
BAB 17
Beberapa malam kemudian, Keanu duduk sendirian di ruang tengah. Ruang yang semula tempat berkumpulnya ayah, ibu, Rula dan dirinya. Di sana ia duduk bersandar dan melamun membayangkan masa-masa kehidupan keluarganya.
Meskipun ia telah melewati beberapa tahun tanpa mereka, ia tetap merasa amat kesepian. Kesibukannya dalam membalas dendam atas kematian mereka tidaklah cukup untuk menutupi kekosongan hatinya.
Tiba-tiba saja, Keanu serasa melihat Rula. Adik perempuannya itu berdiri di depannya dengan penampilannya yang kacau dan pakaian yang koyak.
"Rula?"
Perlahan Keanu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi adiknya. Semuanya terasa nyata untuknya!
"Apa kau bahagia di sana? Aku,, aku sudah membunuh laki-laki yang memperkosa dan nembunuhmu. Apa kau senang sekarang?" tanya Keanu pada adiknya.
Bayangan Rula yang dilihat Keanu pun tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu mengusap pipi dan akhirnya memeluk Keanu dengan hangat.
Pada detik yang bersamaan, bayangan itu lenyap dari pandangan Keanu. Tentu saja Keanu merasa bingung dan kehilangan.
"Rula!!"
Dipanggilnya beberapa kali nama adiknya itu. Ia tidak percaya bahwa Rula harus pergi meninggalkannya kembali. Masih banyak cerita yang ingin ia sampaikan. Tentang kematian Gun, istri Gun, istri Jordan, lalu bagaimana ia juga berpura-pura memacari adik Gun.
Namun kemudian, ia menyadari bahwa itu hanya halusinasinya saja. Halusinasi yang muncul karena memori dalam kepalanya yang terus mengingat keluarganya.
Pada saat ia merebahkan diri di lantai, ingatan bahwa Jordan dan Genie masih hidup membuatnya duduk kembali. Pekerjaannya belum selesai! Maka, dengan perasaan gila yang meluap-luap, Keanu bangkit dan pergi mengambil perlengkapannya.
••••••••
Dengan pakaian serba hitam dan bersarung tangan, Keanu mengantongi martil di ikat pinggangnya. Ia juga membawa pisau lipat dan tali kawat miliknya.
Dengan mengendap-endap, ia datang menyatroni rumah wali kota Jordan. Ada dua polisi di pintu masuk utama. Namun Keanu tidak gentar. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah kematian Jordan. Jadi, meskipun ia harus mati malam itu, ia tidak akan menyesal.
TRAK!
Keanu masuk lewat jendela samping. Rumah Jordan terlihat amat luas dan lengang. Tanpa menunggu diketahui polisi, ia pergi ke lantai atas mencari kamar Jordan.
Beberapa kali Keanu mengintip ruangan yang ternyata kosong. Di mana Jordan tidur? Pikirnya.
Pada waktu ia hendak pergi ke suatu ruangan, Genie lewat sambil membawa gelas minum. UPS! Keanu langsung bersembunyi! Untung saja gadis itu tidak melihat keberadaan dirinya meski sempat menoleh.
Setelah cukup lama Genie berlalu, Keanu kembali mencari ruangan Jordan. Di rumah yang luas dan besar itu, rupanya Jordan sedang berada di ruang kerjanya. Pria tua itu tengah meratapi kematian istri dan putranya.
CEKREK!
Jordan terkejut karena pintu ruangannya terbuka sendiri. Ia tidak tahu bahwa cucunya Trissa yang jahil kebetulan datang dan ingin bercanda dengannya. Trissa bersembunyi di bawah kolong meja kakeknya membawa boneka beruang yang seukuran dirinya. Anak kecil itu bermaksud mengagetkan kakeknya dengan boneka beruang tersebut.
Loh? Kok malah cucu Jordan yang datang? Lalu di mana Keanu?
Keanu sedang dalam langkahnya menuju ke ruangan tersebut. Saat ia datang dan berjarak hanya beberapa detik dengan kedatangan Trissa, Keanu segera masuk ke dalam dan dengan cepat bersembunyi di balik pintu yang dari awal sudah terbuka.
"Genie? Apa kau kembali lagi?" tanya Jordan mengira bahwa Genie datang kembali. Sebab, putrinya itu baru saja keluar dari kamarnya.
Perasaan tidak enak segera menyelimuti Jordan. Pria itu berjalan pelan mendekati pintu. Kemudian memanggil nama cucunya.
"Aah. Apa itu kau, Trissa? Kau mau mengerjai kakek, bukan??" kini Jordan menyebut nama cucunya yang paling jahil.
Begitu Jordan mendekat, Keanu pun keluar dari tempat persembunyiannya dan menutup pintu dengan cepat.
"K kau? Pemuda gila?"
Sudut bibir Keanu terangkat tinggi. Perlahan ia menyeringai menampakkan barisan giginya yang bersih.
"A apa yang kau lakukan di sini?!" Jordan merasa takut.
"Aku yakin, kau pasti tahu apa yang akan ku lakukan. Mengingat semua keluargamu mati di tanganku."
Mata Jordan mendelik. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pria itu berlari hendak keluar meminta pertolongan, namun Keanu meraihnya dengan cepat dan langsung mencekik leher Jordan menggunakan tali kawat miliknya.
Siapa sangka? Trissa melihat kejadian itu dan ketakutan di bawah meja. Meski ia tidak bisa melihat wajah pelaku, namun ia mendengar kakeknya sempat mengatakan pemuda gila. Maka, sambil ketakutan di tempatnya, Trissa terus mengingat sebutan itu.
Ketika Jordan jatuh di lantai dan hampir kehabisan nafas, ia tidak sengaja melihat cucunya sedang bersembunyi di bawah meja. Maka ia memberi isyarat agar cucunya tersebut jangan pernah keluar.
Keanu menarik baju Jordan cepat.
"Apa kau menyesal, telah membunuh ayah dan ibuku?!!" tanyanya serius.
"Rupanya kau melakukan semua ini hanya untuk membalas dendam atas kematian orang tuamu?"
"Tentu saja! Kau merenggut kebahagiaan kami. Begitu pula putramu yang merenggut masa depan adikku! Apa kalian pikir, dosa-dosa kalian dapat diampuni?"
"Aku sadar. Sepertinya, dosaku di masa lalu membuatku harus membayarnya dengan nyawa istri dan anakku. Tapi apa kau tahu? Semua itu juga akan menghantuimu?"
"Apa maksudmu."
"Pada akhirnya, kau juga akan mati di tangan pembunuh," Jordan terkekeh.
PLAK!
Keanu menampar mulut Jordan, "Jadi kau tidak menyesal sedikitpun?"
"Untuk apa menyesal? Kau juga membunuh istriku yang berharga! Lalu putraku yang sukses! Meski mati sekarang, aku akan membalaskan kematian mereka!
Mereka berdua pun tampak bergulat di lantai dan saling mencekik. Karena sebelumnya Jordan sudah mendapat cekikan, maka kekuatan dalam dirinya tidak sekuat Keanu.
Ketika berhasil berada di posisi atas, Keanu segera meraih martil dari saku ikat pinggangnya. Kemudian dengan cepat ia memukul kepala pria tua itu dengan amat keras hingga tempurung kepala Jordan remuk dengan isi kepala dan darah yang meluber ke lantai.
CRAK!
CRAK!
CRAK!
Pukulan itu terlihat mengerikan bagi Trissa. Ia menyembunyikan jeritannya di balik boneka beruang. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri atas kematian kakeknya!
Seseorang pria yang disebut pemuda gila telah membunuh kakeknya dengan keji. Oh tidak... Tidak seharusnya anak sekecil itu menyaksikan semuanya. Kejiwaannya akan terganggu ketika mengingat itu semua.
Setelah Jordan mati, Keanu bernafas lega. ia pikir, pembalasan dendamnya sudah selesai. Maka dengan langkah cepat, ia pergi menyelinap keluar tanpa diketahui seorangpun.
Sepeninggal Keanu, Trissa keluar dari persembunyiannya dan menangis histeris memanggil kakeknya.
"Kakeeeeeekkkk...." tangisnya.
Anak kecil itu mengguncang-guncang pelan tubuh Jordan sambil tangan satunya tetap memegangi bonekanya.
"Kakek, bangunlaaahhh,,, aku belum sempat mengejutkan kakek dengan boneka ini, mengapa kakek meninggal dengan cara seperti ini?" tangisan Trissa menggema di keheningan malam.
Anak itu terus saja menangis sedih dan tidak mau pergi mesti sebenarnya ia merasa takut berada di sisi kakeknya yang berdarah-darah dengan keadaan kepala yang sudah hancur.
•••••••
Pada pagi harinya, Genie menemukan ayahnya telah bersimbah darah dengan kondisi kepala yang tidak dapat ia saksikan.
"Oh ya Tuhan??!! Ayah!!" teriak Genie.
Ia juga melihat keponakannya yang tergeletak dipangkuan kaki kakeknya sambil memeluk boneka beruang. Karena Genie tidak ingin berpikir dengan hanya melihat, maka ia pun segera membangunkan keponakannya tersebut. Rupanya Trissa masih hidup.
"Trissa? Bangunlah, sayang?" katanya.
Begitu Trissa membuka mata, Genie langsung memeluk dan menggendongnya keluar. Ia harus menyelamatkan kejiwaan anak kecil itu terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Trissa terus saja menyebutkan pemuda gila.
"Bibi, pemuda gila jahat itu memukuli kepala kakek,," ucapnya.
DEG!
Jantung Genie berdegup kencang. Apakah pemuda gila yang dimaksud keponakannya adalah Keanu? Tapi bagaimana bisa dia melakukannya? Bahkan saat bersamanya, pemuda itu tidak pernah membunuh semut sekalipun.
"Apa? Pemuda gila? Apa kau yakin, sayang?"
"Aku hanya melihat sepatunya, tapi tidak melihat wajahnya karena aku bersembunyi di bawah meja."
Begitu sampai di kamar, Genie merebahkan Trissa dan menyuruhnya tidur.
"Dengar sayang, kau tidak boleh terburu-buru mengatakan ini pada polisi, ya? Bibi akan menyelidikinya sendiri."
Trissa hanya diam memainkan bibirnya karena bingung. Akhirnya ia menganggukkan kepala untuk membuat bibinya senang.
Genie menoleh pada kedua keponakannya yang lain yang masih terlelap.
"Bibi akan melapor pada polisi terlebih dahulu. Kau bisa melanjutkan tidurmu," ucap Genie sambil mengelus kepala Trissa.
Ketika Genie keluar dari kamar, Teresha bangun dan melihat Trissa sedang menangis. Maka ia pun mendekatinya.
"Hey? Ada apa?" tanya Teresha pada adiknya.
"Kakek dibunuh,,,"
"Apa? Jangan bercanda, Trissa. Hentikan kejahilanmu,,,"
"Kalau kau tidak percaya, lihat sendiri di kamar kakek,, dia dibunuh pemuda gila,,," tangis Trissa.
Teresha membangunkan Tracy yang masih saja terlelap.
"Cepat bangun, Trace! Ada kabar genting!!"
"Hoaahemm! Ada apa sih?"
"Kata Trissa, kakek telah dibunuh!! Ayo kita lihat!!" ajak Teresha.
"A apa? Kakek??"
"Hmm. Ayo kita ke kamarnya. Kau mau ikut apa tidak, Triss?"
Trissa menggeleng pelan dan hanya menangis. Maka kedua kakaknya pun pergi sendiri memeriksa. Ketika mereka benar-benar melihat sang kakek tewas bersimbah darah dan sedang diperiksa polisi, maka mereka pun kembali ke kamar sambil menangis kencang.
"Huhu! Kakeeekkkkk!!!!!"
Anak-anak itu akhirnya saling berpelukan dan menangis bersama. Mereka tidak percaya bahwa kakek kesayangan mereka sudah tiada.
Bersambung.......