THE PSYCHOPATH'S SECRET

THE PSYCHOPATH'S SECRET
BAB AKHIR : PENINGGALAN KEANU



BAB BONUS


Kembali di tahun pertama Keanu terbunuh, semua tawanan yang disekap di dalam ruang rahasia dibebaskan. Patung Jin, martil dan alat-alat tajam koleksi Keanu juga disita.


Yang paling mengejutkan, sebuah catatan pembunuhan dari tahun pertama hingga akhir kasus yang ditulis Keanu, ditemukan oleh polisi. Catatan itu begitu detile dan rapi.


Lalu, para korban yang selamat pun dirawat di rumah pemulihan. Salah satunya bayi yang ada di sana.


Bayi Keanu dengan Daisy.


Beberapa bulan kemudian,


Di sebuah gereja kecil di dusun yang sekarang sepi itu, seseorang berjubah hitam tengah menimang seorang bayi laki-laki berambut hitam legam.


Rupanya seorang pastur yang datang dari ibu kota mengangkat seorang anak yang diperkirakan sebagai putra Keanu yang lahir dari rahim Daissy itu menjadi anak baptisnya.


"Bapa, apa kau serius akan mengadopsi anak laki-laki ini?" tanya seorang asisten.


"Ya."


"Apa kau tidak takut dia akan mengikuti jejak pria yang diceritakan polisi itu?"


"Tidak. Aku yakin, Tuhan akan menyelamatkannya dari kehidupan yang sesat."


Wanita yang menemani pastur itu pun hanya bisa mengangguk. Meski ada kekhawatiran di dalam hatinya, namun ia percaya pada ucapan pastur tua yang bernama Paulo itu.


•••


Singkat cerita,


Bayi Keanu yang diberi nama Zane karena dianggap sebagai hadiah dari Tuhan, telah dirawat di rumah P. Paulo. Badannya sehat, gempal dan sangat imut.


Suatu ketika, sesuatu yang aneh dirasakan oleh para pengasuh. Sehingga mereka menjadi ketakutan dan merasa bahwa anak itu telah dirasuki setan.


Awal ceritanya, seorang pengasuh yang baru satu minggu bekerja pada P. Paulo di rumahnya, tampak sedang menemani bayi Zane bermain bersama kucing peliharaan mereka selama tuan mereka sedang pergi ke gereja.


Karena sudah siang, bayi Zane menguap lebar. Sang pengasuh pun tahu bahwa bayi Zane butuh susu untuk teman tidurnya. Maka, ia pun bergegas pergi ke kamar Zane untuk menidurkannya di box tidur. Lalu ia sendiri pergi ke dapur untuk membuatkan susu.


Saking konsentrasinya, pengasuh itu tidak menyadari saat Zane turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar dengan santai sambil berjalan dengan kedua kakinya.


Bergoyang ke kanan, lalu ke kiri seperti anak kecil yang baru bisa berjalan, Zane menghampiri kucing piaraan ayah babtisnya.


Dengan atau tanpa sengaja, tiba-tiba saja Zane melukai kucing yang tengah tertidur di karpet menggunakan sebuah pulpen yang kebetulan ada di atas meja yang hanya setinggi betis.


Rupanya saat itu, sang pengasuh sedang membaca majalah dan mencatat beberapa resep yang ia cari. Dan saat ia pergi ke dapur untuk membuat susu, ia belum sempat membereskan buku-bukunya yang ada di meja tersebut.


Sedangkan di depannya, Tobi sang kucing, tengah tergeletak dengan bersimbah darah. Sebuah pulpen menancap tepat di perutnya.


Mendengar pengasuhnya kembali, Zane menoleh dan tersenyum senang. Ia merangkak mendekati pengasuhnya dengan tubuh yang berlumuran darah milik sang kucing.


Namun apa yang terjadi? Pengasuh itu justru semakin takut. Ia berteriak-teriak ketakutan sambil berjalan mundur.


Di mata sang pengasuh, Zane begitu menikmati suasana mengerikan tersebut. Suara tawanya pun sangat berbeda dari biasanya.


Karena tidak mau dirinya menjadi korban yang kedua, pengasuh itu melarikan diri dan pergi terburu-buru dari rumah pastur.


•••••


Kejadian yang kedua,


Tepat pada malam di tanggal ganjil pada pukul sebelas malam, seorang pengasuh lain yang sedang terlelap tidur itu mendengar tangisan Zane.


Pengasuh itu bangun dan menggendong Zane agar tidak lagi menangis. Sambil menguap menahan rasa kantuk, pengasuh itu mengayun pelan Zane dalam pelukannya.


Pada saat dirinya sedang bersenandung kecil, pengasuh itu tersentak kaget karena tangan Zane mencengkeram dadanya dengan kuat sambil mulut kecilnya seperti mencoba menyusu padanya.


"Zane,, apa kau ingin minum susu?" tanya pengasuh sambil mengusap pipi Zane dengan punggung jari telunjuknya.


Tiba-tiba saja mata Zane melirik ke arahnya dan menjawab pertanyaan itu dengan suara yang terdengar seperti orang dewasa.


"Ya. Aku ingin menyusu padamu."


"Aaaaaaaarrrr!!!" jerit sang pengasuh.


Lantas dengan ketakutan, pengasuh itu mencoba melempar Zane begitu saja dari pelukannya. Tapi lagi-lagi, hal aneh membuatnya takut.


Bagaimana bisa?


Ternyata, Zane berpegangan erat pada baju sang pengasuh. Tentu saja pengasuh tersebut jatuh terjengkang ke belakang karena amat ketakutan.


Ia semakin histeris ketika bayi berusia empat bulan itu merangkak di atas dadanya dengan ekspresi wajah yang mengerikan.


"KKKKYYYYAAAAAAAAAAAAA!!!!!"


...----------------...


Terima kasih semuanya yang sudah mendukung novel ini. Tanpa kalian, aku tidak akan sesemangat ini dong. Semoga kalian semua sehat slalu dan punya banyak rejeki untuk beli kuota untuk dukung karyaku yang lainnya ,, hehehe 🙏🏻💕


Yuk.. mampir ke novelku yang lain...😁