THE PSYCHOPATH'S SECRET

THE PSYCHOPATH'S SECRET
KANTOR POLISI



BAB 18


Rumah Genie ramai petugas karena polisi berdatangan ke sana untuk memeriksa kasus kematian wali kota. Pembunuhan keji itu dilakukan di rumah korban tanpa diketahui keluarga maupun petugas jaga yang ditugaskan di sana.


Ketika tim investigasi dan forensik memeriksa, Trissa dan saudaranya diamankan oleh polisi. Anak-anak itu bisa saja menjadi target pembunuhan selanjutnya, mengingat kematian keluarga Jordan seolah berantai dan terencana.


Psikolog dari kepolisian wanita, tengah menjaga ketiganya dengan mencoba menghibur kejiwaan anak-anak. Sebab, mereka sama-sama tidak mau menikmati sarapan mereka.


"Nona, apa kau akan percaya pada apa yang akan kami katakan?" tanya Teresha.


"Tentu. Katakan saja apa yang ada di dalam pikiranmu," polisi wanita tersenyum ramah agar anak-anak merasa nyaman kepadanya.


"Trissa melihat semuanya," bisik Teresha.


"Tunggu. Apa maksudmu adikmu melihat pembunuhan yang terjadi pada kakek kalian?" tanya polisi tersebut ikut berbisik.


"Benar..." bisik Teresha lagi.


"Apa tujuan kalian menceritakan ini padaku? Apa kalian mempercayaiku sepenuhnya?" polisi berusaha mengambil hati anak-anak.


"Kami hanya percaya padamu, nona. Semua polisi di sini membuatku takut," kata Tracy.


Petugas psikolog itu menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya ia ingin segera meminta anak yang bernama Trissa itu mengatakan semuanya. Tetapi ia harus bersabar saat mengambil informasi darinya.


"Baiklah kalau begitu. Sebelumnya, aku akan bertanya padamu Trissa, apa kau mau menjawabnya?"


Trissa mengangguk pelan.


"Jadi, benarkah yang dikatakan saudaramu barusan? Kau melihat kakekmu dibunuh?"


Trissa mengangguk lagi.


DEG


Polisi wanita merasa kasihan pada anak-anak. Terutama pada Trissa yang menyaksikan langsung pembunuhan tersebut.


"Sekarang, ceritakan dengan pelan padaku, ya? Bagaimana kau bisa melihat secara langsung?"


Trissa menatap polisi wanita tanpa berkedip. Ia mencoba menceritakan semua yang ia lihat malam itu.


"Kemarin malam, aku ingin bermain dengan kakek. Aku juga masuk diam-diam ke kamarnya dan bersembunyi di bawah meja untuk mengejutkannya dengan bonekaku."


"Ehem,, lalu?"


"Pada saat itulah aku melihat seseorang yang bersembunyi di balik pintu keluar dan membunuh kakek. Orang itu memukuli kepala kakek sampai berdarah," Trissa menggigil ketakutan.


"Dia tidak melihat wajahnya. Tapi semalam dia mengatakan padaku, bahwa kakek sempat memanggilnya sebagai pemuda gila," sambung Teresha sambil menggenggam tangan adiknya.


Polisi wanita itu memeluk Trissa cepat-cepat. Ia tidak ingin membuatnya teringat kembali pada hal mengerikan yang seharusnya tidak disaksikan oleh anak kecil sepertinya.


"Tidak apa-apa sayang, aku ada di sini. Terima kasih sudah menceritakan padaku semuanya. Kalian juga, anak-anak. Terima kasih sudah berbagi rahasia ini denganku," polisi wanita itu pun memeluk ketiga anak perempuan itu dengan lembut.


••••••


Berdasarkan cerita dari mulut anak-anak itu, polisi bergerak mencari pemuda gila di tempat mereka. Semua orang yang ditanya mengenai siapa gerangan pemuda gila, mengarahkan polisi pada Keanu.


Genie yang sedang mencoba menyelidiki kebenaran itu sendiri pun tidak dapat berbuat apa-apa ketika tim penyelidik mulai berangkat menuju rumah kekasihnya.


Begitu sampai di depan rumah Keanu, polisi menggerebek masuk dan menemukan Keanu sedang tidur.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua ada di rumahku?"


"Kami menerima laporan tentang pembunuhan wali kota. Dan salah satu saksi menyebutkan namamu. Jadi, ikut saja dengan kami ke kantor polisi untuk diperiksa."


"Tapi, siapa yang membunuh wali kota? Kenapa kalian menangkapku?"


Pada saat Keanu digiring keluar dari rumah, Genie baru datang dan buru-buru mencegah polisi.


"Genie?" panggil Keanu.


Genie menatap Keanu sebentar kemudian bertanya pada polisi yang membawa Keanu, "Apa kalian akan menangkap seseorang yang tidak bersalah?"


"Tenang saja, nona. Kami akan memeriksanya terlebih dahulu. Jika dia tidak terbukti membunuh ayah nona, maka kami akan melepasnya kembali."


"Baiklah. Aku harap kalian tidak membuatnya tertekan."


Keanu diam mengikuti arahan polisi yang hendak membawanya ke dalam mobil patroli. Selama berjalan menuju mobil, satu persatu dihafalkannya siapa saja yang melempar umpatan pedas kepadanya.


Pada jam-jam berikutnya, Keanu diperiksa sidik jari, DNA atau apapun yang dapat membuktikan kebenarannya. Setelah itu, ia juga mendapat beberapa pertanyaan ketika dibawa ke ruangan introgasi. Diantaranya soal siapa pemuda gila.


"Apa kau pemuda gila itu?"


"Entahlah."


"Hey! Jawab dengan benar!" polisi penyidik menggebrak meja.


"Dengar pak polisi, aku merasa sehat dan tidak gila sedikitpun. Bagaimana bisa mereka menyebutku pemuda gila?" jawab Keanu sambil mengangkat kedua tangannya yang diborgol itu ke atas meja.


"Jadi kau menyangkal sebutan orang-orang itu padamu? Lalu, di mana kau kemarin malam?"


"Aku bekerja dan lembur di restoran daging tuan Yoshep. Pulang dari bekerja aku langsung tidur di rumah. Wah, rasanya lelah sekali bekerja di saat restoran ramai dan saat seorang pelayan tidak berangkat. Pekerjaanku jadi dobel dan sangat melelahkan. Tapi ngomong-ngomong? Kenapa kau mencurigaiku tanpa bukti?" Keanu memainkan kata-katanya.


"Sesuai aturan penyidikan, itu harus dilakukan. Kau akan bebas setelah penyidikan kami mendapatkan hasil bersih tentangmu."


Keanu diam dan mencoba santai. Sebenarnya ia sedang khawatir. Bagaimana bisa polisi mencurigainya jika tidak ada saksi mata ataupun bukti sidik jarinya?


Jika ia yakin bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan bukti apapun, lalu apa lagi itu? Apa benar ada seorang saksi? Tapi siapa?


Keanu berpikir keras untuk mengingat situasi malam itu. Sesekali ia menatap detektif yang menyelidikinya itu. Begitu juga sang detektif yang beberapa kali menatap tajam pada Keanu.


"Jika diingat-ingat, kau adalah kakak dari korban pembunuhan lima tahun yang lalu, bukan? Saat itu kau mengatakan bahwa putra wali kota sebagai pembunuhnya. Apa kau yakin ini bukan perbuatan balas dendammu?" detektif berusaha menyelidiki hal itu.


"Aaah. Itu memang aku. Tapi mengapa kau menuduhku balas dendam?"


"Bukankah laporan kasus itu akhirnya ditutup begitu saja? Kau pasti merasa putus asa mengenai itu, bukan? Apa jangan-jangan, kau juga yang membunuh anggota dewan Gun? Katakan sejujurnya!!" nada bicara polisi penyidik mulai tidak enak karena berteriak di depan muka Keanu.


"Hhh. Jika semua itu aku yang melakukan, seharusnya kalian menangkapku sejak lama. Mengapa baru sekarang kalian membawaku kemari? Tentu saja, kalian tidak punya bukti bahwa semua itu perbuatanku, bukan? Lalu apa lagi? Lepaskan aku sekarang," Keanu berlagak tidak terima.


Penyelidik ataupun detektif yang menangani Keanu tidak bisa menjawab. Mereka memang tidak mempunyai bukti apapun mengenai keterlibatan Keanu atas pembunuhan keluarga wali kota.


"Kita tunggu dulu hasil penyidikan."


"Apa itu artinya aku harus berada di sini selama itu?"


"Ya."


"Haiiss! Aku harus bekerja. Bagaimana aku menjelaskannya pada tuan Yoshep jika begini?"


Tanpa memberi jawaban, detektif meminta anak buahnya memindahkan Keanu ke sel tahanan sementara. Mereka menunggu dengan cemas hasil penyidikan yang akan keluar.


•••••


Hampir seharian berada di dalam sel, Keanu hanya duduk bersandar memikirkan siapa kira-kira yang bisa menjadi saksi mata perbuatannya malam itu.


Jika dipikir-pikir, waktu ia datang ke kamar Jordan memang kamar itu sedikit mencurigakan! Sebab apa?


Keanu berpikir lagi sambil menggigit kuku jarinya. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu. Pintunya! Ya. Pintu kamar Jordan sudah terbuka sebelum ia masuk ke sana.


"Hahh!! Benar. Pintu itu sudah terbuka. Tapi siapa yang datang lebih dulu sebelum aku?" pikir Keanu.


Keanu mengingat apapun situasi yang ia lihat di kamar Jordan waktu itu. Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada pula hal mencurigakan yang perlu ia hawatirkan.


Tapi tunggu!


Ia sempat melihat boneka beruang berwarna coklat di bawah meja. Tapi ia tidak berpikir bahwa itu bisa menjadi saksi mata.


"B boneka! Apa boneka itu mempunyai rekaman?" Keanu berpikir lagi.


Ketika malam akhirnya berganti siang, hasil penyelidikan akhirnya keluar. Keanu dinyatakan tidak bersalah sebab sidik jari maupun DNA miliknya tidak sedikitpun berada di jasad wali kota. Akhirnya, Keanu boleh pulang.


Keluar dari kantor polisi, Keanu berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya memiliki sorotan yang semakin menakutkan. Dengan sudut bibir yang terangkat, Keanu berucap bahwa mulai hari ini, ia mempunyai tugas baru.


Tugas apa??


Tugas untuk menemukan boneka beruang yang ia lihat malam itu.


Bersambung........