
BAB 27
Keanu keluar dari ruang rahasianya dengan tubuh yang dipenuhi darah. Karena luka tusukan akibat linggis yang sempat menancap di punggungnya, ia berjalan seperti orang sekarat.
Langkahnya gontai dan merayap perlahan menuju ke dalam rumah. Ia pergi ke kamar mandi di rumahnya dan membersihkan setiap tetes darah yang keluar dari luka di tubuhnya.
"Uhuk! Uhuk!"
Sesekali ia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Sambil berpegangan kuat pada washtafle kamar mandi, ia bercermin dan menatap matanya yang mengerikan.
Sudut bibir sebelah kanannya pun terangkat dan menampakkan gigi taringnya. Kemudian dengan bibir gemetaran ia menyebut bahwa selama ini, dirinya tidak bersalah. Para korbannya lah yang membuat perkara kepadanya dan menghalangi jalan ataupun tujuannya.
"Jangan takut! Bunuh siapapun yang menghalangi jalanmu."
Setelah mengucapkan itu, Keanu merasa badannya lemas. Tubuhnya gemetaran hebat dan seperti mau mati saja. Akhirnya ia tergeletak di lantai kamar mandi selama beberapa jam.
Ketika akhirnya ia kembali bangun, ia pergi keluar dan meluncur menggunakan mobil pinjaman dari Genie menuju ke sebuah apotek desa. Di sana, ia membeli beberapa jenis obat pereda nyeri dan alkohol. Tidak lupa pula ia membeli susu bayi dan dotnya.
Selesai dari sana, Keanu memutar kembali mobilnya menuju rumah. Dan entah mengapa, di tengah perjalanannya untuk pulang, mobil tersebut tiba-tiba mogok. Karena mesin tidak juga mau menyala, Keanu terpaksa turun untuk mendorongnya.
Tubuh yang terluka dan belum mendapatkan pengobatan itu rupanya tidak mampu jika terus mendorong mobil.
Keanu jatuh tersungkur dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup. Darah pun kembali merembes dari lukanya. Pada saat yang kebetulan, lewatlah di depannya seorang pria. Keanu mengumpulkan tenaganya untuk meminta tolong pada pria tersebut.
"Tuan... Bisakah kau menolongku..."
Pria yang membawa jaring itu menoleh pada Keanu dan mengenalinya sebagai anak pengangguran yang kehilangan pikiran sehatnya setelah ditinggal adiknya.
"Kau memanggilku? Aih! Dasar menyedihkan!" ucap pria itu sambil berlalu.
Keanu menatap kepergian pria itu dengan sengit. Dalam keadaan rapuh sepertinya, Keanu masih memiliki pikiran jahat juga.
"Hiss.. Dasar manusia bodoh. Berani sekali kau mengacuhkanku," Keanu mengumpat terus menerus.
Meski kondisinya terluka parah, Keanu tetap tidak mau diam. Dicobanya sekali lagi untuk bangkit membuka pintu mobil kemudian mendekati kursinya.
Sudah beberapa kali Keanu mencoba menyalakan mesin mobilnya. Namun tetap saja tidak mau menyala.
BRAK
Keanu kesal dan memukul kemudinya. Sambil memegangi luka dadanya yang terkena tusukan pisau, Keanu turun kembali dan mencoba mendorong mobil tersebut sekali lagi.
"Mobil sialan! Apa kau sedang mengerjaiku?" Keanu mendorong mobilnya dengan sekuat tenaga hingga menyebabkan darah pada lukanya semakin merembes keluar.
"Hosh.. hosh..."
Ketika sekali lagi ada orang lewat, Keanu meminta tolong untuk mengobati lukanya.
"Nona, bisakah kau membantuku mengambilkan obatku di dalam mobil?" tanyanya kesakitan seraya duduk bersandar pada ban mobil sebelah kiri.
Wanita itu hanya menoleh sebentar lalu meninggalkan Keanu tanpa mempedulikannya. Tapi sepertinya, wanita itu bukannya tidak peduli, namun lebih karena takut. Benar juga, siapa juga yang mau menolong orang dengan penampilan seperti Keanu.
Memangnya seperti apa dia? Pakaian lusuh serba hitam dengan luka berdarah di tubuhnya. Begitulah penampilannya saat itu.
Karena tidak ada yang mau membantunya, Keanu beringsut dari tempatnya duduk dan menyeret tubuhnya berusaha untuk kembali ke dalam mobil.
Begitu ia berhasil membuka pintunya, ia langsung meraih kantung plastik pembungkus obat yang ia beli.
SRET
Keanu mengambil dua buah pil pereda nyeri dan menenggaknya tanpa air. Kemudian, ia menyiramkan alkohol pada lukanya untuk mensterilkannya. Lalu mengoleskan salep pada lubang sayatan dengan tangan gemetaran karena menahan perih.
Malam itu, akhirnya ia tumbang juga. Luka menganga di punggung akibat tusukan linggis dan luka di dada kirinya akibat tikaman pisau membuatnya tak sadarkan diri.
Meski begitu, tidak ada warga desa yang melihatnya di sana kecuali orang yang semalam kebetulan lewat.
Ketika ia membuka mata pada pagi harinya, Keanu merasa badannya sedikit mendingan. Ia mencoba menyalakan kembali mobilnya dan dengan ajaibnya itu berhasil dilakukan.
"Dasar mobil sialan! Kenapa tidak dari semalam kau begini!"
Sesampainya di rumah, Keanu terkejut dengan keberadaan Genie di sana. Gadis itu menunggunya di teras rumah sambil menangis.
Begitu melihat Keanu, Genie segera menghamburkan diri pada sang kekasih.
"Oh Kean, tolong aku. Trissa menghilang dari kemarin, aku tidak bisa menemukannya."
"Apa? B bagaimana bisa?"
"Entahlah. Kau juga tidak datang menjemput keponakanku? Kata Teresha, kau tidak muncul di sekolah."
Genie memperhatikan keadaan Keanu yang tidak karuan, "Kau terluka?"
"Hmm."
"Astaga, bajumu penuh darah. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada. Hanya saja, kemarin ada rekan kerjaku yang hendak bunuh diri menggunakan pisau. Aku mencoba mencegah niatnya tapi justru akulah yang tertusuk."
Genie mengusap wajah Keanu dan merasa kasihan sebab wajah itu sangat pucat.
"Apa kau sudah makan?"
"Makan? Aah, belum."
"Kalau begitu, kita makan dulu, ya?" ajak Genie.
"Bagaimana dengan Trissa?"
"Sementara ini, aku sudah melapor pada polisi masalah hilangnya Trissa di sekolah. Aku harap penculiknya ditangkap hidup-hidup. Jika saja ia berani melukai gadis kecil itu, aku sendiri yang akan menggorok lehernya," Genie bicara sambil menangis.
GLEK
Keanu menelan ludah dan membuang muka ke arah lain. Namun bukannya takut, ia justru tertawa dalam hati.
"Apa kau cemas? Atau sedih? Yah.. begitulah. Menangislah untuk anak itu. Maka dengan begitu kau tidak perlu merasa bersalah telah kehilangannya. Lagi pula, dia baik-baik saja bersamaku. Akan ku gunakan dia dengan sebaik-baiknya seperti dulu Gun menggunakan adikku."
Genie mendekati mobil miliknya yang kini dipakai oleh Keanu, bermaksud untuk menumpanginya pergi membeli beberapa makanan. Namun Keanu dengan cepat menghalanginya dengan berbagai alasan.
"Genie, bukankah sebaiknya kau di rumah saja? Barangkali ada berita lanjutan dari polisi tentang Trissa," Keanu berdiri di hadapan Genie sambil tangannya masuk ke jendela meraih kantung kain berisi kaleng susu dan dot bayi.
"Tidak apa, Kean. Aku akan membeli makanan untukmu sebentar. Pinjam mobilnya, ya?"
Genie memaksa masuk dan membuka pintu mobil tersebut. Karena wanita itu ngotot, maka Keanu bergegas meraih tas kainnya.
"Ehehe, kau tampak gugup sekali Kean, ada apa dengan tas kain itu?" Genie menunjuk tas yang buru-buru diraih Keanu.
"I ini, rahasia. Aku tidak bisa menunjukkan isinya padamu."
"Jangan katakan kalau itu kepala manusia??" Genie asal bicara.
GLEK
"woahaha! Apa maksudmu kepala manusia? I ini hanya kaleng cat," Keanu mengetuk-ngetuk kaleng susu untuk membuktikan bahwa itu bukan sebuah kepala.
"Hihihi. I iya, aku percaya. Lagi pula, untuk apa kau membawa kepala manusia, bukan? Mengerikan sekali!"
"Ya. S seperti itu."
"Jadi. Kau mau makan apa?"
"S sepertinya tidak perlu, Genie. Aku harus pergi bekerja sebentar lagi. Kau pulang saja dulu. Temani Teresha dan Tracy di rumah. Mereka berdua pasti takut dan sedih karena kehilangan Trissa."
"Baiklah. Kau benar juga. Lalu, kau sendiri? Bagaimana merawat lukamu?"
"Aku baik-baik saja. Aku bisa mampir sebentar ke rumah sakit di kota saat pulang bekerja nanti."
"Hmm. Kalau begitu aku pulang dulu, ya?"
Keanu mengangguk cepat. Memang ia berharap agar wanita itu secepatnya pergi dari rumahnya.
••••••••
Setelah beberapa hari beristirahat dan mengobati lukanya, Keanu merasa badannya lumayan baikan. Meski lukanya belum kering, rasa sakit pada lukanya tersebut sedikit berkurang.
Ia pun bisa berkeliaran mengintai orang-orang yang kemarin tidak mau ia mintai bantuan. Salah satu dari mereka sudah ketemu. Siapa yang tahu bahwa pria nelayan itu, sedang bernasib sial.
Sejak munculnya pembunuhan sadis yang begitu banyak di desa tempat tinggal Keanu, banyak orang pula yang memilih untuk pindah ke kota dan meninggalkan desa di pesisir pantai tersebut.
Hanya orang-orang yang tidak punya uang serta memang tidak peduli dengan ancaman pembunuhan yang sedang marak terjadi.
Salah satunya nelayan yang Keanu jumpai kemarin. Ia memilih tetap tinggal di desa tersebut sebab ekonominya tidak tentu. Hidupnya hanya mengandalkan tangkapan ikan saja.
Namun begitu, pria ini lengah dan tidak waspada. Sama sekali tidak melintas di pikirannya bahwa Keanu adalah pelaku teror pembunuhan di desanya itu. Yang ia pikir, Keanu adalah pria gila yang tidak punya kerjaan alias pengangguran.
Tanpa disadarinya, dari kejauhan Keanu mengintai dirinya dari balik semak perdu. Pria nelayan yang tengah menjahit jaringnya yang robek itu tidak menduga bahwa hari ini adalah hari kematiannya.
NEXT BAB 28....