
BAB 36
GLEGUK
GLEGUK
Jantung Keanu kembali berdegup setelah beberapa menit berhenti. Sesaat yang lalu, ia merasakan tiga buah tembakan mengenai punggungnya dan menembus jantungnya.
Lalu, ia merasakan jantungnya tersebut berhenti berdetak dan nafasnya pun ikut menghilang. Meski Sean dan kapten satu itu terus bicara, ia tidak lagi dapat mendengar.
Ia pikir, ia sudah mati. Namun di mana ia sekarang?
Jika beberapa waktu lalu ia diinjak kapten satu di pekarangan rumah Genie, saat ia membuka mata kali ini ia tidak berada di sana. Ada bau alkohol atau karbol, bukan bukan. Bau semacam obat obatan disertai suara bising alat yang berbunyi "Nit.. Nit.. Nit...".
Selain itu, ia juga merasa banyak benda seperti jarum yang menusuk tangan kirinya.
"Di mana aku?" Keanu mencoba membuka matanya namun sulit. Ia pun tertidur lagi. Cukup lama.
NIT...
NIT.....
NIT........
Tiga hari kemudian, Keanu kembali sadar. Ia menoleh ke kanan kirinya yang ternyata hanya gorden. Ia juga berbaring di sebuah ranjang dengan seprei putih. Situasi apakah itu?
"Oh, kau sudah bangun?" ucap seorang perawat yang kebetulan tengah memeriksanya.
"Di mana aku?"
"Kau di rumah sakit. Seseorang menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan dengan luka tembak parah."
"Luka tembak?"
"Ya. Kami sudah mengeluarkan semua pelurunya. Jadi hanya menunggu waktu saja untukmu sembuh total."
Keanu berpikir. Benar, dia memang terluka karena tembakan. Tapi, mengapa ia ada di tengah jalan? Alih-alih menangkapnya, apakah mereka justru membuangnya di jalan?
HUP
Keanu duduk dan mencabut paksa infusnya. Kemudian ia pun turun perlahan dan berjalan keluar ruangan tanpa alas kaki.
SIIIIINNGGGG
Dilihatnya penampakan rumah sakit yang ia singgahi itu. Semua berkilauan terpantul sinar matahari. Lantai keramik dengan dinding yang menjulang amat tinggi itu beradu dengan barang-barang asing yang terbuat dari logam.
Contohnya lemari besar dengan dua pintu yang ada di dekat lorong kamarnya.
"Ada kegunaan tombol di sini?" Keanu melihat tombol untuk lift.
Tanpa tahu kegunaannya, Keanu menekan asal tombol tersebut. Ia terkejut saat terbukanya pintu lift tersebut.
"Wuah? Lemari ini kosong dan bisa membuka dengan sendirinya?" pekik Keanu.
Tanpa curiga, ia memasuki lift yang ia sebut dengan lemari besi itu. Bahkan ia menekan tombol yang sama seperti di pintu luar. Karena ia menekan tombol untuk lantai 4 maka pintu lift itu seketika menutup sendiri dan mulai bergerak naik.
"Ada apa ini? Apakah ada gempa bumi?" Keanu pun panik.
Dibentangkan tangannya sambil bersandar di dinding lift. Kakinya menekuk setengah badan menahan rasa takut yang sedang ia alami. Tiba-tiba saja ia merasakan mual yang amat sangat.
"Huugkk...." rasa mual yang hebat berusaha ia tahan.
Matanya berputar dan merasakan pening seketika. Maka muntahlah ia di dalam lift tersebut.
"Hueekk! Uhuk! Uhuk! Wueekk!"
Begitu pintu lift terbuka kembali, dua orang wanita berdiri di depan pintu melongo melihatnya.
Keanu menoleh dengan wajah mengerikan akibat dehidrasi. Jadi, di mata dua wanita itu penampakan Keanu seperti mayat hidup.
"Hiiiyy! Siapa dia? Apa dia muntah di dalam lift? Menjijikkan! Ayo pergi saja," kata salah satu dari mereka.
DEG
"Apa? Menjijikkan?" Keanu ingat kata-kata itu. Sepertinya sangat familiar baginya.
Untuk sesaat ia lupa pada perkataan yang pernah ia dengar. Namun menit berikutnya, ia ingat betul siapa saja yang pernah mengucapkan hal seperti itu padanya.
Setelah dua wanita itu pergi, Keanu melangkah keluar dari dalam lift. Tampak jelas bahwa kakinya gemetaran karena pengalaman pertama kalinya itu menggunakan lift.
"Sialan! Aku tidak mau masuk ke lemari besi itu lagi!" ucapnya sambil duduk di pinggiran pembatas kaca dekat tangga turun.
••••••
TAP
TAP
TAP
Keanu merasa takjub saat menuruni anak tangga yang sangat panjang turun ke bawah. Kapan rumah sakit desanya berkembang pesat seperti itu?
Begitu sampai di lobi, orang pun berlalu lalang tak terhitung banyaknya. Mereka sibuk mengobrol atau bicara sendiri sambil memegangi barang yang berbentuk pipih di dekat telinga.
"Menyedihkan sekali. Aku rasa, mereka semua lebih gila dariku," pikir Keanu sambil menatap heran pada seorang pemuda yang lewat di depannya sambil menelepon.
Karena tatapannya terlihat mengganggu, pria yang lewat itu bertanya pada Keanu, "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu!"
"Siapa yang menatapmu?" Keanu menendang kaki pemuda itu.
"Hei? Apa-apaan kau ini," seru pemuda itu kesal lalu memilih pergi tanpa mempedulikan Keanu karena ia sedang menelepon pacarnya.
Karena bingung mau apa lagi, Keanu melanjutkan langkahnya menuju ruang luas dengan banyak deretan kursi tunggu yang berwarna putih porselen.
"Apa mereka membawaku ke rumah sakit kota?" pemandangan itu membuatnya terheran-heran.
Ditolehnya sekitar tempatnya berada. Tidak ada satupun personel polisi. Ia bahkan tidak melihat Sean di sana.
"Eh? Kau pasien kamar 301, bukan? Kesehatanmu belum sembuh benar. Sebaiknya kembali ke kamarmu sekarang, ya?" sapa seorang perawat.
"Hmm. Kalau begitu, aku pergi ke sana dulu. Jangan lupa kembali ke kamarmu," kata perawat.
Keanu mengangguk. Ia menunggu perawat itu meninggalkannya lalu dirinya bisa menyelinap pergi dari rumah sakit. Sampai di halaman luar, ia segera mencari tempat yang cukup sepi untuk ia istirahat.
"Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada rumah di sini? Semuanya tampak seperti gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit? Sebenarnya di mana aku sekarang.." gumamnya.
Saat ia hendak menyeberangi jalan, beberapa mobil membunyikan klaksonnya. Seseorang yang berada di dalam mobil itu pun melambatkan laju kendaraannya dan meneriakinya dengan galak, "Hei gila! Pakai matamu saat menyeberang!!"
"Aku sudah pakai mataku, sialan!!" jawab Keanu tak kalah galaknya.
Akhirnya, Keanu bersungut-sungut menyusuri jalanan trotoar. Tanpa alas kakinya, ia berjalan ke sana kemari mencari jalan menuju tempat yang sunyi.
TRAK
Ditendangnya sebuah kaleng minuman berwarna hijau yang baru saja dibuang seseorang. Namun buru-buru ia mengejarnya karena merasa kaleng tersebut masih menyisakan air.
PRUT
Keluarlah sisa minuman dari dalam. Rasanya manis tapi sedikit kecut dan ada efek soda bersemutnya. Sepertinya sesuai dengan gambar ada kalengnya. Gambar jeruk bergelembung. Lumayan untuk mengobati rasa hausnya.
"Dari mana orang itu mendapatkannya?"
Keanu celingak-celinguk mencari toko yang menjual minuman tersebut. Tanpa sengaja, ia justru menemukan beberapa lemari kaca yang menyimpan minuman kaleng dengan berbagai merk dan rasa.
"Apa ini? Mereka memiliki gedung yang tinggi. Tapi menyimpan lemari pendingin mereka di jalanan??" ia merasa heran.
Dan saat melihat minuman yang kelihatannya segar, Keanu pun menempelkan wajahnya ke kaca vending machine (mesin minuman otomatis).
"Bagaimana cara mengambilnya? Kenapa ini susah sekali dibuka?" ucapnya sambil menarik pegangan lemari kaca tersebut dengan paksa.
"Hei. Kau tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara seperti itu."
Keanu menoleh dan hanya menatap perempuan yang sedang bicara padanya itu.
"Lihat."
Perempuan itu menendang mesin dengan kencang beberapa kali. Dan, Huala! Dua buah minuman kaleng menggelinding ke bawah.
TRAK
"Ini untukmu," perempuan itu memberikan sebuah kaleng minuman tersebut pada Keanu.
"Untukku?"
"Ya. Ngomong-ngomong, kau melarikan diri dari rumah sakit?"
"Oh.. ini? Ya."
"Kau butuh tempat tinggal?"
"Sepertinya begitu. Ohya, bisa kau beritahu aku ini di mana?"
"Ini? Kau tidak tahu ini di mana?"
"Eh? Itu, sepertinya aku lupa ingatan," kata Keanu berbohong.
"Kita di Britania, sayang. Apa kau seorang warga asing? Tapi sepertinya tidak, kau memiliki warna mata orang sini."
"Benarkah aku masih di Inggris?" batin Keanu.
"Entahlah. Mungkin begitu. Glek glek glek," jawab Keanu asal seraya meneguk minumannya.
"Memangnya kau dari mana?"
"Apa ada tempat yang bernama Cornwall?"
"Tentu saja. Mereka memiliki pantai terbaik dan indah dengan banyak kapal-kapal nelayan. Di sekelilingnya juga banyak hotel yang baru dibuka karena tempat itu sangat ramai dikunjungi para turis. Beberapa sutradara juga memilih tempat tersebut untuk film mereka."
"Ramai?"
"Ya. Sangat ramai. Aku beberapa kali pergi ke sana dan melihat pantainya penuh turis."
GLEK
"Bukan tempat sepi penduduk, tapi banyak turis? Kapan itu terjadi? Terakhir kali, aku membuat desa di sana menjadi desa mati."
Keanu lagi-lagi membatin.
"Apa kau yakin itu?"
"Ya. Sangat yakin. Memangnya kenapa? Apa kau tinggal di sana?"
"Tidak. Aku hanya mendengar bahwa sesuatu yang mengerikan pernah terjadi di sana."
"Oooohh... maksudmu kisah tentang pembunuhan yang dilakukan seorang psycho pada tahun 1882 dulu?"
DEG
"I iya. Itu."
"Menurut kisah yang ku baca, itu menyebar begitu saja dari mulut ke mulut karena pembunuhan itu benar-benar keji. Kemudian karena akhirnya polisi menangkap dan menghukum mati pelakunya berita itu semakin ramai dibicarakan orang dari tahun ke tahun. Kau pasti suka membaca kisah sejarah. Jika kau mencarinya di internet, itu ada di nomor satu pencarian sejarah."
"Internet?"
"Yah. Internet..." perempuan itu mengangkat alis dan berekspresi seolah "Serius kau tidak tahu apa itu internet?????"
"Ah, ya. Haha. Ngomong-ngomong, kau tadi menyebut pada tahun 1882 dulu, memangnya sekarang ini tahun berapa?"
"2017."
"Apa??????"
.
.
BERSAMBUNG.....