
EPISODE 16
Restoran daging panggang tempat Keanu kerja akhirnya sudah tutup. Dan seperti biasanya, Keanu mendapat tugas untuk menutup restoran di hari itu.
Satu jam setelah semuanya sudah pergi, Keanu mulai mendekati kembali lemari penyimpanan kain dan tissue. Begitu ia membuka lemari tersebut, tangan Decon jatuh terkulai keluar.
"Sebenarnya kau tidak perlu mati seperti ini. Keingintahuanmu itulah yang membawa bencana,," gumam Keanu.
Keanu memeriksa denyut nadi Decon. Sudah berhenti. Tubuh pemuda itu juga sudah menjadi pucat. Dengan sedikit kesulitan, Keanu membawa keluar tubuh teman kerjanya dan menggendongnya sampai ke daerah sungai.
Keanu tidak bisa meninggalkan mayat Decon di sembarang tempat, sebab sidik jarinya ada di tubuh tersebut. Saat ia membunuhnya tadi, kebetulan sekali ia sedang tidak mengenakan sarung tangan. Sebab, pembunuhan Decon bukanlah pembunuhan yang direncanakan.
Mau tidak mau, Keanu harus menyembunyikan mayat tersebut ke dalam guanya. Meski air laut sedang pasang dengan suhu yang amat dingin, Keanu nekat menyelam melewatinya.
Meski ia mengikat tubuh Decon begitu erat dengan tubuhnya, suhu air yang minus membuatnya kedinginan. Gerakan menyelamnya pun mengalami kesulitan. Beberapa kali tubuhnya terasa kaku dan membeku hingga ia pun tenggelam turun ke dasar laut.
Ketika sadar dirinya hampir tenggelam jauh ke dasar laut, Keanu kembali mengayunkan kakinya dan berenang ke tempat batuan gua karang. Apalagi nafasnya juga mulai sesak akibat cara menyelamnya yang tidak menggunakan alat apapun.
Uhuk Uhuk Uhuk!
Dengan susah payah, Keanu mencapai gua persembunyiannya. Ia menyeret tubuh Decon naik dan meletakkannya di samping mayat Gricel, gadis yang ia bawa ke gua beberapa bulan lalu.
Keanu mengamati tubuh Gricel yang tidak membusuk. Bentuk dan tekstur tubuhnya persis seperti daging yang dimasukkan ke dalam freezer.
"Waah,," Keanu merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rupanya, suhu dingin dinding dan lantai gualah yang mempengaruhi kondisi mayat Gricel. Di musim dingin saat ini, suhu air laut sudah mencapai 11°C.
Karena Keanu merasa menggigil, ia berpindah duduk di sudut lorong yang terhubung dengan tebing seberang. Suhu di kedalaman lautan saat itu benar-benar membuatnya tersiksa.
Jika ia tidak terpaksa untuk menyembunyikan mayat Decon, pastilah ia tidak akan pernah ada di dalam pikirannya untuk menceburkan diri ke dalam air dingin seperti es itu.
Sambil duduk meringkuk, ia membayangkan hangatnya tubuh Daisy. Gadis itu, gadis yang selalu membuatnya merasakan kehangatan. Dalam kedinginannya, Keanu berusaha untuk tidak tertidur. Sebab, tubuh yang berada dalam keadaan yang kedinginan, bisa menerima kematian kapanpun juga.
Meski ia menahan rasa kantuk dengan sekuat tenaganya, perlahan mata Keanu pun terpejam.
•••••••
Di lain tempat, Genie datang kembali ke rumah Keanu. Namun karena rumah itu sepi, Genie pun pergi melihat-lihat. Dari kamar Keanu yang rapi dan gelap, berpindah ke kamar milik Rula dulu. Kemudian ruang makan dan dapur yang seakan tidak pernah digunakan lagi.
Ketika melewati kamar utama milik orang tua Keanu dahulu, Genie sempat menengok ke dalamnya. Ruangan tersebut terdapat sebuah ranjang dengan tirai merah tua yang indah. Namun sayang, semuanya sudah tampak berdebu tidak dirawat.
Kemudian, Genie juga melihat ruang kerja yang dipenuhi rak buku. Ruangan tersebut sudah dihuni ratusan ekor laba-laba. Bahkan lebih. Terlihat jelas dengan jaringnya yang terhias di sana sini.
"Dulu, di sinikah ruang kerja ayahnya?" Genie bergumam lirih.
Pada saat Genie melanjutkan rasa penasarannya, ia berjalan menuju samping rumah. Dimana gudang tempat pintu rahasia berada.
Tidak sengaja, kaki Genie tersandung sebuah kayu bekas kursi di halaman tersebut. Bahkan ada beberapa tumpukan kaleng bekas yang berserakan.
"Awh, di sini berantakan sekali..." ucap Genie sambil memijit pergelangan kakinya.
Tiba-tiba saja suasana sunyi dan desiran angin yang berhembus cukup kencang, membuat nyali Genie sedikit menciut. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh halaman yang sepi dan tampak kumuh. Entah mengapa pula, tiba-tiba saja ia merasa merinding. Bulu kuduknya pun meremang.
Tidak mau berlama-lama di sana, Genie bangun dan bergerak pergi. Akan tetapi, seperti ada sesuatu yang menggerakkan hatinya, Genie pun menoleh pada gudang di ujung sana.
"Tempat apa itu?" gumamnya dengan hati berdebar.
Maka, Genie berjalan mendekati gudang dengan amat perlahan. Rasa penasaran yang ada di dalam hatinya ternyata lebih besar dari rasa takutnya.
Jika Genie sedang berjalan menuju gudang rumah Keanu, di lain tempat, Keanu yang sempat tertidur justru mulai terjaga. Ia bangun dengan terkejut seakan mendapat mimpi buruk.
Seketika Keanu ingat, bahwa pagi itu ia meninggalkan Genie sendiri di rumahnya. Ia penasaran, apakah Genie sudah pergi dari sana?
Dengan terburu-buru, Keanu turun dan menyelam ke dalam air dingin. Ia mendapat firasat tentang keberadaan gudang tempat pintu rahasianya.
Bahkan, begitu sampai di daratan dengan tubuh yang menggigil, Keanu berusaha untuk berlari menuju rumah.
KRIEEKK!!
Genie mulai membuka pintu gudang. Suara berdenyit menandakan usia pintu tersebut.
Karena merasa sedikit berbeda dari pikirannya, Genie melihat-lihat tumpukan buku dan koran yang ada di sana. Sungguh barang-barang yang sudah tua, pikirnya.
Ketika ia berjalan mendekat ke sebuah rak tua usang yang ada di belakang tumpukan koran, tanpa sengaja mata Genie melihat sebuah bercak darah di bawahnya.
"Apa itu da darah?" Genie menelan ludah.
Dihampirinya bercak darah yang sudah kering di bawah rak sana. Kemudian seperti layaknya detektif, ujung jari telunjuknya mengusap bekas darah tersebut.
"Ini sudah kering. Apakah ini darah Keanu? Ah, tidak. Bisa jadi ini darah tikus, kan? Tapi kalau ini darah Keanu, apakah Keanu pernah terluka?"
Genie bergumam sendiri dan mengamati keadaan di dalam gudang. Setelah menemukan bercak darah di lantai dasar rak, matanya kembali menemukan bercak di tumpukan kardus.
Bercak darah itu ada di kardus paling bawah di bagian sampingnya. Untuk melihat itu dengan jelas, Genie pun berjongkok.
"Di sini juga ada? Sebenarnya, darah apa ini? Kenapa aku merasa seperti sesuatu yang terluka dan berdarah tengah terpercik kemari?" lagi-lagi Genie berpikir keras.
Ketika ia sedang berpikir tentang hal yang tidak bisa ia pikirkan, Genie tiba-tiba saja merasa ada angin dingin yang menghampirinya. Maka, ia pun berdiri dan menoleh ke belakang.
JRENGG!!
Betapa terkejutnya ia ketika Keanu sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang putih pucat. Bahkan tatapan matanya tampak menakutkan.
"K kau sudah pulang?" tanya Genie gugup karena terkejut.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Keanu datar.
"Ah! Aku hanya melihat-lihat. Aku pikir, kau ada di suatu tempat di rumah ini. Jadi, aku mencarimu di mana-mana.."
Keanu memperhatikan sikap Genie yang gelisah. Bahkan gadis itu tampak gugup berhadapan dengannya.
"Lalu, apa yang kau lihat di sana?"
"Eh? Itu,,, Emm. Sepertinya aku melihat bercak darah di sana. Apa kau pernah terluka?"
GLEK!
Keanu terkejut. Darah? Apakah ia meninggalkan sedikit bukti pembunuhan di tempat itu? Bukankan ia sudah membersihkan semuanya pada saat membunuh Ferdinand dan Fera waktu itu?
Aaah... rupanya ada sedikit yang tertinggal. Mungkin saat ia menusuk punggung Fera, darah itu terpercik ke sana tanpa sepengetahuannya.
"Ah, itu darahku sewaktu memindahkan rak. Besi yang sudah mengelupas melukai tanganku. Kau tidak berpikir macam-macam, bukan?" Keanu bertanya dengan tatapan yang tajam.
"Tentu saja tidak. Jadi benar, kau terluka? Kapan itu terjadi? Jika kau terluka lagi, jangan lupa untuk memberitahuku, ya?"
"Hmm. Baiklah."
Keanu sedikit berhati-hati pada Genie. Gadis yang berdiri di depannya memiliki rasa keingintahuan yang besar. Bahkan ia sampai memeriksa gudang di rumahnya.
"Hey! K kenapa kau basah kuyup? Apa kau kehujanan? Tapi bukankah sejak tadi tidak turun hujan?" Geni bertanya khawatir.
"Aku kedinginan. Bisakah kau memelukku?" tanya Keanu.
Genie mengangguk cepat, "Tentu saja. Kemarilah."
Mereka berdua berpelukan beberapa saat. Suhu dingin yang menyelimuti tubuh Keanu berangsur menghangat berkat suhu panas tubuh Genie.
"Apa kau sudah makan?" tanya Genie.
"Belum."
"Kalau begitu gantilah pakaianmu. Kita akan pergi makan di luar."
"Tidak, tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Hey,, kau tidak pernah merepotkanku, tahu? Jadi, ayo pergi ke atas," Genie menggandeng tangan Keanu dan mengajaknya ke dalam rumah.
Bersambung......