The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part. 60. Ending



Hi semua, maaf mak baru muncul..


Kenapa? Hmm...kehilangan semangat nulis hehe...bayangkan nulis 2 bulan dibayar dengan harga yang bahkan gak cukup untuk beli pulsa 2 bulan itu. 😭😭😭😭 Sedih kan, kumenangis membayangkan ... yuk nangis sama-sama.


Yah tapi itu aturan di sini. Ya sudah ... Mak terima kenyataan dan berdamai dengan situasi aja. Tadinya mak berharap bisa ngejar kualifikasi itu, krn di aturan level sebelumnya mak selalu bisa dapet level yang max.


Dan mak berharap mungkin bisa... tapi setelah 50 bab mak sadar ternyata yaah tak usah berharap terlalu banyak dan muluk-muluk yah terima saja kenyataan. Proses menerima kenyataannya cukup susah, karena sudah nyaman nulis disini kaya comfort zone- tapi yah akhirnya nyerah juga dan coba jadi realistis dan move on. Kenyataannya bikin nangis darah plus patah hati hahaha ...


 Kesimpulannya untuk sementara hiatus di sini dulu. Gak sanggup dengan aturan seperti sekarang. Itu aja.


Novel ini di diselesaikan dan tidak akan diperpanjang, nanti untuk novel baru Mak akan posting di IG margaretraegis yak dimana kalian bisa temukan . Tenang aja yang gratisan kok hehehe


Itu aja. Makasih sebelumnya yang masih nungguin.


Tanpa kalian pembaca yang lucu-lucu komennya mak gak akan bertahan nyelesain ini.


Thank yaa pembaca semuanya. 🤗🤗🤗 Makasih yang sudah menemani mak bertahun-tahun menyelesaikan puluhan season cerita di sini. Semoga kalian masih berkenan ikut ke sebelah. Mak tunggu absensi kehadirannya.


Maaf ya mak curhat ke kalian. Maaf juga mak lama updatenya karena kemarin badmood.


\=\=\=\=\=\=\=\= back to the story of Iblis dan Penyihir


Kami berbaikan. Tidur di ranjang yang sama lagi. Aku sekali lagi mencoba mempercayai semuanya demi janin yang kukandung ini.


Dan siang ini aku mendapatkan Xavier datang ke apartment kecilku dan berlaku seperti dia akan menghadapi kasus. Dia berpakaian dengan kemeja kerja saat datang di hari libur itu, kupikir dia mau bicara dengan David awalnya.


"Aku akan keluar dulu. Xavier ingin bicara denganmu."


"Ingin bicara denganku?"


"Iya, kau lebih mempercayainya daripada kau mempercayaiku seperti yang kau bilang."


"Itu karena kelakuanmu sendiri." Xavier duduk dengan santai sementara David bersiap pergi.


"Kuberi kau satu jam untuk meyakinkannya."


"Meyakinkan apa?"


"Dia akan bicara padamu. Aku pergi dulu." Tanpa berkata apapun dia pergi keluar apartment. Meninggalkan aku dan Xavier.


"Apa yang dia bicarakan sebenarnya?" Aku bertanya kepada Xavier.


"Duduklah dulu. Kujelaskan padamu. Sebelumnya selamat untuk kehamilanmu. Dia senang sekali kau hamil percayalah padaku."


"Iya, itu satu-satunya jalan aku kembali padanya. Kalau tidak dengan itu dia tidak akan punya kesempatan apapun." Xavier tertawa.


"Kau rasa dia akan berubah Xavier? Apa dia benar-benar tak akan menebar pesona kepada banyak gadis-gadis lagi. Kau tahu sampai sekarang aku belum bisa mempercayainya 100%."


"Dia berusaha berubah. Sebenarnya dia telah banyak berubah. Dulu aku tidak bisa membayangkan dia akan bersedia berkomitmen, tapi sekarang dia sangat berusaha. Ya walaupun dia punya banyak dosa masa lalu, tapi kau tahu dia sangat berusaha. Dan walaupun dia terpeleset lagi dia tahu dia bersalah padamu..."


"Hmm... Entahlah, mungkin kepala bawahnya punya kontrol lebih atas kepala atasnya." Xavier tertawa dan mengangguk, lalu dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.


"Dokumen ini akan membuatnya berpikir berkali-kali untuk melakukan hal seperti itu lagi."


"Dokumen apa?"


"Ini adalah perjanjian pranikah. Dia bersedia membagi 50% kepemilikan apapun untuk kau dan anakmu jika terjadi perselingkuhan karena tindakannya. Tapi ini berlaku untukmu juga." Aku tersenyum menerima kertas itu, sesaat membacanya


"Aku tak perlu pria untuk membuat hidupku bahagia Xavier. Hanya dia yang berpotensi melanggar perjanjian seperti ini."


"Ya aku tahu kemungkinan itu. Tapi aku sebagai kuasa hukum dan temannya, perlu mencantumkan pasal itu."


"Satu hal Xavier, jika dia berselingkuh aku akan membawa anakku pergi dari LA. Aku ingin itu di perjanjian ini, dia akan kehilangan kami. Jadi lain kali dia punya keinginan untuk melanggar komitmen dia akan ingat itu. Yang kedua jika dia melarang akses ke ponselnya itu artinya dia diindikasikan berselingkuh, ya dia bisa saja mempunyai ponsel ke dua, tapi aku perlu bukti dia tetap terbuka padaku."


"Itu saja?"


"Kau punya ketakutan tentang apa yang aku minta bukan?" Aku tertawa, Xavier meringis, walaupun dia datang bicara padaku dengan label teman. Dia tetap kuasa hukum dan sahabat Xavier, ada hal-hal yang pasti dia back-up.


"Xavier, aku tak perduli sebenarnya tentang uang, tapi ya, jika aku sakit hati aku akan membalasnya. Ini semua tentang dia memberiku janji dan melanggarnya. Harusnya jika dia berjanji dia menempatinya, atau tak usah berjanji apapun padaku dan mamaksaku ke dalam sakit hati seperti kemarin."


"Aku tahu."


"Aku sudah menyebutkan padanya, jika dia mengkhianatiku aku akan menyewa pengacara termahal untuk menguras hartanya. Kita akan jadi musuh di saat itu. Dan perjanjian ini harusnya berarti sesuatu bukan." Aku membaca perjanjian yang tidak sepenuhnya kupahami ini.


"Iya, itu pasti berarti sesuatu. Kau boleh membacanya lagi dan bertanya padaku..." Aku melihat lagi kertas itu, jadi David bersedia membuat perjanjian seperti ini untukku dan anakku. Bahasa hukumnya rumit, mungkin di sana ada jebakan khusus yang bisa menyelamatkannya. Aku tidak ingin memikirkan itu, tak ingin bersiap untuk sesuatu yang aku tak ingin terjadi. Apa yang dijanjikan padaku sudah cukup.


"Aku tidak meminta yang lain lagi. Jika dia mengkhianatiku aku hanya meminta pergi dari LA, dia tidak akan melihat aku dan anakku lagi. Aku mau dimasukkan bahwa hak asuh mutlak jatuh padaku."


 "Aku mengerti saat David pulang akan aku bicarakan padanya."


"Kau ada klien di sini atau dia memintamu ke sini untuk membicarakan itu?"


"Tidak aku khusus ke sini untuk membantunya meyakinkanku. Aku sebenarnya bilang padanya untuk melakukannya sendiri. Bagaimanapun ini hal yang harus dibicarakan antara kalian. Tapi kulihat dia nampaknya sudah berhasil mengusahakan sendiri."


"Iya kurang lebih begitu."


"Itu lebih bagus."