
BAB 15
NGUUUIII.....
Sirine mobil polisi terdengar di keheningan malam. Beberapa hari ini, patroli polisi terlihat berkeliling di daerah Cornwall. Kemungkinan sebab dari kematian anggota dewan Gun yang tewas secara mengenaskan.
Polisi menduga, selain kecelakaan ada modus operandi lain yang menyebabkan tewasnya anggota dewan itu. Sebab, tempurung kepala Gun remuk tanpa terjadinya gencatan. Hal itu tidaklah normal jika dilihat sebagai sebuah kecelakaan biasa.
Keanu mengintip dari jendela kamarnya. Matanya lurus ke depan menatap penuh waspada setiap mobil patroli polisi yang lewat. Sudah lima kali sejak jam malam diberlakukan.
Maka, turunlah ia ke gudang tempat tersimpannya pintu rahasia. Sebelum masuk, ia memperhatikan sekitar cermin. Terlalu mencolok, pikirnya. Dengan cepat, Keanu meraih dan menggeser barang-barang yang semula bertumpuk di sudut ruangan. Ia memindahkannya di depan cermin. Lalu menata ulang letak barang usang dalam gudang tersebut.
Ketika akhirnya barang-barang itu menghalangi cermin atau pintu rahasia, Keanu mengangkan sudut bibirnya.
"Ah, ini lebih baik, aku rasa," ucapnya.
Setelah mengganti letak barang-barang di gudang, Keanu kembali ke kamarnya dan tidur.
Begitu ia memejamkan mata, ia dikejutkan oleh wajah cantik yang memperhatikannya sambil duduk di ranjangnya.
"Selamat malam," sapa Genie.
"Kau?"
"Hmm. Aku sengaja datang tanpa memberitahu untuk mengejutkanmu," Genie tersenyum manis.
"Yah, tapi ini,,,"
"Husst,,," Genie menempelkan telunjuknya ke bibir Keanu.
Keanu diam memperhatikan gadis itu. Gadis yang cukup berani untuk memasuki kandang serigala di malam gelap seperti ini.
"Bolehkah aku tinggal di sini, malam ini saja?" tanya Genie.
"Ada apa memangnya?"
"Polisi memenuhi rumahku. Mereka sedang menyelidiki kasus kematian Gun. Aku letih karena mereka terus saja meminta pernyataan dari kami. Bukankah jika itu kasus pembunuhan, mereka harus segera mengejar pelakunya?"
Keanu diam.
"Benar, kan?" tanya Genie lagi.
"Hmm. Benar sekali," Keanu akhirnya memberi jawaban.
Beberapa saat mereka saling diam dalam pikiran masing-masing.
"Tapi, kau lihat sendiri kondisi rumahku. Apa kau baik-baik saja dengan semuanya?"
"Hmm. Tidak apa. Ini cukup bagus untukku," jawab Genie yang rupanya bukan jawaban yang diinginkan Keanu.
"Kalau begitu, tidurlah di ranjangku. Aku akan pindah ke kursi depan," Keanu bergerak turun dari ranjang.
SRET
Tangan Genie meraih dan menahan tangan kiri Keanu.
"Tidurlah bersamaku," katanya tanpa ragu.
Keanu memperhatikan gadis yang berani itu beberapa waktu. Tatapan matanya, tidak sedikitpun menyimpan rasa takut. Bahkan saat kemudian dengan perlahan ia merangkak mendekatinya, gadis itu juga tidak merasa gentar.
Belum juga Keanu melakukan sesuatu, Genie menyerangnya lebih dahulu. Gadis itu meraih kepala Keanu dan mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Mendapat pancingan seperti itu, tentu saja Keanu menikmatinya dengan baik. Baru pertama kali ini seorang wanita menciumnya lebih dulu.
Dan setelah ciuman panas yang semakin mendidih, keduanya pun mulai melucuti pakaian pasangannya. Malam itu, Genie menjadi gadis yang lain dari biasanya. Bahkan ia berani melakukannya hingga jauh.
•••••
Keanu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Genie. Pagi hari itu, ia menyelinap pergi dan menuliskan pesan di sebuah kertas.
Aku berangkat bekerja. Kau tidak perlu merapikan kamarku sebelum pergi.
Begitu isi pesan singkatnya. Tanpa membangunkan Genie, gadis yang masih berselimut.
Dua jam setelah Keanu pergi, Genie membuka matanya. Ketika ia menoleh ke samping dan dirinya tidak menemukan sosok Keanu di sana, Genie segera bangkit. Ia menggulung tubuhnya dengan selimut karena letak pakaian yang cukup jauh darinya.
Dengan kaki putih mulusnya, ia melangkah ke meja dekat ranjang dan melihat sebuah pesan yang ditulis di kertas kecil.
"Apa dia sudah pergi bekerja? Jam berapa ini..." gumamnya saat membaca pesan.
Sambil menghembuskan nafas paginya, Genie kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Kemudian ia mengingat kembali saat semalam mereka bercinta. Genie merasa wajah tampan Keanu semakin mempesona saat ada di aktifitas seperti itu.
"Keanu, pria gila yang kesepian. Kau membuatku merasakan dahaga cinta," gumam Genie kasmaran.
Jika Genie masih mengenang moment indah antara dirinya dengan Keanu semalam, Keanu sendiri sudah mulai sibuk bekerja. Ia mempunyai rencana untuk memata-matai Jordan sepulang dari bekerja.
Meski tampaknya mereka terlihat akrab dan baik-baik saja, rupanya ada seorang pemuda yang tidak suka dengan Keanu. Ia mencari kesempatan saat Keanu sedang berada di toilet untuk mengacau.
Begitu Keanu pergi ke toilet, pemuda bernama Decon itu membuka loker tempat Keanu menyimpan tasnya. Decon baru saja mencuri beberapa dolar uang hasil penjualan restoran. Ia berniat memfitnah Keanu dengan uang tersebut.
Akan tetapi, begitu ia membuka tas hitam milik Keanu, matanya melotot dan terperanjat. Kenapa? Tentu saja karena benda yang disimpan di dalam tas tersebut.
Sebuah martil yang dipenuhi bercak darah kering. Bahkan ada beberapa helaian rambut yang menempel di sana.
"A apa ini darah?" Decon merasa bergidik hingga beberapa dolar uang yang hendak ia masukkan ke dalam tas Keanu jatuh berhamburan.
Saat itu juga wajah Decon pun berubah menjadi pucat pasi. Ia mendengar rumor tentang pembunuhan yang mengerikan tengah meneror Cornwall. Semua mayat yang ditemukan mengalami remuk pada kepalanya. Apakah selama ini Keanu pelakunya? Pikir Decon ketakutan.
Dan siapa sangka. Semenjak tadi, sepasang mata dengan tatapan yang tajam memperhatikannya dari balik rak. Tatapan mata itu memiliki garis-garis merah yang menyorotkan keberadaan iblis di dalamnya.
Tepat saat Decon hampir selesai membereskan uang yang jatuh, ia melihat sebuah kaki bersepatu boot warna coklat tua merk Garcel yang sudah usang datang mendekat.
GLEK!
Decon menelan ludah dan mulai berkeringat. Begitu ia mengangkat kepala, dilihatnya Keanu berdiri menatapnya tajam dari sana.
"Apa kau melihat isi tasku?" tanya Keanu basa-basi.
"I itu,,,," Decon tergagap sambil melirik ke tas hitam yang dalam kondisi terbuka.
"Ah, rupanya kau sudah melihat isinya," Keanu mengerti apa yang terjadi.
"T tidak. A aku hanya tidak sengaja,-" Decon berusaha membuat alasan.
Meski Decon melempar alasan berbagai macam, namun Keanu tetap yakin bahwa teman satu pekerjaan dengannya itu telah melihat semuanya.
"Kau tahu, hukuman apa yang pantas diperoleh seseorang yang lancang mencari tahu isi tas orang lain?"
"T tidak, Keanu. Aku minta maaf. Aku berjanji, tidak akan melakukannya lagi."
Keanu melangkah semakin dekat. Ia sengaja membuat jantung Decon berdegup kencang karena ketakutan.
"Tentu saja, aku akan menerima permintaan maafmu. Jadi, apa yang kau ketahui setelah melihatnya?" tanya Ken di depan kepala Decon.
GLEK!
Lagi-lagi Decon meneguk ludah. Ia kehabisan keberanian untuk berbicara. Entah mengapa, sejak ia melihat isi tas itu, tatapan mata Keanu menjadi amat mengerikan.
"Aku tidak melihat apapun. Sungguh,,," jawabnya penuh ketakutan.
Keanu menarik sudut bibirnya pelan. Lama kelamaan ia pun menyeringai lebar begitu mendengar jawaban dusta dari mulut Decon. Dengan perlahan, ia berbisik di dekat telinga Decon.
"Kau tahu? Sayangnya aku melihatmu sengaja membuka tasku. Jadi, aku harus bagaimana?" Keanu terkekeh gila sambil menyiapkan pisau lipatnya diam-diam di belakang punggungnya.
Karena bisikan mengerikan yang didengarnya itu, Decon melangkah mundur. Ia berniat melarikan diri, melapor dan meminta bantuan polisi.
"S sepertinya aku harus pergi, pelanggan sedang menunggu," Decon berkata gugup sambil berbalik pergi.
Namun dengan cepat, Keanu meraih kepala Decon dan menyayat lehernya sebelum pemuda itu berhasil melarikan diri ataupun melaporkan dirinya ke polisi.
"Aahhkkkkggk.." Decon mendelik sambil memegangi lehernya yang tersayat.
Sebelum ada orang yang datang, Keanu menarik tubuh Decon dan menguncinya di dalam sebuah lemari tempat penyimpanan persediaan kain serbet dan tissue. Ia akan memindahkan tubuh Decon setelah semua orang di restoran pergi.
SRET
Keanu menutup kembali tasnya. Kemudian ia menutup pula lokernya. Ketika ia hendak pergi, seseorang yang mencari Decon bertanya padanya.
"Hai Keanu, apa kau melihat Decon?"
"Decon? Tidak," jawabnya santai.
"Di mana ya dia. Aku butuh bantuannya," kata kawannya yang lain itu kebingungan.
"Apa aku bisa membantumu?" tanya Keanu basa-basi.
"Apa kau bersedia?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Ayo ikut aku."
"Siap."
Keanu pergi mengikuti temannya sambil melirik lemari tempat ia menyembunyikan Decon. Tak lupa, seringai jahat terlihat jelas dari wajahnya.
Pada saat itu, sebenarnya Decon masih hidup. Akan tetapi karena urat lehernya tersayat, ia kesulitan untuk mengambil nafas ataupun berbicara. Bahkan tenaganya tiba-tiba saja hilang dan sangat lemah. Oleh sebab itu, ia tidak mampu mengetuk pintu untuk meminta pertolongan.
Bersambung......