The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 22. Barbados 7



Pembicaraan lebih cair kemudian, dia mengatakan apa yang dia tahu tentang tempat ini. Untuk soal ini aku percaya padanya. Seperti yang dia bilang tempat ini adalah kebanggaannya. Jadi jelas dia bisa jadi pemandu yang baik.


Acara selesai hampir jam 9, kami kembali ke kamar. Jam tidur masih lama. Aku ke kamar mandi berganti pakaian ke T-shirt dan celana katun yang nyaman.


Aku tak suka harus ada sekamar dengannya, tak nyaman, berpikir mungkin dia nekat, atau apapun yang dia pikirkan.


Aku punya pengalaman buruk saat pertamaku dengan seseorang kekasih di masa kuliah, mungkin aku dan dia kaku kurang pengalaman, dia kasar, aku tak menikmati sama sekali sesi yang katanya harusnya penuh teriakan kenikm*atan itu. Yang ada aku merasa dipaksa menjadi orang yang menangani dia harus mengeluarkan sesuatu dalam tubuhnya. Menyakitkan dan aku ingin mendorongnya pergi segera.


Hubungan itu singkat, kami putus hanya beberapa saat kemudian. Aku masuk dunia kerja, aku sibuk mengejar karier, tak punya waktu untuk kehidupan pribadi, saat aku punya kekasih hubungan tak lama karena aku lebih mementingkan pekerjaanku. Menjadi assisten junior di tahun-tahun awal penuh pekerjaan remeh yang menyita waktu.


Dan kembali aku tak beruntung soal ini di dua kali pacaran singkat lainnya. Aku tak menikmatinya. Kurasa karena aku terlalu terpaku pada pengalaman pertama yang menyakitkan. Atau mereka memang payah, aku tak ingin menyalahkan orang lain atau menyalahkan diriku sendiri juga. Mungkin aku yang dikatakan orang sebagai wanita dingin alias frigid, aku tak menyukai hubungan fisikal yang digambarkan orang-orang sebagai hal yang sangat menyenangkan. Akhirnya dengan cepat aku meminta putus dari kekasih yang lain daripada aku tidak menikmatinya.


Drama cinta terus terang membuatku lelah. Aku lebih menikmati hidupku sendiri dengan Ibu dan adik-adikku. Mereka bisa kuajak berlibur dan aku tak perlu penyesuaian emosional dengan orang lain. Yah walaupun Mom menanyakan selalu padaku apa kapan mau menikah.



Aku merasa tak nyaman dengan orang yang terlalu terlihat bangsa*t seperti David. Banyak pikiran buruk tentangnya, mungkin sudah 7 tahun aku sendiri. Ketika melihat David sengaja menggodaku, jelas aku tak nyaman. Tak ada di pikiranku one night stand. Aku malah takut terjadi hal yang seperti itu.


Sekarang aku tak menyesal membawa sweater wool panjang ini. Di sini tak ada musim dingin, tapi sweater ini membuatku merasa aman malam ini.


Ketika aku keluar David menatapku dengan heran.


"Tidak."


"Kenapa kau memakai sweater musim dingin?"


"ACnya dingin, dan diluar cukup berangin. Aku ingin jalan-jalan." Aku berhasil mencari alasan yang setidaknya masuk akal. Walau sebenarnya sedinginnya AC di daerah tropis tetaplah biasa saja bagi kami.


"Kau mau kèmana? Aku temani."


"Tak usah. Aku pergi sendiri oke."


Aku menutup pintu dengan cepat. Hanya ingin sendiri. Bar di pinggir pantai seharusnya buka sampai malam. Aku bisa berjalan-jalan melihat-lihat.


Tak lama aku sudah duduk sendiri sebuah kursi sambil memesan coktail dan makanan ringan. Beach bar cukup ramai, ya kuketahui kamar-kamar terisi penuh karena acara pernikahan ini. Nampaknya tamu-tamu juga tak mau tidur terlalu awal sepertiku.


Aku duduk di sebuah meja di ujung restoran sendiri, bagian pantai masih bisa dilihat ada lampu sorot yang mengarah ke sana. Jadi masih bisa ada yang dilihat.


Aku menyukai suasana tenang duduk sendiri ini, tak perduli aku hanya sendiri. Orang dengan kepribadian introvert sepertiku bisa menikmati sàat sendiri mereka. Tak perlu orang lain untuk bicara, cukup dengan duduk tenang sendiri mereka bisa merasa bahagia.