
Aku ke restoran tempat sarapan. Sarapan pagi di tempat seindah ini memang sesuatu yang menyenangkan.
Tak lama setelah aku sampai, David duduk di sampingku dengan makanan dan kopi di tangannya. Beberapa mata mengikuti mahluk mengagumkan ini, berharap mereka mendapatkan kesempatan untuk mrnyapanya.
"Pemandangan pagi yang luar biasa." Aku sudah menghapus apa yang kulihat tadi pagi dan bersikap tak ada yang terjadi. Itu hanya hiburan bangun tidur yang tak pernah disangka-sangka. Dan pembahasan untuk itu terlalu menyebalkan dan membuatnya merasa diatas angin.
"Di sini memang luar biasa seperti yang kubilang. Kembalilah ke sini nanti dengan keluargamu." Dia menangapiku dengan cepat.
"Ini faselitas mahal, limit kartu Directorku akan terpakai terlalu banyak. Terlalu sayang untuk menghabiskannya sendiri."
"Ohh kebanyakan kau menggunakannya bersama keluarga."
"Iya kebanyakan begìtu. Kami jarang berkumpul dengan Mom karena pekerjaan, jadi minimal sekali dalam satu tahun kami berkumpul di sebuah lokasi yang kupilih, aku membayarnya dengan kartu ini."
"Saat liburan bersama keluarga memang harus diadakan."
"Kau tidak pernah liburan bersama dengan Ayah dan Ibumu."
"Tidak, lagipula mereka terbiasa menjelajah berdua, aku bertemu mereka di Miami untuk Thanksgivings dan Natal. Berbeda dengan Ibumu yang hanya punya kalian." Dia pria dewasa, akan terlihat aneh jika dia mengekori orang tuanya, berbeda dengan kami. Anak Mom tiga orangnya adalah wanita.
"Ya, kau benar. Ibuku hanya punya kami." Dia bertanya sedikit dengan siapa Ibuku tinggal sekarang. Sebelum seseorang datang dan mengalihkan pembicaraan kami.
"David Montgomery.. Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini." Seorang gadis dengan rambut blonde dan bibir filler, kulit tan sehabis berjemur, wajah-wajah yang sepertinya milik model istagram kaya, dengan body gitar spanyol yang sempurna. Tipe favorit iblis ini kukira.
"Claudia, kau di sini." Dia memang mengenalnya dengan cepat.
"Ah iya aku bersama teman di sini." Teman? Kurasa dia sugar baby mahal. Liburannya saja ke sini, tapi tetap pesona Iblis ini mengalahkan sugar baby manapun. Wanita ini bahkan mencoba keberuntungan dengan menyapanya.
"Temanmu?" Dia melihat padaku, yang sedikut tersenyum padanya. "Hi, Claudia. Senang bertemu denganmu." Dia membalas senyumku dengan jabat tangan, gadis yang ramah.
"Kolega kerja, bukan teman." Dia langsung meralat. Jika teman itu artinya aku tidur dengannya, kata teman bagi orang-orang di dunia ini punya arti yang berbeda.
"Ohh baiklah. Kau sudah menikah? Masih di NY?" Nampaknya ini salah satu gadis yang dipatahkan hatinya oleh iblis ini. Teman adalah status abadi yang tidak bisa dirubah.
"Iya aku masih di NY. Belum."
"Boleh kita makan malam kapan-kapan."
"Tentu, jika nanti aku ada waktu aku akan meneleponmu." Itu berarti tidak ada waktu, aku sibuk dengan yang lain.
"Baiklah, telepon aku oke. Aku hanya ingin menyapamu. Aku harus bergabung ke temanku dulu." Nampaknya gadis itu tahu itu hanya janji palsu. Dan dia lebih baik menjaga apa yang dia punya di tangannya daripada mengharapkan Iblis ini.
Tak lama dia pergi dari meja kami sambil melambai tangan.
"Gadis yang cantik." Aku tersenyum pada Iblis yang sering mematahkan hati wanita itu.
"Dia hanya teman."
"Seperti Margie..." Aku terkekeh. "Aku penasaran, kau punya orang yang kau akui kekasih?"
"Sudah lama tidak." Dia mengakuinya. Dia hanya mengambil teman tapi jelas tidak kekasih. Ada yang salah pastinya dengan iblis ini.
"Hmmm...." Aku cuma mengangguk. Tak ingin tahu lebih jauh. Gadis-gadis seperti Margie yang mengharapkannya, kasihan sekali mereka. Harusnya mereka tak perlu menyerahkan hati plus pekerjaan kita seperti Margie yang patah hati sampai harus keluar.
"Kapan terakhir kau punya kekasih?" Dia malah bertanya padaku. Aku berpikir sebentar.
"Tujuh tahun yang lalu."
"Kau tidak kesepian."
"Kadang aku iri pada pasangan-pasangan itu. Tapi aku merasa lebih baik sendiri, hidupku damai, masalah yang harus aku urus adalah pekerjaanku dan keluargaku. Tidak usah memikirkan pihak lain. Lagipula aku tak menikmati status pacaran."
"Kau tak menikmati, maksudmu apa? Kau tak perlu pria? Atau kau tak suka apa? Apa kau tak punya kebutuhan? Menikmati yang bagaimana maksudmu... Kau tak menikmati saat berdua saja." Aku melotot padanya karena mengajukan pertanyaan itu di meja makan.
"Ohh jadi kau perlu suasana yang tepat membicarakannya. Aku mengerti." Dia menyeringai lebar dan aku mulai naik darah dengan wajah tengilnya.
"Apa yang kau mengerti?"
"Menciptakan suasana yang tepat. Aku ahlinya, kau hanya harus percaya padaku."
"Kau sangat perlu tahu aku tak berminat jadi temanmu. Dan itu tak akan pernah terjadi." Aku harus menghapus berbagai ide yang dia miliki tentang status yang akan punya prospek berkembang lebih baik dalam 48 jam yang akan datang.
"Jadi temanku itu enak, kau tak mau mencobanya, kau akan menikmatinya, percayalah padaku."
"Tak berminat. Bisakah kita ganti topik." Dia terkekeh.
"Baik-baik, ini memang bukan saat yang tepat seperti katamu. Mari membicarakan cuaca saja."
Dia dengan cepat menganti pembicaraan. Aku tak akan jatuh ke perangkap teman Iblis ini harus ada yang mengatakan tidak padanya, dia tidak bisa selalu menjadi pemenang.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pernikahan yang dipenuhi bunga putih dan peach. Terlihat indah, wanita di satu saat dalam hidupnya pasti pernah memimpikan ini, sampai satu saat dia sadar hal yang terlihat indah ini punya banyak kerumitan.
"Kau terlihat cantik." Sebuah perkataan membuatku menolehkan kepalaku. David tersenyum padaku. Kali ini aku makai gaun peach lengan pendek dengan garis desain elegan.
"Jangan menghabiskan waktu memujiku, kau tidak akan mendapatkan apapun. Kau sedang menciptakan saat yang tepat bukan." Aku meringis padanya. Iblis ini mungkin sedang mencoba keberuntungan, setelah mendapatkanku menatapnya begitu rupa tadi pagi.
"Baik-baik, aku tak akan memujimu lagi jika kau selalu menyalah artikannya." Dia mengangkat tangan tanda menyerah. Dia bilang aku salah mengartikannya. Tidak mengakui bahwa aku benar.
Aku mengikuti masuknya pengantin kemudian, pengantin cantik selalu membuatku iri. Pengantin itu memakai gaun pas badan yang bertabur manik mutiara dan kristal, dengan tulle yang mengembang membungkus tubuhnya dan mahkota bunga yang sangat cantik. Sangat pas untuknya, aku sangat iri dengan gaunnya.
"Gaunnya cantik sekali bukan..." Aku melihat ke arah David karena tak ada yang aku ajak bicara. David tersenyum melihat antusiasmeku.
"Iya, cantik." Dia menanggapi dengan tanggapan biasa.
Jika suatu saat aku bisa memakainya... Menghadiri upacara pernikahan seperti ini membuat semua wanita merencanakan apa yang akan dipakainya di pernikahannya sendiri.
"Jadi sekarang kau ingin menikah?"
"Tidak semudah itu. Aku hanya iri pada gaunnya, memutuskan menikah adalah hal yang besar, bukan hanya memilih gaun. Tapi gaunnya memang cantik sekali."
"Semua wanita yang kukenal lebih memikirkan gaunnya dulu daripada apa yang akan terjadi setelah menikah. Tidak ada yang berpikiran rumit sepertimu."
"Itu bagus. Artinya hidup mereka jauh lebih mudah dariku. Aku begini karena pengalaman hidup. Wanita yang normal memang tak perlu berpikir terlalu banyak jika punya kekasih." Sekarang dia tak membalasku. Kata-kataku nampaknya cukup berat untuk dia cerna.
Tak ada yang bicara lagi kemudian. Kami mengikuti upacara itu, mengikuti giliran untuk mengucapkan selamat kepada kedua pengantin dan kedua orang tuanya dan tugas kami selesai, kami tak akan ikut acara resepsi dan after party.
"Akhirnya selesai juga. Menghadiri acara seperti ini selalu membuatku iri kepada pengantin." Aku menghela napas lega setelah kami keluar dari tempat pesta.
"Carilah kekasih."
"Hanya iri sebentar, nanti aku akan baik-baik saja." Aku tersenyum padanya. "Ayo kau mau mengajakku ke mana kita jadi jalan-jalan bukan."
"Tentu saja." Dia tidak membahas apapun lagi.
Dan siang itu dia mengajakku berlayar. Dia menyewa yatch dan kami pergi berlayar dan snorkeling dengan panduannya sampai senja sambil melihat matahari terbenam. Dia baik hati, royal, aku tak ingin memikirkan kenapa dia baik hati, anggap saja dia sedang ingin berlaku sebagai Santa Claus. Kali ini aku beruntung dapat teman perjalanan yang royal.
Kami duduk di buritan kapal dan memandangi langit senja yang sudah memerah.
"Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan."
"Kesenangan bagiku juga."
"Sebagai gantinya kau tak usah mencari hotel, kau boleh tidur di kasur cadanganmu malam ini." Sekarang dia tertawa. Itu nampaknya terlalu jelas, dia tidak punya waktu untuk mencari hotel baru lagi.