The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 62. Ending 3



Hari ini adalah janji kami ke dokter. David sudah antusias dari pagi mengingatkan, dan tambahan Nyonya Maria ikut. Dia sangat ingin ikut, sopir mengantarkannya ke kantor kami dan dia semobil dengan kami untuk pergi ke dokter.


"Aku ingin melihat pemeriksaan kehamilan Carla sayang. Ibu tidak punya kesempatan menjalaninya." Dengan antusias dia ikut menunggu antrian pemeriksaan sambil mengajakku mengobrol, bahkan membawakanku sedikit bekal.


Mualku cukup parah, setiap pagi aku minum dan muntah, bahkan kadang di perjalanan di kantor aku memuntahkan sarapanku. Walaupun siang dan malam aku bisa makan lebih baik. David khawatir, tapi ternyata setelah kami di hadapan dokter dia mengatakan itu cukup normal, selama aku masih bisa makan sesuatu itu tak apa.


"Hasil tesnya memang positif. Kalau begitu kita akan coba USG." Aku dipandu ke sebuah bed oleh seorang perawat yang mengoleskan gel dingin padaku sebelum alat ultrasound itu menyentuh kulit perutku.


"Ini dia, ..." Dia menyebutkan ukuran janin kecil kami itu, usia 11 minggu, "Oh ternyata ada lagi. Yang kedua, selamat kalian mendapatkan kembar."


"Kembar?!" Aku dan Ibu David hampir berteriak.


"Iya kembar. Dari dua telur yang terpisah. Kantung amnionnya terpisah, tapi tentu saja sekarang masih terlalu dini menentukan jenis kelaminnya, mungkin di 16 minggu nanti akan kelihatan."


"Kembar, astaga aku akan punya cucu kembar! Dokter ini sudah pasti bukan?"


"Iya ini pasti, semoga tidak ada masalah. Tapi untuk sekarang bacaannya normal. Itu menjelaskan kenapa mual yang kau alami cukup parah."


David nampaknya setengah shock dan tak percaya menndengar kata dokter.


"David katakan sesuatu! Kau akan punya anak kembar!?"


"Kembar Mom."


"Kau tak dengar perkataan dokter."


"Aku dengar, tapi sepertinya aku belum yakin aku tidak bermimpi."


Kami menertawakannya sekarang. Aku juga belum yakin ini bukan mimpi. Bagaimana kami bisa mendapatkan kembar. Padahal tak ada riwayat keluarga kembar. Tapi yang jelas semua orang merasa terlalu gembira sekarang.


"Tunggu sampai Ibumu tahu dia pasti kegirangan sepertiku." Aku ingin memberi tahu Mom tapi Nyonya Maria sudah meneleponnya duluan, jadilah mereka berteriak kegirangan satu sama lain di telepon.


Aku tak menyalahkan kedua nenek yang terlalu antusias ini. Bagaimanapun anak kami adalah cucu pertama mereka.


"Kau baik-baik saja." Aku bertanya kepada David setelah kami sampai di rumah setelah merayakan kabar ini dengan makan malam bersama. Dia lebih banyak diam saat menerima kabar kami mendapatkan anak kembar ini walaupun dia gembira.


"Apa kau tidak gembira?"


"Aku terlalu gembira sehingga aku takut ini hanya mimpi."


"Ini kenyataan, kau perlu kucubit untuk membuktikannya?" Dia tersenyum.


"Akan ada banyak petualangan bersama di depan."


"Banyak petualangan, aku setuju."


"Aku akan menjaga kalian bertiga. Aku punya banyak tugas dan kesenangan nampaknya."


"Aku senang kau menganggapnya sebagai kesenangan." Aku melihat matanya yang sungguh-sungguh bicara dan bertekad sekarang.


"Tentu saja bersama Mommy Penyihir selalu merupakan petualangan."


"Mungkin kita harus mengirim anak kita ke Hogwarts ( sekolah Harry Potter red) nanti." Aku tertawa dan dia tersenyum.


"Aku mencintaimu Penyihir."


"Aku mencintaimu Iblis Perayu."


Hari-hari kedepan masih panjang, yang jelas sekarang. Entah bagaimana Sang Penyihir berhasil memerangkap Iblis dalam mantra cintanya.


THE END



Novel Baru di Fi****Tau kan di mana yakk? Absen di sana ya ud bisa di cari. Kalau gak tahu PM di IG mak aja margaretraegis


Cuplikan part 1


Cuaca cukup dingin di malam tahun baru. The Edge, lounge tertinggi di New York, di lantai 100 gedung Hudson Yards, di mana kau menatap langit dan lampu di NY secara bersamaan, penuh dengan orang yang tidak memperdulikan dinginnya cuaca. Aku duduk di salah satu kursi di luar lounge sendiri dengan minuman di tanganku.



Udara dingin ini sama seperti dinginnya hatiku. Pesta hype yang penuh dengan selebriti dan executive perusahaan ternama di NY. Aku salah satunya, aku Erin Graham 33 tahun, baru saja putus cinta dengan tunanganku.


Enam hari sebelum pernikahanku, aku melihat mereka masuk kamar hotel yang sama saat aku selesai bertemu dengan kolega bisnisku, mereka berciuman begitu mesra, sampai aku tak percaya apa yang kulihat, yang tidur dengannya adalah sahabatku sendiri Laura Blair.


Mereka berdua adalah orang yang paling kupercayai dengan segenap hati menikamku dengan pisau ganda di belakang punggungku. Sakit, sampai berbulan-bulan kemudian aku tak bisa melupakannya.


Aku menangis sendiri sampai salah seorang sahabatku yang tinggal di apartment yang sama denganku menemukanku. Aku menangis dengannya, Sarah mengutuk mereka. Dia salah satu bridesmaidku juga, ada empat sahabat dekatku yang menjadi bridesmaidku.



Aku membalas dendam, dengan bantuan temanku aku mendapatkan rekaman video saat mereka masuk hotel dan berciuman masuk ke kamar.


Aku memakai wedding gownku pagi hari itu ditemani dengan empat bridesmaidku, tiga sudah tahu cerita yang sebenarnya dan Laura Blair si ular ikut merayakan kegembiraan itu.


Rasanya benar-benar hancur saat itu, hari terburuk dalam hidupku yang pernah kujalani. Tak ada Ayah dan Ibu, tak ada orang terdekat, keluarga yang benar-benar dekat denganku. Bibi-bibiku sampai bertanya-tanya kenapa aku bisa menangis begitu keras.


Hanya tiga orang temanku yang tahu, dan mereka memandang Laura dengan tatapan ingin membunuhnya.


"Erin, kenapa kau menangis di hari pernikahanmu. Ayah dan Ibumu pasti bahagia melihatmu menikah hari ini." Laura ular itu masih mencoba menghiburku. Aku menepis tangannya, dia terkejut.


"Aku hanya ingat mereka,..." Aku ingin mencakarnya, tapi hanya mencakarnya tak akan menghasilkan apapun. Laura Blair yang adalah seorang artis peran yang sedang naik daun dan tunanganku Robert Johnson yang adalah juga seorang aktor itu perlu dipermalukan di seantero dunia.


Sahabatku yang lain memelukku, menangis bersamaku sedangkan Laura tersisih.


Dan tibalah saat pernikahanku. Aku berjalan di altar, menerima pujian sebagai ratu tercantik di hari itu. Aku tersenyum dengan hati yang sudah hancur.


Saat sang pendeta mengatakan,...


"Apa ada yang keberatan atas pernikahan ini."


"Aku keberatan." Satu isi gedung bergumam tak mengerti.


"Erin?" Ŕobert menoleh padaku.


"Nona Graham, Anda keberatan dengan pernikahan Anda sendiri?" Pendeta yang berwajah ramah itu bertanya padaku.


"Ya aku keberatan dengan pernikahanku sendiri." Aku menghela napas panjang, diantara keributan yang kutimbulkan,.. Ada beberapa peliput yang di izinkan masuk mulai merekam, aku mengambil microphone, " Aku meminta pernikahan ini dibatalkan. Karena calon suamiku sendiri Robert Johnson tidur dengan bridesmaidsku sendiri Laura Blair, kalian bisa lihat videonya." Layar di belakang kami mulai memutar rekaman itu. Sekarang semua orang ribut.


Tiga temanku menyeret Laura dan menamparnya, mendorongnya menjauh dari mereka.


"Kau menikahlah dengan pelacur itu." Kulepas cincin pertunanganku, cincin itu kemudian kulempar ke mukanya.


Itulah pembalasanku, aku menghancurkan karier mereka selamanya. Berita itu beredar berminggu-minggu di seluruh dunia. Menghancurkan setiap kesempatan yang mereka punya, membatalkan semua kontrak kerja mereka.


Tapi apa aku bahagia? TIDAK


Aku telah banyak mengalami pengkhianatan sehingga aku pikir mungkin lebih baik sendiri, mungkin aku selalu memilih orang yang salah.


Ini malam tahun baru, perasaanku masih hancur seperti enam bulan yang lalu. Teman-temanku berusaha menarikku agar lebih cepat melupakan mantan tunangan sialan itu. Aku tidak memikirkannya lagi, tapi bersamaan dengannya aku juga kehilangan keinginan untuk bersama siapapun.


Aku berpikir, jika hal itu tak terjadi. Mungkin aku sekarang sedang hamil anak pertamaku. Tapi mimpi tinggallah mimpi, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Malam ini teman-temanku mengajakku ke sini, tapi mereka bersama dengan kekasih masing-masing. Sedang berdansa di lantai dansa yang meriah.


Aku melihat seorang pria duduk sendiri di ujung bar, beberapa kali memperhatikannya dia sibuk dengan ponselnya, tak ingin diganggu oleh siapapun.


Badannya tegap, dia tampan, tipe manly, memakai kemeja gelap, rambut gelapnya dan kulitnya agak coklat, kurasa dia bukan orang US, mungkin semacan Mediteranian man, keseluruhan penampilannya sempurna.



Mungkin tersesat di sini karena sepertiku tak punya tempat pergi dan diajak teman-temannya ke sini. Beberapa wanita mencoba mendekatinya, diabaikan olehnya. Robert, mantan sialanku itu tak setampan pria ini. Mengingat nama Robert, belum sekalipun aku membalas kelakuannya tidur dengan wanita lain. mungkin aku terlalu naif, dia sudah tidur dengan puluhan wanita saat kami pacaran tapi aku di sini masih menangisi hatiku yang dihancurkan olehnya.


Aku memang bodoh.


Aku akan mencoba, aku belajar banyak bahasa, terutama Italian Perancis dan Spanyol karena bisnisku di Eropa berkembang baik. Mungkin aku bisa mengajaknya kencan semalam. Dia jauh lebih tampan dari Robert.


"Kau sendiri,..." Sapaanku dalam bahasa Itali berhasil membuatnya menoleh.


"Gadis cantik, kau mau apa dariku?" Walau sambutannya dingin. Tapi aku suka dia bicara padaku, tapi dia hanya mengibaskan mengangkat tangannya dan bilang dia tak mau diganggu. Dan dia menganggapku cantik.


"Kencan semalam."


"Wanita di sini sangat berterus terang rupanya. Apa aku mengenalmu?"


"Tidak, kau tak perlu kenal aku."


"Mungkin aku punya AIDS."


"Kalau begitu itu nasib burukku." Dia meringis.


"Kau sedang patah hati?"


"Itu juga bukan urusanmu." Dia melihatku dan menimbang tawaranku, melihat tubuhku yang memang bukan tubuh dengan implan terpasang dimana-mana.


"Aku bukan seleramu rupanya, kau suka yang banyak sumpalannya? Depan dan belakang besar rupanya."


"Tidak, aku tak suka dengan payu*dara besar." Berarti aku tipenya? Jadi kenapa kita tidak langsung saja. A


"Di Equinox, bertemu di lobby? Aku membawa mobil sendiri." Equinox adalah nama hotel bintang lima di sebelah gedung ini. Dia menatapku dengan tajam.


"Deal." Jawabannya singkat.


"Deal." Aku juga sama ringkasnya dengan dia.


Kurasa aku sudah gila, aku tak pernah melakukan ini, tapi aku tak perduli lagi tentang apapun malam ini.


bersambung di sana .....