The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 42. A Bad Dream in the Winter 2



"Kau setuju atau tidak."


"Setuju."


"Benarkah?" Sekarang aku terkejut dia menyetujuinya dengan mudah. Kenapa? Kupikir dia akan menawar dulu, tapi kenapa dia setuju?


"Hmm benar."


"Kau tidak demam bukan."


"Aku hanya demam karena memikirkanmu."


"Rayuanmu itu membuatku bergidik ngeri. Aku sesak dibawah sini." Dia tertawa dan melepasku. Aku membersihkan diri, dia melepaskan dirinya di dalam. Aku tidak siap dengan hal yang tiba-tiba ini. Aku harus minum pilku, aku membawanya karena dia kadang tak mau memakai pengaman kecuali aku yakin itu masa aman.


Dia melihatku meraih ke tasku dan mencari. Sesaat kemudian aku meminum pilnya.


"Kenapa kau meminumnya?"


"Aku tak mau ini tak direncanakan. Aku mau jadi pengantin yang berbahagia, bukan pengantin yang terburu-buru."


Nampaknya dia tidak protes apapun setelahnya. Dia sampai di sampingku dan memelukku. Ada yang aneh tentang perilakunya ini, aku merasa aneh tanpa rencana yang matang dia spontan mengatakan akan menikahiku.


"Sebenarnya kenapa kau ingin kita cepat menikah dan punya anak. Apa yang terjadi di Puerto Rico? Atau Ibumu mengatakan sesuatu. Tapi setahuku kau bukan orang yang peduli jika Ibumu mendesakmu?"


"Tidak, aku hanya ingin mengatakannya padamu, sudah kubilang aku mencintaimu. Entah kita akan menikah kapan, asal tetap bersamamu itu akan kujalani."


"Jika begitu tak usah buru-buru seperti itu. Kita bicara pada orang tua kita dan merencanakan detailnya."


"Ya baiklah. Apapun yang kau inginkan."


"Sebenarnya aku tak menyangka kau bisa berubah seperti ini."


"Semua orang berubah tak terkecuali aku."


Kata-kata itu membuatku memeluknya dengan perasaan bahagia. Walau masih ada kekhawatiran, tapi saat ini warna pelangi membuatku terlalu bahagia.


Entah apa yang akan terjadi di masa depan, aku hanya ingin tetap di sini untuk sekarang ini.


\=\=\=\=\=


Pagi yang biasa di hari Minggu, akhir pekan menjelang liburan ini adalah puncak aktivitas bisnis bagi hotel-hotel di wilayah tropis. Jadi beberapa masalah keuangan tetap harus dipantau.


Aku sedang membaca laporan yang masuk ke emailku di laptop yang selalu ada di tasku, sementara David sudah memesan set sarapan untuk kami dan membuat kopi.


"Oh ya, hotel baru yang di Manhattan itu tetap berjalan bukan? Mereka mengambil off berapa hari?"


"Hanya sekitar seminggu off, itupun masih ada unit yang bekerja, pekerjaan mereka bagus, manager lapangan mereka tahu bekerja dengan cepat."


"Ohhh ...Baguslah. Kalian nampaknya bisa buka lebih awal musim panas melihat progress pekerjaan sekarang."


"Kau benar, aku memang merasa begitu. Istri Xavier ini pekerjaannya bagus." Jika ada pembukaan ada biaya promosi musim semi tahun depan, aku mengatur perkiraan dana promosi di perhitungan anggaran.


Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari nomor yang tidak kukenal.


"Apa ini..."


"Hmm? Apa?"


"Coba kita lihat, siapa ini..." Aku membuka pesannya.


"Kau pikir David Montgomery milikmu? Kau lihat sendiri apa yang dilakukannya di Puerto Rico." Aku membaca pesan itu. Ada sebuah attachment video dibawahnya.


Belum sempat kubuka video itu. Ponselku direbut oleh David.


"David?" Mataku langsung memicing karena dia mengambil ponselku. Apa yang ada dalam video itu apa yang dilakukannya di Puerto Rico?!


"Aku bisa jelaskan ini... "


Dia menjauhkan ponselku ke belakang. Sesuatu terjadi di Puerto Rico dan apa yang terjadi ada di ponsel itu. Sesuatu yang buruk! Karena bahkan dia tidak mau aku melihatnya! Punggungku dingin, mataku langsung panas.


'Kau pikir David Montgomery milikmu? Kau lihat sendiri apa yang dilakukannya di Puerto Rico?'


"Kembalikan ponselku! Kau bisa menjelaskan apapun yang kau inginkan setelah kau mengembalikan ponselku!" Nadaku meninggi.


"Ini tidak seperti yang kupikirkan Carla. Dengarkan aku dulu."


"Kubilang kembalikan ponselku!"


Aku memang bodoh! Mempercayai Iblis ini? Seorang gadis penggemarnya pasti berhasil tidur dengannya dan gadis itu mengirimkan video mesra mereka padaku.


"Aku dijebak... Aku tak sadar dengan semua kejadian ini." Dia mulai dengan alasannya.


"Ohh baiklah, kau tak sadar. Berarti dia memberimu obat tidur, lalu memperkosamu? Kau membuatku tertawa. Kau tak bisa memakai alasan itu, itu hanya bisa dipakai wanita. Kubilang berikan ponselku atau aku bersumpah aku akan mencakarmu!"


"Tolong duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik!"


"Bicara baik-baik David?! Kita jelas akan bicara baik-baik setelah ini karena setelah ini kau tak akan melihatku lagi."


"Aku dijebak oleh para gadis itu oke, mereka sengaja menungguku dan membuat jebakan untukku." Aku tak tahu aku harus bagaimana, aku marah, para gadis, dia dijebak para gadis, jadi dia bukan tidur dengan satu orang tapi beberapa gadis.


"Kau sangat luar biasa Iblis..." Aku tertawa, tapi kemudian aku tak tahu kenapa aku jadi menangis. Menangis sampai mataku kabur dan dadaku sakit. Aku membaca semuanya, dia ke Puerto Rico ada hubungannya dengan social media campaign, model-model istagram itu, tak salah lagi semua dari mereka adalah teman tidurnya dan di sana mereka semua mendapatkan David lagi.


Sekali Iblis tetaplah Iblis. Aku yang bodoh berpikir bahwa Iblis mungkin bisa berubah jadi malaikat terang karena pesonaku. Kebodohan yang kubayar mahal.


"Kumohon Carla, mereka menjebakku. Aku tak tahu mereka akan mengirimkannya padamu, mereka merencanakan ini." Dia memegang tanganku.


"Jangan sentuh aku!"


"Carla aku benar-benar mencintaimu, kumohon ampuni aku kali ini." Dia berlutut padaku, bukan untuk melamarku tapi untuk minta aku mengampuni kesalahannya.


"Mengampunimu... Kenapa kau tega padaku. Sudah kubilang jika kau ingin bermain-main denganku cukup bilang kau ingin cinta satu malam, lalu kau bisa pergi. Tapi kau membuatku begini... Cinta? kau melanggar kata-katamu sendiri hanya beberapa bulan sejak kau mengatakannya. Aku memang bodoh mempercayaimu..."


"Aku bersumpah hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Kumohon padamu beri aku satu kesempatan lagi, kita menikah, lupakan ini... Tidak akan terjadi lagi. Ini kesalahan yang tidak akan kuulang lagi."


Mulai sekarang aku akan menutup telingaku. Aku tidak mengatakan apapun lagi.


"Kembalikan ponselku. Itu tidak akan merubah apapun mulai dari sekarang." Aku menengadahkan tanganku padanya.


"Carla...."


"Kubilang kembalikan!"


bersambung badainya besok \=\=\=\=\=\=\=\=