
"Tidak, aku ikut bersamamu saja."
"Kenapa kau tidak berjalan bersama Margie?" Aku tertarik mendengar cerita sebelum tidur.
"Aku dan dia cuma teman, aku baik dengan temanku, tapi bukan berarti dia bisa punya status dari hubungan kami, sudah kukatakan padanya dari awal tapi dia tidak mengerti." Teman baik? Omong kosong apa itu.
"Kau yang tidak mengerti, kau baik padanya, jelas dia akan punya perasaan denganmu. Wanita itu semua sama, teman tapi tidur denganmu, mana mungkin dia tidak punya perasaan denganmu." Dia diam saja waktu aku berkata begitu. Dia berbaring matanya menghadap langit-langit kamar, sambil tangannya terangkat menyangga kepalanya. "Apa sulit bagimu menerima komitmen, satu wanita itu apa membosankan?" Aku mencoba masuk
"Bukan masalah komitmen..."
"Lalu?"
"Aku sulit mempercayai wanita."
"Sulit mempercayai wanita?" Aku tertarik mendengarkan lebih lanjut cerita ini. "Kenapa? Kau pernah dikhianati oleh wanita yang kau cintai."
Dia tidak menjawab, mungkin dia tidak mau menceritakannya. Jadi aku mengambil kesimpulan sendiri, dia pernah dikhianati oleh cinta sejatinya. Aku melanjutkan kata-kataku.
"Nasehatmu sendiri berlalu untukmu, tak semua wanita sama. Jika seorang meninggalkanmu berarti dia bukan untukmu, masih ada 3 milliaran wanita di dunia ini. Jangan menyamakan setiap orang." Ternyata perasaan Iblis ini sensitif juga, hanya karena satu orang wanita dia membenci semua wanita. Menggelikan sekali. Apa istimewanya wanita itu hingga dia masih mengingatnya sampai sekarang.
"Ibuku yang meninggalkanku, dia pergi untuk menikah dengan lelaki yang lebih kaya. Aku dititipkan Ayah ke Nenek, lalu diadopsi oleh Paman Juan dan Bibi Maria, orang yang kuanggap sebagai orang tuaku sekarang. Setiap aku melihat seorang gadis mendekatiku, tertarik dan tahu dengan kenyataan bahwa aku adalah pewaris jaringan Charleston Hotel, aku ingat Ibuku yang pergi menikahi seorang pengusaha yang lebih kaya dari Ayahku. Aku kehilangan kepercayaan pada mereka..."
Ternyata ini cerita kenapa dia membenci wanita.
"Memangnya dia tak pernah mencarimu setelah dia menikah dengan pria lain." Ini agak aneh, apa benar Ibunya pergi begitu saja.
"Dia mencariku, mungkin empat tahun kemudian, aku tak tahu, saat itu ayahku membawaku pergi ke rumah nenek di Spanyol, tapi aku saat itu sudah diadopsi oleh Ayahku sekarang. Dan kebanyakan aku tinggal di Italia, sangat lama aku kehilangan kontak dengannya."
Aku memandang ceritanya dari sudut lain. Dari sudut pandang Ibunya, mungkin dia juga sangat menderita ketika anaknya berpisah darinya. Dan juga kenapa dia ingin berpisah dari suaminya jika tak ada masalah.
"Tidak. Sudah bertahun-tahun... puluhan tahun."
"Hidupmu benar-benar menderita. Kau membenci Ibumu sendiri puluhan tahun. Padahal jika kau mendengarkannya, mungkin dia melalukan itu juga untukmu. Mungkin yang bersalah itu Ayahmu juga, dia tak bisa membuat Ibumu bahagia ... Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi. Itu hanya sudut pandangku sebagai seorang anak yang melihat Ibuku menderita karena Ayahku tapi tetap bertahan. Aku yang mendorongnya pergi. Apakah Ibumu salah kalau dia pergi karena tidak bahagia. Kau perlu memikirkan itu juga, jangan menjadi egois dengan pemahamanmu sendiri."
Dia terdiam menatapku. Apa yang kukatakan adalah kebenaran. Sampai kapan dia membenci Ibunya. Kurasa tak ada Ibu yang tidak memikirkan anaknya, kecuali dia psychopath.
"Kenapa? Menurutmu aku salah mengatakan ini padamu?" Aku bertanya padanya.
"Sejujurnya aku tak pernah memikirkan apa yang kau katakan. Semua keluargaku menyalahkan Ibuku. Dan selama hidupku aku juga menyalahkannya." Bisa dimengerti, tapi seharusnya dia mencoba bicara. Setidaknya dia punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dan mungkin Ibunya punya alasan yang tidak dia ungkapkan sepert kubilang.
"Setelah ini bicaralah dengannya, kau mungkin akan lega jika bisa berbagi dan mengatakan perasaanmu padanya." Dia tersenyum kecil menatapku.
"Terima kasih." Sebuah perkataan yang tampaknya tulus. Aku tersenyum padanya.
Setelah dia berterima kasih padaku, aku yakin malam ini aku akan aman. Dia mungkin banyak yang ingin dia renungkan malam ini. Aku akan coba memejamkan mata malam ini.
"Aku ingin tidur. Selamat malam David."
"Selamat tidur, mimpikan aku."
"Dalam mimpiku aku akan menendangmu ke jurang." Dia tertawa.
"Dasar penyihir. Aku akan membawamu bersamaku. Sehidup semati itu terdengar seperti cerita yang bagus."
"Dasar Iblis. Tak ada yang mau sehidup semati denganmu."
Dia tertawa mendengarku tak bisa membalikkan kata-katanya lagi. Aku membalikkan badan memunggunginya, mencoba untuk memejamkan mata. Sepertinya Iblis di sampingku sudah jinak. Aku bisa tidur dengan nyenyak.
Dan kali ini aku dengan cepat jatuh ke alam mimpi.