The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 21. Barbados 6



Kami masuk ke tempat acara, aku belum pernah berkenalan dengan Tuan Oliver Cheshire, walaupun aku pernah melakukan pertemuan dengan CEO perusahaannya.


"Ini Carla Winston Sir Oliver. Dia direktur keuangan yang memegang wilayah Timur. Tanpa persetujuannya aku tak bisa membayarmu. Ada beberapa hal yang di pertemuan kemarin perlu kami sepakati. Dia kepercayaan Ayahku juga." Dia mengenalkanku dengan pantas.


"Senang bertemu denganmu Nona Winston. Rupanya Nona cantik ini kariernya begitu tinggi. Aku kemarin memang mendengar selain David ada seorang gadis muda yang bertanggung jawab. Rupanya sekarang aku bertemu langsung denganmu."


"Terima kasih sudah mengundang kami Sir Cheshire, selamat juga atas pernikahan putrimu. Semoga kau menyukai hotel ini. Jika ada bantuan apapun yang kami bisa berikan sihlakan langsung beritahu kami." Aku bertindak sebagai wajah perusahaan sekaligus kolega.


"Hotel ini luar biasa, pemandangannya, tempatnya, dan faselitasnya, lapangan golfnya terutama, putra dan menantuku sangat menyukainya, tamu-tamu kami juga memujinya. Senang bisa mengadakan pernikahan anakku di tempat ini. Dan David yang menyarankannya, aku harus berterima kasih padanya."


"Saya senang Anda menikmati pengalaman Anda Sir."


Kami beramah tamah sebentar. Sebelum duduk dan menikmati makan malam. Walau perasaanku masih mengawang tak jelas karena kejadian tadi, tapi aku bisa melewati acara perkenalan dengan baik.


"Makanannya enak."


"Enak tentu saja." Dia melihatku makan.


"Besok siang mau ke mana?"


"Aku belum tahu, nanti kutanya manager apa yang seru di sini. Nampaķnya mereka bahkan punya kayak dan snorkeling."


"Iya. Mau kutemani..."


"Tak usah, aku pergi sendiri." Dia diam. Aku membiarkannya. Dia bisa menemukan seseorang menemaninya dengan mudah, aku di sini tidak untuk tugas baby sitting.


"Kenapa kau melihatku begitu?"


"David, kau tahu jika kau duduk sendirian di restoran sarapan besok pagi kau bisa menemukan kamar baru plus kencan besok. Kau jangan menghabiskan waktumu denganku, aku tak perlu kau temani." Dia menghela napas panjang lalu tersenyum sendiri.


"Ya kau benar. Tapi aku sedang tak mau. Aku menemani gadis perawan saja." Dia tersenyum lebar denganku.


"Sudah kubilang aku bukan perawan!" Jika dia berani mengatakan itu kepada orang lain, aku akan jadi bahan tertawaan. Padahal itu tak benar, jika dia berani menyebarkannya akan kujadikan dia musuhku.


"Ohh ya, lalu kenapa kau bersikap begitu."


"Aku hanya punya pengalaman buruk. Dan kau tahu aku menganggapmu buruk. Itu saja, tapi bukan berarti aku perawan. Lagipula belakangan aku lebih tertarik pada karierku bukan pria. Pria-pria hanya membawa masalah dalam hidup."


"Pengalaman buruk macam apa?" Pertanyaannya terus berlanjut. Kenapa dia merasa perlu tahu segalanya.


"Kenapa aku harus menceritakan hal pribadiku padamu." Kami belum sampai tahap di mana dia harus tahu semua ceritaku, sepertinya dia menganggap dia harus tahu cerita semua orang.


"Baiklah. Kau benar, kau memang tidak harus cerita. Aku terlalu lancang bertanya pertanyaan seperti itu. Maaf." Sekarang dia mundur dan rupanya dia tahu juga meminta maaf.


Kami diam kemudian. Aku merasa mungkin terlalu ketus padanya. Ya mungkin tak apa menjadikannya pemandu besok, dia tahu tempat ini sama baiknya dengan penduduk lokal.


"Kalau kau mau ikut, ikut saja, kau yang lebih tahu tempat ini bukan." Sekarang dia langsung tersenyum lebar mendengar perkataanku.


"Tentu saja. Kau tak akan menyesal pergi bersamaku."