The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 57. Xavier Thought



POV Author


David duduk bersama dengan Xavier di kamar hotelnya. Xavier memegang komputernya mengetikkan apa yang menjadi tugasnya di sini, membacakannya di depan David yang kadang mengoreksi jika dia pikir bukan itu maksudnya sampai akhirnya selesai.


"Aku akan bertamu ke rumahmu besok jam satu siang, pastikan dia tahu aku akan datang." Xavier yang akan bicara sendiri ke Carla soal perjanjian pra nikah ini.



"Aku akan memberitahunya."


"Jadi dia masih marah padamu?" Xavier menyelesaikan mengetik sambil sedikit mengobrol dengan David.


"Dia tidak mau kusentuh. Dia hari ini bicara biasa saja, tapi sepertinya dia tidak mempercayai semua kata-kataku. Bahkan kemungkinan dia percaya aku akan berakhir meninggalkannya seperti yang Ayahnya lakukan. Dia bahkan mengatakan padaku bahwa dia tak akan pernah meninggalkan anaknya seumur hidupnya walau aku pergi. Lebih parah lagi dia bertanya ke mana aku pergi seperti aku seorang tersangka."


Xavier tertawa mendengarnya. Wanita mana yang akan percaya lagi setelah di perlakukan sedemikian rupa. David tak mengerti sudut pandang orang lain.


"Kurasa pembicaraan dengan Carla akan alot. Dia tidak menerima hanya ini mentah-mentah."


"Apa maksudmu? Aku menyerahkan 50% jaminan ke anak dan istriku. Apa itu tidak cukup dikatakan sebagai niat baik yang sangat murah hati."


"Kau pikir dia bodoh, bagaimana dia tahu kau sudah menyerahkan 50%. Dia akan meminta kesepakatan seperti dia tahu semua rincian portofolio, password ponselmu harus dia tahu."


"Sejauh itu?"


"Kalau dua itu pasti. Aku tak tahu yang lain. Kau tak sadar dia tak percaya padamu."


David diam sekarang. Xavier melihat ekspresinya, mungkin seumur hidupnya dia belum pernah dipaksa membuka semua data pribadi dan finansialnya ke orang lain.


"David, sebenarnya jika dia ingin tahu itu normal. Aku dan Allison tahu detail portofolio masing-masing. Password ponsel kami masing-masing, sampai password rekening. Tak ada yang ditutup dari istrimu sendiri. Apa kau ingin punya rahasia dari Carla? Ini hal yang serius, mempermudah kerjaku nanti, jika kau ingin begitu aku akan mengaturnya. Aku pengacaramu, juga sahabatmu. Katakan yang sebenarnya?"


"Aku tidak bermaksud begitu. Hanya aku belum terbiasa orang lain tahu semua kartuku."



"Kau memberitahu semuanya ke istrimu? Semuanya?"


"Iya, pernikahan itu bagiku adalah komitmen seumur hidup, tapi aku tak tahu bagimu. Tidak ada kamus berpisah di hidupku. Jadi buat apa aku menutupi apapun, ditambah sebenarnya Allison lebih punya banyak aset daripada aku." Xavier tertawa. " Tapi kau adalah kau, mungkin kau punya pemikiran yang lain. Dan kau belum percaya sepenuhnya ke Carla. Sebagai pengacaramu aku akan memberi cara untukmu."


"Tidak, aku percaya ke Carla, juga tidak ingin mencurangi apapun. Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan orang tua tak lengkap sepertiku. Dan lagi sebenarnya tidak punya seseorang yang dipercaya itu tidak enak. Baiklah, aku akan bersikap terbuka seperti saranmu untuk mendapatkan kepercayaannya."


"Itu akan lebih bagus. Kau bahkan belum melamarnya. Nanti bicaralah sendiri padanya. Terutama akses ke ponselmu. Bilanglah padanya jika ada wanita yang masih menghubungimu karena dosa masa lalu, dia boleh membalasnya. Plus kelakuanmu jangan sok baik ke wanita selain istrimu sendiri. Jika dia menemukan kau membalas dengan mesra, kau habis!" Xavier benar-benar memperingatkan David.


"Mungkin dia akan membawa anakmu pergi sehingga kau tak pernah bertemu anakmu lagi. Dari ceritamu kau harusnya tahu Carla jika sudah benci padamu dia tak segan-segan membalasmu. Dia jelas bukan tipe akan mempertahankan pernikahan kalian jika kau melanggar garisnya. Dengan kau menandatangani perjanjian pranikah ini, kau akan benar kehilangan 50%nya."


"Iya aku tahu." David mengingat pembicaraannya tadi pagi dengan Carla. "Kau tahu aku bertanya apa dia ingin aku menuntut para wanita itu. Ternyata dia memikirkan bahwa itu memalukan untukku."


"Itu memang memalukan apalagi dengan wajahmu yang jelas-jelas menikmatinya. Sudah kubilang jika tak ada bayi itu kemungkinan Carla menerimamu lagi sangat kecil. Kau sudah memutuskan kontrak mereka bukan?"


"Jelas sudah."


"Bagus, ya sudah kembalilah ke rumah, bukannya Ibumu sedang di rumahnya. Bilang padanya aku akan mengunjunginya di rumah."


"Iya."


"Beberapa bulan lalu di NY, kalian masih saling bertengkar. Hari ini tiba-tiba kau akan punya anak darinya."


"Hmm.. aku sendiri tak punya perasaan akan terjadi seperti itu."


"Rupanya kau kena mantra penyihir." Xavier tertawa dengan takdir temannya itu.