
BAB 30
Polisi kembali mendatangi rumah Genie atas laporan kehilangan yang diajukan wanita itu pada pagi hari setelah ia tidak menemukan kedua keponakannya di kamar.
Keanu yang saat itu menginap di sana pun sempat diperiksa oleh polisi sebelum meninggalkan rumah Genie, namun tidak menjumpai bukti yang mengarah pada penculikan.
"Dimana dan apa yang kau lakukan tadi malam sekitaran pukul 23. 09?" tanya polisi pada Keanu.
"Itu...."
"Jawab pertanyaan kami dengan jujur agar tidak menyulitkanmu."
"Aku ada di kamar hendak tidur."
"Apa kau yakin melakukan itu?"
"Aah.. tidak juga.."
"Kau pergi ke suatu tempat?"
"Tidak. Aku sedang bersama Genie pada jam tersebut. Kalian bisa bertanya langsung padanya," Keanu berlagak malu-malu.
"Nona Genie, benarkah dia sedang bersamamu pada jam sebelas malam itu?"
"Ya. Dia bersamaku."
"Apa yang kalian lakukan?"
Penyidik wanita dari kepolisian itu terus saja menekan Keanu. Ia menatap curiga pada pacar Genie itu.
"Apa yang kami lakukan? Apa kau tidak pernah muda dan jatuh cinta?" Keanu terkekeh. "Haruskah aku menceritakan semuanya dengan detile apa yang sedang kami lakukan semalam?" lanjutnya sambil melepas kancing baju atasnya.
Genie menoleh dan mengusap wajahnya. Ia tidak berpikir bahwa Keanu akan mengakui sesuatu tentang malam panas yang mereka lalui.
"Apa yang akan kau lakukan?" polisi wanita muda itu merasa risih melihat Keanu membuka dua kancing bajunya.
"Sepertinya aku perlu menunjukkan bukti padamu apa yang ku lakukan semalam."
Meski kancing baju itu belum terbuka semua, polisi wanita dapat melihat dari celahnya bahwa ada bekas merah-merah di leher bawah Keanu.
"Tidak. Tidak perlu. Aku rasa aku dapat memahaminya."
"Benarkah?"
"Ya," jawabnya sambil membuang muka.
"Maaf Bu, jika kau terus mencurigainya, sepertinya itu terdengar agak berlebihan. Dia bersamaku semalaman. Dan waktu paginya, dia juga sempat memasak untuk anak-anak tanpa tahu mereka menghilang," Genie yang sudah dibutakan oleh cintanya pada Keanu itu membelanya dengan yakin.
"Baiklah. Kalau begitu kami akan menyelidiki bukti yang lain seandainya ada."
•••••••
Keanu terkekeh senang saat berjalan menuju gudang. Suaranya menggema di halaman rumahnya dan terdengar mengerikan. Belum lagi suara dentingan besi yang ia pukulkan sesekali ke dinding atau barang-barang yang ia lewati itu juga menambah kengerian.
Ia merasa benar-benar bisa mempermainkan para polisi yang sedang menyelidiki kasus penculikan anak-anak. Tanpa bukti kuat apapun, perbuatannya tidak akan ada yang tahu.
Pada saat ia masuk ke dalam gudang dan membuka pintu rahasia, suara seseorang mengagetkannya.
"Sudah ku duga. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami, bukan?" polisi wanita itu ada di belakang Keanu.
DEG
Keanu menoleh cepat dan melihat wanita berpakaian polisi itu menodongkan senjata apinya pada dirinya. Namun tidak ada polisi lainnya di sana. Wanita itu sendirian saja!
Astaga! Sebaiknya kau lari saja nona polisi. Dia penjahat gila yang tidak bisa dihadapi sendirian.
Keanu mengangkat kedua tangannya dan membiarkan polisi wanita itu mendekatinya.
"Apa yang ada di dalam sana? Apakah anak-anak?" tanya Sean, nama polisi wanita itu sambil mengintip ke dalam gua gelap yang ada di balik dinding.
"Kau mencurigaiku?"
"Ya. Mengakulah!" Sean menempelkan ujung pistolnya ke kening Keanu.
Namun apa yang terjadi? Keanu justru terkekeh dengan tatapan matanya yang mengerikan. Ia menertawakan kebodohan si polisi.
"Kau sendirian saja kemari?"
"Apa?"
"Markas iblis?"
Belum juga selesai percakapan itu, Keanu meraih tubuh Sean dan mencekiknya dari belakang. Dan saat itu terjadi, Sean tidak sengaja menekan pelatuk pada pistolnya sehingga terdengar suara tembakan.
Perlawanan yang kuat dari Sean rupanya cukup merepotkan. Wanita itu membanting tubuh Keanu dengan keras ke lantai. Saat itu, Keanu harus berjuang sekuat tenaga untuk melumpuhkan wanita petarung tersebut.
Ia bangun dengan cepat dan menghindari tembakan. Tanpa menunggu polisi itu menembak untuk ke tiga kalinya, Keanu menubruk dan menekannya ke dinding.
Ia berusaha menyingkirkan pistol yang ada dalam genggaman Sean dengan cara memelintir pergelangan tangan Sean ke belakang. Begitu senjata api itu jatuh ke lantai, Keanu menendangnya ke bawah rak yang gelap.
Namun tidak hanya di situ. Sean menjambak rambut Keanu dengan tangan lainnya, kemudian menendang selangk*ngannya dengan lutut.
Keanu mengerang kesakitan.
Akan tetapi, ia membalas dengan beberapa tinjunya. Namun tetap saja. Ia terlihat kewalahan saat bertarung dengan Sean. Beberapa kali ia tersungkur ke atas barang-barang saat wanita itu melemparnya.
Sebagai pasukan polisi, Sean memiliki pertahanan diri yang baik. Tetapi tetap saja, lawannya itu cukup kuat meski ia berhasil menjatuhkannya.
Beberapa kali tinjuan keras juga mendarat di muka Keanu hingga keluar darah dari hidung dan mulutnya.
"Menyerahlah! Aku yakin, selama ini kau adalah pelaku pembunuhan itu!"
"Apa kau punya bukti? Jangan buru-buru menyimpulkan..." jawab Keanu sambil menyeringai menampakkan barisan giginya yang penuh darah.
Kemudian karena sangat kesal, Sean menubruk dan menduduki perut Keanu. Dengan sekuat tenaga, wanita itu mencekik lehernya.
Wajah Keanu menjadi merah dengan leher yang bergurat-gurat akibat ototnya yang timbul. Ia mulai susah bernafas karena cekikan itu. Meski tangannya berusaha meraih kepala Sean, namun ia tidak sanggup menjangkaunya.
Akhirnya, Sean mampu membuat Keanu lemas dan tak berdaya. Merasa itu sudah berakhir, diborgolnya kedua tangan Keanu ke depan.
Ia bangkit dan memeriksa ruangan gelap yang tersembunyi di balik cermin itu. Karena tadi Keanu membukanya, tempat itu menganga begitu saja seakan memberi kesempatan bagi Sean untuk melihat-lihat.
Perlahan Sean melangkah memasukinya. Tangannya meraba sesuatu di sekelilingnya. Dinding dan lantainya terasa pengap dan basah. Tempat apa ini? Pikirnya.
Sean melangkah dan terus melangkah. Sampailah ia pada ruangan inti dalam gua rahasia itu.
"Apa itu kalian?" tanyanya begitu melihat Tracy dan Teresha.
"Tolong selamatkan kami!" teriak anak-anak.
Sean berlari mendekati kedua anak yang dirantai di sebelah kiri. Tapi ia juga terkejut melihat Trissa ada di sisi lainnya bersama seorang gadis dewasa dan bayi kecil. Dan semuanya dalam kondisi tanpa mengenakan busana sehelai pun.
"Ya Tuhan! Apa yang aku lihat ini?" tanyanya terkejut dan tidak percaya.
Pada saat sedang terkejut seperti itu, seseorang sudah berdiri di belakangnya dengan tangan terborgol yang menggenggam martil.
Kedua mata Choa, Trissa, Tracy dan Teresha terbelalak seketika sambil menjerit, "Awas di belakangmu!"
Ketika Sean menoleh, ia tidak sempat menghindar sehingga akhirnya martil itu mengenai kepalanya dengan keras.
CRAK
Sean tersungkur seketika dengan darah segar mengalir dari pelipisnya. Keanu menendang perut wanita itu beberapa kali hingga tak berdaya.
Setelah mengambil nafas panjang, Keanu berjongkok di sisi Sean. Ia meraba dada Sean dan merogoh kantung bajunya dengan tidak sopan untuk mengambil kunci borgol.
CRIK
Kuncian itu terbuka. Borgol pun terlepas.
"Kau terlalu berani datang ke tempat ini sendirian. Tapi karena kau sudah melihat semuanya, aku akan memberimu tiket istimewa untuk menginap di sini," ucap Keanu pada Sean yang masih sadar.
"Sean, kau harus bangun dan menghentikan pria gila itu dan menyelamatkan para sandera! Ayo bangun. Mereka membutuhkanmu!!"
Mata Sean mengerjap pelan beberapa kali. Ia berusaha bangkit namun tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Ah! Bagaimana ini?
Saat Sean sedang mencoba untuk bangkit, Keanu menyeretnya ke sisi lain di mana tempat Lorena dulu dirantai.
Kali ini, Keanu memborgol kedua tangan Sean dan mengikatnya ke atas kepala dengan rantai. Tubuh Sean yang lemah itu pun hanya bisa menerima apa yang sedang dilakukan Keanu.
"Selamat datang di penginapanku. Ingat, nona polisi, aku tidak menculikmu. Kau sendiri yang dengan suka rela datang kemari. Jadi berbahagialah. Kau beruntung bisa masuk ke sini," Keanu menyambut Sean dengan tawa gilanya.
Melihat wanita polisi itu ditaklukkan, Choa dan anak-anak pun hanya bisa menangis sedih. Harapan untuk terbebas dari penjara terkutuk itu seakan sirna begitu saja.
BERSAMBUNG....