
Tak lama seseorang mendatangiku, kursi di depanku yang kosong. Hilanglah sudah ketenanganku.
"Hallo cantik boleh duduk?" Seorang pria, mungkin seumuran denganku, dengan wajah biasa saja jika kau membandingkannya dengan David, meminta izin duduk bersamaku. Aku jadi membandingkan seseorang dengan David yang sempurna itu sekarang, itu tidak akan adil.
"Aku menunggu teman, maaf..." Aku sedang tak mau diganggu. Langsung kutolak dia saat itu juga.
"Kau menunggu teman. Dari tadi kulihat kau sendiri." Tanpa izinku dia duduk didepanku. Rupanya semua orang kaya ini punya satu kesamaan. Sulit menerima kata tidak.
"Tuan, saya tak ingin diganggu."
"Kubelikan minum bagaimana, mau makan sesuatu, aku yang traktir."
"Aku membeli sendiri minumanku. Maaf sekali lagi."
"Nona sendirian itu tidak bagus. Aku Jack Truman, pemilik ...." Dia mulai bicara pamer. Pria-pria yang mengandalkan dompetnya untuk bicara. Dia pikir bisa mendapatkan kencan semalam dengan memamerkan dompetnya. Dia terus mengoceh dan aku tak perduli.
"Dia bilang dia tak ingin diganggu. Kenapa kau memaksa. Dia menungguku, kau boleh pergi." Dan satu lagi orang yang sama. Dia juga tak mengerti jika aku ingin sendiri.
Pria itu pergi. David berganti duduk di depanku.
"Kau bisa mengajakku."
"Aku hanya ingin duduk sendiri melihat pantai. Tak bicara pada siapapun. Tidakkah kau mengerti indahnya melamun sendiri."
"Aku tidak mengerti, bagiku itu namanya kesepian. Tidak seru." Aku tertawa dan meneruskan lamunanku, tidak memperdulikan dia ada di depanku.
"Carla,..."
"Hmm..." Menyesap minumanku dan tetap melihat arah pantai.
"Sepertinya Ibuku berupaya menjodohkanku denganmu." Dan aku sukses terbatuk-batuk mendengarnya. Dia meringis melihatku tersedak mimumanku sendiri.
"Kau memang gila. Aku selesai di sini. Cari Margie yang mengharapkanmu itu kenalkan ke Ibumu. Aku tak ikut masalah kau jadi playboy tua."
Dia cuma tersenyum mendengarnya. Aku tak memperdulikannya lagi, itu ide gila yang tidak masuk akal. Aku jelas tak akan menjebak diriku dalam cerita yang akan berakhir seperti Ibuku. Aku masih waras untuk mengenyahkan setitik pikiran apapun aku bisa terlibat dengan Iblis itu.
"Baiklah. Itu memang terdengar gila." Dia tak bicara lagi kemudian. Membiarkanku duduk tenang menikmati ombak di pantai sampai aku mengantuk, dan dia sibuk dengan ponselnya.
"Aku mau kembali. Sebentar kubayar dulu."
"Aku saja yang mengurus bonnya." Dia langsung berdiri membayar bon kami.
Kembali ke kamar aku tak tahu apa aku bisa tidur atau tidak, semoga bisa dengan adanya jaminan dia tak akan melakukan apapun yang membahayakan aku bisa tertidur.
Aku langsung masuk ke selimut dengan pakaian lengkap. Dia masuk ke kamar mandi dan berganti celana tidur dan t-shirt. Bayangan dia memelukku tadi lewat kembali.
"Kau tidur dengan sweater?"
"Hmm iya." Dia melihatku dan berpikir, lalu memberikan seringai lucunya padaku.
"Apa kau takut aku akan ke sana? Kau yakin kau bukan perawan?" Dia tertawa dan menghempaskan diri ke tempat tidurnya sendiri.
"Jika ada gosip seperti itu beredar aku akan memotong gajimu 2 tahun. Kau coba saja." Dia malah tertawa dan bertopang dagu memandangku.
"Kenapa kau kejam sekali tak memberi kesempatan apapun . Bagaimana kalau kau mencoba dulu satu ronde, sekaligus sebagai pembuktian kau bukan perawan."
"Kau boleh mencobanya dalam mimpimu." Dia malah tersenyum dan terkekeh. Entah mengapa aku yakin dia hanya senang menggodaku, dia tidak akan melakukan apapun.
"Aku akan memanggilmu dalam mimpiku, baru kali ini sekamar dengan seorang gadis tapi tak melakukan apapun. Ada yang salah kali ini..." Aku meringis padanya.
"Kau sedang tak punya kekasih, bukankah dengan mengajak makan malam saja kau punya kencan. Aku sudah bilang jika kau ingin kencan kau bisa duduk sendiri di sarapan besok pagi dan tak usah pergi bersamaku."