
POV Carla
Mom melihatku datang. Dia senang aku kembali ke LA, bagaimanapun jarak NY dan LA jauh, kami kadang menghabiskan waktu bersama, tapi jika aku bekerja di NY itu tak bisa dilakukan.
"Mom, ..." Aku suprise dia membuka pintu duluan tanpa aku memyentuh bel. Baguslah, aku membawa banyak makanan untuknya, sulit untuk membuka pintu sendiri.
"Sayang, Mom senang kau datang ke sini. Ayo masuk." Dia menyambutku di depan pintu. Tapi aku melihat ada mobil di luar apa Mom punya tamu. Turun dari taxi yang membawaku aku mengamati sebuah mobil hitam di halaman Mom.
"Mom? Kau sedang ada tamu."
"Iya, tamu istimewa."
"Siapa? Tamu istimewa?" Sayang sekali, padahal aku sedang ingin mengobrol berdua saja dengan Mom, ternyata dia ada tamu.
"Kau akan tahu, ayo masuk ke dalam. Sini Mom bantu kau bawakan makanannya." Mom mengambil plastik makanan di tanganku dan membawanya ke dalam.
"Carla sayaang..." Nyonya Maria menghambur memelukku. Aku tak menyangka melihatnya di sini. Kenapa dia bisa di sini? Miami dan NY itu jauh.
"Nyonya Maria? Kenapa kau di sini..."
"Aku di sini untuk memarahi David. Dan melihat kondisi cucu dan menantuku. Bagaimana keadaaanmu sayang, kau masih mual, kata David kau suka sekali salad buah asam. Aku sudah membelinya begitu sampai, kami juga menunggumu untuk makan malam."
Padahal berita itu baru kuketahui tadi pagi. Dia bisa langsung sampai sore ini ke rumah Mom.
"Nyonya sudah tahu?"
"Tentu saja aku sudah tahu, Ibumu juga kaget tapi kami berdua sangat gembira, mulai sekarang panggil aku Mom sayang. Kau punya dua Mom yang akan menjagamu mulai sekarang. Benar bukan Nyonya ..." Ibuku tersenyum padaku. "Ayo sayang kau harus duduk, kau masih mual?"
"Hari ini lebih baik, tapi masih terasa melelahkan."
"Tak apa awal-awal kehamilan memang begitu. Nanti setelah cukup bulannya tubuhmu sudah beradaptasi, maka akan lebih baik." Aku sedikit membaca tadi, yang Mom katakan benar.
"Ini, Mom belikan untukmu." Nyonya Maria yang berkeras aku harus memanggilnya Mom, memberiku salad buah yang sekarang entah kenapa rasanya enak sekali. "Apa ini enak sayang? Kau sedang tidak enak makan yang lain?"
"Entahlah, makanan asin rasanya tidak begitu enak, aku biasanya suka makanan Mexico, sekarang rasanya tidak enak, aku sebenarnya tak sadar selera makanku menurun karena aku hamil. Sekarang salad seperti ini sangat enak." Aku duduk dan memakannya, tadi aku juga membeli untuk diriku sendiri.
"Kau sama seperti Mom, saat hamil Mom suka makan salad buah seperti itu. Makan saja, nanti setelah bulan ke tiga atau empat bulan selera makanmu akan jauh lebih membaik."
"Nanti aku bilang pada David dia harus membelikannya untukmu." Nyonya Maria menimpali Mom.
"Nyonya... Maksudku Mom, apa kau baru sampai ke LA."
"Iya, aku baru sampai. Kau tahu aku tak tahu apa yang David lakukan hingga membuatmu marah. Anak itu benar-benar tak bisa diharapkan. Katakan padaku apa yang membuatmu marah... aku akan memarahinya balik."
Aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Semuanya membuatku tak nyaman. Dia memegang tanganku.
"Kau akan punya seorang bayi, kami akan punya seorang cucu. Aku akan mendukungmu, apa yang kau inginkan katakan pada Mom. Jika David membuatmu kesal, katakan pada Mom, dia memang perlu diberi pelajaran. Aku tahu ini mungkin tiba-tiba bagimu, tapi percayalah Ibu di sisimu mendukungmu. Aku sudah mengancamnya jika dia berani main wanita lagi, aku akan mencoretnya dari daftar warisanku dan kuberikan padamu dan cucuku. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, kadang aku merada dia memang perlu dihajar biar tahu rasa. Kau menghajarnya dengan baik, hanya denganmu dia bisa bertahan dan mengejarmu, tetap lakukan itu buat dia mendengarmu."
Aku mau tak mau tertawa mendengar Nyonya Maria mau menghajar David.
"Nyonya tidak begitu, sebenarnya saya hanya merasa ... semuanya seperti serba dipaksakan. Saya minta maaf..." Dia pasti tahu apa yang kubicarakan. Harusnya dia tahu.
"Ohh sayang, aku tahu... Aku rasa kau tak memaafkan David lagi, tapi kau merasa dipaksa bersamanya karena kau hamil anaknya. Tapi dia benar mencintaimu, baru kali ini dia berusaha begitu rupa untuk seorang wanita. Jika aku bisa membuatmu percaya, tapi aku hanya bisa memohon kesempatan lagi padamu untuk melihat sisi baik dari usahanya."
Aku diam, berusaha mencerna kata-kata itu. Kadang aku bisa memahami, ya tapi kadang tidak.
"Aku perlu waktu Mom. Mungkin tidak bisa secepat itu." Dia mengambil tanganku dan mengenggamnya.
"Apapun yang terjadi antara kau dan David. Aku mendukungmu. Kau bisa bicara padaku, meminta dukungan padaku. Kau Ibu cucuku, jika David adalah putraku, aku juga akan menganggapmu putriku, jika dia tidak benar, aku akan mendukungmu. Jika di masa depan dia mengkhianatimu lagi, aku akan ada di sisimu. Aku serius dengan ancamanku padanya, kau akan memperoleh dukunganku."
Jika aku tak mempunyai suami yang baik ke depan setidaknya anakku punya nenek terbaik yang tidak akan membiarkannya kesulitan seperti kami dulu.
"Nyonya selalu baik saya sejak kita pertama bertemu, saya sudah berhutang banyak untuk itu."
"Percayalah, tidak ada hutang antara keluarga. Kita keluarga sekarang. Anak dalam kandunganmu adalah penghubungnya. Jangan khawatirkan apapun lagi sekarang, kau mau tetap bekerja Nenek berdua ini akan mendukungmu. Benar bukan Nyonya?"
"Tentu saja, Nenek ada untuk merawat cucunya." Ibuku tersenyum pada Nyonya Maria.
"Aku belum punya kesempatan merawat bayiku sendiri. Ini seperti keajaiban yang aku harapkan. Aku berjanji akan jadi nenek terbaik untuk cucuku."
"Terima kasih Nyonya. Saya sangat berterima kasih."
"Apa David tahu Mom di sini?"
"Dia tahu, dia tadi pagi meminta bantuanku karena kau marah-marah padanya. Dia sedikit terdengar ... putus asa. Kau boleh membullynya lagi, biar dia tahu rasa. Bilang saja itu keinginan bayi." Aku sekarang tertawa.
Kami melewatkan makan malam bersama, nenek-nenek anakku meyakinkanku untuk percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Seperti yang pepatah bilang, kesulitan satu hari adalah untuk satu hari. Lakukan saja yang terbaik untuk sekarang. Kisah Mom yang lalu adalah takdir yang harus Ibu jalani, kisahmu punya kisahnya sendiri. Tak mungkin sama dengan kami. Tapi yang pasti kau sudah punya jaminan dari nenek berdua ini, kami akan ada untukmu. Nikmati saja kehamilanmu, jangan khawatirkan masa depan. Turun naik kehidupan itu biasa, yang terpenting bagaimana kita berusaha naik setiap jatuh bukan."
"Sangat setuju. Selalu ada masalah di masa depan sayang. Kesulitan hari ini cukuplah untuk hari ini."
Mom mengambil tanganku, kata-katanya membuatku lebih tenang. Bicara dengan dua wanita yang sudah melewati setengah abadnya memang tak diragukan bisa membuatmu mempunyai pandangan yang lebih lapang.
Di akhir makan malam nampaknya David datang. Aku mendengar suara bel itu pasti dia datang menjemput.
"Kau jangan terlalu lembek padanya. Dia perlu merasakan pembalasan, kalau tidak dia tidak tahu sakit hatimu. Kau sudah bagus marah-marah padanya." Pesan Nyonya Maria membuatku meringis lebar, Ibunya sendiri memberi izin padaku untuk membalasnya.
David yang baru pertama kali melihat Ibu mengenalkan dirinya sendiri di bantu Ibunya.
"Ini anakku, David Montgomery. Dia boleh kau marahi Sarah, aku kadang sudah merasa tak mempan menasehatinya." Ibuku tersenyum pada Nyonya Maria dan melihat ke David.
"Anak pria, mereka kadang punya pikirannya sendiri Maria."
"Maaf saya membuat banyak kesulitan untuk Carla Bibi. Tapi saja berjanji akan menjaganya. Sekarang dia mengandung anak kami. Satu hal yang adalah keajaiban bagiku." Ibu tersenyum mendengar janjinya.
"Kalau begitu Bibi tidak kuatir lagi. Kau sudah makan David."
"Tadi sudah Bibi, aku tadinya mau datang lebih awal tapi Mom menyuruhku datang agak malam. Katanya lebih baik dia yang bicara pada Carla."
"Kami orang tua tak mencampuri urusan kalian, tapi aku harap kau bisa menjaganya seperti janjimu kepadanya. Dia sedang hamil anakmu, pastikan dia tidak bekerja terlalu lelah. Ibu hamil butuh banyak waktu istirahat..."
"Mengerti Bibi, aku akan memastikan dia pulang tepat waktu dan mengambil cuti lebih banyak."
"Sayang nanti kami akan mengunjungi kalian. Kalian berdua baik-baiklah. David, perempuan hamil agak tidak stabil emosinya. Itu normal, jangan terlalu mengambil hati jika Carla agak moody."
"Iya, aku tahu Bibi."
Yang aku senang adalah baik Ibu David dan Ibuku tidak mendesak kami untuk segera membereskan acara pernikahan, bahkan mereka tidak menyebutkannya. Nampaknya kedua Ibu itu sudah bicara banyak sebelum aku datang. Mungkin mereka mengerti ada banyak hal yang harus dibereskan diantara kami. Dan mereka menyerahkan waktu terbaik kepada kami.
"Ibu akan tinggal di LA David. Jika kalian ingin bantuan, teleponlah kami. Carla sudah jadi putriku sekarang, baik kau dan dia tak ada bedanya. Jadi kau jangan main-main. Sekali lagi video memalukan itu terjadi lagi, kau akan tahu apa yang bisa Ibu lakukan ."
David meringis mendengar Ibunya mengancamnya.
"Iya Mom aku tahu."
"Bagus jika kau tahu. Jaga keluargamu dengan benar, pulanglah sana. Carla perlu istirahat."
"Iya baiklah. Mom sudah mendapat hotel?"
"Mom tinggal di sini. Ibu Carla mengundang Mom tinggal bersama. Masih banyak yang kami bisa obrolkan."
"Ohh baiklah. Kalau begitu aku dan Carla akan kembali dulu." Kami pulang berdua, rasanya seperti suami yang menjemput istrinya dari rumah Ibunya setelah bertengkar.
"Jadi kau langsung memanggil bantuan." Aku menyindirnya saat kami berdua sudah berdua saja di mobil.
"Kau marah padaku tadi pagi, aku hanya ingin mengatakan pada orang-orang kau kekasihku. Aku tak tahu kenapa kau marah."
"Karena aku tak suka dipaksa, dan tak bisa memegang kendali atas hidupku sendiri. Kau tidak mengerti rasanya, apa yang harus kuhadapi, kau mengharapkannya, tapi aku tidak, kurasa moodku benar-benar kacau belakangan ini. Sebentar kupikir aku bisa berpegang padamu, sebentar aku ingat lagi video itu, aku berpikir kejadian yang menimpa Ibuku. Kau tahu rasanya campur aduk, Mom bilang rasanya memang seperti itu. Entahlah... "
"Tak apa, kau memang berhak marah. Asal kau tak pergi itu sudah cukup." Kata-katanya membuatku melihatnya. Iblis ini benar-benar menerima kumarahi demi anaknya.
Dia hertahan demi anaknya.
"Aku ada di sampingmu, kau begini karena aku. Kau boleh marah-marah padaku. Tak apa." Dia tersenyum dan menepuk tanganku. "Kita pulang oke. Kau harus istirahat."
Kali ini aku merasa dia akan jadi Ayah terbaik.
🦋🦋🦋🦋🦋
Mak baru akan crazy up tanggal 27 hari kamis jam 00 ya . Jangan nanya kapan up