
BAB 21
Keanu membunuh wanita yang ada di dalam mobil bersamanya beberapa waktu lalu. Sebab, ia tidak ingin meninggalkan bukti kejahatan dengan wanita manapun di masa mendatang.
Karena dirinya saat itu sedang memegang mobil Genie, maka ia dengan mudah memindahkan jasad wanita itu ke rumahnya. Dengan cepat ia bergegas ke ruang rahasianya dan memulai aksinya untuk memutilasi tubuh wanita tersebut.
Sebagai akhir yang manis, ia menguliti bagian kulit kepala dan rambut sang wanita bersuami itu. Kemudian meletakkannya di patung kepala yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sehingga kini, ada dua patung kepala yang sudah berisi selongsong kulit kepala beserta rambut dari dua wanita.
Seakan keranjingan, Keanu menatap dua patung kepala yang berwarna putih tersebut dengan seringai yang mengerikan, mata yang terbuka lebar, lalu kepala yang sedikit di miringkan ke kiri.
"Sepertinya, aku harus menambah beberapa patung kepala lagi," gumam Keanu tersenyum menampakkan deretan giginya.
Sebelum pergi, ia menoleh pada Daisy dan Lorena.
"Apa kalian setuju?"
"A apa??" tanya Daisy dan Lorena berbarengan.
"Aku akan menambah beberapa koleksi patungku. Bagaimana menurut kalian?"
Daisy dan Lorena mengangguk dengan cepat. Mereka tidak ingin membuat suasana hati Keanu menjadi buruk. Sebab, jika sedikit saja mereka membuat keanu tersinggung, nyawalah taruhannya.
Setelah melihat jam dinding yang menunjuk angka satu, ia menyelesaikan potongan tubuh wanita yang akhirnya ia cincang-cincang kecil. Selesai memasukkannya ke dalam kantung plastik, Keanu lanjut menyimpannya ke dalam drum yang ia beri bongkahan salju. Karena ia berpikir, tidak sempat membuangnya saat itu juga.
"Aku ada urusan di luar. Jika wanita-wanita itu menangis dan mengatakan kesepian, ajaklah mereka mengobrol dengan santai. Oke? Kalian paham, bukan?" Keanu melepas sarung tangan yang bersimbah darah.
"I iya."
"Baiklah. Selama aku pergi, nikmati kebersamaan kalian," Keanu berkata pada Daisy dan Lorena sambil berjalan keluar dari ruang rahasianya. Selama itu pula ia tertawa dengan gila.
Ketika Keanu sudah pergi, Lorena berkata dengan bingung dan bergidik,
"Kau dengar dia? Dia meminta kita mengobrol dengan selongsong kulit kepala?"
"Iya. Aku merasa semakin takut berada di sini," jawab Daisy menggigiti kukunya.
"Menurutmu, apa kita bisa melarikan diri dari sini?"
"Mana mungkin, kita tidak tahu di mana kita dan tempat seperti apa ini. Lagipula tangan dan kaki kita dirantai. Bagaimana cara melepasnya?"
"Oh ya Tuhan. Aku bisa gila jika terus berada di sini. Kita harus pergi dari sini bagaimanapun caranya."
"Tapi bagaimana? Aku takut jika kita gagal dan justru dibunuh olehnya."
"Benar juga. Aku juga khawatir soal itu," Lorena merasa sama takutnya.
••••••••
Di depan gerbang sekolah anak-anak, Keanu berdiri dengan pantat yang bersandar di atas kap mobil. Kedua tangannya telipat ke depan dada.
Begitu melihat anak-anak cucu Jordan, Keanu segera melambaikan tangannya.
"Aku di sini!"
Anak-anak yang semula mencari keberadaannya pun segera berlari mendekat.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Tracy.
"Tidak. Aku baru saja sampai di sini. Apa kalian ingin langsung pulang?"
"Tentu saja," jawab Teresha sambil membuka pintu mobil bagian belakang supir.
"Bagaimana kalau aku membelikan kalian es krim sebelum pulang ke rumah?" Keanu mencari cara untuk mendekati hati anak-anak.
"Es krim?" Trissa tertarik.
"Ya. Apa kalian suka es krim dengan lelehan coklat dan karamel di atasnya?"
"Aku suka! Lebih suka lagi kalau ada butiran buah-buahan kering di atasnya!" Tracy ikut menyahut.
"Baiklah, ayo kita pergi mencari es krim yang enak!" Keanu berlagak sebagai manusia penyayang.
Entah mengapa, anak-anak mudah sekali dibujuk oleh pemuda gila seperti Keanu. Mereka melihat wajah ramah yang sebenarnya palsu darinya. Dan siapa yang tahu bahwa pemuda yang sedang bersama mereka adalah serigala berbulu domba.
Dan....
Di sebuah toko es krim, mereka berhenti untuk menikmati es krim kesukaan mereka masing-masing. Meski Tracy dan Trissa mudah tenggelam ke dalam sosok ramah Keanu, namun berbeda dengan Teresha. Anak perempuan yang lahir satu jam lebih dahulu dari adik-adiknya itu mempunyai instingnya sendiri.
Ia tetap berhati-hati dan waspada pada Keanu, pacar bibinya yang merangkap bekerja sebagai supir baru mereka.
"Aku sudah selesai. Ayo pulang," ajaknya pada kedua adiknya.
"Sebentar, punyaku belum habis," jawab Trissa.
"Oowh, tunggu nona. Kau tidak perlu tergesa-gesa seperti itu. Lihat adikmu yang manis. Dia makan es krim dengan pelan dan nikmat, apa salahnya?" kata Keanu.
"Tidak ada urusannya denganmu, kami harus pulang sekarang," Teresha kembali menarik tangan Trissa.
Tracy yang bingung hanya menuruti kakaknya untuk pergi. Ia berdiri sendiri tanpa dipaksa. Namun, karena masih ingin menikmati es krimnya, Trissa begitu sulit diajak pergi. Bahkan, ketika Teresha menarik paksa tangannya, Trissa tetap tak bergeming.
Pada kesempatan seperti itu, Keanu menahan tangan Trissa yang ditarik Teresha.
"Biarkan dia menyelesaikannya. Jika kalian mau, tunggulah di dalam mobil. Biar aku yang menunggunya di sini," kata Keanu.
"Tidak. Dia harus ikut dengan kami."
"Jangan egois. Biarkan adikmu menikmatinya.'
Melihat kakaknya berdebat dengan pacar bibinya, Trissa pun menghentikan kesibukannya. Kemudian ia berdiri pelan dan tanpa sengaja menumpahkan es krim ke bajunya.
"Oh, astaga. Bajumu kotor, nona?" kata Keanu sambil mengusap baju Trissa bagian dada yang belepotan dengan niat tersembunyi.
Sebagai pemuda yang memiliki kejiwaan ganjil, Keanu merasa anak kecil itu mampu memikat dirinya meski tidak melakukan apapun.
"I iya..." jawab Trissa lirih.
Melihat sikap yang aneh dari pacar bibinya, Teresha segera mengajak adiknya pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya dan meminta Keanu untuk menunggu di mobil saja.
Tanpa banyak bicara, Keanu akhirnya menunggu di mobil dengan pikiran yang bercampur aduk. Ia terus saja mencubit-cubit bibirnya.
"Kenapa anak kecil itu membuatku bergetar? Apa aku benar-benar gila karena ingin memilikinya? Atau karena aku menginginkan hal lain?" gumam Keanu.
Matanya menatap lurus ke depan, namun tidak memandang apapun. Sebab saat itu, pikirannya sedang berjalan ditempat.
•••••••••
Setibanya di rumah Jordan, Keanu memarkirkan mobil di halaman rumah tersebut. Kemudian menurunkan anak-anak dengan sangat hati-hati. Khusus pada Trissa, Keanu memberi perhatian lebih. Ia juga berbisik padanya tentang sebuah boneka yang ia beli untuknya.
"Aku dengar, kau menyukai boneka? Bagaimana kalau kuberi sebuah boneka cantik untukmu?"
"Boneka?"
"Ya. Tunggu sebentar."
Keanu membuka pintu bagasi mobil dan mengambil boneka beruang yang ia beli sebelumnya.
"Taraaa! Apa kau suka?'
"Waaah?? Lucu sekali," Trissa tampak sangat menyukainya.
"Kau bisa memilikinya."
"Benarkah?"
"Ya. Ambillah. Sebagai gantinya, apa aku boleh mampir ke rumah kalian kapan-kapan?' tanya Keanu.
"Tentu saja. Kau bisa mampir kapanpun juga untuk menemui bibi," jawab Trissa.
"Anak manis..." Keanu mengusap-usap rambut Trissa.
Pada saat itu, Genie berjalan menghampiri Keanu dengan ceria. Ia baru saja pulang dari kampusnya dan berganti pakaian.
"Anak-anak! Kalian sudah pulang?'
"Bibi!!!" seru mereka serempak.
Setelah memeluk ketiga keponakannya, Genie menyuruh mereka masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian mereka dan pergi makan siang. Kemudian ia menghampiri Keanu dan berterima kasih kepadanya karena sudah bersedia mengantar dan menjemput ketiga keponakannya dari sekolah.
"Besok, bolehkah aku mengantar mereka kembali? Jadi, kau tidak perlu menyewa supir baru, gunakan saja tenagaku," kata Keanu.
"Apa kau sebegitunya menyukai anak-anak?" Genie tersenyum.
"Seperti itulah," Keanu balas tersenyum.
Genie tersenyum senang menatap Keanu. Ia bahkan sempat mengecup bibir Keanu sebelum memberi jawaban.
"Hmm. Baiklah. Untuk sekarang, kau bisa istirahat di rumah. Bawa pula mobilku bersamamu. Besok, datanglah jam 6 pagi supaya kita dapat menikmati sarapan bersama."
"Baiklah."
Sambil bertatapan mesra, Genie dan Keanu tersenyum berpegangan tangan. Dengan lugunya, gadis itu percaya begitu saja dengan sikap Keanu yang tampak ramah dan baik dari luar. Bahkan ia tidak mampu mengenali predator buas sepertinya tengah mengancam keselamatan anak-anak.
Bersambung.......