THE PSYCHOPATH'S SECRET

THE PSYCHOPATH'S SECRET
BERMALAM DI LUAR



BAB 8


Keanu keluar dari rumah dan berjalan menuju tempat dimana ia membuat janji dengan Genie di tempat permainan. Di telusurinya jalanan yang basah dan licin. Sebab semalam turun hujan dengan derasnya.


Ketika melewati sebuah rumah, ia melihat beberapa pria yang berkumpul sedang membakar ikan tuna hasil tangkapan. Keanu berhenti sebentar di seberang jalan.


Ia berdiri mematung menatap dari kejauhan karena merasakan aroma bakaran yang harum. Aroma lezat dari tuna segar, membuat perutnya yang sejak kemarin belum diisi makanan itu menjadi keroncongan karena lapar.


Meski Keanu sudah berdiri di kejauhan, rupanya ada saja yang melihat kehadirannya di sana. Maka, seorang pria dengan sengit melemparkan sebuah kayu dengan bara apinya yang masih menyala ke arah Keanu.


BLETAK!


Kayu itu terlempar dan mengenai dada Keanu dengan keras. Dan tanpa disangka-sangka, bara api dari kayu itu pun membuat jaketnya tersulut api dan terbakar.


"Oh, astaga!"


Keanu dengan cepat menepuk-nepuk api yang muncul di jaketnya. Bahkan ia mencoba memadamkannya dengan cara berguling di jalanan.


Siapa sangka? Pria-pria di sana justru tertawa terbahak-bahak melihat kesusahan yang dialami Keanu. Mereka merasa sah-sah saja mengganggu pemuda gila seperti Keanu.


Begitu api berhasil ia padamkan, pria yang tadi melempar kayu kepadanya berteriak sambil melemparinya batu.


"Pergi kau orang gila! Makananku bisa-bisa tercemar bau busuk darimu!"


Lemparan batu yang terakhir, ternyata mengenai tulang pipi Keanu hingga membuatnya terluka dan berdarah.


Ketika para pria itu kembali menertawakannya, Keanu melihat dua orang yang ia temui di restauran tempatnya bekerja waktu itu. Mereka adalah teman-teman bosnya. Para pria yang membicarakan kematian ayah dan ibunya.


DEG


Keanu tiba-tiba saja merasa diingatkan dengan kematian orang tuanya. Kedua pria itu, pria yang menemui bos restorannya untuk membicarakan perintah sang walikota kala itu. Yang entah mengapa, membuat orang tuanya terbunuh dengan keji.


Pada saat seperti itu, keluarlah seorang gadis dari dalam rumah dan membawa minuman jeruk. Untuk sesaat ia memperhatikan Keanu, namun kemudian ia bersikap acuh tak acuh kepadanya. Rupanya gadis itu adalah putri dari salah satu pria yang tidak langsung, terlibat dalam kematian orang tuanya.


"Tertawalah sepuasnya, sebelum kemalangan terjadi pada kalian semua."


Keanu bicara dalam hati dan perlahan mengepalkan tangannya karena menahan amarah dan pikiran gelap dalam hatinya.


Ditinggalkannya tempat itu dengan lalu. Ia akan memikirkan soal mereka dikemudian hari. Untuk saat ini, ia harus menemui Genie terlebih dahulu.


Ketika ia sampai di tempat perjanjian, ia tidak melihat sosok gadis itu di sana. Keanu pikir, Genie terlambat datang. Maka, ia pun duduk di depan permainan terlebih dahulu. Siapa sangka? Tiba-tiba seseorang mengejutkannya dari belakang.


"Akhirnya kau datang juga," ucap Genie.


Keanu menoleh,


"Kau sudah datang? Tapi, aku tidak melihatmu ada di sini?"


"Aku menunggumu di dalam mobil," jawab Genie tertawa sambil menunjuk mobilnya.


Gadis itu duduk di samping Keanu dan mengatakan bahwa ia ingin pergi jalan-jalan.


"Temani aku jalan-jalan, ya?"


"Ke mana?"


"Keliling pulau," Genie bersemangat.


Keanu memperhatikan mimik muka Genie yang amat riang. Maka ia pun mengangguk menyetujuinya.


•••••


Dan, setelah Keanu setuju berkeliling pulau, mereka pun mulai duduk di dalam mobil. Sebelum mobil itu melaju, Genie yang tanpa merasa risih ataupun malu, tiba-tiba saja melepas kemejanya dan berganti mengenakan kaos hitam dengan model leher rendah.


Pada saat gadis itu berganti pakaian di hadapannya dengan santai, Keanu melirik sambil menelan ludah gara-gara melihat kemolekan tubuh Genie. Belahan cekung yang memisahkan buah dada m*ntok milik Genie itu tampak berkeringat.


Jujur saja!


Keanu menjadi terangsang. Beberapa kali ia melirik ke arah sana tanpa Geni sadari. Dan sebuah benda tersembunyi pun menjadi terbangun karenanya. Begitu selesai mengganti pakaiannya, Genie mulai bersiap mengendarai mobil dengan santai.


"Ngomong-ngomong, apa kau mencium bau hangus?" Genie bertanya karena baru merasakan aroma gosong pada jaket Keanu.


"Apa yang kau maksud adalah ini?" Keanu menunjukkan bekas gosong di jaketnya.


"Oh astaga. Kenapa jaketmu terlihat seperti bekas terbakar?"


"Benarkah? Kau ceroboh sekali, xixixi," Genie tertawa geli.


"Ahh.. haha.. iya."


Genie berhenti tertawa dan memutar kunci mobil, "Oh ya. Apa kau bisa menyetir?"


"Tidak, aku tidak bisa," jawab Keanu berbohong.


Genie menoleh cepat dan mematikan mesin mobil, "Bagaimana kalau sekarang aku mengajarimu?"


Tanpa menunggu jawaban dari Keanu, gadis itu menggeser badan untuk bertukar posisi dengan cara berdiri setengah membungkuk di hadapan Keanu. Sikap Genie yang seperti itu benar-benar membuat Keanu tergoda. Apalagi penampakan buah dada yang m*ntok lewat tepat di depan matanya.


Hah!


Gadis itu. Dia tidak tahu, bahwa pemuda yang bersamanya bukan pemuda yang biasa-biasa saja. Jika saja ia tahu bahwa Keanu adalah salah satu contoh seorang penjahat yang sesungguhnya, maka ia tidak akan memancingnya dengan cara seperti itu.


Keanu berlagak tidak bisa menyetir di depan Genie. Padahal, beberapa tahun yang lalu sebelum Rula tewas, ia pernah bekerja di sebuah rumah penangkaran ikan sebagai petugas pengiriman.


Beberapa jam kemudian, mereka berhenti di padang savana kota sebelah. Karena saat itu sudah mulai petang, mereka pun berhenti di tengah perjalanan.


Genie turun dan membuka bagasi mobil. Rupanya ia sudah menyiapkan beberapa peti kayu yang berisi buah dan makanan.


"Kita buat perapian di sini," katanya.


"Perapian?"


"Hmmm. Untuk menghemat bahan bakar, sebaiknya kita bermalam di sini," kata Genie sambil tersenyum.


Akhirnya, mereka berdua duduk di dekat perapian sambil menikmati cemilan. Keanu memperhatikan Genie seakan ingin menelannya bulat-bulat.


"Gadis yang cukup berani. Meski tidak mengenalku dengan baik, dia berani berduaan seperti ini bersamaku."


Keanu tersenyum miring.


WUZZZ...


Angin sepoi meniup api unggun yang menghangatkan malam mereka. Di tempat terbuka seperti itu, suhu udara menjadi terasa sangat dingin. Apalagi saat memasuki bulan November ini, musim salju hampir tiba.


"Keanu, apa kau pernah berkencan dengan seseorang?"


"Kencan? Tidak. Gadis mana yang mau berkencan dengan pria gila sepertiku?" Keanu tertawa.


"Benarkah, kau serius?"


Keanu mengangguk, lalu menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya. Apa yang sedang dia pikirkan? Pikir Keanu dalam hati.


Sambil memperhatikan Genie yang duduk santai bersandar pada kursi lipatnya, tatapan mata Keanu tidak mau lepas dari pay*dara Genie.


Pada akhirnya, ia berdiri menjauh karena hasrat di dalam tubuhnya semakin bergejolak. Meski pandangannya menatap jauh ke arah langit dan bintang, rupanya pikirannya tetap fokus pada gadis molek yang sedang bersamanya.


Tiba-tiba Genie sudah berdiri di dekatnya dan ikut memandang bintang.


"Indah sekali bukan?" katanya.


Keanu diam saja. Karena tidak juga mendengar jawaban dari Keanu, Genie pun menoleh penasaran. Begitu menoleh, ia melihat wajah Keanu yang terkena sinar bulan. Wajah tampan itu kini terlihat jelas. Dan pada detik itu juga, Genie merasa jatuh cinta padanya.


Entah mengapa, seakan ada magnet tersendiri yang membuatnya tertarik pada Keanu. Meski baru dua kali ini bertemu muka, tetapi ia merasa langsung cocok saat mengobrol bersamanya.


Aih.. Gadis itu tidak sadar bahwa dirinya perlahan masuk dalam jerat iblis. Iblis yang membunuh saudara iparnya dengan keji. Dan bahkan sekarang, iblis itu sedang merencanakan sesuatu untuknya.


Begitu malam semakin larut, mereka berdua mulai masuk ke dalam mobil. Genie pun mulai mengantuk dan tidur di samping Keanu.


Namun ternyata, Keanu belum tidur. Ia bangun dan memperhatikan tubuh Genie dari kepala hingga kaki. Meski akhirnya ia tidak melakukan apa-apa.


Dengan perlahan, ia keluar kembali dari mobil dan duduk di dekat perapian. Entah mengapa matanya tidak bisa terpejam. Meski kelopak matanya sudah terasa berat, namun rasa kantuk tidak jua datang. Bayangan-bayangan tentang Elissa, Gricel maupun korban pembunuhan lainnya, akhir-akhir ini kerap melintas dalam benaknya disaat ia hendak pergi tidur.


"Hooh!! Merepotkan sekali. Mengapa mereka harus melintas di pikiranku," gumamnya.


Keanu merebahkan tubuhnya di atas tikar yang baru saja ia buka. Lalu ia tidur dengan amat kesulitan.


Bersambung......