The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 56. Stay Together 2



"Kau benar. Jika kau serius memberitahuku, harusnya kau memberi tahu dengan lengkap. Carla, aku punya janji dengan Andrew, dia mau membeli dompet antikku, aku harus bertemu dengannya. Itu contohnya, jika kau keberatan memberi tahuku dengan siapa kau terlibat, siapa yang akan kau temui, siapa temanmu, kemana kau pergi, jangan bicara kau akan menikah denganku. Kau harus tahu aku punya nol persen kepercayaan padamu sekarang. Apa aku tak boleh tahu kau kemana dan bersama siapa?"


Dia diam mendengar pernyataanku sekarang.


Selama masa pacaran singkat dengannya. Aku tahu di balik sifat royal, romantis dan humorisnya, dia tidak terbiasa mengatakan sesuatu secara terlalu terbuka. Dia mengganti ketertutupannya dengan tindakan loyal dan manis. Dia hanya menceritakan hal aman, hal yang terlihat menyenangkan di permukaan, tapi dibelakang itu seperti kau tidak tahu sebenarnya siapa dia.


Tadinya aku berpikir sejalan waktu aku akan tahu tapi sekarang setelah aku dikhianati dan dipaksa harus menerima kenyataan harus mencoba mempercayainya lagi aku menetapkan aturan di depan.


"Apa tidak boleh?" Aku mengejarnya untuk sebuah jawaban.


"Boleh tentu saja, aku hanya bertemu Xavier dia ada di LA sekarang. Bukan untuk hal-hal yang harus kau khawatirkan."


"Kau bicara Xavier pengacara perusahaan kita di NY bukan?"


"Dia ada kasus di LA?"


"Kurasa begitu."


"Oh."


Aku ingin memulai pembicaraan soal aku boleh melihat ponselnya, bahkan melihat rekeningnya, portofolio keuangannya, tapi aku sadar itu pembicaraan berat untuk sementara ini. Kami baru dekat lagi dan akan seperti aku terlalu banyak menuntut padahal kami belum menikah.


Bahkan mungkin kami harus dalam kondisi senang. Kami sudah bertengkar tadi, jika dilanjutkan akan sulit. Sepertinya aku ingin menginvasi seluruh hidupnya, tapi aku juga tak suka. Tapi jika dia ingin kami menikah dia harus terbuka soal ini. Jika memang dia berkomitmen dan tidak ingin mencurangiku harusnya dia setuju.


"Apa kau punya teman di LA? Keluarga?"


"Tidak kurasa. Ada sepupu yang di sini, tapi aku tak dekat. Hanya kolega di kantor. Christian, dan management yang lain seperti Rudolf yang bisa dikatakan cukup dekat sekarang. Tapi aku belum lama di sini, akan kutemukan lebih banyak teman nanti."


"Keluargaku banyak di LA. Terutama keluarga Mom. Nanti kukenalkan." Kami akan saling mengenalkan lingkaran keluarga dan teman kami. Kuharap dia punya teman-teman lurus seperti Xavier. Sayang sekali Xavier sekarang di NY.


Mungkin kapan-kapan aku harus bicara dengan Xavier.


"Jika sudah punya bayi dan keluarga, tak usah terlalu sering mengikuti acara yang tidak ada manfaatnya. Anakmu lebih membutuhkanmu di rumah." Aku memperingatkannya. Dia tersenyum kali ini.


"Akan kuingat itu."


Entahlah, mengingat dan melakukan sesuatu adalah hal yang berbeda, kuharap dia ingat dia sudah berjanji akan memperhatikan itu.


"Ngomong-ngomong soal membutuhkanku di rumah. Apa Ibu dari anakku membutuhkanku." Semalam tak berhasil merayuku dia mencobanya pagi ini. Aku tak punya energi dan cukup keinginan untuk melakukan kemesraan apapun saat ini. Salad buah dan kue coklat didepanku ini lebih enak dari dia saat ini.


"Tidak, aku sedang tidak mood bermesraan. Apa kau mood bermesraan jika perutmu sedang mual dan badanmu seperti demam. Kau lupa kau yang bilang sendiri di sini sebagai assistenku, merayuku tidak diperbolehkan."


"Baiklah-baiklah, aku hanya takut kau masih marah padaku."


Aku diam, dua hari tinggal bersamanya dalam satu rumah setelah sekian lama. Aku tak pernah mengharapkan ini. Tapi inilah kenyataannya, Mom bilang nikmati saja kehamilan ini, jangan memikirkan terlalu banyak. Mereka ada untukku, Ayah anakku ada untukku.


Dua hari lalu aku masih sakit hati padanya, sekarang setelah tahu aku hamil rasanya tawar. Tidak begitu sakit hati seperti sebelumnya tapi tidak juga merasa terlalu berbunga-bunga karena dia melakukan hal-hal manis.


Kenapa? Apa ini rasanya jika kau sudah dalam ikatan yang pasti. Atau karena aku setengahnya merasa terpaksa ke sini. Atau ini hanya moodswingku. Aku pindah duduk dari meja makan di depannya ke sofa. Duduk sendiri dengan teh hangat yang kuseduh dan piring yang berisi kue coklat dan strawberry.


"Sayang, kau baik-baik saja? Apa kau sedang kesal padaku?" David datang dan duduk di sampingku. Mungkin baru kali ini dia merasakan orang tak begitu perduli padanya.


"Tidak, biasa saja." Aku menjawabnya pendek.


"Apa kau tidak suka aku ada di sini."


"Tidak juga. Biasa saja."


Dia diam sekarang. Mungkin merasa serba salah padaku. Menyiksanya seperti ini menyenangkan juga. Iblis ini terbiasa mendapatkan perhatian dari gadis-gadis saat ini aku tak memperdulikannya.


"Kau mau jalan-jalan?"


"Tidak."


"Tidak."


"Kau memang sedang marah padaku. Apa aku tak boleh pergi menemui Xavier?" Aku ingin tertawa sekarang.


"Kapan aku bilang kau tak boleh pergi. Aku tidak marah padamu."


Dia diam lagi. Melihatnya kebingungan seperti ini ternyata menyenangkan juga. Aku meliriknya sedikit di saat aku membuka ponselku untuk mengecek jika ada email penting. Ada beberapa email yang harus kujawab, aku mulai serius, mengambil laptop, duduk kembali ke sofa dan membuka laptop mulai bekerja. Tanggung jawab level Direktur tentu saja membutuhkanmu bekerja walaupun itu hari libur. Aku melakukan itu sambil makan sedikit-sedikit. Mom bilang jangan makan porsi besar, makanlah porsi kecil tapi sering, itu akan membuatmu tidak memuntahkan banyak makanan.


"Carla..." Dia sekarang duduk di depanku lagi.


"Hmm..."


"Kau ingin aku menuntut para wanita yang mengirimu video pelanggaran privasi?" Apa dia pikir aku marah padanya karena aku masih memikirkan video itu.


"Kau tak sadar itu kasus yang sangat memalukan jika sampai ke polisi." Aku meringis padanya. Sebenarnya aku tak terlalu perduli pada wanita-wanita itu. Yang jadi masalah adalah dia. Bukan orang lain.


"Kau tak marah padaku karena aku tidak mengambil tindakan kepada mereka?"


"Aku marah padamu, bukan mereka."


Aku bicara dengan tidak melihatnya. Baru dua hari dia menjadi assisten tersayangku. Tak ada bermesraan sampai aku puas menyiksanya. Lagipula dia mengkhawatirkan anaknya.


"Ngomong-ngomong siapa saja mereka. Berikan padaku nama mereka." Aku sebenarnya tidak tahu siapa saja mereka karena mukanya di blur.


"Kau Ibu anak-anakku mereka tidak berarti berarti apa-apa. Saat itu ketegangan perlu dilepaskan." Nampaknya aku perlu berhati-hati di masa depan soal lima orang ini.


"Namanya."


"Kau akan tambah marah padaku?"


"Tidak, aku hanya ingin tahu siapa saja mereka."


Akhirnya menyebutkan namanya. Lima orang itu, aku mencatat dan mendapatkan istagram mereka. Aku melihat gadis-gadis yang katanya bahkan punya aku on*lyfan*s ini. Luar biasa punya tubuh sempurna seperti ini pasti perlu usaha extra.


"Cantik-cantik. Semuanya bertubuh sempurna."


"Carla wanita seperti itu banyak. Tapi aku memilihmu. Kau yang sempurna bagiku. Kau tak perlu seperti mereka, aku sudah jadi milikmu. Jika tidak aku tak akan berusaha membuatmu mengandung anakku." Haruskah aku tersanjung mendengar semua itu.


"Iblis perayu."


"Hanya kau yang pernah kurayu seperti ini Penyihir."


"Beberapa bulan lalu jika kau merayuku aku akan memotong gajimu."


"Bukankah kau sudah memotong gajiku permanen sekarang." Dia bertopang dagu melihatku.


Kali ini aku tersenyum. Aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini berbulan-bulan yang lalu. Jelas playboy ini bukan tipeku, aku akan menjauhinya sejauh-jauhnya.


Sekarang dia menaruh laptopku ke samping dengan cepat, "Hei! Aku mau bekerja." Protesku tak dihiraukannya." Dia memeluk pingangku, menghadapkan wajahku padanya dan menciumku dengan cepat dan memaksa.


"Kumohon sudahi marahmu, aku merindukan senyummu seperti yang dulu. Jangan marah-marah padaku, nanti anak kita tidak tumbuh dengan bahagia." Ketika dia melepasku dia membuat permohonan. Ayah anakku ini rupanya tidak bertahan lama dengan ide tidak merayuku. Pelukan ini menyenangkan, aku mulai ingat rasanya berada di pelukannya.


Aku menatapnya sambil tersenyum. Belum mau memberi maaf sepenuhnya, seperti kata Ibunya. Biarkan dia tersiksa dulu.


"Jadilah assisten yang baik mungkin marahku cepat selesai. Seperti kataku kau tidak diperbolehkan merayuku. Aku harus bekerja dulu."


Aku melepaskan tangannya dari pinggangku dan meminggalkannya ke kamar.