
BAB 34
FUAHH!!
Keanu bernafas kembali ketika sampai di permukaan dalam guanya. Sungguh melelahkan menyelam dengan kondisi tubuh yang terluka.
Darah segar dari tubuhnya yang menyatu dengan air laut membuatnya berenang dengan terburu-buru. Ia tidak bisa bersantai sebab ia khawatir jika bau amis darahnya itu mengundang makhluk buas yang tinggal di lautan.
Makhluk?
Ya. Laut itu memiliki beberapa ikan hiu yang ganas. Ia pernah melihatnya dulu saat membawa Gricel. Mata merah dan menakutkan dari makhluk itu sempat membuat Keanu berpikir ulang untuk melakukan perjalanan ke bawah laut seperti yang ia lakukan.
Begitu ia naik ke lantai gua, dilihatnya kembali ruangan yang sudah lama ia tinggalkan. Bahkan di tempat tersebut, terdapat sebuah jasad yang tampak masih utuh. Jasad siapakah gerangan?
Ah! Sepertinya itu Gricel!
"Yang benar saja? Apa ini Gricel?" gumam Keanu tak percaya.
Memang benar. Sepertinya itu memang Gricel. Waktu meninggalkan jasad itu di sana, ia tidak membuangnya atau mengarungkannya ke lautan.
"Meski ini terdengar aneh, tapi aku merasa senang ada seseorang yang menyambutku di sini," ucap Keanu pada dirinya sendiri.
UHUK!
Keanu batuk darah lagi. Badannya terasa sangat letih. Nafasnya juga tersengal. Perlahan, ia menyandarkan punggungnya ke dinding gua yang dingin.
"Apa ini akhir dari hidupku?"
Tiba-tiba Keanu terkekeh. Ia membayangkan kembali bagaimana akhirnya ia mengalami situasi seperti ini.
"Tidak boleh begini. Aku harus membunuh Genie terlebih dahulu sebelum mati. Lalu anak-anak itu. Sean dan semua polisi yang mengejarku."
Astaga. Sudah dalam keadaan begitu pun Keanu belum juga sadar. Ia tetap berpikir untuk membunuh?
Dengan tangan gemetaran, Keanu meraih tas punggungnya dan mengambil kantung plastik berisi obat.
Ditelannya beberapa pil pereda nyeri yang ia bawa tanpa air minum. Kemudian ia meraih pisau bedah yang ada di meja batu koleksinya.
Setelah menarik nafas panjang terlebih dahulu, Keanu pun menyiram lukanya tersebut dengan alkohol. Lantas menyayat luka tembaknya dengan pisau bedah yang ada di tangannya untuk mengeluarkan peluru.
"Eeerggghh..." rintihnya kesakitan.
Darah segar mengalir deras dari lukanya. Peluru yang bersarang di dalam bahunya itu sedikit sulit untuk ia ambil. Sebab, peluru tersebut tersangkut di dalam tulang persendiannya.
Pada usahanya itu, tangannya tiba-tiba terkulai lemas beberapa saat. Ya. Sepertinya ia kehabisan tenaga sebab darah yang keluar sangat banyak.
Bahkan kini Keanu tampak menggigil. Ia mengalami sesak nafas sehingga nafasnya semakin tersengal.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Keanu berhalusinasi seakan melihat Gricel bangkit dan duduk di hadapannya.
Dalam halusinasinya, wanita itu mendekat dan mengulurkan kedua tangannya untuk mencekik lehernya.
"Apa yang kau lakukan??" Keanu terkejut dan menahan serangan itu dengan kedua tangannya.
Cekikan Gricel semakin erat ia rasakan. Belum lagi kepala remuk wanita itu membuat pikirannya campur aduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa mual melihat hal mengerikan seperti itu.
"K kau! Beraninya kau melakukan ini padaku. Singkirkan tanganmu.. Hahh... Hahhh..." nafas Keanu terdengar berat.
••••••
SPLASSH
Gelagapan, begitulah reaksi Keanu saat membuka mata kembali setelah dua hari tak sadarkan diri. Ia seperti baru saja dihidupkan kembali setelah Gricel membunuhnya dengan cara dicekik.
Namun, apakah itu nyata? Sepertinya itu hanya halusinasi betulan. Sebab jasad Gricel yang tergeletak di sana tetaplah tidak bergerak.
KRUYUK KRUYUK
Suara kicauan cacing perut membuat Keanu belingsatan. Ia belum makan sejak dua hari lalu. Dan sekarang, rasa laparnya tidak lagi tertahankan.
Maka, diraihnya tombak yang ada di atas meja batu. Kemudian ia turun ke kedalaman laut untuk mencari ikan.
Saat menyelam di antara batuan karang, beberapa ikan tampak melewatinya.
ZAPP
Tombak ia ayunkan. Namun meleset. Ia pun berpindah tempat.
"Sialan! Kemari kau ikan, jadilah santapanku," ucapnya dalam hati.
Ketika ia melihat seekor ikan berenang di dekatnya, dengan cepat ia ayunkan tombaknya.
Beruntung, tombaknya mengenai ikan tersebut. Kemudian ia mendapat lagi dan lagi. Sayangnya, pada buruannya ke enam, Keanu merasakan sesuatu yang datang mendekat.
Benar saja. Itu hiu pemangsa!
Tanpa ba-bi-bu lagi, ia segera berenang menuju gua karang miliknya dan cepat-cepat muncul ke permukaannya.
Diturunkannya kantung jaring yang ada pada ikat pinggangnya. Lalu ikan-ikan tangkapannya itu ia bersihkan sebentar dan tak berapa lama kemudian ia makan begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu.
Bagaimanapun tidak ada cara lain untuk bertahan hidup di bawah laut selain pilihan yang ia ambil itu. Tidak ada kompor maupun api. Tidak ada acara masak memasak pula.
Setiap ia duduk menyantap ikan segar yang ia dapat itu, Keanu berpikir. Ia memperkirakan pencarian polisi mungkin sudah agak mengendor. Jadi, ia bisa saja menyelinap ke permukaan dan mendatangi Genie.
Akan tetapi, Keanu bersabar. Ia menghabiskan hari-harinya di bawah laut tanpa muncul ke permukaan. Dan di hari ke dua belas pelariannya, Keanu masih sama. Mencari ikan untuk makanannya.
Badannya sudah lumayan baik. Dua peluru yang bersarang di pundak dan kakinya itu pun berhasil ia keluarkan.
TREK
TREK
Hari itu, Keanu sedang mempersiapkan dirinya untuk kembali ke permukaan. Tak lupa, ia membekali dirinya dengan martil dan tali kawat pengikat. Lalu sebuah pisau bedah ia selipkan di antara pinggangnya.
BLUP BLUP BLUP
Ia mulai menyelam. Dikayuhnya kedua kaki tanpa alas itu dengan cepat. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah tombak dengan ujung yang tajam. Untuk apa? Untuk berjaga-jaga seandainya ada ikan hiu yang mengejarnya.
SUUURRR
Dimunculkannya kepalanya secara perlahan ke permukaan. Tidak akan ada yang mengira bahwa ada separuh kepala yang muncul dari air. Diam-diam, ia mengintip dari jauh. Apakah ada pergerakan dari polisi.
Ternyata, tidak ada satupun polisi di sana. Mungkin mereka semua sudah menyerah mencarinya.
"Dasar payah. Mencari seorang penjahat saja kalian tidak becus," remeh Keanu.
Maka dengan mudah, Keanu menyusuri lokasi dimana ia biasa muncul di sungai. Saat berjalan ke jalan setapak, dua orang polisi memergokinya.
"Tunggu! Siapa kau???"
Keanu diam dan berdiri mematung. Sampai petugas polisi itu mendekatinya, barulah ia menoleh dan langsung menyerang mereka.
SRAK KRASAK
"Itu Keanu! Si pembunuh gila!"
Dua petugas itu kaget dan tidak mengira akan mendapat serangan menggila. Penjahat buruan mereka itu menyerang tanpa peduli siapa yang diserang. Dengan tombak, tubuh mereka ditikam berulang kali. Bahkan sampai tembus ke belakang.
Usai menjatuhkan dua petugas polisi yang menyisir sungai, Keanu berjalan gontai menuju rumahnya. Ternyata rumahnya itu sudah diobrak-abrik oleh polisi.
"Sialan! Mereka sembarangan merusak properti pribadiku."
Keanu berdiri di depan pintu kamarnya. Semua isi lemari pakaian dan laci di kamarnya tersebut amburadul dan acak-acakan di lantai.
Begitu juga kamar kosong milik Rula dan orang tuanya. Kondisinya pun sama sama berantakan. Buku dan pakaian berserakan di sana sini.
KLIP
Keanu melihat sebuah foto usang tergeletak di lantai. Warna kertasnya sudah sangat lawas dengan gambar potret yang tidak begitu jelas. Perlahan, diraihnya kertas tersebut dengan tangan kiri.
"Ini foto Rula waktu kecil."
"Putraku. Apa kau senang sekarang?" tiba-tiba Keanu mendengar seseorang bertanya padanya.
Lagi-lagi ia berhalusinasi. Kali ini ayah dan ibunya.
"Ayah? Ibu? Kenapa kalian ada di sini?"
"Sampai kapan kau akan menjadi pembunuh? Lihatlah, situasi yang kau hadapi semakin rumit. Jadi berhentilah. Sebaiknya kau juga menyerahkan diri pada polisi sekarang juga."
Keanu mendelik, "Tidak."
"Apa?"
"Aku tidak akan berhenti. Merekalah yang membuatku menjadi iblis seperti ini. Mereka pula yang harus menghentikanku dengan kematian mereka."
Keanu berjalan keluar dari kamar melewati kedua orang tuanya.
"Keanu. Ayah tahu kau merasa sangat kesepian. Tapi bukan dengan cara seperti ini mencari perhatian orang lain," tangan kanan ayahnya menepuk bahu Keanu.
"Ayah tahu apa?" jawab Keanu seraya menepis tangan tersebut.
"Aku tidak kesepian. Aku hanya membalaskan dendam kalian. Kematian yang kalian alami, bukankah semua itu tidak adil? Apa kau tahu, bagaimana kematian menjemput Rula? Orang-orang picik itu, mereka membunuh dan memenggal kepalanya."
"Jadi, aku membunuh mereka semua yang berkolusi atas kematiannya. Tanpa memenggalnya, aku meremukkan kepala-kepala mereka. Bukankah dengan cara seperti itu aku mendapatkan keadilan untuk kalian??"
Usai bicara panjang lebar, Keanu terkekeh. Cukup lama dan tak ada henti-hentinya.
.
.
BERSAMBUNG....