
Pagi hari...
Aku terbangun dengan malas di akhir pekan ini. Sudah jam delapan tiga puluh. Ini pagi termalasku. Minum air sebentar lalu keluar ke depan. David berada di meja makan dengan laptop terbuka pagi ini.
"Pagi sayang, kau kelihatan masih mengantuk. Mau kubawakan sarapan ke kamar?"
"Tidak ..." Aku duduk sebentar sebelum merasakan perutku bergolak dan aku harus cepat-cepat ke kamar mandi untuk memuntahkan air yang baru saja kuminum.
"Carla? Kau kenapa? Bukankah kau belum makan apa-apa?" Aku tak menjawabnya hanya berkumur dengan air.
"Aku hanya minum tadi."
"Apa itu normal memuntahkan air minum?" Dia melihatku yang kembali duduk dengan khawatir.
"Ini akan membaik nanti siang, pagi adalah bagian terburuknya kata Mom."
"Apa perlu kita ke dokter sekarang, mungkin kita bisa ke rumah sakit besar, pasti ada yang bisa kita mintai saran. Tapi mungkin kita perlu mencari untuk hari ini dulu."
"Aku baik. Ini memang begitu yang harus terjadi. Aku tak selalu muntah, ada yang bahkan tidak bisa makan apapun." Dia masih melihatku dengan wajah khawatirnya.
"Apa kau bisa makan sekarang."
"Entahlah, mungkin sedikit atau mungkin nanti saja." Aku melihat ada strawberry dan kiwi yang asam di kulkas semalam, itu lebih menarik perhatianku dari pada telur dan toast.
Aku menuju kulkas dan mencari satu pak strawberry.
"Kau makan itu? Tidak mau telur dan toast?" Aku menggeleng dengan tidak semangat. "Mau sandwich?" Dia sudah membuatkan toast sekarang dia ingin membuatkan sandwich.
"Tidak. Nanti aku makan sereal dengan buah saja." Aku bisa mentolelir asam dan manis kurasa tapi makanan asin seperti sandwich sama sekali tidak menarik.
"Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja hari ini, pasti ada yang praktek."
"Tidak usah. Kata Mom memang seperti ini. Aku baik-baik saja." Mom banyak cerita yang akan kualami, termasuk muntah walaupun kau baru minum air seperti ini. Jadi aku mengalaminya sekarang dan tidak heran. Tapi kata Mom setiap kehamilan tidak sama, rasanya bisa macam-macam, dari yang kau merasa tidak terlalu terpengaruh, sampai kau merasa kau sedikit deman, nafsu makan menurun sampai intensitas muntah yang tidak sama. Dia mengandung empat anak, jelas dia tahu semuanya.
"Lebih baik kita ke dokter saja bukan?"
"Tidak usah. Mamamu dan Mamaku mau datang hari ini ke rumah. Aku menunggu mereka saja untuk mengobrol, ke dokter Rabu saja, aku punya dokter rekomendasi teman , lagipula aku sudah punya vitamin yang diberikan doktermu. Aku akan coba makan makanan lain nanti siang."
"Lebih baik kita ke dokter saja sekarang. Menurutku dokter lebih tahu apa yang lebih baik."
"Jadi menurutmu Ibuku tidak tahu apa yang dia jalani. Dia melahirkan empat anak. Dokter pria itu belum pernah melahirkan satupun."
"Maksudku mungkin kita bisa mengatasi mualmu. Nanti kutelepon Mom kita harus ke dokter dulu."
 Berisik sekali, semua wanita mengalami mual kenapa harus terlalu khawatir. Nama morning sickness itu sesuai dengan apa yang terjadi. Kecuali aku tak bisa makan apapun sama sekali, itu yang harus ditangani.
"Tidak usah. Nanti hari Selasa saja." Dia melihatku dengan tak puas.
"Bagaimana jika ada apa-apa?"
"Apa benar tak apa memuntahkan air yang kau minum sepagi itu? Itu tidak berbahaya?"
"Tak apa, Mom juga bilang begitu."
"Ke dokter saja. Ku telepon Mom sekarang. Lebih baik ke dokter dulu, Mom masih lama di sini." Dia sekarang mengangkat telepon.
"Kubilang tak usah!" Nada tinggiku membuat dia membatalkan teleponnya.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anakku." Aku langsung terpancing ketika dia mengatakan 'anakku'. Memangnya aku Ibunya tidak dia anggap.
"Anakmu, jadi kau menganggap aku yang membawanya tidak punya peran. Apa kau sangka aku tak memikirkannya." Dia diam. Kenapa pagi ini kami belum apa-apa sudah bertengkar.
"Kau tidak bermaksud seperti itu. Hanya aku juga ingin menjaga kalian."
"Aku tahu apa yang baik dan apa yang perlu kukuatirkan. Kau tidak usah khawatir anakmu akan celaka." Aku masih sengit karena terpengaruh kata 'anakku' tadi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Carla. Maaf tadi aku salah bicara."
"Kau memang bermaksud seperti itu. Kau pikir aku tak perduli padanya. Kau perlu tahu aku tak akan melepas anakku seumur hidupku, walau kau nanti pergi ke wanita lain. Anakku tetap bersamaku." Dia akan lihat apa dia akan bertemu anaknya jika dia berani berkhianat padaku.
"Aku minta maaf untuk kata-kataku yang keterlaluan." Dia duduk mendekatiku dan memegang tanganku. Aku melihatnya dengan perasaan sebal. "Kau suka yang manis. Bagaimana kalau besok nanti kubelikan croissant manis. Mau?" Dia beralih sekarang mencoba berdamai denganku.
"Iya." Aku menjawabnya pendek, masih sebal tapi setidaknya dia minta maaf.
"Mom datang untuk makan siang?" Dia sudah menyerah dengan ide membawaku ke dokter hari ini nampaknya.
"Iya, dia akan datang bersama Ibuku."
"Aku akan makan siang dirumah. Tapi setelah itu aku akan keluar sebentar. Ada yang harus diurus."
"Apa? Ada pertemuan kolega?" Aku mengetes apa dia akan berbagi informasi denganku.
"Iya. Aku akan bertemu kolega."
"Siapa?"
"Teman."
"Siapa nama temanmu?" Dia melihatku. Mungkin dia tak terbiasa dengan pertanyaan apa, kapan, dimana, kenapa. Tapi jika dia ingin kami berdua bersama. Dia harus mengerti kami harus terbuka satu dengan yang lain. "Apa aku tak boleh tahu nama temanmu? Teman wanita berarti?"
"Tentu saja bukan."
"Lalu kenapa kau melihatku seperti itu."
"Caramu bertanya seperti detektif ke tersangka." Aku tertawa.