
BAB 45
Rombongan Keanu dan yang lainnya pergi meninggalkan gedung tua sesegera mungkin. Namun sayang, baru beberapa meter meninggalkan tempat persembunyian semula, iringan mobil polisi berhasil mengejar mereka.
Bahkan di setiap rute jalan dan jembatan serta jalan tol pun berjaga beberapa regu.
"Sebenarnya kasus apa yang dihadapi temanmu?" tanya Greg pada Flip.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kami berdua sempat melakukan perampokan bersama Borg dan Carl di sebuah bank dan museum. Kemudian, setelah itu, dalam pelarian kami dia hanya menculik pacarnya. Itu saja."
"Kalau begitu, kalian sudah diintai di awal kasus."
"Lalu bagaimana? Apa kita tidak mungkin membawa Keanu ke rumah sakit?"
"Tidak cukup waktu untuk itu. Mereka sudah mengepung kita di seluruh kota. Kita tidak bisa melarikan diri dengan mudah. Jika tidak untuk membalas budi karena menyelamatkan putriku, aku akan berpikir dua kali untuk mempertaruhkan hidupku," Greg bicara sambil tetap menyetir.
Flip mengangguk. Ia mengusap pipi Keanu yang saat itu duduk sambil bersandar di bahunya. Karena luka tembak yang diterimanya, Keanu cukup banyak kehilangan darah.
Aksi kejar-kejaran pun menghiasi jalanan ibu kota. Antara mobil yang dikendarai Greg, dengan mobil-mobil polisi.
Tiba-tiba dua mobil menyusul dan mengambil alih perhatian. Rupanya mereka adalah anak buah Greg. Mendapat bantuan seperti itu, Greg lantas membelokkan mobilnya ke dalam gang sempit dan melaju terus melewatinya.
Beberapa mobil polisi yang mengikutinya susah payah mengejar dan terbagi konsentrasi akibat dua mobil yang baru saja datang dan langsung menghalangi mereka.
Namun ketika mobil mereka keluar dari gang, mereka dikejutkan oleh kepungan dari polisi. Selain mobil mereka yang berjejer, personel mereka juga bersiap dengan senjata mereka masing-masing.
"Berhenti atau kalian tidak akan kami biarkan hidup!"
DEG
"Sial! Apa yang harus kita lakukan?"
Greg menggeber mesin mobilnya dan bersiap menabrak barisan di depan, "Aku akan mencoba untuk terakhir kali."
Akan tetapi, sebelum mereka melakukan itu, tembakan peluru menghujani mobil mereka. Maka terjadilah aksi tembak menembak diantara kedua kubu.
Greg yang membawa senapan laras panjang itu mencoba membalas tembakan semaksimal mungkin. Hingga sebuah tembakan mengenai senjatanya.
BOOMM!
Sebuah ledakan muncul dari senjata api milik Greg. Membuat pemiliknya terpental dan jatuh terluka.
Melihat kawannya terkena ledakan dari senjata apinya sendiri, Flip merasa cemas. Ia berusaha mengajak Keanu keluar dari mobil dan melarikan diri bersamanya.
Namun sudah terlambat, polisi yang mengepung segera menangkapnya. Bahkan Keanu sendiri dibawa ke sebuah mobil khusus yang terpisah dari Flip. Sebab sejatinya, penjahat yang mereka cari adalah Keanu seorang.
••••••
Sebuah kamar khusus yang tersedia di rumah sakit tampak dijaga ketat oleh polisi. Di dalam sana, Keanu terbaring lemah setelah banyak kehilangan darah.
"Bagaimana kondisinya? Apa dia sudah bangun?" tanya seorang detektif senior.
"Sampai saat ini, dia belum menunjukkan tanda-tanda siuman."
"Baiklah. Laporkan padaku jika ada perkembangan."
"Baik, tuan."
Dari tempat tidurnya, Keanu membuka mata dan melirik ke arah dua detektif polisi yang sedang bercakap-cakap di depan kamarnya. Rupanya, ia sudah bangun sejak tadi dan menunggu situasi aman untuk melarikan diri.
Pada saat dua detektif itu sedang bicara, datang seseorang melapor.
"Kapten, wanita yang terluka itu sudah siuman. Dokter menemukan sesuatu yang mengejutkan, sepertinya wanita itu baru saja melahirkan."
"Sungguh? Ayo kita lihat."
Keanu mendengar pembicaraan mereka mengenai seseorang yang ia curigai sebagai Genie.
"Genie juga ada di sini?" pikirnya.
Setelah orang-orang itu pergi dari depan kamarnya, Keanu mencoba menggerakkan badannya. Akan tetapi, tangan kirinya terborgol di sisi ranjang.
"Sial!"
Ia menggeram karena kesal dengan keadaanya. Setelah berpikir panjang dan bertekad bulat, ia mencoba mengeluarkan pergelangan tangannya dari lingkaran borgol yang kecil.
"Uuggghhh!" erangnya lirih. Sulit baginya meloloskan tangannya dari borgol.
Pada saat ia mencoba melepaskan diri, datanglah petugas polisi lain. Salah satunya adalah George, kawan Sean. Mereka datang untuk menginterogasi Keanu atas pembunuhan yang dilakukannya pada Sean.
"Apa kau yang bernama Keanu?"
Keanu diam saja.
"Kau ditangkap atas kasus perkosaan dan pembunuhan rekan kami, Sean. Jadi untuk itu, bekerja samalah dan jawab pertanyaan kami dengan jujur."
Keanu menoleh pelan. Ia tersenyum miring lantas terkekeh bak psycho yang sesungguhnya.
"Ahh,, Sean?? Bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia menyukai air hangat yang ku siapkan untuknya?"
"Cih! Kurang ajar! Apa kau tidak memiliki penyesalan?"
"Penyesalan? Tentu saja tidak. Siapa yang akan menyesal setelah menikmati tubuh bagusnya? Hahaha..."
"Dasar gila! Beraninya kau membunuhnya!" George benar-benar emosi karena wanita yang dicintainya diperlakukan tidak adil oleh penjahat macam Keanu.
Dengan kemarahan yang memenuhi urat syarafnya, George memukuli Keanu hingga mulutnya berdarah.
Tapi respon Keanu benar-benar tidak disangka. Pria gila itu justru terkekeh senang sambil menjilat bibir bawahnya yang penuh darah.
"Aah, aku ingat betul bagaimana reaksinya saat bercinta denganku. Dia sangat penurut saat aku memainkan pay*daranya yang sintal. Hmmm.. aroma tubuhnya, bahkan aku tak bisa melupakan itu semua. Hanya satu menit setelah kuberikan pemanasan, dia buru-buru memintaku berkuda dengan liar. Ogh,, betapa nikmatnya.."
"Sialan kau! Tidak mungkin dia seperti itu!!"
George benar-benar jengkel mendengar penuturan Keanu. Ia bergerak hendak memukul lagi namun ditahan oleh kawan yang lain.
"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuhnya!" teriak George.
"Sadarlah! Kalau kau terus begini apa bedanya dirimu dengan dia?!"
Karena kawan George berhasil menasehatinya, dengan susah payah George meredam emosinya yang meledak-ledak.
Mereka pergi meninggalkan Keanu yang tertawa cekikikan seperti orang gila.
••••••
Genie membuka saat seorang polisi wanita datang menjenguknya.
"Kau sudah bangun?"
"Bagaimana badanmu. Apa sudah merasa enakan?"
"Lumayan."
Genie duduk perlahan, "Nyonya, apakah Keanu sudah ditangkap?"
"Ya. Untuk sementara waktu, kami menahannya di sini sebab dia memiliki beberapa luka tembak yang cukup serius."
"Lalu, apakah ada orang yang menjaganya?" Genie bertanya dengan cemas.
"Tentu saja. Kau tidak usah cemas. Kami sudah menempatkan penjagaan yang ketat di depan kamarnya."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu,,"
"Apa kau mengenalnya, nona?"
"Sebenarnya, dia mantan kekasihku. Tapi aku tidak mengerti mengapa dia menjadi gila seperti ini."
"Hmm. Begitu rupanya."
"Ada apa?"
"Kami memperkirakan bahwa kau baru saja melahirkan. Apa itu benar?"
Genie menunduk sedih, "Ya. Aku melahirkan bayiku dengannya. Tapi sayang, putraku meninggal setelah aku melahirkannya."
Polisi itu merangkul Genie dengan lembut. Ia tidak tega melihat wanita muda di hadapannya bersedih. Sebab itu, ia mengorek informasi dari Genie secara bertahap.
"Nona. Maaf jika aku bertanya lagi. Apa kau tahu hubungannya dengan sersan Sean?"
"Sean? Di mana dia sekarang, apa dia ada di sini?"
"Sebenarnya, sersan Sean ditemukan tewas di kamar mandinya satu minggu yang lalu. Dan bukti pembunuhan itu mengarah pada Keanu sebagai pelakunya."
DEG
"A apa? Tidak.. Bagaimana dia tewas?" Genie terkejut bukan main seraya menggelengkan kepalanya cemas.
Pantas saja ia tidak dapat menghubungi kawan polisinya itu. Ternyata dia sudah tiada.
"Dasar pria gila! Kembalikan Sean padaku!" teriak Genie sambil memegangi kepalanya.
"Tenang nona, kami sudah menangkap pelakunya."
"Ah?? Trissa, Teresha, Tracy. Di mana ketiga keponakanku, nyonya? Apakah kau menemukan mereka?" tiba-tiba Genie teringat mereka.
"Mereka aman bersama kami."
"Aahh.." Genie bernafas lega.
Setelah mengobrol panjang lebar, polisi membiarkan Genie beristirahat. Malam itu, penjagaan di rumah sakit dilakukan bergiliran.
•••••
SIIINGGG
Sementara itu di kamar yang dijaga ketat, Keanu tengah berusaha mengeluarkan tangan kirinya dari borgol.
Tampak sudah bahwa usahanya itu belum juga berhasil meski tangan kirinya terluka dan penuh darah sebab pemaksaan yang dilakukannya sendiri.
"Hosh,,, Hoshh,," nafas Keanu terengah-engah karena menahan rasa sakitnya.
Sebab pemaksaan yang ia lakukan itu, tangan kirinya hampir saja remuk. Tiba-tiba saja Keanu tertawa. Ia menertawakan hidupnya sendiri yang cepat atau lambat akan berakhir di dalam penjara.
"Khah,, apakah aku benar-benar akan berakhir seperti ini?" gumamnya.
Tiba-tiba saja ia teringat Genie dan merindukannya. Satu-satunya wanita yang pernah berkencan dengannya dan pernah ia cintai walau dengan setengah hati.
"Apakah dia merindukanku?"
Keanu menyandarkan kembali kepalanya ke bantal. Ia melamun dan mengingat kembali saat-saat kelahiran putranya.
"Sayang sekali dia mati begitu dilahirkan. Begitu buruknya kah aku, sampai putraku sendiri tidak ingin bertemu denganku?" Keanu bicara pada diri sendiri.
Setelah bicara, Keanu kembali mencoba mengeluarkan tangannya dari borgol. Namun lagi-lagi usahanya itu sia-sia belaka. Ia hanya melukai pergelangan tangannya untuk kesekian kalinya. Bahkan kini ia merasakan tulang persendian tangannya benar-benar remuk.
"Aagghh,, Aaagghh,, Aggghhhh,," rintihnya kesakitan.
Darah segar berwarna merah itu menetes dari tangan kirinya ke lantai. Dalam keadaan putus asa itu, Keanu berusaha memejamkan mata untuk mengurangi rasa sakitnya.
••••••
Di tempat lain,
Genie melangkah perlahan dan tertatih menuju kamar rawat Keanu. Di depan kamar tersebut, empat orang penjaga bertugas di sana.
Di tangan kanan Genie, terdapat sebuah pisau buah. Ia sengaja mengambil pisau tersebut untuk mengakhiri hidup Keanu. Si psycho gila.
Dua orang penjaga, pergi setelah mendapat telepon. Kemudian seorang lagi pergi ke toilet. Maka hanya sisa seorang penjaga di sana. Dan seperti mendapat bantuan dari Tuhan, penjaga itu mengantuk berat.
Genie pun berhasil mengendap-endap memasuki kamar Keanu dengan cepat. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Asalkan dia mampu membunuh Keanu malam itu juga.
TAP TAP
Ia melangkah mendekati ranjang Keanu. Benar saja. Pria itu tengah terbaring di atas sana dengan tangan kiri yang terikat borgol dan berdarah-darah.
Tanpa ragu-ragu, Genie mengangkat kedua tangannya yang menggenggam pisau. Kemudian ia menikam dada Keanu selagi dia tidur.
CRAK
"Heggh!" Keanu bangun dan terkejut. Tangannya reflek memegangi tangan Genie yang menggenggam pisau.
Matanya terbuka lebar begitu ia menerima tikaman dari Genie. Mulutnya menganga saat merasakan jantungnya sesak.
Dua kali ini, Genie menikam dirinya. Di dunia masa lalu, wanita itu berhasil menusuk punggungnya menggunakan dua pisau saat hendak menyelamatkan Teresha.
"K kau???" suara Keanu tertahan karena rasa sakit yang ia rasakan. Matanya sayu menatap wajah Genie yang dipenuhi dendam.
.
.
.
.
BERSAMBUNG....