
BAB 24
SURR
Sore itu di toilet umum yang sepi, Keanu tengah menggagahi gadis kecil yang terus meronta untuk dilepaskan. Begitu kuatnya dorongan dari Keanu, membuat darah merah muda mengalir dari sela-sela persatuan mereka.
Sepertinya batang keras Keanu mengoyak dan merusak milik gadis tersebut secara kasar dan dalam.
Di dalam pangkuan Keanu, tubuh Trissa berguncang naik turun mengikuti hentakan yang ia terima. Rasa sakit luar biasa pun menjalari tubuh bagian bawah anak itu. Trissa amat tersiksa dan ketakutan. Namun, ia juga tidak bisa menjerit karena bibir Keanu terus memagut bibirnya.
"Aaaahh.."
Keanu sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa dari tubuh gadis kecil itu. Bagaimana tidak? Lubang sempit Trissa membuatnya merasakan gesekan dan cengkeraman yang kuat.
Begitu selesai dengan aksinya, Keanu menyingkirkan Trissa hingga gadis kecil itu jatuh terduduk di lantai toilet. Ia meraih tissue dan mengelap darah perawan yang mengotori batangnya.
"Diam dan jangan menangis! Ingat! Kau tidak boleh mengatakan kejadian ini pada siapapun, Trissa. Jika tidak mau kakakmu Teresha merasakan hal serupa seperti ini."
Trissa menahan tangisnya dan menjadi pucat karena ketakutan. Ia tidak mau paman Keanu juga melakukan itu kepada kakaknya.
"Apa kau mengerti?"
Trissa mengangguk pelan.
"Bagus. Anak pintar," Keanu mengelus wajah Trissa dan kemudian turun merem*s dada datar anak itu.
Karena sudah selesai merapikan celananya, Keanu meraih tubuh Trissa dan membantunya duduk di atas kloset.
"Sepulangnya dari sini, jangan katakan apapun tentangku pada siapapun termasuk Genie ataupun polisi. Jika aku mendengar laporan yang menyudutkanku, kau akan menerima akibatnya seperti kakekmu waktu itu," Keanu meraih tissue dan membersihkan darah dari liang virgin Trissa.
Darah yang bercampur dengan air mani Keanu tampak menjejal penuh di dalam liang virgin gadis itu. Saat membersihkannya, Keanu pun dapat melihat jelas bagaimana cairan kental miliknya mengalir keluar dari lubang sempit itu.
"Jika kau ingin menyalahkanku, salahkan dulu ayahmu. Dia juga melakukan hal seperti pada adikku lalu membunuh dan membuang kepalanya di tengah ladang," ucap Keanu dengan mata melotot.
"Aku hanya membalas perbuatan jahatnya itu padamu. Apa kau sakit hati, Trissa?" lanjutnya sambil menekan perut bawah Trissa untuk mengeluarkan cairan yang masuk.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya karena ketakutan.
Setelah cukup bersih, Keanu memakaikan kembali celana d*lam Trissa dan membantunya pula merapikan rok sekolahnya.
Kemudian mereka keluar dari toilet dengan bergandengan tangan seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Keanu juga membelikan balon berwarna merah untuk Trissa.
"Karena kau sudah menyenangkan hati paman, ini hadiah untukmu."
Trissa menerima balon merah yang besar dengan hati gembira. Sejenak, ia melupakan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Paman akan memberi hadiah lebih banyak lagi jika kau tetap menuruti perintah paman. Setuju?" Keanu mengulurkan jari kelingkingnya.
Trissa yang lugu pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Keanu.
"Rupanya kalian di sini?" tanya Teresha.
"Iyah benar. Kami sampai lelah mencari kalian," kata Tracy.
Keanu menoleh cepat. Ia tidak berpikir bahwa kedua kakak Trissa akan menyusulnya.
"Ah, ya. Trissa terus menangis dan memintaku membelikan balon ini. Jadi kami kemari tanpa menunggu kalian. Maaf, ya," jawab Keanu diiringi tawa palsunya.
GLEK
Trissa melihat dua kakak perempuannya dan ingin sekali lari menghamburkan diri. Namun ia menahan keinginannya karena tidak ingin paman Keanu berbuat hal serupa pada kakak-kakaknya.
"Baiklah, mari lanjutkan bermain!"
"Tidak. Kami ingin pulang saja," kata Tracy.
"Benarkah? Kenapa?"
"Kami sudah lapar, paman. Lagipula, kami juga sudah lelah dan ingin cepat-cepat mandi. Jadi, bawa kami pulang, ya."
"Hmm. Baiklah kalau begitu, mari kita pulang," Keanu merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobil.
••••••••
Di rumah Genie, tiga anak kembar namun bukan kembaran itu sedang bersiap tidur. Trissa beberapa kali pergi ke toilet untuk buang air kecil namun ia kembali lagi dengan cepat.
"Ada apa denganmu? Kau terus saja pergi ke kamar mandi!" tanya Teresha heran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa perutku kembung," jawab Trissa.
"Kau kebanyakan minum air? Apa paman Keanu memberikanmu banyak minuman?"
"Tidak, dia membelikanku es krim," jawab Trissa dan mengingat kembali peristiwa sore itu.
"Ya sudah, tidurlah. Besok kita ada ulangan," kata Teresha seraya memperhatikan adiknya.
Malam kian larut. Semua anak sudah tidur. Namun ternyata, Trissa masih terjaga. Ia merasakan sakit luar biasa pada liang virginnya. Bahkan saat ia pergi buang air kecil tadi, rasa perih yang tak tertahan membuatnya mengurungkan niat untuk pipis.
Diam-diam, Trissa menangis di bawah selimutnya. Ia kini tahu siapa pelaku sebenarnya yang membunuh kakeknya dengan keji. Dan selama ini, tidak ada yang tahu bahwa pria itu ada di depan mereka.
Bahkan kini, pria gila itu telah merenggut kegadisannya. Menorehkan sebuah luka yang tak dapat dikukiskan dengan kata-kata.
Dia benar-benar takut!
Bagaimana besok ia harus bertemu kembali dengannya?
••••
Keanu sendiri kini berada di kamarnya sambil mencatat kasusnya di dalam buku. Seperti sebelumnya, ia menuliskan nama-nama korbannya di dalam catatannya.
...----------------...
22 Nophember 1882
Di toilet umum taman bermain Groundly, seorang gadis manis kunikmati dengan sepenuh hati. Dia putra ketiga Gun!
...----------------...
Saat menulis di buku hariannya itu, Keanu tertawa sendiri. Ia masih ingat betul bagaimana keluguan Trissa mencelakai dirinya sendiri.
Keanu mengusap batangnya dengan penghayatan dan kembali membayangkan bagaimana nikmatnya gadis kecil perawan itu.
"Hentikan itu, Keanu! Kau sudah melewati batas!"
Tiba-tiba, ia mendengar suara dari seseorang dari arah belakangnya. Dengan cepat ia menoleh dan melihat sosok Rula di sana.
"Rula?!"
"Hentikan perbuatanmu, Kak! Kau menjadi lebih jahat dari pria itu. Bagaimana bisa kau menyakiti gadis kecil sepertinya?"
"Diam, Rula!"
Mata Keanu mendelik dengan sudut bibir kanannya yang bergerak-gerak naik ke atas. Ia tidak percaya bahwa Rula menyuruhnya berhenti.
"Dengar! Ini tidak bisa ku hentikan begitu saja. Keluarga Gun masih ada yang tersisa. Jadi, tunggu hingga aku melenyapkan semuanya baru aku akan berhenti," jawab Keanu kesal.
"Kakak. Hentikan sekarang."
Karena merasa terganggu, Keanu melempar kotak pulpen kayunya ke arah Rula. Namun bayangan Rula justru menghilang sehingga kotak pulpennya mengenai dan memecahkan kaca jendela.
CRANGGG
Keanu bangkit dan berdiri mendekati kaca jendelanya yang pecah.
"Lihatlah! Kau membuat kaca jendela kamarku pecah!"
Teriak Keanu pada Rula. Ia benar-benar kesal pada adiknya karena memintanya berhenti di tengah jalan. Baginya, balas dendam yang sempurna harus dilakukan sampai tuntas.
Dan seperti ucapannya barusan, ia tidak akan membiarkan begitu saja keluarga Gun yang tersisa.
Karena perasaannya sedang tidak enak, maka Keanu berjalan keluar rumah menuju gudang belakang. Suasana gelap gulita di malam hari membuatnya berjalan dengan leluasa.
Begitu sampai di depan cermin, ia menggesernya ke samping. Kemudian dibukanya pintu rahasia dan masuk ke dalam tanpa diketahui siapapun.
GRETEK
GRETEK
Suara pintu rahasia yang terdengar dibuka seseorang itu membuat tiga wanita yang terikat di dalam menjadi gemetaran.
"Dia datang! Jangan lupa, layani dia dengan sepenuh hati," bisik Lorena pada Choa.
Choa hanya diam dan mengatupkan rahangnya dengan kuat hingga akhirnya sosok Keanu berdiri di hadapan mereka.
"Selamat malam semuanya," sapa Keanu menatap Choa dengan senyuman miring.
"Kau! Apa kau gila? Apa maksudmu melakukan semua ini dan berpura-pura baik di depan semua orang!" Choa membuka suara lebih dahulu sebelum Daisy dan Lorena menyapa balik.
Keanu tergelak.
"Aku tidak berpura-pura, nona. Namun bersandiwara," ucapnya sambil tertawa terbahak.
"Itu sama saja! Kau gila, Kean!"
Keanu menubruk Choa dengan cepat, "Yaah.. Aku memang gila. Sekarang, setelah kau tahu siapa diriku yang sebenarnya, bagaimana pendapatmu?"
"Kau!"
Saat Keanu mengendus leher Choa dan berusaha menciumnya, gadis itu menjerit histeris dan melawan dengan sekuat tenaga. Ia bahkan berhasil menggigit telinga Keanu hingga berdarah dan mendorongnya minggir.
"Aaarrrrhh!!" teriakan Keanu menggema di ruang rahasia saat telinganya digigit Choa.
Gadis itu berusaha merangkak menghindari Keanu yang tengah menggila. Namun karena kakinya dirantai, ia tidak bisa melarikan diri jauh dari Keanu.
HAP!
Keanu kembali menubruk Choa dan menekan kepala gadis itu ke lantai dengan kuat. Lututnya juga menekan kuat punggung Choa hingga gadis itu kesulitan bergerak.
"Kau mau melawanku?"
"Lepaskan aku!"
"Ck Ck Ck,, Kasihan sekali. Merontalah sekuat tenaga," Keanu mendecakkan lidah.
"Ihh!" Choa berusaha menyingkir.
Keanu membalikkan tubuh Choa dan berusaha mengendusnya dengan penuh nafsu. Bahkan ia menjilat bagian paha gadis itu seraya menurunkan celana pendek yang dikenakannya hingga akhirnya terbukalah semuanya.
"Hhaaahhh! Jangan!!" teriak Choa begitu Keanu berhasil menarik lepas pakaian bawahnya.
Kini, Choa menjerit-jerit. Karena tubuh bagian bawahnya sudah terbuka, ia berusaha lebih keras untuk melawan. Ketika Keanu berhasil menindihnya, Choa membenturkan kepalanya ke kepala Keanu dengan keras.
"Rasakan ini!" seru Choa.
Begitu Keanu kesakitan dan lengah, ia menendang kuat sel*ngk*ngan pria itu hingga memekik kesakitan.
HAAARRRGGHH !!
"Hik hik,," Choa menangis dan merinding menghadapi kegilaan Keanu.
Saat sedang kesakitan, Keanu menoleh pada Choa dengan tatapan yang semakin menggila. Ia menyeringai pada gadis itu dan berdiri perlahan.
"Baiklah! Teruslah melawan! Apa kau mau begini sampai pagi? Kau justru membuatku lebih bersemangat!"
Keanu berjalan mendekati gadis yang tengah ketakutan itu lalu menjambak rambutnya tanpa bekas kasih. Tanpa ragu, ia menindih tubuh Choa dan memaksanya untuk bercinta.
"Aaahh, tidaaakk! Tidaaakk! Lepaskan akuuu!!" teriakan Choa melengking di udara.
Daisy dan Lorena yang sejak tadi hanya bisa menonton kekejian di depan mereka, kini saling berpelukan dengan tubuh yang gemetaran.
BERSAMBUNG...