The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 37. Miami 5



Menantikan sesuatu terjadi memang mendebarkan. Selama makan malam aku tak menyapa David sama sekali, kami masuk restoran dan bergabung ke kelompok yang berbeda.


Dia bersama CEO Gabriel, aku bersama Direktur keuangan wilayah lain. Aku mencuri pandang ke arahnya dan dia mencuri pandang ke arahku. Walau sebentar karena aku dengan cepat berpaling dan menyembunyikan senyumku.


Cukup untuk membuat jantungmu berdebar dan kau merem*as tanganmu dengan gugup. Setelah tujuh tahun terbiasa sendiri akhirnya hari ini ada sesuatu yang membuat jantungmu berdebar tak keruan seperti ini lagi.


Sebelum pemandangan yang tak menyenangkan kulihat dan memadamkan moodku. Kami berada di restoran bergabung dengan tamu umum, seorang gadis terlihat menyapa David. Gadis itu cantik...Aku sepertinya mengenalnya, pria-pria di samping David terpaku dengan gadis itu.


Aku mencoba mengingat. Tapi aku bukan orang yang mengenal dunia selebritas.


"Ohh itu Sommer Ray, sexy sekali, kulitnya sempurna aku mengikuti istagrammya." Tiba-tiba seorang teman di sampingku berkata.


"Ahhh rupanya selebrity istagram, ..." mungkin pernah kulihat di beberapa campaign produk. Plus dia juga anak orang kaya. Dunia David Montgomery penuh dengan wanita-wanita yang luar biasa.


Aku melihatnya. Dia bicara pada wanita itu dengan ramah. Dari bahasa tubuh yang akrab aku punya tebakan mereka pernah jadi 'teman'. Apa aku bisa menerima perasaan was-was dan tak percaya ini. Mungkin satu hari seorang wanita muncul di pintu rumahku dan membawa seorang bayi yang menuntut bagian warisan Ayahnya.


Aku benar-benar tidak siap dengan drama semacam itu. Mengalihkan pandanganku dari drama pertemuan kembali kedua teman itu. Aku memusatkan perhatianku pada yang lain, tapi pantulan bagian restoran yang adalah kaca cermin membuatku bisa memperhatikan mereka tanpa terlihat menoleh.



Wanita itu nampaknya masih punya kerinduan dengan David. Dia nampak aktif berbicara, karena dia selebram dia punya penampilan yang luar biasa. Dengan postur terlatih dan berleku*k seperti itu mungkin laki-laki langsung berpikir untuk melakukan sesuatu jika dia bisa. Dan dia tahu cara menunjukkannya, semua laki-laki di meja itu tak berkedip menatapnya.


Dan nampaknya wanita itu bicara cukup lama dengan penghuni meja itu. Dan banyak orang bersedia menanggapinya, walaupun jelas tujuan utamanya adalah David.


Tak lama kemudian dia pergi. Lama juga, mungkin lima belas menit dia stay bersama para penghuni meja itu. David jelas melihat ke arahku memperhatikan aku tak memperhatikannya dia kembali bicara ke arah lain. Nanti akan kutanya tentu saja, apa yang diinginkan wanita itu. Pasti ada percakapan ponsel nanti, bagaimanapun mereka satu hotel. Entah wanita itu bersama siapa di sini. Tapi entahlah, mungkin lingkungan selebritas seperti mereka seperti menganut open relationship.


Mungkin atas nama kebebasan dan mencintai hidup. Siapa yang tahu, tapi aku tak menoleransi prinsip seperti itu di duniaku.


10.30 malam, kau tahu rasanya tidak seperti menunggu seorang kekasih. Moodku down karena melihat Dabid bicara dengan wanita itu. Pikiranku masih bertanya apa ini hal yang benar untuk dilakukan. Aku menghela napas panjang bertepatan dengan pintu terbuka.


"Hai,..." Dia datang dengan kaus t-shirt tipis dan cel*ana tidur yang nyaman. Melihatnya


"Hai .." Aku juga sama, dengan t-shirt dan cela*na pendek yang nyaman. Aku sedang menonton televisi dan melihatnya datang, aku hanya menepuk bed di sampingku. Dia tersenyum dan duduk di sampingki dengan nyaman.


"Apa yang kau tonton?"


"National Geographic."


Dia duduk di sampingku dan melingkarkan tangannya di bahuku, menbuatku bersandar padanya. Wangi parfumnya tercium olehku, dia sengaja memakainya karena tahu aku menyukainya.


"Siapa wanita yang bicara padamu tadi." Aku melihat padanya. Dan dia melihat padaku.


"Namanya Sommer Ray, dia selebram. Yah pernah jadi temanku."Satu hal dia mengakui mereka pernah menjadi 'teman'.


"Nampaknya dia masih mengharapkanmu, aku melihat gaya bicaranya padamu."


"Kau cemburu?" Dia melihatku dan tersenyum senang. Mungkin menyenangkan baginya aku merasa cemburu.


"Tidak percaya kepada orang dekat itu seperti memelihara duri dalam daging. Kau bertanya apa aku cemburu?"


"Aku bersamamu sekarang, kita bahkan sudah dijodohkan Ibuku. Kenapa kau memikirkan wanita yang menyapaku. Dia tak berarti apapun."


Kenapa dia malah membawa Ibunya dalam masalah ini, bukan itu bukan jawaban yang ingin aku dengar. Aku mengingatkan diriku lagi, tak usah terlalu berharap pada Iblis ini. Ini hanya untuk membunuh rasa penasaran.


"Ya kau benar." Aku berusaha tersenyum padanya. Ada bagian dari diriku kecewa tapi aku tak ingin bertengkar dan membuat malam ini menjadi buruk.


Mataku kembali ke layar televisi tapi pikiranku sudah kemana-mana. Kebanyakan bertanya apa sebaiknya aku menunggu saja. Aku tak nyaman dengan proses secepat ini, aku menyesal sendiri terlalu berani tadi.


"Ada apa? Kenapa kau diam saja? Kau tak percaya keuntunganmu yang sudah dibela Ibuku."


"Keuntungan ..." Aku tertawa, tak tak tahu harus bagaimana menghitung orang luar sebagai keuntungan.


"Ibumu, Ayahmu, Pamanmu, Ibu kandungmu, Nenekmu, itu adalah orang luar, mereka tak bisa menentukan apapun. Yang penting adalah kau dan aku. Yang menjalaninya adalah kita berdua." Entahlah apa dia mengerti.


"Carla, tadi dia hanya menyapa oke. Walau kami pernah jadi teman itu sudah lama berlalu. Kau kekasihku, itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Apa kau pikir aku akan menemuinya lagi. Tidak akan ada cerita seperti itu." Ya semoga aku yang berpikir terlalu banyak. Seperti katanya, tidak ada cerita seperti itu.


"Maafkan aku, aku hanya terpengaruh dengan pikiran negatifku sendiri." Dia menatapku dan memelu*kku, menatap mataku dengan begitu dekat.


"Aku tidak berbagi..."


"Kalau begitu aku untukmu. Tak usah memikirkan wanita lain."


Sebuah cium*an kecil menyasarku, meningkatkan irama jantungku, aku sangat belum terbiasa dengan sentu*han kekasih iblisku ini. Pelukan dan ciu*man ini rasanya mendebarkan.



Kaus putih pendek itu memperlihatkan tato di tangannya. Sekarang aku bisa memyen*tuhnya lengannya, dia memperhatikanku menyentu*hnya.


"Kenapa kau berb*ulu sekali." Dia tersenyum, tanpa disangka-sangka, dia membuka t-shirtnya. Menampakkan keseluruhan kulitnya padaku, d*adanya yang luar biasa terpampang di depanku. Iblis ini pahatan tubuhnya luar biasa. Dia membawa tanganku ke dad*anya, dada yang pernah kusentuh sebelum secara tak sengaja itu.


"Kau ingin melihatku? Sentuh aku sesukamu ... Aku milikmu." Matanya meneliti reaksiku, menikmati gerak-gerikku yang tak siap dengan pemandangan luar biasa yang kulihat itu. Perut berlekuk, da*da berotot dan tulang selangka yang tersembunyi itu hampir membuatku lepas kendali. Kudorong dadanya ke belakang dan membuat diriku duduk diatas tubuhnya.


"Penyihir, apa yang akan kau lakukan diatas tub*uhku?"



"Mangagumimu, memuaskan rasa penasaran..." Dia menaruh tangannya diatas kepala, membiarkan tanganku memgelus perutnya yang berlekuk itu, dan dibawah sana sesuatu sudah membesar. Iblis ini sangat percaya diri.


"Kau tak ingin menyentuh lebih ke bawah, apa cocok untukmu..." Dan dia bicara vulg"ar, melihatku hanya bermain di atas.


"Kau tak boleh menyentuhku sebelum ku izinkan, tanganmu tak boleh bergerak." Aku mengatakan itu sambil menciumnya. Dia tersenyum.


"Lakukan apa yang kau mau. Aku milikmu malam ini..."


Aku diatas tubu*hnya, kulitku dingin, tapi dibawah sana sesuatu yang terlalu panas menungguku.


"Tidak adil jika hanya kau yang melihatku." Mendengar perkataannya kutarik t-shirtku sendiri dan semua yang ada, helaian terakhir bena*ng meninggalkan tub*uh kami membuatnya melihatku dengan tajam dan melihatku sebagai mangsa.


"Kau tidak boleh menyentuhku. Kau harus ingat aturannya."


Tubu*h ini membuatku sangat ba*sa*h dibawah sana. Dan dia tahu itu saat aku membiarkan diriku menyentuhnya dan membuat pingg*ulku bergerak mengusapnya dibawah sana.


"Sayang bagaimana biarkan aku membantumu."


"Tidak, kau sudah berjanji..." Dia terpengaruh juga dengan gerakanku, tangannya membuat pinggulku menekan lebih keras. Aku menikmati sentuhan ini setelah sekian lama.


"Ini salah..." Dia membalikku dalam sekejab. "Kau menyiksaku penyihir." Sekarang dia mengambil alih menekanku dengan berat tubuhnya. Itu sesaat sebelum bibi*rnya bekerja di sekujur tubuhku, sementara jari tangannya membuat gerakan ahli yang membuatku menyebut namanya. Dia memang tahu bagaimana membuat persiapan yang sempurna.


"David!" Sesuatu terjadi dibawah sana, bibirnya dengan berani melahapku, membuatku yang belum pernah merasakannya harus mencari pegangan. Tak lama sebuah gelombang menyent*uhku dengan keras. Sen*takan tubu*h dan eran*ganku membuatnya tersenyum puas.


"1-0." Dia menatapku yang terbar*ing lem*as setelah gelombang itu. Tapi tidak sampai disitu. "Akan mudah membuat gol ke dua jika jaraknya tidak jauh." Dan kali ini bagian dari dirinya menguasaiku sepenuhnya. Tanpa ada rasa sakit yang biasa kurasakan. Menyentuhku membuatku mel"enguh dan mencengkram lengannya. Iblis ini tahu apa yang dikatakannya. Karena tak lama dia sudah menyudahi perlawananku sementara dia nampaknya sama sekali jauh dari selesai.


"2-0. Sudah kubilang percaya saja padaku. Bagaimana rasanya?" Aku tak bisa menjawabnya. Luar biasa, Iblis ini memang luar biasa. Dia tahu membuatmu . "Tetap di sana. Aku belum selesai." Dia pergi dan meninggalkanku ke kamar mandi. Dia menyegarkan dirinya sendiri. Dan dia datang dengan sudah sikat gigi, mungkin dia takut aku terganggu merasakan diriku sendiri, tapi dia bersedia melakukannya untukku.


Pelu*kan dan cium*annya menyasarku lagi. Aku menyerah saja padanya. Karena apa yang dilakukannya padaku terlalu menyenangkan.


"Bagaimana yang tadi. Kau menikmatinya? Apa kau menyesal menghabiskan waktu denganku malam ini?"


"Kau hebat." Iblis ini perlu dipuji keahliannya. Dia tersenyum dengan bangga mendengar pujianku. Kakinya membuka kakiku lagi.


"David..." Sesuatu mengelitikku lagi, dan dia memenuhi inti tub*uhku lagi dengan segera.


"Kita sudah resmi kekasih sekarang. Belum, aku belum selesai. Kau perlu disiram cai*ran cinta."


"Kau kekasihku . Denganmu tak perlu penga*man, jika sesuatu terjadi Ibuku malah akan senang."


"Tapi aku tak mau sesuatu terjadi." Banyak yang harus dibicarakan sebelum sampai ke tahap itu.


"Aku tak akan melakukannya diluar sayang, tidak akan ada yang terjadi. Besok kau bisa minum morning pil. Sekarang percayalah padaku untuk mengatur gol ke tiga."


Untuk soal itu dia memang ahlinya.