
BAB 25
Choa menjerit-jerit ketakutan karena Keanu terus saja memaksanya untuk bercinta. Ia sampai meronta sekuat tenaga hingga seluruh badannya terasa sakit akibat pukulan dan cengkeraman kuat dari Keanu.
Seperti setan yang hendak melahap darah korbannya, Keanu merayap dan menjilati tubuh Choa terlebih dahulu untuk meningkatkan rangsangan.
Choa yang merasa syok itu jadi sesak nafas. Dadanya tampak naik turun karena nafasnya yang mulai tersengal. Ia menggelepar ketakutan seperti ikan kehabisan oksigen dengan kedua tangan yang berusaha memukuli kepala Keanu.
Ia ingin sekali mencekik dan membunuh pria gila itu. Tapi apa daya. Begitu Keanu menyesap bagian penting miliknya dengan beringas, tubuh Choa menggelinjang lebih hebat. Teriakannya yang semula lantang pun berubah menjadi lenguhan panjang.
"Aaaaahh.. Cepat hentikan dan singkirkan kepalamu!" pekik Choa di tengah lenguhannya.
Masih dengan sisa tenaga yang ia punya, Choa berusaha duduk disaat Keanu menggila dengan terus memainkan lidahnya. Ia meraih kepala Keanu dan menggigitnya sampai mendapat luka dan berdarah.
AAAARRRRHHH!!
Tentu saja Keanu berteriak kesakitan saat kepalanya digigit oleh Choa. Wanita itu benar-benar sangat berani demi melindungi diri sendiri.
Namun sayang, Keanu langsung menyingkir dan menempeleng keras kepala Choa. Begitu wanita itu menyentuh pipinya karena kesakitan, Keanu segera menarik tubuhnya dan memaksanya tengkurap. Bahkan ia juga menekan kepala Choa ke lantai dengan kuat.
"Apa kau pikir serangan seperti itu dapat menghentikanku? Tidak sama sekali. Kau hanya menambah semangatku untuk menyetubuhimu," Keanu berbisik di telinga Choa sambil menggigit kecil area tersebut.
Lorena dan Daisy yang menyaksikan penolakan keras dari Choa itu merasa gelisah. Sebab, jika kali itu Keanu tidak mendapat kepuasan, maka matilah Lorena.
"Tidak... Aku mohon jangan lakukan itu.." kini Choa memohon dengan suara gemetar dan tertahan karena kepalanya sedang ditekan kuat ke lantai.
Keanu terkekeh dan mulai menindih tubuh tengkurap Choa. Dengan sekali dorongan, seluruh batang miliknya berhasil menerobos dan terbenam penuh di dalam liang hangat Choa.
"Aa'aaahh.." pekik Choa kesakitan sampai urat lehernya terlihat jelas.
Sambil tetap merengkuh tubuh Choa dari belakang, batang keras Keanu keluar masuk dengan amat beringas. Menciptakan gesekan yang terasa amat panas di dalamnya. Bahkan, semakin Choa melawan, semakin banyak pula ia mendapat kenikmatan.
Darah segar pun terus mengalir dari dalam liang Choa yang sedang dihantam kuat oleh Keanu.
Satu jam telah berlalu, namun Keanu belum juga menyudahi perbuatannya. Ia justru mengganti posisi Choa menghadap dirinya dengan kaki yang ia angkat ke atas.
Tangan kirinya mengusap kasar dua bongkahan yang mengeras dengan ujung mencuat berwarna merah muda yang ada di hadapannya. Sesekali ia juga memaksa menyesap bibir wanita yang tengah tak berdaya dibuatnya.
••••••
Keanu meninggalkan tubuh Choa begitu saja setelah ia memuaskan hasratnya. Sambil membetulkan celananya, Keanu mendekati rak berisi patung kepala yang berhias kulit dan rambut asli manusia.
"Hentikan tangisanmu jika tidak ingin kulit kepalamu terpajang di patung ini!" katanya pada Choa.
Choa yang tengah menyeret tubuhnya dengan sekuat tenaga mendekati Lorena dan Daisy itu pun terkejut dan merasa takut melihat patung-patung kepala dari kayu yang berhias rambut manusia.
"Besok, layani aku lagi. Persiapkan dirimu dengan baik. Jangan sampai kau menggigitku lagi jika tidak ingin berakhir seperti wanita yang memiliki rambut ini."
•••••
Keanu pergi ke pusat kota untuk membeli zat kimia formalin dalam bentuk cair dan balsem. Ia mempunyai rencana mengerikan untuk tiga bersaudara.
Begitu ia menyiapkan semuanya, Keanu pergi ke sekolah tiga gadis bersaudara, Teresha, Tracy dan Trissa.
Pada saat yang kebetulan, ia melihat Trissa duduk sendirian di taman sekolah. Anak itu keluar dari kelas meninggalkan pelajaran dengan cara meminta ijin ke belakang.
"Apa kau sedang memikirkanku?" tanya Keanu mengejutkan.
"Eh?" Trissa terkejut dan beranjak pergi.
Namun sia-sia. Keanu dapat menangkapnya dengan cepat.
"Ayo ikut denganku," Keanu menggendong gadis kecil itu memasuki mobil.
Begitu mendapatkan Trissa, Keanu langsung membawanya ke rumah. Kali ini, ia memaksa gadis kecil itu meladeni hasrat gilanya di kamarnya yang gelap dan pengap.
PAK
PAK
PAK
Suasana sunyi pagi itu, membuat suara berkecipak akibat pertemuan dua paha Keanu yang bertemu dengan bok*ng Trissa terdengar amat jelas. Tangisan Trissa yang semula kencang pun kini semakin lemah.
Gadis itu tidak mampu mengimbangi keberingasan Keanu. Bahkan area virginnya membengkak dan menggelembung karena keberadaan batang Keanu yang terus mengebor sumur kecil miliknya.
"Aaah, jangan menangis anak manis. Tenang saja, kedua kakakmu juga akan merasakan kenikmatan sepertimu," bisik Keanu di telinga Trissa.
"Tidak, jangan paman. Biarkan aku menggantikan mereka. Kau boleh melakukan ini padaku sampai besok asal jangan mengganggu kedua kakakku...." suara Trissa terdengar sangat lemah dan terguncang.
Keanu menyeringai lebar sambil merengkuh tubuh Trissa dan membalik posisinya sehingga kini ia tidur terlentang dengan tubuh Trissa yang berada di atasnya dan dalam posisi memunggunginya.
Dari arah belakang, Keanu menekuk kedua kaki Trissa dan menekannya ke dada agar ia tidak kesulitan melakukan dorongan. Tanpa henti dan jeda, Keanu menghentak-hentakkan batangnya ke dalam sumur kecil gadis itu.
Setelah berjam-jam lamanya, Keanu akhirnya berhenti. Ia tidak menyadari bahwa gadis kecil itu kini tidak sadarkan diri.
"Bagaimana, apa kau menikmatinya?" tanya Keanu pada Trissa.
Hening.
Tidak ada jawaban dari mulut Trissa.
Seketika itu juga Keanu memperhatikan wajah Trissa yang pucat dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu telah pingsan.
Maka dengan cepat ia membawanya ke ruang rahasia untuk dirawat oleh wanita-wanita yang ada di sana.
"Kalian semua, cepat beri dia pertolongan!" serunya.
Lorena dan Daisy pun terkejut saat Keanu datang membawa seorang gadis kecil yang telanjang.
"Apakah dia masih hidup? Cepat jawab!" bentaknya pada Lorena.
"D dia sepertinya kehilangan banyak darah. Lubang kecilnya juga sepertinya robek," kata Lorena takut.
"Robek?"
"Apa kau begitu sadisnya hingga anak kecil pun kau paksa untuk memuaskan nafsumu! Suatu hari nanti kau pasti akan mendapat balasan yang sangat pedih!!" teriak Lorena.
"Jangan banyak bicara! Cepat berikan dia perawatan!"
"Lakukan saja sendiri!"
PPLAKK
Keanu menempeleng kepala Lorena begitu kuat hingga wanita itu terkapar di lantai.
"Kami harus menjahit robekan dagingnya," kata Daisy menyela.
"Benarkah itu bisa dilakukan?"
"Kami akan berusaha."
"Baiklah. Aku akan mencari jarum dan benang untuk menjahit."
Keanu bergegas pergi dan membeli keperluan menjahit. Kemudian setelah mendapatkan barang yang dicarinya, ia pun memberikannya pada Lorena dan Daisy.
"Aku akan kembali malam nanti. Saat itu, aku ingin kalian sudah menyelesaikan jahitannya sebelum aku datang kembali."
"B baiklah," Daisy mengangguk.
Ketika Keanu akhirnya pergi, Choa berkata dari tempatnya, "Apa itu jarum?"
"Ya. Kami akan menjahit kembali lubang kecil anak ini yang robek."
"Cepat lakukan. Buat dia sadar kembali lalu berikan jarum itu padaku."
"Untuk apa? Apa kau akan menjahit lukamu?" Lorena bertanya.
"Tidak. Cepat selesaikan saja."
"Ya. Baiklah."
Beberapa menit kemudian, setelah Lorena menyelesaikan jahitannya, Choa mengambil alih jarum jahit tersebut.
Ternyata, ia menggunakan jarum tersebut untuk mencongkel lubang kunci pada rantai yang membelenggu kakinya. Pada jaman itu jarum jahit berukuran agak lebih besar dari jaman sekarang.
Dan setelah berusaha beberapa kali, akhirnya usahanya itu pun berhasil! Choa melepas belenggunya dan membantu membuka belenggu kedua wanita yang terkurung bersamanya.
"Ayo cepat, kita harus cari senjata yang dapat kita gunakan untuk menyerang pria itu!"
"Apakah itu akan berhasil?" Daisy bicara sambil memegangi perut buncitnya.
"Entahlah. Yang penting kita coba dulu saja!" kata Lorena tidak punya pilihan lain. Ia ingin sekali menghabisi pria gila itu.
Maka, mereka berlari mendekati meja tempat Keanu biasa memotong-motong korbannya. Di sebuah kotak peti yang ada di sana, ada banyak jenis pisau dan benda tajam lainnya.
"Aku akan ambil ini," Lorena mengambil martil yang digunakan Keanu untuk membunuh kekasihnya.
"Kalau begitu aku akan mengambil yang ini," Choa mengambil kapak. "Kau tidak mau ambil?" lanjutnya ketika melihat Daisy hanya diam saja.
"A aku takut..."
"Jangan takut, sayang. Ayo ambil satu senjata saja. Selain untuk melindungi diri, kita akan menyerang Keanu terlebih dahulu saat dia datang nanti malam."
•••••
Keanu datang kembali ke ruang rahasia tanpa mengetahui rencana ketiga tawanannya sedikitpun. Ia masuk dengan santai seperti biasanya. Begitu lorong panjang itu sampai di ruang lebar dengan meja pemutilasian, Lorena dan Choa menyerang Keanu dengan membabi buta.
HIAAATT
Choa mengayunkan kapaknya dan berhasil melukai perut kiri Keanu. Kemudian Lorena mengayunkan martil yang ada di tangannya pula. Namun serangannya tidak mengenai sasaran.
"Sssh, dasar kalian wanita tidak tahu diuntung! Beraninya merencanakan penyerangan seperti ini padaku," Keanu bicara sambil memegangi perutnya yang terluka.
"Benar! Kami tidak akan membiarkan pria gila sepertimu terus hidup dan membunuh semua orang!" Choa meluapkan amarahnya dan sekali lagi menyerang Keanu yang sedang menahan sakit.
CRASS
Sekali lagi, Choa dapat melukai tubuh Keanu. Kali ini kapaknya mengenai lengan Keanu.
"Mati kauuuuu!!!" Lorena mengayunkan martil dari arah belakang dengan cepat.
Hampir saja kena. Tapi nyatanya, Keanu berhasil menangkap tangan Lorena dan menjambak rambut panjangnya dengan cepat.
"Aaarrhh!!" pekik Lorena.
Keanu segera merebut martil darinya dan memukul pundak Lorena hingga terdengar suara Krak dari tulangnya. Sepertinya pundak Lorena itu menjadi remuk akibat pukulan keras dari Keanu.
Lorena mengerang kesakitan dan jatuh bersimpuh dengan kedua lututnya di depan Keanu. Tanpa merasa kasihan ataupun apa, Keanu menendang dada wanita itu dengan kencang.
Begitu menjatuhkan seorang, Keanu menatap Daisy dan bertanya kepadanya, "Apa kau juga akan menyerangku?"
Daisy yang sejak awal merasa takut, berdiri gemetaran hingga otot perutnya menegang. Pada saat itu juga, air ketubannya pecah dan menetes ke lantai.
Karena pandangan Keanu teralihkan, Choa menyerang Keanu kembali tanpa menunggu bantuan dari siapapun.
Ia menerjang tubuh Keanu dengan kuat dan berusaha menancapkan kapak yang ada di tangannya ke dada Keanu.
"Hmmmmpppp!!" Keanu menahan serangan Choa dengan tangannya hingga perlahan tangan itu meneteskan darah akibat terluka.
"Cepat tusuk kepalanya!!" teriak Choa pada Daisy yang memegang besi panjang yang sering disebut linggis.
"Hosh Hosh.. aku tidak bisa..." rintih Daisy yang merasa kesakitan seperti hendak segera melahirkan.
"Kau, bangunlah Lorena! Cepat hantam kepalanya hingga remuk!!"
Keanu menoleh ke arah Lorena yang mulai tersadar dan mencoba bangkit kembali. Kemudian kembali fokus pada Choa yang semakin menekankan kapak ke arah dadanya.
Apakah benar itu akhir dari sang psikopat?
Jangan lupa baca lanjutannya ya,,, 🤗
Bersambung....