
BAB 46
"Hak ak,, ahhkk..." Keanu merasakan nafasnya sesak.
Tangannya gemetaran memegangi pisau yang ditikamkan Genie padanya. Pada saat ia mengulurkan tangan hendak menyentuh wanita di hadapannya itu, Genie mencabut pisaunya. Lalu menikamnya lagi berkali-kali.
"Mati kau iblis jahat! Mati!" Genie tidak menyisakan rasa kasihan di hatinya.
Darah segar mengalir deras dari tubuh Keanu. Luka akibat tembakan yang belum kering itu ditambah dengan luka tusukan di mana-mana.
Saking bersemangatnya, Genie terengah-engah begitu melakukan aksinya. Ia menatap mata Keanu dengan perasaan senang yang juga sedih.
"G Genie... kenapa kau ingin membunuhku? Bukankah kita saling mencintai...."
"Diam!! Aku tidak mencintai iblis gila sepertimu!!"
Usai Genie mengatakan itu, tiba-tiba Keanu kejang. Ia terus membuka mulut sebab ia kesulitan bernafas. Tangannya yang terborgol itu membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa saat Genie berusaha menghabisinya.
"Untuk ayah, ibu, kakak, kakak ipar, Sean dan semua orang yang telah kau bunuh, terimalah kematianmu sekarang!!"
HIYAAAA!
Genie mengangkat tinggi-tinggi pisaunya dan bersiap menancapkannya tepat ke jantung Keanu.
CRAK
Genie menikamkan pisaunya tepat di jantung Keanu. Ia menekannya kuat hingga Keanu memuntah darah dari mulutnya.
PRUUTT
"G e n i e...." batin Keanu tak berdaya sambil memejamkan mata perlahan. Sepertinya itulah waktu terakhirnya.
Tiba-tiba seorang penjaga memergoki Genie dan segera menghentikannya. Penjaga itu lantas memanggil kawan lainnya dan memberikan pertolongan pada Keanu dengan mencari dokter.
"Nona, jangan!" penjaga merengkuh tubuh Genie dari belakang dan membawanya keluar dari kamar Keanu.
"Biarkan aku membunuhnya, jika tidak, iblis ini akan meneror seluruh kota," teriak Genie.
"Tenang, nona. Biarkan hukum yang menanganinya," jawab penjaga.
"Tidakkk! Biar ku bunuh dia sekarang juga!! Lepaskan aku,, dia akan membunuh kalian semua dan tidak akan menyisakan sedikitpun!" Genie meronta meminta dilepaskan.
Dokter dan suster berdatangan begitu petugas memanggil mereka. Kondisi Keanu yang bersimbahan darah dengan luka tusukan di mana-mana membuat mereka kewalahan memberikan pertolongan.
"Cepat hentikan pendarahannya!"
••••••
TUT
TUT
TUT
Entah bagaimana, dokter masih bisa mempertahankan nafas Keanu. Meski begitu, ia terbaring tidak sadarkan diri di sebuah ranjang. Begitu lemah dan mungkin saja dengan harapan untuk hidup hanya dua puluh persen saja.
Sementara itu, di ruang hampa yang keseluruhannya tertutup kabut berwarna putih, Keanu berdiri seorang diri. Lambat laun, kabut putih itu menghilang sehingga ia dapat melihat dengan jelas bagaimana kondisinya sekarang.
"Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa melihat diriku di sana? B benarkah aku sudah mati?" Keanu melihat dirinya sendiri terbaring koma.
"Baguslah kalau begitu. Itu artinya dia berhasil membalaskan dendamku," tiba-tiba terdengar suara Sean di belakang.
"K kau??"
Keanu terkejut melihat roh Sean yang sedang berbicara dengannya.
"Tidak! Aku tidak boleh mati seperti ini. Aku harus bangun dan membunuh wanita yang berani menghabisiku, lalu aku juga akan menghabisi ketiga Putri Gun!"
"Menyerahlah, monster. Kau sudah ditakdirkan mati di masa lalu. Jadi jika sekarang kau mati lagi, itu sudah aturan dari Tuhan. Aturan tentang manusia hina macam dirimu yang pantas dimusnahkan."
Pada saat yang tepat, muncul pula Rula. Gadis itu menyapa kakaknya dan mengajaknya pergi bersama.
"Kakak, sudah lama aku tidak menemuimu."
"Ru Rula?"
Rula mengangguk, "Ayo pergi denganku. Ayah dan ibu sudah menunggumu."
"Ayah dan ibu?"
"Yah.."
Keanu menoleh pada dirinya lalu mendekat perlahan. Tiba-tiba, seorang dokter dengan penutup kepala datang dan langsung melepas alat pernafasan yang terpasang pada hidung Keanu.
"G Genie?"
Keanu mencoba mendorong Genie agar tidak berbuat macam-macam pada tubuhnya. Namun sia-sia saja. Tangannya justru menembus tubuh wanita itu.
"Sial!"
Keanu semakin panik ketika Genie mengeluarkan pisau dan menempelkannya ke lehernya yang sedang terbaring lemah di ranjang.
"Tidak! Jangan lakukan itu!!" teriak Keanu ketakutan. Ia berusaha menangkis pisau yang digenggam Genie. Tapi tidak bisa.
"Lihatlah, pria gila. Kali ini, aku akan menghabisi nyawamu seperti kau menghabisi keluargaku. Hahaha,, berteriaklah minta tolong. Aku yakin, tak seorang pun yang datang mendengar teriakanmu!"
******
Darah segar keluar dari luka sayatan di leher Keanu. Suara mesin detak jantung pun terdengar panjang. TUUUUUUUTTTTT.....
"Tidaaakk!! Aku tidak boleh mati sekarangg!!" teriak Keanu tak ada gunanya.
Lepas menghabisi nyawa Keanu, Genie tertawa seperti orang gila. Ia mengingat kembali kenangan manisnya bersama pria psycho tersebut. Hingga dirinya mengandung dan melahirkan putra mereka.
Entah itu karena cinta ataupun kebencian yang terasa mendalam, Genie merasakan kehilangan meski kini dirinya telah terbebas dari cengkeraman si pria gila.
Para petugas, baru berdatangan. Mereka tidak lagi menghentikan tindakan Genie. Sebenarnya, tanpa Genie tahu, teman pria Sean yang bernama George itu mengatur kesempatan bagi Genie untuk membunuh Keanu.
Rupanya, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sean telah tiada. Satu-satunya orang yang dengan biadab memperlakukan wanita tercintanya itu adalah Keanu. Maka, dengan atau tanpa bantuan orang lain ia bertekad akan menghabisi nyawa Keanu.
••••
Esoknya, pemakaman Keanu dilakukan tanpa upacara. Pihak rumah sakit telah diberi wewenang oleh pihak kepolisian untuk mengurus semuanya.
Di pemakaman itu, Keanu duduk menyendiri menyaksikan peti matinya dikuburkan. Ia menunduk dengan putus asa mengingat kembali bagaimana kehidupan masa lalu dan sekarangnya.
Ia mengakui, bahwa dalam kedua masa kehidupannya itu hanya berisi pembalasan dendam dan kejahatan. Bahkan ia mempunyai misi sendiri selain membalaskan dendam Rula dan orang tuanya dengan memperkosa semua wanita yang ia inginkan.
Sambil menitikkan air mata, ia menatap tubuhnya yang tembus pandang itu. Tidak ada seorang pun yang mendengar suaranya saat ia bicara.
Maka ia teringat kembali perkataan Genie bahwa meski ia berteriak minta tolong, tidak akan ada seorang pun yang datang mendengar teriakannya.
"Begitu, ya? Aku mengerti. Aku memang seorang penjahat keji yang pantas menerima kematian ini," ucapan Keanu terdengar seperti penyesalan.
"Hahaha! Ketemu juga akhirnya!" suara seseorang terdengar bagai petir menyambar-nyambar, menggema di seluruh tempat.
Keanu menoleh dan melihat sosok tinggi menjulang dengan jubah hitam lengkap dengan sayapnya yang juga hitam. Tubuhnya hanyalah rangkaian tengkorak dengan mata merah. Disekelilingnya berkobar pula api yang meraung-raung.
"S siapa kau??" Keanu ketakutan.
"Akulah penguasa neraka!"
Mendengar itu, Keanu lari menyelamatkan diri. Tapi belum juga jauh ia berlari, dari dalam api yang menyala itu keluarlah dua buah rantai panas dan mengejar dirinya.
Dengan cepat rantai itu melingkari badan Keanu hingga membuatnya terbakar.
"Aarrrgg! Ampun!!"
••••••
CUIT CUIT CUIT
Suara burung terdengar begitu ceria di pagi hari. Genie menyeduh teh dengan senyuman penuh syukur.
Ketiga keponakannya kembali beraktifitas seperti biasanya. Mereka sekolah dan berinteraksi dengan orang sekitar tanpa dibayangi rasa takut pada si pria gila.
"Kemarilah, anak-anak! Minumlah teh lemon kalian," panggil Genie pada tiga keponakannya.
Tracy, Trissa dan Teresha berlarian menyambut cangkir teh mereka.
"Bibi, lihat di sana. Ada pelangi," kata Trissa.
"Benarkah? Mana?"
"Itu, bibi. Cantik sekali, ya," sahut Tracy.
Mereka pun memandangi pelangi di langit nan cerah. Sambil duduk di tengah-tengah para ponakan, Genie merangkul punggung mereka dan tersenyum.
"Apa kalian tahu? Bibi berharap, setelah masa mencekam yang kita hadapi kemarin, esok, lusa dan seterusnya, hanya ada kata bahagia untuk kita," ucapnya.
"Hmm. Kami beruntung, memiliki bibi di hidup kami. Semoga, kakek, nenek, ayah dan ibu akan tersenyum melihat kita dari surga."
Genie diam memikirkan sesuatu dalam hatinya.
"Dari surga, ya? Apakah ayah dan kakak bisa melakukan itu jika mereka juga memiliki kesalahan pada keluarga Keanu?"
Genie tahu betul, iblis jahat itu lahir dari rasa sakit hatinya terhadap orang-orang yang menghabisi keluarganya. Atau lebih tepat lagi, orang-orang yang dicintainya.
Seperti Keanu.
Awalnya, tentu saja Keanu bukanlah manusia yang jahat. Namun, keadaanlah yang membuatnya tumbuh dan menyimpan banyak dendam.
Ia berubah menjadi mesin pembunuh nomor satu dan dengan sadis pula memutilasi mereka. Bahkan ia tega menyakiti para wanita dan anak-anak di bawah umur.
Kalau sudah begitu, siapa yang salah?
Tentu saja diri sendiri lah yang salah karena tidak dapat menguatkan iman. Dengan cara apapun, yang namanya balas dendam itu tidak dianjurkan.
Apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang dan berbuat jahat pada orang-orang sekitar.
Dari kisah Keanu ini, kita bisa memetik pelajaran. Bahwa manusia tidak bisa hidup tenang saat berbuat jahat. Bahkan, lambat laun manusia itu sendiri akan memetik hasil dari perbuatannya di masa lampau ataupun kehidupan yang sekarang sedang ia jalani.
Berpikirlah kembali sebelum melakukan suatu kejahatan.
Daripada menimbun dendam, lebih baik memupuk kebaikan.
Dengan kebaikan, orang-orang di sekitarmu akan tersenyum dan merasa dicintai.
...**** TAMAT *****...