia?
Sambil menguap, ia juga pergi ke kamar anak-anak. Namun tidak ada siapapun di sana.
"Ke mana mereka? Apa sudah bangun?" gumamnya.
Sambil menggaruk-garuk rambut, Genie memeriksa kamar mandi. Barangkali saja Tracy dan Teresha sedang mandi sekarang. Namun, setelah ia membuka pintu kamar mandi dan memeriksa bagian dalamnya, anak-anak itu tidak ada juga di sana.
Genie cemas. Ia berlari menuju lantai bawah dan mencium bau masakan.
"Apa mereka sedang memasak?"
Namun yang ia temukan justru Keanu.
"Kau sudah bangun? Bagaimana dengan anak-anak?"
Genie mematung.
"Ada apa?" Keanu berlagak tidak tahu.
"Apa kau melihat anak-anak?"
"Anak-anak? Bukankah mereka ada di atas? Aku menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum mereka bangun," Keanu tersenyum.
Genie menggelengkan kepalanya, "Mereka tidak ada di kamar!"
"Apa? Bagaimana mungkin? Bukankah semalam kau memastikan mereka minum susu dan tidur?"
"Benar. Tapi aku serius. Mereka tidak ada di kamar!"
Keanu mematikan kompor dan berhenti memasak, "Tiga puluh menit yang lalu, aku bangun tidur dan mandi. Kemudian langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Aku belum melihat mereka turun sejak tadi. Jadi mana mungkin tidak ada?"
Genie yang hanya mengenakan baju tidur tipis dan merampang itu memegangi kepalanya yang pusing.
"Apa mereka diculik???" pertanyaan gelisah dari mulut Genie itu rupanya membuat Keanu senang.
BERSAMBUNG