
"Rupanya ada yang mempercayaiku sedikit."
"Aku tidak mempercayaimu."
"Yah setidaknya aku tak 100% buruk sekarang." Aku memandangnya dan tersenyum. Ya baiklah, setelah aku tahu kenapa dia tak percaya wanita, aku bisa memahami sudut pandangnya.
"Ya kau masih manusia, tiap manusia bisa berubah ke yang lebih baik. Itu pilihan masing-masing, semoga kau tak seperti Ayahku yang masih belum puas bertualang sampai usia 50nya. Apa gunanya hidup seperti itu terus menerus? Aku tak mengerti pikirannya, tapi sekali lagi itu pilihannya. Bagiku yang penting adalah Ibuku tak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Bukankah kau sudah melakukannya dengan baik sekarang, kenapa tak menerima ajakan kencan."
"Aku tak menyukai kencan."
"Tidak menyukai kencan?
"Tidak."
"Kenapa?"
Aku tak ingin menceritakannya. Itu hal yang memalukan dan terlalu pribadi kurasa. Dan Iblis ini, aku tak bisa percaya padanya.
"Tidak apa-apa. Pokoknya tidak suka saja."
Dia diam melihatku karena aku tak mau menjawab. Sekarang dia beringsut mendekatiku, membuatku ingin lebih jauh darinya, takut terkena kulitnya yang telanjang dan berbulu itu. Aku sudah menyentuhnya kemarin dan tahu apa efeknya. Kedekatannya membuat jantungku langsung bekerja terlalu cepat.
"Kau tak menyenangi terlibat dengan orangnya, atau kau tak menyenangi terlibat dengan kegiatan sesudahnya?" Dia masih mengejarku, kali ini dengan spesifik, padahal aku tak ingin menjawabnya sama sekali.
"Sudah kubilang aku tak mau menjawabmu." Dia hanya memakai singlet aku tak mau tiba-tiba tersentuh oleh kulit telanj*angnya.
"Kurasa jawabannya yang kedua. Kau cukup baik dalam kompromi sebenarnya, lagipula kau punya sudut pandang yang baik. Mungkin hanya denganku saja kau sudah mengecapku buruk dulaan... Kenapa kau tak suka se*x?" Dia merendahkan suaranya, mengerti bahwa dia memancing pengakuan yang sangat pribadi. Iblis ini sangat senang mengulik pendekatan pribadi.
"Sudah kubilang bukan urusanmu."
"Aku bisa membuatmu menyukainya. Aku serius." Dia menatapku dengan sungguh-sungguh. Dia sedang mencari tantangan. Dan dia memakaiku sebagai ajang pembuktian.
Membuatku menyukainya, sungguh dia percaya diri.
"Sudah kubilang aku tak mau jadi temanmu. Lebih jelas lagi aku tak mau jadi teman tidurmu. Jangan dekat-dekat, kau punya banyak wanita yang mengharapkanmu, jangan mengangguku. Kita akan tetap menjadi kolega sampai kapanpun." Dia mendengarkan aku, tapi nampaknya dia tak perduli.
"Apa sakit? Aku pernah bertemu yang seperti itu, tapi denganku dia menyerah, katanya hanya aku yang bisa membuatnya ... sampai ke tujuan. Kau tak pernah merasakannya, mau kubantu? Mungkin denganku akan berhasil dan kau jadi menyukainya. " Iblis ini menyebalkan. Dia terus menawarkan jasanya di waktu yang tersisa. Kurang dari 24 jam kami akan meninggalkan pulau ini dan dia masih mencoba mempengaruhiku.
Aku rasa jika aku mencobanya dia akan memakai itu untuk mengancamku di kantor. Aku tak akan sebodoh itu membiarkan dia memakai daya tariknya untuk menjebakku.
"Aku tak peduli dan tidak tertarik padamu. Aku bukan pemain one night stand, jadi berhentilah menawarkan jasamu. Sudah kubilang carilah kekasih sendiri, malam ini jangan makan malam bersamaku. Duduklah di restoran sendiri malam ini , kau akan mendapatkan kencan." Aku melihatnya dan tersenyum menang. Setidaknya berusaha terlihat menang walaupun otakku sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Iblis ini memang tak mudah menyerah.
"Ini bukan tentangku tapi tentang kau. Kau salah mengartikan maksudku lagi."
"Begitu." Aku jadi tertawa. Memang mulutnya sangat manis. Dasar Iblis.
"Ya baiklah, jika kau tak mau tak apa, aku hanya bilang aku bisa membantumu mendapatkan apa yang belum pernah kau dapatkan." Aku melihat padanya dan dia melihat padaku, ini rasanya memang lucu, apa benar ini tentangku, dia kelihatan sangat bersungguh-sungguh. "Kau tidak percaya aku serius ini tentang kau bukan."
"Tidak." Aku langsung tertawa. Dan dia menghela napas lalu berbaring seakan itu sangat mengecewakan. Dia menyerah sekarang, mungkin lelah mencoba meyakinkanku.
"Kau ingin punya kekasih Carla?" Dan sekarang pertanyaannya berubah.
"Entahlah, aku tak tahu. Sekarang aku baik-baik saja, terlibat hubungan itu terasa sangat rumit..." Kenapa dia bertanya begitu. Mungkin dia sendiri sekarang berpikir ingin punya kekasih."Kenapa? Kau ingin punya kekasih setelah mendengar nasehatku." Aku tersenyum padanya, senang rasanya bisa mengoyangkan prinsip playboynya itu.
"Aku juga tak tahu." Ganti dia yang berpikir sekarang.
"Yang terpenting kurasa bicaralah dengan Ibumu. Maaf aku ikut campur, hanya aku merasa tak baik kau menyimpan dendam apalagi ke Ibu sendiri."
"Aku merasa perjalanan kali ini berbeda. Terima kasih ..." Aku meringis.
"Aku juga merasa perjalanan kali ini berbeda, di sewakan yatch pribadi dan harus sekamar dengan playboy jelas berbeda." Dan dia juga tersenyum dan tertawa kecil.
"Aku senang kau menyukainya jika begitu." Diantara matahari yang bersinar keemasan dan angin yang membuat rambutnya tersibak dan dia punya senyum yang menawan bukan. Aku mengalihkan pandanganku karena jantungku berdebar begitu saja.
Tidak! Berdebar ke playboy ini hanya akan berakhir dengan air mata, sebaik apapun itu sekarang. Ibuku jatuh cinta, tergila-gila dengan Ayahku, lihat apa yang di dapatkannya. Apapun yang terjadi tidak akan ada yang baik nampaknya.
"Aku memang mendapat nilai jelek darimu."
"Tak usah perdulikan aku. Selama pekerjaan kita beres. Kita akan baik-baik saja. Kenapa kau perduli penilaianku."
"Aku perduli." Dia mengatakannya sambil melihatku dengan pandangan lurus padaku.
Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku. Dia perduli, mungkin untuk mendapatkanku, seorang yang belum pernah coba, Casanova selalu berusaha menaklukkan buruannya.
Kemarin dia bilang Ayah dan Ibunya sepertinya menjodohkan kami. Tapi bagiku hal itu tidak akan terjadi, aku tak mau berakhir seperti Ibuku. Semoga Ayah dan Ibunya mengerti, aku tak ingin menanggung resiko seperti itu. Aku sampai saat ini masih menganggapnya sebagai orang yang harus dijauhi.
"Kau tidak percaya padaku. Nilaiku nampaknya memang minus." Dia bicara sendiri dan tertawa.
"Aku tak mau jadi teman tidurmu. Kenapa kau berkeras setiap gadia harus kau taklukkan."
Dia diam.
"Sudah kubilang aku tak bermaksud begitu. Aku hanya mau membantumu. Walaupun itu terdengar aku memanfaatkanmu, tapi itu bisang yang kukuasai dengan baik karena pengalaman. Mungkin kau tak percaya tapi kau benar, aku saat ini menang belum bisa dipercaya."
Perkataannya membuatku melihatnya. Yah begitulah, di dunia playboynya, tidur bersama bukan hal yang besar. Tapi bagiku itu adalah hal yang besar, aku ingin ikatan emosi dan kepercayaan, dia tak bisa memberikan itu sama sekali."
"Carilah kencan malam ini. Duduklah makan malam sendiri. Dan lihat siapa yang menghampirimu." Aku mengatakannya dan tertawa. Dia melihatku seakan perkataanku adalah hal yang tidak diharapkannya.
"Tidak, kita akan makan malam bersama."
"Terserah padamu."
Hari ini akan berakhir, snorkeling luar biasa di Pantai Sandy Lane dan Payne Bay yang merupakan terumbu karang terletak di lepas pantai ini hampir berakhir. Penyu-penyu kadang terlihat dari tempat kami melabuhkan jangkar.
"Kau bilang Ayah dan Ibumu berupaya menjodohkan kita. Apa mereka bilang begitu."
"Tidak, hanya mereka mengatur aku pergi denganmu. Kurasa hal itu aneh."
"Mungkin mereka berusaha mendapatkan cucu. Karena Ibuku juga begitu. Tiga orang anak perempuan belum ada yang menikah. Dia merindukan merawat cucu. Ibuku wanita yang tradisional, dia menikmati bersama bayi, dia sering bertanya kepada kami kapan salah satu dari kami menikah dan jika topik itu sudah di mulai kami melarikan diri dan meninggalkan adikku yang paling bungsu untuk bicara dengannya."
"Mom sama, dia selalu bertanya siapa kekasihku. Kadang mengenalkanku dengan gadis-gadis yang langsung terpesona denganku."
"Dasar sombong."
"Mereka kadang terlalu mudah, apakah mereka tidak mempertanyakan apapun langsung setuju untuk ke apartmentku." Aku tertawa.
"Bukankah itu jadi menyenangkan untukmu."
"Iya untuk sesaat. Tapi aku cepat bosan dulu, lagipula aku tak menganggap mereka penting." Apakah dia sedang mengaku dosa padaku.
"Aku tambah menganggapmu bang*sat karena ini."
"Sudah terlanjur, kau sudah berpikir lebih jelek sebelumnya." Dia membuatku tertawa.
Kami kembali menjelang petang, melewatkan makan malam bersama. Kali ini pembicaraan kami mengalir santai. Aku memang tak berusaha mengesankan playboy ini, walaupun aku mungkin sedikit terkesan padanya. Ya mungkin dia tidak seburuk yang aku duga. Atau mungkin juga karena dia teman yang royal jadi aku beranggapan begitu. Kami bisa jadi kolega yang baik di masa depan jika dia tidak membuat masalah di pekerjaan.
Tapi cerita di Barbados ini sampai di sini saja tak akan ada lanjutannya, kami akan hanya menjadi kolega yang baik di masa depan.
"Carla, boleh aku mengajukan permintaan?" Sekarang aku hampir tertidur ketika mendengarkan suaranya.
"Permintaan apa?" Aku menoleh padanya, mendapatkan dia bertopang dagu melihatku.
"Makan malamlah denganku di NY sesekali. Kau selalu menolak ajakan makan malamku."
"Aku tak ingin jadi teman tidurmu David." Terang-terangan aku katakan padanya.
"Aku tak akan memintamu tidur denganku. Ini hanya mmakan malam. Aku berjanji padamu. Aku tak akan menggodamu seperti yang kulakukan tadi pagi. Aku serius." Dia membuatku tertawa.
"Lihat saja nanti kalau kau tidak membuat masalah lagi denganku.
"Aku tak akan membuat masalah." Kita lihat saja nanti apa dia membuat masalah atau tidak.
"Kenapa kau ingin makan malam denganku. Kau tak akan mendapatkan apa-apa? Kau harus membayar makan malamnya." Dia terkekeh.
"Tentu saja aku yang membayar karena aku yang mengajak."
"Kau tak akan mendapatkan apa-apa."
"Aku mendapatkan seorang teman bicara yang kuinginkan."
"Oh jadi sekarang kau memakai kata teman bicara? Kau memang pantas dicurigai. Apa ini permainan yang menyenangkan bagimu? Karena aku bisa menjamin kau tak akan mendapatkan apapun dariku."
"Kau memang menganggapku baj*ingan. Aku sudah terbiasa dengan tuduhan itu." Dia bicara seakan menerima nasibnya. Aku menghela napas. Aku tak ingin terlibat dengannya tapi sekarang aku penasaran, ini berbahaya. Jatuh di ranja*ngnya sangat berbahaya apalagi jatuh hati padanya sudah dipastikan akhirnya akan tragis.
"Entahlah aku tak menjanjikan apapun padamu. Sudah kubilang aku tak ingin terlibat denganmu. Lebih baik kita kolega saja..." Kami saling berpandangan satu sama lain, ini memang lucu.
"Kau sudah menyukaiku bukan." Dia sambil tersenyum kecil bertanya padaku. Iblis yang percaya diri ini memang punya kepercayaan diri yang tinggi.
"Apa kau menyukaiku." Ganti aku bertanya dengan pertanyaan yang lain.
"Sangat." Aku tertawa karena dia menjawabnya dengan enteng tanpa memikirkan apapun. Aku jadi tak mempercayainya lagi.
"Aku mau tidur." Aku balik badan dan memenjamkan mataku. Tak satupun omongannya yang harus dimasukkan ke hati, dia melakukannya hanya untuk sebuah permainan.
"Apa yang kukatakan salah." Dia protes ketika dia tidak mendapatkan respon yang benar dariku.
"Salah."
"Dimana salahnya?"
"Cobalah kau pikir sendiri. Selamat tidur David."
Aku memejamkan mata. Playboy memang omongannya tak bisa dipercaya. Tak ada jalan mudah untuk menyukaiku.
Aku tak akan mematahkan hatiku sia-sia untukmu