The Devil's Lover

The Devil's Lover
Part 54. Devil's Habit



Kami sampai ke rumah. Rumah dalam kondisi bersih dan rapi, bahkan bedsheetku sudah terganti dengan yang baru. Laundry sudah tersusun di tempatnya terlipat dengan rapi dan disetrika.


Aku heran, kapan dia mengerjakan ini.


"Kau mengerjakan semua ini?" Dia tersenyum.


"Tidak, aku hanya membayar seseorang melakukannya." Rupanya begitu, dia membayar housekeeper untuk melakukan perkerjaan di rumah ini.


"Tidak apa bukan. Atau kau ingin aku mengerjakannya sendiri untuk menghukumku?" Aku tertawa.


"Itu ide yang bagus."


"Kau memang kejam penyihir."


"Salahmu sendiri kenapa mengikuti penyihir."


"Karena aku mencintaimu. Jawabannya sederhana." Aku melihatnya, dia bilang dia mencintaiku, tapi dia tidur dengan gadis-gadis istagram itu. Dan membuatku tak mempercayai kata-katanya.


Kata cinta dan tindakan harusnya ada korelasinya bukan? Atau yang kemarin hanya karena obat perangsang seperti yang dikatakannya. Aku menghela napas pendek dan tersenyum kecil sebelum melangkah ke kamarku.


"Aku mau mandi dulu..." Aku mengabaikan kata yang terakhirnya. Mungkin suatu saat aku akan belajar percaya lagi pada kata cintanya tapi sekarang tidak.


Dia tidak mengatakan apapun, dia membiarkan aku masuk kamar dan mandi. Tak lama setelah aku mandi aku mendengar ketukan di pintuku.


"Ada apa?" David berdiri di depan kamarku dengan sebuah kantung obat.


"Aku menghubungi dokter keluarga dan dia meresepkan vitamin ini sebelum kita nanti bisa dapat appointment ke dokter kandungan."


"Ohh baiklah."


"Di kulkas masih ada saladmu. Aku membeli baru, ada banyak makanan yang bisa kau panaskan juga jika kau lapar tengah malam."


"Iya, terima kasih David."


"Apa? Aku tidak..." Dia memotong sebelum aku bicara lebih lanjut.


"Itu tanggung jawabku, tak usah menolaknya. Jika kau butuh aku, aku ada di kamar." Dia berbalik menuju ke kamarnya sendiri meninggalkan aku dengan kantung obat dan kartu di tanganku.


Well, tanggung jawab. Aku sedikit tersenyum ketika melihat jumlah yang dia berikan. Dia tidak pelit itu jelas. Ternyata menyenangkan mendapat bonus begini di rekeningmu.


Seperti dia tidak pelit pada Margie. Astaga aku teringat tas pink itu lagi, padahal itu sudah berlalu lama. Aku harus memikirkan saat yang sekarang. Tak ada gunanya mengingat masa lalu. Berkali-kali aku mencoba mengatakan itu pada diriku sendiri.


Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih pada Ayah anakku itu. Aku beranjak ke pintu kamarnya. Sebuah ketukan pelan membuatnya membukakan pintu.


"Sayang? Kau perlu sesuatu?"


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih." Dia tersenyum.


"Kau ingin ngobrol di dalam?" Aku menaikkan alis mendengarnya, Iblis ini kelakuannya tidak berubah, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Begitu dia mendapatkan setitik cahaya, dia akan menyambarnya. Tidak secapat itu aku memaafkannya dari kisah yang kemarin.


"Tidak. Aku mau tidur." Aku langsung berbalik pergi.


"Sayang, katamu aku baik." Dia masih menawar padaku saat aku sudah melangkahkan kaki ke kamarku.


"Tidak sebaik itu ternyata."


"Apa maksudmu? Jelaskan..." Kututup pintu kamarku sebelum mendengar rayuan tak bermutunya lagi.


Aku benar-benar tidak cocok dengan cara Iblis itu merayu. Tapi apa boleh buat aku sudah terperangkap bersamanya.


Anakku, jika kau lahir kau harus jadi team Mommy untuk memberi pelajaran pada Ayahmu itu.


\=\=\=\=\=\=