
BAB 33
Genie gelagapan mencari sebuah tombol atau grafiti macam ikan koi yang ada di pintu masuk. Keringat sebesar jagung begitu deras menetes dari keningnya.
Keanu yang semakin dekat dan hanya berjarak dua kaki darinya itu bersiap mengayunkan martilnya ke arah Genie. Ia terkekeh senang karena Genie tidak mampu menemukan tombol untuk jalan keluar.
"Genie sayangku, menyerahlah sekarang. Aku akan mengantarmu ke neraka dengan pelan tanpa rasa sakit," ucap Keanu membuat bulu kuduk Genie semakin merinding.
Fuala!!
Beruntungnya, Tuhan menyelamatkan dirinya. Tanpa sengaja, ia menekan batu yang ada di sisi sebelah kanan lorong dan terbukalah pintu keluar tempat itu.
Genie buru-buru berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Ia begitu ketakutan membayangkan bagaimana cara pembunuhan yang dialami keluarganya. Yaitu dengan kepala yang remuk diduga karena dipukul menggunakan suatu benda keras. Dan sekarang ia tahu, benda itu adalah sebuah martil besi!
Di dalam gudang sempit penuh barang itu, Genie berusaha melarikan diri secepat mungkin. Namun siapa sangka pada saat ia hampir keluar dari pintu gudang, Keanu berhasil menggapai kepalanya dan menjambaknya kuat.
"Aakkh!!" pekik Genie kaget.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini," nada bicara Keanu terdengar menakutkan.
"Tidak! Lepaskan aku!"
"Kemarilah!"
Karena Keanu menarik rambutnya dengan kuat, Genie jatuh terjengkang ke belakang. Ia diseret oleh Keanu kembali ke pintu ruang rahasia.
Genie yang tidak mau menjadi tawanan seorang psyco itu berusaha untuk melawan. Ia meraih barang apapun yang ada di dekatnya. Ketika itu ia berhasil meraih sebuah papan kayu dari patahan kursi. Maka dengan cepat dipukulkannya kayu tersebut ke wajah Keanu.
BUKK!
Usaha Genie berhasil. Ia terlepas dari cengkeraman kekasih gilanya itu.
"Aarrhh! Kurang ajar! Kemari kau, Genie!" Keanu memekik kesakitan.
Melihat saksi mata itu kabur, Keanu kembali mengejar. Ia semakin menggila karena situasi kali ini tidak mungkin ada lagi yang ia tutupi. Ia harus menghabisi keluarga Jordan yang tersisa.
Melihat patahan kursi yang terdapat beberapa paku yang menancap di kayunya, Keanu mendapat suatu ilham. Dikantonginya martil yang ia bawa sejak tadi kemudian diraihnya kayu berpaku itu segera.
CRAK
Keanu dengan cepat menyabetkan kayu berpaku tersebut ke kaki kanan Genie. Tentu saja Genie berteriak kaget dan mengaduh kesakitan. Ia jatuh tersungkur ke dekat sebuah rak.
Dengan posisi badan yang jatuh tengkurap, ia menangis perih saat paku-paku tersebut melukai kakinya.
"Apa boleh buat, kau mengetahui semua rahasiaku. Cinta yang terjalin di antara kita tidak bisa ku pertahankan lagi," Keanu berhenti mengejar dan memperhatikan Genie dari tempatnya.
"Cuih! Begitupun diriku! Jika ku tahu kaulah pembunuh keluargaku, aku tidak akan mencintai ataupun bercinta denganmu!" ucapnya sambil menoleh ke belakang.
KLIP
Ketika sedang bicara seperti itu, tanpa sengaja Genie melihat sebuah pistol tergeletak di bawah rak.
Sejenak, matanya melotot karena seakan ia mendapatkan jackpot. Saat Keanu mendekat perlahan sambil mengucapkan sesuatu, Genie terus menoleh ke belakang seolah ia hanya fokus pada Keanu. Namun sebenarnya, tangan kirinya berusaha meraih pistol yang ada di bawah rak tersebut.
"Hahaha! Lalu apa itu artinya sandiwaraku berhasil? Aku juga tidak habis pikir, betapa bodohnya dirimu."
"Apa?"
"Jordan dan Gun pasti marah besar melihatmu terus saja bercinta denganku," Keanu menertawakan Genie.
HAP!
Genie berhasil mendapatkan pistol itu! Dengan cepat ia menyembunyikannya ke belakang tubuhnya dengan posisi jari yang sudah siap menarik pelatuknya.
"Dasar psyco! Kau gila! Pria macam dirimu seharusnya mati sejak lama!"
"Benarkah? Apa kau takut padaku, sekarang?" Keanu bersiap menyabetkan kembali kayu berpaku itu pada kepala Genie.
"Sayang sekali, aku tidak takut!"
Keanu menatap Genie sejenak. Sepertinya, ia harus mengakhiri hidup wanita itu sekarang juga.
Dan ketika Keanu mengangkat tangan mengayunkan kayu yang ada padanya, Genie mengeluarkan pistol yang baru saja ia dapat dan segera menarik pelatuknya.
Keanu terkesiap. Sebuah timah panas sepertinya baru saja menembus dada kanan dan agak naik ke arah pundaknya. Sekali lagi, Genie menembakkan peluru dan mengenai perut Keanu bagian kiri.
Pucat! Itu yang tergambar di wajah Genie. Ia tidak menyangka akan menembakkan peluru ke tubuh pria yang terlanjur dicintainya. Namun ia juga tidak bisa diam begitu saja saat mengetahui bahwa pria itu adalah pembantai ayah, ibu, kakak dan iparnya.
Keanu berdiri mematung lalu terbatuk dan memuntahkan darah, "K kau...."
"Aku akan melaporkanmu ke polisi. Jadi jangan berani untuk kabur."
Dengan sekuat tenaga, Genie bangkit dan berlari meninggalkan rumah Keanu. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kantor polisi untuk membuat laporan dan para polisi melakukan penggerebekan.
Setengah jam sepeninggal Genie, Keanu yang sekarat mencoba bangkit. Ia mengumpat beberapa kali karena merasa dirinya lengah hingga kecolongan.
"Aarggg.. Hosh.. hosh..."
Karena tidak ada waktu lagi, ia pergi ke kamarnya dan mengambil semua tabungan yang ia miliki dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Kemudian obat-obatan untuk pereda nyeri dan beberapa salep juga ia masukkan ke dalam kantong plastik. Setelah semuanya ia ikat rapat, ia masukkan ke dalam tas punggung.
Dengan langkah yang tertatih-tatih, ia berjalan turun dari kamar lantai duanya. Baru saja ia melakukan itu, terdengar suara mobil polisi datang. Ia pun buru-buru menyelinap turun dan bergegas menuju belakang rumah.
"Itu dia! Cepat tangkap!" perintah seorang kapten pada anak buahnya ketika melihat Keanu.
"Baik, kapten!"
"Saudara Keanu! Menyerahlah! Kau tidak bisa kabur dari kami!"
Karena Keanu tidak mau menyerah dan tetap melarikan diri, polisi itu pun menembakkan pelurunya ke kaki Keanu.
DOORR!!
"Aargghh! Sialan!" umpat Keanu.
Meski saat itu tubuhnya sedang sekarat, Keanu berlari sekuat tenaga. Ia berhasil melarikan diri ke jalan setapak yang ada di belakang rumahnya dan menuju ke sungai.
Namun para polisi mengejarnya dan terus saja menembakinya. Begitu sampai di sungai, Keanu segera menceburkan diri dan berjalan menuju tengah sungai. Ia menoleh sebentar ke arah polisi dan menyeringai sebagai tanda ejekan.
Rupanya, tempat itu adalah jalan bagi Keanu untuk menuju gua bawah laut yang sudah lama ia tinggalkan. Dan setelah meninggalkan kesan bahwa ia menang, Keanu segera berenang menuju kedalaman yang terhubung dengan laut.
Melihat penjahat yang sedang mereka kejar menenggelamkan diri ke sungai, para polisi itu pun tidak ada pilihan selain mengikuti.
•••••
HAP
HAP
BYYUUHH...
Beberapa polisi yang berenang dan menyelam mengejar Keanu tidak berhasil mendapatkan apapun. Ternyata, mereka kehilangan jejak.
"Bah! Bagaimana mungkin ia bisa menghilang di dalam air? Pasti dia berenang ke tepian di sisi lain. Cepat periksa secara menyeluruh area ini dan cari dia sampai dapat!"
"Baik, pak!"
"Sebagian personel tetap di sini dan memeriksa seandainya dia muncul kembali, sebagian lagi ikuti aku! Kita periksa rumahnya!"
"Siap!!"
Pasukan polisi itu dibagi menjadi dua. Ketika kembali ke rumah tua itu, mereka mendapati para tawanan wanita dengan kondisi yang menyedihkan. Mereka semua telanjang bulat dan lemas kekurangan sinar matahari.
Genie yang ikut menjemput para korban pun membawa pakaian dan memberikannya pada mereka. Sungguh luar biasa! Baik Choa, Sean dan anak-anak pun segera menangis haru.
Akhirnya mereka dapat kembali bebas. Beberapa bulan lamanya mereka ada di dalam menggantikan Lorena dan Daisy yang sudah lebih dulu ada di sana.
Petugas kepolisian itu pun bekerja sama dengan tim forensik untuk menyita semua barang bukti yang mereka temukan. Baik itu patung lilin Jin, lalu dua jasad wanita yang sudah mengering dan teronggok di sudut ruangan, beberapa tong berisi cincangan tubuh manusia, kemudian juga alat-alat dan senjata tajam di atas meja.
Akankah Keanu tertangkap???
Baca terus lanjutannya....🤗
.
BERSAMBUNG....