
Aku diam saja dalam perjalanan itu.
"Kau mau eskrim sayang. Kau tinggal di mobil saja akan kubelikan." Begitu dia menyebutkan eskrim aku membayangkan vanila dan strawberry yang kupikir sangat enak. Mualku langsung mereda memikirkan itu. Aku menyerah, aku mau eskrim yang ditawarkannya.
"Ehm, mau ... tapi harus memakai buah strawberry." Kusebutkan merk eskrim yang kumau. Aku merasa bodoh setelah mengatakannya. Aku masih belum berbaikan dengannya, sekarang mendengar kata eskrim dan buah strawberry aku menyerah dan menyuruh dia membelikannya.
"Aku berhenti ke supermarket itu sebentar. Mau roti atau apapun?"
"Tidak..." Dia tersenyum kecil padaku. Aku masih menahan muka kaku diantara permintaan konyol eskrim itu. Aku menatapnya yang tersenyum kecil padaku.
"Kita belum baikan tak usah terlalu senang dulu. Maafku tak semurah hanya eskrim." Dia tersenyum lebar sekarang.
"Iya aku tahu Penyihir. Kita masih marahan tentu saja. Aku pergi sebentar, akan kembali padamu secepatnya." Dengan itu dia keluar dan berjalan cepat ke dalam supermarket.
Bodoh! Aku memutuskan hubungan dengan playboy pengkhianat itu. Jika dipikir-pikir hari itu saat dia kembali dari perjalananan dari Puerto Rico itu, dia sengaja melakukannya di dalam.
Jika ini benar, aku hamil, dia akan menang mudah. Bahkan Nyonya Maria akan datang sendiri ke LA membujukku agar menerima pernikahan bagaimanapun caranya. Dengan belum datangnya tanda periode bulananku. Nampaknya 70% itulah yang terjadi.
Dia benar-benar kembali dengan cepat. Tapi yang dia bawa nampaknya banyak, aku hanya meminta eskrim dan strawberry. Apa yang dia bawa sampai begitu banyak.
"Apa yang kau beli. Kenapa begitu banyak."
"Ohh ini eskrim. Ini strawberry, beberapa set buah potong, berry dan salad. Kau lapar kau bisa makan ini jika tak nafsu makan." Dia sudah menduganya tanda-tandanya. Dia mengharapkan akan terjadi sesuatu padaku.
"Kenapa sebanyak itu."
"Ini tidak banyak, jenisnya saja yang banyak, aku tak tahu mana yang kau mau kubeli saja semuanya." Dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang sudah dia pisahkan. "Ini eskrim yang kecil, ini strawberry dan berry yang lain. Makanlah di perjalanan. Lalu lintas agak macet nampaknya di depan sana, aku takut kau kelaparan."
Aku menerima itu dalam diam. Nampaknya jika aku benar hamil, dia akan jadi calon Ayah yang paling perhatian.
"Thanks..."
"Tak usah berterima kasih. Kau masih marah padaku." Kutinju lengannya sekalian sambil meringis lucu. Dia membalas ringisanku dengan tertawa.
"Iya, aku masih marah padamu." Dia tersenyum padaku, nampaknya sangat bahagia saat melihatku membuka cup eskrim dan makan dengan lahap.
"Enak? Sepertinya enak sekali." Dia bertanya setelah aku menghabiskan cup eskrimku, tinggal cup buah yang tinggal setengahnya. Moodku langsung membaik, sakit kepalanya berkurang jauh.
"Hmm..."
"Besok jika kau tak enak badan jangan bekerja. Mungkin kita harus dokter dulu." Aku diam tak menjawabnya. Jika diingatkan kemungkinan aku hamil aku jadi tak gembira lagi.
"Tak ada apapun denganku, kau jangan terlalu berharap."
"Aku hanya berharap kau baik-baik saja. Entah ada apa yang terjadi di depan, atau ada tidak ada apapun di depan aku akan ada bersamamu." Dia menatapku.
Hatiku tersentuh. Tapi mengingat video itu aku membatalkan rasa kasihanku padanya. Aku melihat lagi ke pemandangan jalan sore yang padat di depanku.
"Kau memang merencanakan ini untuk mengikatku. Kau pikir itu adil setelah apa yang kau lakukan."
"Aku tahu aku salah, kau benar itu tak adil bagimu. Tapi aku tak mau kehilangan kau."
Aku mendengus, apa dia tak berpikir saat memberikan dirinya sendiri ke gadis-gadis itu. Tidak secepat itu permintaan maafnya kuterima.
"Carla, mungkin kita lebih baik memastikannya dulu. Bagaimana jika aku ke apotik membeli test pack." Ini memang harus dipastikan, jika ini benar terjadi aku harus meminta jaminan tinggi untuk anakku. Dia harus membayar mahal sudah melakukan ini.
"Fine, berhentilah ke apotik ada nanti di dekat rumahku."
"Iya, baiklah. Ini kemana jalannya? Rumahmu di mana." Aku memandunya ke arah Sherman Oaks, melewati apotik, sebeluk akhirnya sampai ke rumah town house dua tempat tidur itu kubeli beberapa tahun lalu.
Aku sangat menyukai rumahku ini. Mom juga kadang mengunjungiku di sini.
"Rumahmu bagus." Dia membuat komentarnya sebelum aku turun. "Aku bantu bawa buah-buahannya ke dalam oke."
"Iya." Sudah sampai sini, tak ada gunanya lagi melarangnya masuk kurasa.
"Aku pesankan makanan oke."
"Aku tidak ingin makan, nanti aku pesan sendiri. Kau bisa pergi."
"Aku boleh tinggal di sini?"
"Apa?" Permintaan yang tidak masuk akal bagaimana aku membiarkannya tinggal di sini.
"Aku ingin tahu hasil tesnya. Lagipula aku tinggal di hotel. Suasananya kadang membosankan." Dia tak perduli aku masih marah padanya.
"Tidak, kau tidak boleh tinggal di sini. Kau membuat moodku buruk."
"Sayang..."
"Aku mau istirahat.Jangan panggil aku sayang." Dia langsung diam.
"Kubelikan makanan oke. Baiklah aku tidak akan di sini. Tadi ada restoran italia di depan nampaknya enak. Aku akan beli beberapa menu bawa ke sini. Kau mandilah dulu, kuncimu kubawa dulu." Tanpa menunggu persetujuanku dia pergi. Aku menghela napas, seperti kubilang jika dia akan jadi calon ayah terbaik.
Aku mandi dan memakai piyama tidurku. Duduk di ruang tengah kemudian menunggunya. Hari yang aneh, tadi pagi aku masih bertekad untuk membuatnya kesal sore ini tiba-tiba keadaan langsung berubah.
Tak lama terdengar suara pintu. Aku sedang makan salad dan buah yang dibelikannya. Belakangan nafsu makanku memang menurun tapi baru hari ini aku muntah begini.
"Sayang, aku belikan pasta, salmon, steak, risotto dan lasagna. Ini bisa dipanaskan besok jika kau tak makan hari ini." Dia membeli semuanya jika bisa kukira.
"Iya terima kasih. Kau pulanglah." Aku perlu istirahat, dan jika bisa berpikir apa yang harus kulakukan. Dia duduk di depanku memperhatikanku.
"Aku ada bersamamu kau tak perlu memikirkan terlalu banyak." Aku menatapnya dengan pernyataannya yang diucapkannya itu.
"Bagaimana jika kau tak ada?" Janji tinggallah janji, manusia tidak bisa dipercaya sepenuhnya.
"Maka aku akan memberimu jaminan nanti. Untuk sekarang kau tak usah mengkhawatirkan apapun."
"Hmm..." Aku tak usah mengkhawatirkan apapun setidaknya untuk sekarang?
"Bolehkah aku tinggal di sini menjagamu."
"Aku masih marah padamu. Tak usah berpikir terlalu jauh. Kau sangat menikmatinya. Video itu masih terbayang di kepalaku."
"Iya aku tahu kau masih marah padaku, aku hanya akan menjagamu,... Tidak akan menyentuhmu sedikitpun. Perlakukan aku sebagai assistenmu. Aku akan menuruti apapun permintaanmu, mengerjakan membersihkan rumah, menyopirimu ke kantor, memasakkanmu makan malam, membawakanmu sarapan. Aku bersumpah tidak akan merayumu, ini permintaan maafku." Aku tersenyum sekarang. Dia sangat berusaha heh?
"Terima kasih sudah tersenyum untukku."
"Orang sepertimu mana tahu merawat rumah."
"Aku bersumpah aku bisa diandalkan."
"Kau terlalu hanyak bersumpah."
"Jika aku tidak membereskan pekerjaan rumah dengan benar, kau boleh memarahiku."
"Aku boleh memarahimu?"
"Iya, sebagai ganti aku membuatmu sedih selama ini. Aku akan menerima kau marahi." Kenapa dia semanis ini sekarang, dia berusaha dengan baik. Aku neringis memperhatikannya. Iblis ini kenapa berganti kubu jadi malaikat.
"Kumohon beri aku kesempatan menjagamu." Dia mengiba lagi.
"Kau assistenku di rumah ini."
"Iya, aku akan ingat itu, sekali aku marayumu kau boleh menyuruhku pergi. Itu perjanjiannya."
Aku tertawa, kesempatan membully iblis ini nampaknya tak boleh di lewatkan.