
Warning!
Ada bagian yang menceritakan kekerasan seksual pada anak-anak.
Mohon bijak dalam membaca dan menanggapinya. Karena ini hanya cerita. Bukan dan semoga tidak ada kasus seperti ini di dunia nyata. ππ»
...----------------...
BAB 23
Keanu menutup restoran tepat pada waktunya. Ia harus memindahkan Choa ke dalam mobilnya secepat mungkin. Karena gadis itu masih hidup, ia tidak boleh gegabah. Ia harus cepat-cepat menyingkirkannya jika tidak ingin mengalami masalah.
Begitu ia sampai di rumah, Keanu menggendong Choa yang tidak sadarkan diri itu di atas pundaknya. Ia juga membungkus kepala Choa dengan kantung kresek agar tidak melihat jalan mana yang ia tempuh.
BRUG
Keanu menjatuhkan tubuh Choa ke lantai dekat Daisy dan Lorena.
"Mulai hari ini, kalian berdua mempunyai teman baru. Bergembiralah!!" Keanu tersenyum menyeringai sambil mengusap kepala Daisy dan Lorena bergantian.
Kedua wanita itu berpandangan dengan rasa takut yang menjalari tubuh mereka.
Ketika Keanu melepas kantung kresek di kepala Choa, Lorena mengenali siapa gadis yang datang itu. Bukankah itu karyawan restoran daging dan mie milik teman ayahnya?
"Jika salah satu dari kalian mencoba melepas ikatan miliknya, maka kalian akan mati saat itu juga. Mengerti?"
Daisy dan Lorena mengangguk. Mereka berpikir, akan bertambah berapa wanita lagi yang menjadi budak nafsu pria gila itu?
"Kalian boleh mengobrol dan mengajarinya untuk menuruti perintahku. Tapi jangan sekali-kali kalian bekerja sama untuk melawanku," Keanu memasang rantai pada kaki Choa.
Lalu ia berdiri dan meraih kotak obat. Diambilnya perban dan obat anti septic dari dalamnya. Hari itu, Keanu memberikan sebuah tugas berat untuk salah satu di antara mereka.
Dilemparkannya perban dan obat anti septic itu kepada Lorena.
"Rawat lukanya dengan baik. Jika sudah sembuh, katakan padanya untuk bersiap melayaniku. Jangan lupa, ajari dia untuk memberikan pelayanan yang memuaskan untukku."
"Jika kau gagal mengajarinya,, aku akan langsung membunuhmu," Keanu pergi dan tidak peduli pada ketakutan wanita yang baru saja ia beri tugas.
DEG
Lorena merasa hidupnya sedang di ujung tanduk. Diliriknya Daisy dan juga Choa. Kemudian ia kembali menatap Daisy dan menangis sesenggukan. Dua wanita itu melampiaskan kesedihan mereka dengan saling berpelukan.
Beberapa jam berikutnya, setelah Lorena mengobati luka pada paha Choa, wanita itu bangun dan membuka matanya. Choa melihat ada dua wanita yang telanjang bulat sedang menangis berpelukan.
"K kalian sedang apa? Dan di manakah ini?" tanya Choa takut.
"Kau sudah bangun?"
"Ya."
"Kalau begitu selamat datang di neraka pemuas nafsu, huhu," Lorena tidak bisa menghentikan tangisannya.
"Apa kau bilang? Apa maksudnya? Dan,, di mana pakaian kalian? Mengapa telanjang begitu?"
Dengan cepat Lorena dan Daisy menunjukkan rantai yang mengikat kaki mereka, "Kau juga punya."
"Hah?!"
Choa terkejut dan berusaha melepaskan belenggu pada kakinya.
"Apa Keanu? Apa dia yang membawaku kemari??"
Dua wanita yang ada di hadapannya itu segera mengangguk bersamaan.
"Dia memintamu bersiap untuk memberikan layanan yang memuaskan."
"Apa??!"
"Dia menginginkan tubuhmu, nona. Jadi, jika dia datang nanti, tolong layani dia dengan baik. Buat dia puas dan melakukannya berkali-kali. Jika tidak, aku akan dibunuhnya saat itu juga," ucap Lorena berurai air mata sambil menggenggam tangan Choa.
"A apa maksudmu? Siapa yang dibunuh?"
"Aku. Jika kau melayaninya dengan buruk, dia akan membunuhku dengan keji," tangisan Lorena semakin menjadi.
"Itu tidak benar! Aku akan melawannya!" Choa belum mengerti bagaimana cara kerja Keanu.
"Kau tidak bisa melawannya. Dia orang gila yang bisa berbuat apapun. Jadi sebaiknya bekerja samalah dengan kami dan jangan berani melawannya," Daisy menyela.
"Jadi kalian ingin aku diam saja dan menuruti keinginan gilanya?"
Lorena dan Daisy mengangguk.
"Tidak, aku tidak bisa.
"Tolonglah nona, hidupku ada di tanganmu, sekarang," Lorena memohon bantuan Choa.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus memberitahu bahwa dia salah! Aku harus menghentikan kegilaannya dan memintanya untuk menyerahkan diri ke polisi."
Rupanya, Choa belum tahu seperti apa kegilaan Keanu yang sesungguhnya. Meskipun ia tahu Keanu seorang pembunuh, namun ia belum menyaksikan sendiri bagaimana cara dia mengeksekusi korbannya
Jadi, ia masih bisa mengatakan semua itu dengan lantang.
β’β’β’β’β’β’
Siang itu, Keanu menjemput ketiga keponakan Genie seperti biasanya.
"Halo semuanya? Apa kalian masih bersemangat, hari ini?"
"Ya. Kami sangat bersemangat," jawab Tracy sambil memasukkan sebuah buku ke dalam tasnya.
Teresha membetulkan tali sepatunya dan bersiap memasuki mobil bersama Trissa.
"Apa kita akan pergi jalan-jalan lagi, paman?" tanya Trissa begitu duduk di dalam mobil.
"Apa kau mau begitu?"
"Ya. Itu ide bagus,, aku juga mau," sahut Tracy.
"Yeeaah!" seru Tracy dan Trissa.
Keanu melirik Teresha yang sejak awal tampak tidak suka padanya dengan diam-diam. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju taman bermain yang ada di tengah kota.
"Tenang saja, paman sudah meminta ijin pada bibi kalian."
Begitu mereka sampai, mereka pun asyik bermain dalam permainan, bahkan Teresha yang semula tidak ingin pergi pun hanyut dalam kegembiraan.
Ketika Teresha dan Tracy naik roller coaster, Trissa tidak berani ikut naik. Namun, keinginan Teresha membuatnya tidak begitu peduli pada Trissa sehingga Keanu berlagak yang akan menjaganya.
Putaran pertama, Teresha masih dapat melihat Trissa dan Keanu di bawah sana. Namun pada putaran roller coaster ke dua dan seterusnya, ia tidak melihat keberadaan dua manusia itu.
Ternyata, Keanu melarikan Trissa ke toilet umum dengan iming-iming ice cream. Begitu sampai di toilet yang sepi, Keanu mengajak Trissa duduk di toilet. Ia berjongkok di depan gadis kecil itu seraya mengajaknya bicara.
"Apa kau senang, paman mengajakmu jalan-jalan, Trissa?"
Trissa mengangguk tersenyum sambil memegangi es krimnya tanpa curiga.
"Kalau begitu, apa kau mau menghadiahi paman?"
"Paman mau hadiah?"
"Tentu saja. Paman menginginkan hadiah yang tidak mudah dilupakan."
"Apa itu?"
"Seandainya paman memintamu untuk mencium pipi paman, apa kau mau?"
Trissa tersenyum dan mencium pipi Keanu dengan lugunya. Setelah mendapat ciuman di pipi, Keanu mulai menginginkan sesuatu yang lebih.
"Waah, es krimnya meleleh. Boleh paman bantu?" tanyanya.
Saat Trissa mengangguk, Keanu dengan cepat menghisap es krim yang mulai meleleh.
"Mari kita lakukan bersama-sama," ia meminta gadis kecil itu menghisap es krim bersama-sama.
Ketika akhirnya Trissa bersedia menjilati es krim yang mulai meleleh bersama dengannya, Keanu melirik gadis itu dengan tatapan mengerikan.
"Menurutmu, es krim ini rasa apa?"
"Coklat?"
"Tidak Sepertinya stroberi,,"
"Benarkah? Tapi aku merasakan coklat."
"Tidak, tidak. Paman merasakan stroberi."
Ketika dilihatnya gadis itu seperti tertarik dengan ucapannya, Keanu pun mulai beraksi.
"Apa kau mau mencicipinya?"
Gadis lugu itu mengangguk setuju.
"Kalau begitu mendekatlah," Keanu meraih kepala Trissa dan menyesap bibir gadis kecil itu dengan lembut.
Gadis kecil itu sempat menolak keinginan Keanu. Namun pada akhirnya ia tidak bisa apa-apa.
"Apa kau merasakannya?" Keanu bertanya.
"Ada rasa stroberi di bibir paman. Apa rasa itu dari es krimku?"
"Benar bukan? Rasa stroberi.. Tapi, sebenarnya paman makan permen ini. Apa kau mau juga?" jawab Keanu seraya memperlihatkan sebuah permen yang ada di dalam mulutnya.
"Permen? Tapi itu di dalam mulut paman."
"Hmm. Jika kau mau, paman bisa membantumu mencicipinya," Keanu tersenyum miring.
Diajarinya kembali gadis kecil itu untuk berciuman dengannya. Dengan sebuah permen stroberi sebagai umpannya, gadis kecil itu menuruti perkataan Keanu tanpa perlawanan.
Ketika Trissa tengah asik menyesap permen di mulutnya, Keanu mengenakan tudung hodienya. Kemudian, tangannya bergerak menggerayangi kaki Trissa. Dengan pelan tangannya itu merambat masuk ke dalam roknya.
"Anak pintar, apa kau ingat padaku?" Keanu berbisik di telinga Trissa.
Mendengar hal itu, Trissa menoleh dan melihat tatapan mata yang persis seperti mata yang membunuh kakeknya.
Gadis kecil itu baru ingat. Benar! Dia sempat melihat wajah orang yang memukul kepala kakeknya itu dengan martil. Dan dialah paman Keanu!
"P paman orang yang membunuh ka kakek??" tanyanya lugu.
Keanu tersenyum menyeringai. Kemudian ia berdiri, melepas ikat pinggangnya dan menurunkan celananya.
Karena Trissa sudah dibuat ketakukan, maka ia pun mencoba melarikan diri. Namun Keanu segera menengkap tubuh kecilnya.
"Tidak! Lepaskan aku, paman!" pekiknya seraya meronta untuk dilepaskan.
"Kau tidak boleh pergi. Temani paman sebentar," kata Keanu.
Karena Trissa terus saja berteriak minta dilepaskan, Keanu dengan kasar menyumpalkan batang besar miliknya ke mulut kecil Trissa.
"Cepat K*lum!" bentak Keanu seraya menekan kepala Trissa ke arah dirinya berulang kali.
"Hhmmm hmm hmm!" suara teriakan Trissa terdengar tidak jelas karenanya.
Keanu si pria gila itu tidak peduli lagi siapa mangsanya. Pada gadis kecil yang lugu itu ia berbuat sesuatu yang tidak pantas ia lakukan.
"Kau tahu? Dulu sekali, ayahmu melakukan hal seperti ini pada adik kecilku," kata Keanu penuh dendam.
Trissa menangis dan hanya bisa mengikuti alur yang dibuat Keanu.
"Aa'ahhh aaahhh! Aku hanya mengulang semua yang dilakukan ayahmu itu kepadamu. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
Kemudian dengan cepat, ia mengangkat tubuh Trissa dan menaikkan roknya. Dipangkunya gadis kecil itu untuk memudahkannya menuntaskan hasratnya.
BERSAMBUNG....