
POV Author
David melihat kepergian Carla dengan Christian. Dia menghela napas panjang. Carla masih belum reda emosinya dia akan membiarkannya sendiri.
Dia berhak marah, gadis itu mencintainya dan dia melukainya dengan dalam karena video itu, tak ada kepercayaan lagi sedikitpun tersisa untuknya, apalagi Carla punya pengalaman buruk dengan Ayahnya. Justru sangat aneh jika dia tidak marah, dia merasa buruk menempatkan Carla di keadaan itu. Tapi semua sudah terjadi, yang bisa dia lalukan sekarang hanya memperbaiki kerusakan yang sudah dia timbulkan.
Dia tahu akan sangat alot untuk mendapatkan kepercayaan gadis itu lagi. Sangat sulit karena video itu memang sangat ... mengecewakan! Dia juga kecewa terlihat menikmatinya, itu tak bisa disangkal bahwa Carla mempercayai dia dengan sukarela akan jatuh ke jebakan lainnya.
Tapi jika itu Christian yang dipakainya sebagai tameng tak apa, dia hanya akan minta Christian menjaga Carla dengan baik, pria itu tak akan berani macam-macam.
Jadi sekarang dia ingin bicara dengan Christian. Dia tiba di kantornya dan sekertarisnya mempersihlakan dia masuk.
"Bro,...kau kesini." Christian langsung ketar-ketir. Di sisi lain dia hanya pacar pura-pura. Dia tak mau mencari masalah dengan David Montgomery. "Ayo duduk, tadinya aku mau datang bicara padamu." Carla itu kekasihnya yang dia kejar dari pantai Timur ke pantai Barat, jelas bangs*at ini serius soal Carla, dia kagum ratu es yang menghindari terlibat dengan pria itu bisa menjatuhkan David Montgomery sejauh ini. Entah bagaimana gadis itu melakukannya jelas dia sendiri tidak sadar dia hebat.
"Tak apa, aku baru datang hari ini. Harusnya aku yang mengunjungimu. Kita sama-sama pemilik dan profesional yang bekerja sama untuk hotel ini." David ternyata tidak mempermasalahkan dia menjadi tameng Carla, jelas dia sudah tahu bahwa diantara mereka tidak ada apapun terjadi. Lagipula mana mungkin seminggu sejak Carla pindah kembali ke sini dia dan Carla sudah menjadi kekasih.
"Soal Carla, aku dan dia..." Christian langsung berinisiatif menjelaskan dan tidak ingin menimbulkan masalah lebih panjang.
"Aku tahu kau tak usah khawatir, dia hanya memasangmu sebagai tameng. Dia sedang marah padaku, apa kau mendengar cerita darinya kenapa dia marah padaku?" Christian menghela napas lega mendengar kata-kata David.
"Dia menceritakannya. Aku tak mau ikut campur masalah kalian tapi yang jelas dia sangat marah padamu soal video itu."
"Ya itu kesalahanku pastinya. Aku tidak menyalahkannya marah padaku. Butuh waktu untuk meredakan kemarahannya, tapi tak apa aku ada di sini. Aku pernah berjanji untuk ada di sampingnya, dia memberiku kesempatan karena janji itu. Tapi aku melanggarnya karena gadis-gadis itu menjebakku. Di sisi lain aku juga terlalu mudah jatuh ke ke jebakan."
Sekarang dia tahu David Montgomery ini serius soal datang ke sini. Sebelumnya dia sudah berpikir begitu, hanya karena Carla mamaksanya begitu rupa dia menerima menjadi tamengnya di depan David.
"Ya baiklah, tapi kau tahu aku juga tak bisa menghindari Carla yang meminta bantuanku."
"Tak apa aku mengerti posisimu, dia meminta bantuanmu. Kau boleh membantunya, lagipula aku memang ingin membiarkan dia sendiri. Aku di sini juga karena pekerjaan."
"Ohh jadi tak apa aku jadi pacar pura-puranya?"
"Hanya pura-pura." David Montgomery menekan kata pura-pura.
"Iya tentu saja hanya pura-pura. Aku tak akan berani macam-macam dengan kekasihmu." Christian dengan cepat angkat tangan.
"Ya tentu saja. Aku yang harus mengucapkan terima kasih padamu. Tapi mungkin aku harus sesekali berpura-pura cemburu padamu supaya dia senang."
"Ahh berpura-pura cemburu. Kita harus berbicara spesifik bukan bagaimana cara kau berpura-pura cemburu." Christian tak mau jadi korban pemukulan membabi buta.
"Iya kita akan mengatur itu nanti." David setuju untuk tidak membawa Christian ke kesulitan lebih jauh.
"Aku bisa menerima itu kurasa."
Kedua gentleman itu bersepakat satu sama lain di belakang Carla yang masih memendam kemarahan ke David Montgomery.
Para pria ini sedang bekerja sama dan Carla yang menyangka Christian yang bisa dipercaya tak tahu David sudah mengatasi masalahnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Carla berjalan bersama Christian jika dia bisa. Terutama jika dia perlu menghadiri rapat gabungan dengan David. Dia senang wajah David menjadi terganggu. Dan Christian di sisi lain bisa lebih mudah berakting seperti yang Carla minta.
"Apa David mendatangimu." Seminggu kemudian nampaknya David membiarkan dia berjalan bersama Christian Carla agak penasaran.
"Tidak. Kurasa dia tahu kita bohong. Mana mungkin kita langsung pacaran seperti ini. Kenapa kau tidak memberinya kesempatan saja sepertinya dia benar-benar menyesal jika dia sampai mengejarmu ke sini." Jika bisa Christian juga tak ingin lama-lama terlibat dengan ini.
"Aku juga tahu dia menyangka aku bohong."
"Lalu..."
"Maksudmu?" Apa yang Carla rencanakan. Bagaimana menujukkan dia tidak bohong. Dia jadi takut apa yang ada di kepala gadis ini. Salah-salah dia yang jadi sasaran kemarahan David.
"Kau lihat saja nanti."
Carla pergi begitu saja. Membuatnya sakit kepala, dan khawatir dengan apa yang akan terjadi kemudian.
Sebuah sore yang biasa.
"Kenapa aku harus terlibat dengan semua persoalan ini." Dia menghela napas dan ikut menghilang.
Sementara Carla dia masih emosi jika mengingat video itu. Perasaan dikhianati membuatnya marah, tapi disaat yang lain dia juga sadar dia menginginkan David muncul. Perasaan yang bertolak belakang ini membuat hari-harinya tak tenang dan tersiksa, dia belum bisa memaafkan tapi dia juga tak ingin David pergi saat dia sudah datang ke sini. Dia ingin David merasakan tindakan balasan yang sepatutnya.
Dia ingin membuat David marah dan melihat sikap Christian, Carla menduga David sudah mendatangi Christian dan berpura-pura bahwa dia tidak mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi diantara mereka. Christian tidak bisa diharapkan untuk melawan David siapapun tahu itu. Mereka berdua sama saja!
Jadi kali ini dia sengaja membuat dirinya berdandan dengan baju cantik di akhir pekan ini, dia melepas kacamatanya, membuat rambutnya bergelombang dengan indah dan merubah make upnya lebih bold. Bahkan dia memakai celana ketat dan heels yang cocok sempurna dengan tubuhnya yang ramping. Sudah lama dia tidak melakukan ini, berdandan provokatif.
David memicingkan mata waktu dia melihat kekasihnya itu nampaknya berubah. Carla berpesta hari ini, dia mungkin akan pura-pura membuat dirinya terlibat kencan singkat dengan pria lain. Untuk itu dia sudah membayar seorang teman Jannette yang cukup tampan untuk pura-pura hangout di bar dan ikut ke apartmentnya.
Dia akan membiarkan David melihatnya. Bahkan dia akan sengaja bermesraan dengan Christian di depan David. David tidak bisa keras pada Christian dan Christian serba salah kepadanya. Jadi biarkan iblis itu juga menanggung rasanya.
Kesempatannya datang ketika Carla sengaja mengatur beberapa management atas untuk makan siang bersama.
"Christian, ajak David makan siang dengan direksi juga."
"Kau ajaklah dia sendiri kenapa aku harus yang mengajaknya?"
"Tolong sayang. Kau mau terbebas dari tugas menjadi pacarku? Ajak dia makan siang."
"Ohh bebas dari tugas?"
"Aku tak melibatkanmu lagi setelah ini."
"Ohh baiklah. Akan kutelepon dia untukmu." Carla menatapnya yang dengan cepat setuju untuk menelepon David. Seakan dia tak punya permusuhan apapun dengan David.
"Apa kesepakatan kalian?" Sekarang Carla melipat tangannya di depan dada dan bertanya kepada Christian.
"Kesepakatan dengan siapa maksudmu?" Christian langsung mengelak.
"Kau dan Iblis itu membicarakan sesuatu?"
"Tidak-tidak." Carla memberi tatapan tak percaya padanya. Sekarang Christian terjepit dengan kebohongannya sendiri. Jadi agen ganda ini sungguh menyiksa.
"Kalian membuatku pusing. Apa yang harus kulakukan, dia juga tahu aku dan kau pacar pura-pura."
"Jadi begitu, suruh dia ikut ke makan siang."
Jadi sekarang Christian menelepon David dan mengatakan padanya untuk ikut makan siang direksi itu.
"Kenapa dia ingin aku ikut?"
"Aku tak tahu, tapi dia berdandan cantik hari ini. Mungkin ingin membuatku cemburu denganku."
"Benarkah itu yang dia rencanakan?" David tak yakin itu yang dia rencanakan.
"Entahlah aku tak tahu, tapi dia bilang mengajakmu makan siang kali ini akan menyebabkanku bebas dari tugas pacar pura-puranya. Dia sudah tahu aku membuat kesepakatan denganmu. Jadi aku tak tahu apa yang dia rencanakan dan aku tak mau terlibat dengan pertengkaran kalian lagi."
Sekarang giliran David yang penasaran kenapa dia harus ikut makan siang itu.