
BAB 14
Karena beberapa hari lalu dirinya sempat dikejar oleh warga, Keanu sedikit berhati-hati meski ia yakin dirinya tidak akan tersentuh oleh polisi. Hari-hari ia jalani dengan keluar pada pagi hari untuk bekerja dan mampir berbelanja pada saat pulang ke rumah.
Sesekali, Genie datang menjemputnya di restoran tempatnya bekerja. Gadis itu benar-benar menempel padanya sekarang. Bahkan ia juga menceritakan kasus pembunuhan yang terjadi pada ibunya tanpa ragu. Sebab Genie pikir, Keanu adalah pria yang baik dan penuh perhatian.
"Bagaimanapun aku harus menemukan pembunuh ibuku. Bagaimana bisa dia membunuh wanita tua sepertinya dengan cara yang keji," Genie menangis sesenggukan.
"Tenanglah, kau harus kuat menghadapi kenyataan ini," Keanu memeluk Genie dan berpura-pura peduli.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan ibuku saat itu," Genie semakin terisak dalam pelukan Keanu.
"Tabahlah."
Begitulah ungkapan Keanu setiap Genie mengutarakan kesedihannya. Ia berpura-pura peduli dan mendorong Genie untuk tabah dan kuat.
Suatu malam, Keanu sedang berjalan keluar untuk mengintai. Rumah siapa kali ini? Tentu saja ia mengintai rumah Jordan. Di kegelapan malam yang sunyi, ia melihat Gun masuk ke dalam mobil. Sepertinya, kakak laki-laki Genie akan pergi ke suatu tempat.
Namun karena sesuatu, Gun keluar sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah. Kesempatan itu digunakan Keanu untuk masuk ke dalam mobilnya dan ikut kemana Gun pergi.
Dengan bersembunyi di jok belakang, Keanu diam membisu cukup lama. Kebetulan, Gun hendak pergi ke sebuah lokasi pemukiman di kota untuk menemui pacar barunya. Untuk menuju ke pemukiman tersebut, mereka harus melewati beberapa jembatan dan terowongan yang gelap.
Ketika melewati terowongan, Keanu mencekik leher Gun dari belakang menggunakan kawat tembaga yang ia siapkan sedari tadi di tangan.
Gun melawan sekuat tenaga hingga mobil yang mereka tumpangi membanting stir ke kanan dan menabrak tebing pembatas.
DHUARR!
Mesin mobil memercikkan api dan mengeluarkan asap tebal. Gun dan Keanu sama-sama tidak sadarkan diri karena kepala mereka terantuk ke pintu mobil saat tabrakan itu berlangsung.
Dua-duanya pun terluka dan mengeluarkan darah dari kepala mereka. Namun, Keanu bangun lebih dulu. Dengan susah payah, ia keluar dari dalam mobil yang sebagian telah ringsek. Nafasnya terengah-engah dengan tubuh yang sempoyongan.
Karena Gun masih pingsan, Keanu mempunyai waktu untuk memukul kepala Gun menggunakan martilnya. Begitu siap memukulkan martil ke kepala Gun, pria yang bersandar pada setir mobil itu siuman.
"K kau?" tanya Gun lemah saat tidak sengaja membuka mata dan melihat Keanu berdiri di sisinya.
"Kau mengenalku?"
"Kau pemuda gila itu......" kata Gun sangat lemah.
"Yaah. Benar sekali. Akhirnya kita berbicara hanya berdua saja. Kau ingat adikku Rula?" tanya Keanu dengan nafas terengah akibat lukanya.
"Pelacur itu? Hahaha, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan membalas dendam padaku?" Gun terkekeh menampakkan gigi yang berdarah.
"Jadi, kau tidak menyesal sedikitpun?" tanya Keanu menahan emosi.
"Untuk apa menyesali itu? Kami melakukan itu karena sama-sama menginginkannya. Tapi pelacur itu, membuat kesalahan sehingga aku harus menghukumnya," Gun lagi-lagi tertawa.
Keanu merasa sangat kesal dengan nada bicara Gun yang menghina adiknya. Maka tanpa menunggu pria sialan itu mengatakan hal lain mengenai Rula, Keanu langsung memukul kepala Gun menggunakan martil.
"Mati kau!!"
CRAK!
Tempurung kepala bagian pelipis terdengar retak. Tapi Gun masih setengah sadar dan berusaha meraih Keanu.
"Sepertinya aku harus memberitahumu apa yang istrimu katakan sebelum mendekati kematiannya," Keanu menyeringai.
Mata Gun terbelalak dengan mulut ingin berkata-kata.
"Dia memintaku melepaskannya karena ketiga putrinya masih sangat muda. Bahkan jika kau ingin tahu, dia mengizinkanku untuk menyetubuhinya berkali-kali demi mereka," Keanu sengaja membeberkan semuanya di depan Gun.
Mendengar hal itu Gun semakin berusaha untuk meraih Keanu. Ada kemarahan di dalam hatinya karena pemuda gila itulah yang ternyata membunuh Elissa, istrinya.
"Sekarang, apa kau masih merasa bangga dengan kelakuanmu pada Rula, ha?!! Bahkan jika aku mau, aku juga bisa mengambil sesuatu dari ketiga putrimu setelah kau tiada."
Gun menangis dan merasa menyesal. Tak henti-hentinya ia meminta ampunan dari Keanu. Dari mulutnya terdengar lirih seruan putus asa dalam memanggil nama Elissa dan ketiga putrinya.
"Tidak ada gunanya menyesali itu sekarang. Adikku maupun istrimu sama-sama sudah tiada. Jadi, sekarang giliranmu untuk pergi ke neraka."
"Puih! Dasar sialan! Kau pikir hanya dirimu yang mampu menikmati tubuh seseorang?" Keanu tertawa dan meludahi jasad Gun.
Sambil berjalan terseok-seok, Keanu meninggalkan lokasi kecelakaan. Ia tertawa puas sepanjang perjalanan pulangnya.
•••••••
Pukul 15.32
Keanu sedang berada di restoran tempatnya bekerja. Tidak ada satupun dari pemilik ataupun pelanggan yang tahu bahwa dirinya adalah seorang pembunuh keji.
Keanu bekerja normal seperti pemuda lain yang bekerja bersamanya. Mereka sama-sama tampak sebagai pekerja keras untuk mendapatkan uang.
Dengan dua tahanan yang ia miliki sekarang, mewajibkannya memberi makan untuk mereka jika dirinya ingin menggunakan tubuh keduanya. Apa lagi yang bisa Keanu lakukan selain bekerja dan menghasilkan uang?
Ketika pulang ke rumah sore itu, Keanu datang ke ruang rahasia dan membawa makanan untuk Daissy. Namun tidak untuk Lorena. Ia membiarkan wanita itu kelaparan dalam waktu yang lama karena terus menolak dan meludahi dirinya saat ia datang mendekat.
Di lain waktu, tanpa sengaja Daissy menunjukkan tanda-tanda kehamilannya. Bahkan Keanu merasakan perut gadis itu yang semakin membuncit. Bukan hanya perut yang mengalami perubahan, pay*dara Daissy pun terlihat semakin membesar.
"Apa kau hamil?" tanya Keanu pada Daissy.
"A aku tidak tahu," jawab Daissy cepat dan ketakutan.
Karena penasaran, Keanu meraih paksa tubuh Daissy dan mengusap perutnya. Dengan sedikit menekan di perut bagian bawah, Keanu mendapatkan jawaban pasti.
"Apa kau tahu itu?"
"Ampuni aku," jawab Daissy pucat pasi.
"Sejak kapan kau tahu bahwa kau sedang mengandung?" tanya Keanu mencengkeram dagu Daissy.
"Ampuni aku, tuan. Tolong. Jangan sakiti bayiku," jawab gadis itu sambil menangis.
"Aku tidak ingin memelihara bayi di sini. Jadi gugurkan segera jika kau masih ingin hidup," kata Keanu tak peduli dan melangkah pergi.
"Tapi tuan,,,, kali ini saja, kasihanilah bayiku," Daissy menangis sesenggukan sambil memeluk kaki Keanu dengan erat.
Keanu berjongkok dan mengusap wajah Daissy, "Jangan meminta seseorang sepertiku untuk mengasihani bayimu. Karena itu salah besar."
"Tapi tuan,,huhu."
"Malam ini, urut perutmu dengan sekuat tenaga. Singkirkan bayi itu segera karena keberadaannya hanya mengganggu caramu melayaniku."
Dengan kasar Keanu menendang Daissy agar menyingkir darinya.
"Aku akan melayanimu kapanpun kau mau, tuan. Berapa kali pun kau menginginkanku, aku akan lakukan itu dengan baik. Tapi tolong, biarkan aku memiliki bayiku," Daissy mencoba membuat tawaran.
Keanu menoleh dan memperhatikan tubuh Daissy yang semakin berisi. Ia merasa sayang jika harus membunuhnya gara-gara seorang bayi. Maka, Keanu menerima tawaran yang diajukan Daissy kepadanya.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Tapi jangan berani mengecewakanku."
"Baik tuan. Aku mendengarmu," Daissy merasa hidupnya lebih berarti jika memiliki bayinya.
Maka, saat itu juga Keanu mendekati Daissy secara perlahan. Direngkuhnya tubuh gadis itu dengan amat bernafsu dari arah belakang. Tangannya yang besar dengan liar mempermainkan manik kecil yang ada di liang bagian depan.
Keanu mengusap, memutar dan menggeseknya dengan sensual sambil dicumbuinya leher dan telinga Daissy. Sesekali ia juga memberi hisapan kecil pada leher Daissy dan membuat bekas keunguan di sana.
Ketika akhirnya Keanu melakukan penyelesaian, gadis itu beberapa kali melenguh dan menggelinjang karenanya. Tubuhnya berkeringat dan tidak ada penolakan sedikitpun.
Suara erangan nikmat dari bibir Keanu menggema di dalam ruangan rahasia itu. Lorena merasa ketakutan. Ia melihat jelas bagaimana pria yang membunuh kekasihnya itu menyetubuhi wanita yang ada di dekatnya dengan waktu yang cukup lama.
Suara-suara kepakan yang terdengar membuat jiwanya merinding. Sambil menangis gemetaran, Lorena berusaha melepaskan ikatan yang ada di kedua tangannya. Namun usahanya itu nihil.
"Toloong aku Tuhan....."
Jeritnya dalam hati.
Bersambung........