THE PSYCHOPATH'S SECRET

THE PSYCHOPATH'S SECRET
JANGAN ANGGAP REMEH ORANG GILA



BAB 12


Saat berjalan pulang memasuki desa, suara klakson dari belakang membuat Keanu terkejut. Itu mobil Jordan! Dengan santai, ia pun berdiri di sisi jalan dan memberi kesempatan mobil wali kota agar lewat terlebih dahulu.


Gun menoleh ke luar dan memperhatikan Keanu tanpa curiga. Kemudian Gun tersenyum miring dan meremehkan sosok yang ia kenal tersebut.


Wali kota Jordan dan Gun terkekeh melihat Keanu yang berpakaian lusuh dan berjalan membawa tongkat ranting panjang.


"Bukankah itu kakak wanita itu?"


"Ya. Pemuda gila di desa kita," Gun tidak mau berhenti terkekeh.


"Ayah pikir dia sudah mati menyusul adiknya?" kata wali kota.


"Gkgkgkk.. Dia tidak mati dalam arti sebenarnya. Tapi lihat saja. Dia benar-benar seperti mayat hidup."


Wali kota memperhatikan sosok Keanu yang terpantul dari kaca mobil. Penampilannya memang seperti mayat hidup. Berkulit putih namun pucat dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya. Namun begitu, wali kota merasa risih ketika mata itu terus memperhatikan laju mobilnya.


Keanu melanjutkan perjalannya yang cukup jauh. Ia masih harus menuruni jalan memotong yang dapat mengantarkannya tepat ke rumah.


Jalan tersebut dibuat sedikit berundak untuk memudahkan para nelayan yang hendak turun ke pantai agar tidak menempuh jarak terlalu jauh.


Keanu berjalan santai. Sesekali kakinya menendang-nendang batuan kerikil di tengah jalan. Sambil sesekali bersiul, ia pun menyelinginya dengan suara tertawa.


Ketika ia melewati tempat terbunuhnya Maria dan Pedrosa, terdapat garis kuning polisi yang belum juga dibereskan. Sebab, kasus pembunuhan yang ia lakukan belum teridentifikasi oleh detektif polisi maupun tim forensik manapun.


Membayangkan kematian orang-orang yang menghilangkan nyawa orang tua dan adiknya saja, membuat Keanu menjadi bersemangat. Entah sejak kapan, ia menjadi manusia berimajinasi tinggi. Namun tentu saja. Imajinasinya dipenuhi tutorial dalam membunuh para korbannya.


TRAK!


Keanu tanpa sengaja menendang keras sebuah batu kerikil. Batu itu melayang dan mendarat tepat di kepala seseorang yang sedang duduk menyendiri.


"Hey??!" Pete menoleh kesal sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Seorang pemuda yang rupanya putra dari Maria dan Pedrosa itu tengah duduk memandang sungai. Ia pun marah ketika melihat Keanu yang ternyata melempar batu ke arahnya.


"Apa kau sengaja melempar batu ke arahku?" Pete berdiri dan menghampiri Keanu.


Pete tahu cerita tentang Keanu. Pemuda yang menjadi gila setelah kematian adiknya sangat populer tahun ini. Begitu dekat dengan Keanu, ia tersenyum menyeringai.


"Ah. Percuma saja bicara denganmu. Kau orang yang tidak waras, bukan?" kata Pete sebelum mendengar jawaban dari mulut Keanu.


Pete menepuk-nepuk pakaian Keanu dan memperhatikan jakun yang naik turun di leher pemuda gila itu. Kemudian, saat sesuatu tiba-tiba muncul di pikirannya, Pete menoleh ke kanan dan kiri melihat situasi sekitar. Karena tempat itu cukup sepi, Pete menarik Keanu ke tempat yang lebih tersembunyi.


Ketika mereka sampai di balik semak, tiba-tiba saja Pete mendorong Keanu, memaksanya berbaring dan melepas celananya. Tentu saja Keanu menepis dan menolak perlakuan itu.


"Diam. Turuti saja keinginanku," ancam Pete pada pemuda yang ia kira benar-benar gila.


Rupanya, Pete berusaha memperkosa Keanu karena ia menganggap pemuda gila itu bisa saja ia manfaatkan. Sebagai pengikut kaum homo s*ksual, Keanu yang sebenarnya tampan itu cukup membuat Pete terangsang.


Ketika Pete mulai membuka celana Keanu dengan penuh hasrat, Keanu mendorongnya kuat.


"Minggir kau sialan!" ucap Keanu.


"Apa?"


Pete mendekati Keanu dengan berlagak dan menatapnya dengan tatapan menantang. Dengan meremehkan penampilan Keanu, Pete menarik pakaian yang dikenakan Keanu dengan kesal.


"Apa kau berani menolakku?" Pete mencoba mengancam.


Tiba-tiba saja Pete meninju Keanu hingga jatuh terjengkang ke belakang. Kemudian Pete memukul lagi dan menendangi Keanu dengan brutal.


"Dasar orang gila! Beraninya kau menolak keinginanku!"


Setelah memukuli Keanu, Pete berkacak pinggang dan mengambil nafas dalam-dalam. Namun, beberapa detik kemudian, ia mendengar Keanu terkekeh.


Pete menoleh sambil membetulkan resleting celananya. Kemudian mendekati Keanu kembali.


"Kenapa kau tertawa?" Pete menarik kerah baju Keanu karena merasa pria itu tiba-tiba saja menjadi aneh.


"Apa kau sudah puas?" tanya Keanu menoleh pelan ke arah Pete dengan gigi merah karena berlumuran darah. Tatapan Keanu menjadi sangat mengerikan dan membuat Pete menelan ludah.


"Apa?"


"Apa kau sudah puas memukulku?" Keanu menatap Pete lekat-lekat.


Belum sempat Pete menjawab, Keanu menarik Pete dan membantingnya ke tanah. Dengan cepat ia mencekik leher Pete kuat-kuat. Ketika Pete kesulitan bernafas, Keanu meraih sebuah batu berukuran tanggung yang kebetulan ada di dekatnya.


Tanpa ragu-ragu, ia memukulkan batu itu ke kepala Pete.


BUGG!


"Ahhkgg!" Pete masih sadar sepenuhnya.


BUGG!


"Kamu pikir, siapa yang menghabisi orang tuamu?"


"Apa itu,,, kau??" Pete bertanya lemah karena kepalanya terluka.


"Tentu saja. Mereka sama sepertimu. Membuatku kesal dan marah seperti ini," Keanu menatap Pete tajam.


"Aku minta maaf padamu. Tolong, selamatkan nyawaku," kata Pete memohon ampunan.


"Di dalam kamus besarku, aku tidak pernah mengampuni seseorang yang macam-macam denganku. Apalagi manusia sepertimu," Keanu berkata dengan hidung dan bibir yang bergerak-gerak dan mimik muka yang juga amat kesal.


"Ampuni aku, kali ini saja. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku mohon," kata Pete memelas.


"Kkhhh..." bibir Keanu tersenyum miring ke kiri.


"Pergilah ke neraka bersama orang tuamu! Karena semua permohonanmu sudah terlambat," Keanu memukulkan kembali batu itu ke muka Pete berulang kali.


Saat itu juga, hancurlah wajah Pete karena hantaman keras yang ia terima. Pria itu tewas tanpa perlawanan berarti. Keanu menjatuhkan diri dan duduk di tanah. Kemudian karena masih kurang puas, Keanu melucuti celana Pete dan meraih pisau lipatnya.


Tanpa rasa bersalah ataupun sesal, Keanu menarik batang kelam*n milik Pete dan memotongnya hingga habis sampai ke akarnya.


"Kau pikir, pen*s kecilmu ini bisa membuat seseorang puas?" Keanu tertawa gila memperhatikan potongan tongkat yang berlumuran darah itu.


Kemudian karena sudah selesai dengan hukuman yang diberikannya untuk Pete, Keanu melempar potongan batang itu ke samping kanan.


Tanpa ia ketahui, seseorang datang mencari Pete. Seorang wanita yang datang untuk memenuhi janji temu bersama Pete.


Kebetulan, wanita itu menangkap sesuatu yang melayang ke arahnya. Ketika melihat sebuah potongan pen*s dan telur yang berlumuran darah ada di tangannya, begitu juga mayat Pete dan pembunuhnya, wanita itu berteriak histeris dan ketakutan. Dengan cepat ia berlari menyelamatkan diri.


Keanu menoleh dan segera mengejar wanita yang melihatnya menghabisi Pete. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Sambil terus berlari, Keanu melempar pisau lipat yang ada di tangannya.


CRAK!


Pisau itu mengenai kaki wanita itu hingga membuatnya jatuh tersungkur. Melihat lemparannya mengenai sasaran, Keanu mendekatinya dengan cepat.


Tanpa menunggu lama, Keanu menjambak rambut wanita itu dengan kasar dan menyeretnya ke dekat jasad Pete. Keanu juga mengambil kembali potongan milik Pete yang terjatuh ke tanah.


Kemudian, ia menyerahkannya pada wanita itu dan menyuruhnya untuk menyumpalkan potongan pen*s tersebut ke mulut Pete.


"Apa aku sudah boleh pergi, tuan?" wanita itu ketakutan.


"Apa kau ingin pergi?"


Wanita itu mengangguk, "Tolong selamatkan aku dan bayiku, tuan. Kau sudah membunuh ayah dari anakku, jadi aku mohon. Biarkan aku dan bayiku hidup," wanita itu menangis sejadi-jadinya sambil meratapi jasad Pete.


Keanu berjongkok di sisi wanita itu dan mencabut pisau lipat yang ada di kakinya. Kemudian, tanpa melihat wajah yang berurai air mata itu, Keanu menikam perut berisi bayi muda itu dengan kuat.


"Aakhhh,,, hhkkk,,,khhhggg!!" wanita itu memekik kesakitan sambil melotot.


Dipeganginya perut buncit dengan kehamilannya yang berjalan lima bulan itu. Darah segar pun mengalir deras dari perutnya dan lambat laun wanita itu mulai kehabisan nafas.


"Hufff!! Benar-benar melelahkan," ucap Keanu.


Karena tidak ingin ada seseorang yang melihatnya lagi, Keanu segera meninggalkan tempat itu. Apalagi hari mulai beranjak petang. Ia tidak ingin kedinginan di luar.


•••••


Keanu masuk ke ruang rahasia tanpa membawa minuman dan makanan. Akibat kelakuan Pete padanya tadi, ia benar-benar menginginkan bercinta dengan Daisy, malam ini.


Tanpa sapaan yang baik, Keanu langsung mendekap Daisy dan menciumi bibirnya. Bahkan meski gadis itu tidak pernah siap, Keanu menyetubuhinya dengan amat bernafsu.


Meski berulang kali gadis itu mengerang kesakitan, ia tetap melakukannya dengan bersemangat. Beberapa saat sejak Keanu mulai melakukan itu, Daisy pun mual-mual.


Goncangan hebat yang sedang berlangsung membuat perutnya merasa tidak enak. Terlebih, setiap kali tongkat Keanu menghantam bagian dalam rahimnya, membuat rasa ingin muntah itu semakin menjadi.


Begitu Keanu selesai menggagahinya, Daisy berlari ke sudut ruang dan muntah-muntah. Ada apa gerangan? Apakah Daisy sakit?


Keanu menoleh, kemudian mendekati Daisy yang duduk bersimpuh. Gadis itu tampak sangat tidak sehat.


"Apa kau sakit?"


"Aku tidak tahu," jawab Daisy amat lemah.


"Apa yang sekarang kau rasakan?"


"Entahlah. K kepalaku pusing dan selalu ingin muntah," kata Daisy.


Keanu diam memperhatikan gadis itu. Ada suatu perasaan yang muncul saat itu juga. Perasaan aneh yang membuatnya sedikit ragu.


Bersambung.....