
"Apa yang dikatakannya padamu saat aku kembali ke LA."
"Dia menyesal, sangat menyesal, aku memarahinya, Ibunya memarahinya, tak ada dari kami yang membelanya. Idenya untuk menyusulmu ke LA adalah idenya sendiri. Walau sulit dipercaya hanya kau yang dari awal bisa membuatnya begitu."
"Dari awal dia berada di daftar terakhir tipe orang yang ingin kujadikan suami. Pengalamanku mengajarkan begitu..."
"Iya dia cerita padaku kau membencinya." Aku tersenyum.
Aku mengenang bagaimana aku sebenarnya ditugaskan untuk menghentikan kelakuan David menghabiskan uang kantor untuk gadis-gadisnya. Tapi tak disangka itu akhirnya menjadi aku punya hubungan dengannya.
"Jika suatu saat kami menghadapi masalah, kuharap kau bisa jadi penasihat kami. Aku tak pernah menginginkan menempatkan anakku dalam perebutan hak asuh. Kuharap cerita kami berbeda dengan cerita kedua orang tua kami."
"Tentu saja Carla, jangan khawatir soal itu. Aku juga selalu mengingatkan David sebagai sahabatnya. Tapi kukira dia juga sudah melewati masa-masa dimana dia berpetualang."
"Kuharap kau benar."
David pulang saat kami mengobrol dengan santai.
"Jadi bagaimana, apa ada masalah?"
"Carla ingin penambahan pasal soal hak asuh. Jika kau melanggar janjimu sendiri dia akan pergi membawa anaknya dari LA."
David melihat padaku. Aku juga melihatnya.
"Aku sudah mengatakannya padamu. Jika kau melanggar janjimu padaku, aku akan membawa anak kita dan menyewa pengacara termahal untuk merampokmu."
"Baiklah. Tapi jangan ungkit lagi kejadian yang kemarin."
"Baik, anggap itu tidak ada. Aku tak akan membicarakannya lagi."
"Ya baiklah Xav, aku setuju, kau buat draftnya aku akan tandatangan sekarang juga."
"Baiklah. Kita selesaikan hari ini." Xavier mengeluarkan laptop dari tas kerjanya, mengedit isi perjanjian itu, menjelaskan pada kami bagian yang dia tambahkan dan menyerahkan kepada kami untuk ditandatangani.
"Kalian berdua setuju. Tanda tangan di sini."
"Aku menyerahkan setengah hidupku padamu." David memberikan bagian yang dia sudah tandatangani dan aku menandatangani dua rangkap dokumen asli itu. Kami masing-masing memegang satu.
"Sebagai temanmu aku mengingatkanmu bahwa dia juga memberikan setengah hidupnya padamu. Tak ada yang memberikan lebih di sini, dia memberikan hidupnya mengandung anakmu, merawatnya, sementara kau kebanyakan hanya tahu pulang bermain sebentar dengan anakmu. Jadi jangan menyebutkan seolah-olah rugi." Xavier mengatakan sebuah hal yang membuatku bisa berkata istrinya adalah orang yang paling beruntung memiliki suami yang sangat mengerti bagaimana memperlalukan sebuah hubungan pribadi ini.
"Kau tahu kenapa aku bilang aku lebih memilihnya. Kau perlu tahu aku baik-baik saja dengan hidupku. Aku tak perlu setengah dari hartamu untuk membuat hidupku baik. Jadi aku perlu tandatangan ini atau tidak... Terima kasih Xavier membelaku." Aku menaruh pulpenku dan tidak jadi tandatangan. Xavier tertawa sementara David pucat. Dia beringsut ke sampingku.
"Sayang, aku salah bicara. Kau benar, aku yang perlu kau, bukan kau yang perlu aku. Kumohon tanda tangan sayang." Dia memelas padaku saat aku melepas pulpen dan melipat tangan di depan dada. Xavier tambah tertawa melihat drama diantara kami.
Aku melengos padanya.
"Sayang, aku bukan bermaksud seperti itu. Maksudku adalah hanya kau yang bisa membuatku menyerahkan semua ini." Xavier yang sudah berhenti tertawa tak bisa tidak memalingkan mukanya ke arah lain untuk menghentikan dirinya sendiri menyembur tertawa.
"Kau tahu Xavier, temanmu ini punya bakat merayu wanita setara dengan otak Einstein." Xavier sekarang tertawa terbahak-bahak.
"Hanya kau yang tak mempan para rayuannya Carla, kau seharusnya bangga pada dirimu."
"Entahlah, aku tak tahu apa aku bisa bangga pada diriku sendiri atau tidak. Kadang aku bertanya kenapa aku bisa percaya pada perkataannya." Aku mengatakan itu masih membuang muka dari Iblis perayu itu.
"Dia benar untuk yang satu itu, aku memang punya kasus besok. Kalau hari ini tidak deal, aku akan kirimkan perjanjiannya via FedEx."
Aku mengambil pulpennya dan menandatangi berkas itu. David menghela napas lega. Dan Xavier memberikan mengambil berkasnya dari tanganku.
"Surat ini kau bisa gunakan untuk menuntut David di pengadilan. Dan David jika kau sampai dituntut gara-gara perjanjian ini aku akan melempar kasusmu ke pengacara bawahanku. Aku tak mau berhadapan dengan Carla, aku serius."
Aku tersenyum pada Sir Xavier. Dia yang terbaik untuk membela seseorang yang dianggap keluarga, karena dia sendiri menganggapku bagian dari sahabatnya sekarang.
"Iya aku tahu." Xavier menjawab dengan singkat.
Akhirnya urusan dengan Xavier selesai. Aku dan David saling berpandangan setelah Xavier pergi.
"Kuharap aku tak pernah menggunakan kertas perjanjian ini di masa depan."
"Tidak, aku juga tak ingin menemukan kertas itu lagi." Dia memeluk pinggangku. Membawaku ke pelukannya. "Maafkan aku, kita mulai lembaran baru. Kali ini dengan anak kita bersama. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian."
"Aku percaya padamu." Dia tersenyum padaku.
"Menikahlah denganku." Sebuah kata yang akhirnya membuatku terpaku walaupun aku tahu dia akan mengatakannya cepat atau lambat.
"Kita sudah tandatangan dokumen pernikahan tadi." Dia tertawa kecil. "Aku minta maaf mengatakannya di sini, aku tak bisa menahan diriku mengajakmu menikah. Aku sedang mencari rumah untuk kita. Tempat kita membesarkan bayi kita nanti, dimana neneknya bisa berkunjung dan anak kita punya kebun untuk bermain."
"Aku hanya mengatakan ya, jika kau punya cincinnya."
"Aku punya, tentu saja." Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukkan kotak cincin itu padaku. Sebuah cincin solitaire yang cukup besar. Aku tak tahu aku akan melihat ini dalam hidupku. Apalagi yang memberikannya adalah Iblis ini. "Katakan ya padaku kumohon."
"Ya, Iblis perayu. Aku akan menikahimu."
"Terima kasih Nona Penyihir. Aku mencintaimu." Dia memakaikannya dan memelukku erat. Begitu erat sehingga napasku sesak.
"Lepaskan aku."
"Maafkan aku." Matanya nampak sedikit berkaca-kaca. Aku yang melihatnya akhirnya ikut terharu juga.
"Kau bisa cenggeng juga." Aku ingin tertawa tapi juga ingin menangis terharu melihatnya. Aku menegang wajahnya dan menepuknya. Dia tersenyum padaku, aneh Iblis ini kenapa bisa ada di sini melamarku sekarang, berbulan-bulan lalu aku sama sekali tak pernah membayangkan cerita seperti ini."
"Aku mencintaimu... Kau membuatku sangat bahagia beberapa hari ini."
"Aku mencintaimu." Aku memeluknya membenamkan wajahku di pundaknya. Merasakan cinta manis yang melingkupi perasaanku. Kuharap dia tak akan menjadikannya sebuah kekecewaan seperti yang sebelumnya.
"Apa kau ingin pesta yang meriah?" Sebuah pertanyaan diajukan padaku.
"Tidak, aku hanya ingin mengundang keluarga dan teman dekat kita ke Barbados."
"Itu sangat bisa diatur. Aku akan bicara pada Mom, dan kita akan segera menentukan tanggal untuk babymoon kita."
"Bukan honeymoon, tapi babymoon." Aku tertawa.
"Kita honeymoon tapi dengan bayi kita."
Aku tersenyum. Ayah dari bayiku ini pandai merayu. Bohong jika aku tak menikmati rayuannya, kali ino kuharap dia tak akan merayu yang lain lagi.
\=\=\=\=\=