
POV Carla.
Aku melihat David di lobby Selasa dua hari kemudian, setalah puas menangis, aku memilih izin sakit yang kuhabiskan dengan jalan-jalan sampai kelelahan untuk mengalihkan pikiranku, aku sudah memastikan kepindahanku akhir tahun ini.
Langitku masih kelabu, aku seperti terbenam ke perasaan yang menyakitkan, jika kemarin aku sering tersenyum sendiri tanpa sebab, sekarang aku bisa menangis sendiri tanpa sebab.
"Kau sakit Carla?" Jannette langsung menyapaku begitu aku masuk.
"Aku sakit..., sakit hati. Jika David Montgomery mau nenemuiku aku tidak ada. Ohh ya kita kembali ke LA bulan depan." Jannette melihatku dengan pandangan tak percaya.
"Maksudmu? Kau putus dengan David? Kenapa?"
"Dia mengkhianatiku dengan gadis-gadis lain. Aku tak mau membicarakannya Jannette, aku dalam tahap ingin melupakannya. Aku memang bodoh mempercayai playboy."
Dia diam menatapku, selama 8 tahun dia menjadi teman dan assistenku kemudian dia tahu betapa aku tak pernah pacaran. Aku tak mempercayai cinta dan lebih nyaman dengan diriku sendiri, sekali aku mempercayainya aku di hancurkan begini. Cukup sekali aku tak mau mencoba lagi rasa sakit ini.
"Ya baiklah. Jika ada apapun kau bisa bicara padaku oke."
"Iya Jan, terima kasih." Aku mencoba fokus dengan pekerjaan untuk melupakan apapun yang telah terjadi. David rupanya tahu diri dia tidak mengganguku di kantor. Tapi dia tetap mengìrimkan sarapan untukku.
Jika kami berpapasan, aku pura-pura tidak melihatnya. Jika kami dalam satu pekerjaan maka aku akan membahas pekerjaan dengan formal dengannya di ruang meeting dan keluar begitu pekerjaan selesai.
Aku tahu selama aku tidak
"Carla...." Satu sore kami berpapasan lift. Mungkin sekitar dua minggu setelah kejadian itu. Kurasa dia sengaja menungguku pulang. Aku akan kembali ke LA dalam dua hari lagi.
"Tuan David." Aku mengangguk padanya.
"Mau makan malam denganku."
Aku tak menjawabnya. Dua hari lagi, aku akan mulai tak melihatnya lagi. Dan pelan-pelan perasaanku akan lebih baik. Dua minggu ini aku melalui hari-hari bagai berjalan diatas dunia yang kelabu, tapi nanti akan ada sedikit warna lagi begitu aku menjauh dan melupakan rasanya.
Lift berbunyi, dia mengikutiku masuk. Aku melihat padanya, hanya kami berdua di lift itu.
"Kenapa kau mengikutiku."
"Aku akan mengikutimu ke LA nanti. Ada sesuatu yang harus kubereskan di NY dulu."
"Jangan repot-repot David. Aku tak akan pernah lagi mempercayaimu. Banyak wanita yang mengejarmu. Kau bisa mendapatkan siapa saja."
"Mereka mengejarku, tapi aku hanya pernah mengejarmu. Aku melakukan kesalahan padamu, aku memang salah, tapi aku tak pernah mengingkari janjiku. Aku tetap pada pilihanku, aku ingin menikahimu. Jadi jika kau membenciku lakukan saja, tapi akan kubuktikan aku akan tetap menempati janjiku padamu."
"Luar biasa..."
"Aku sudah melakukan kesalahan luar biasa. Cara minta maafnya pun harus luar biasa. Mungkin akan memakan waktu, tapi aku akan tetap di sampingmu sampai musim gugur berikutnya dan seterusnya. Itu janji..."
"Kau membuatku tertawa."
"Aku memang lucu sayang." Aku meringis muak.
Dia menganggap aku akan tertipu kata-katanya dua kali. Aku ingin lihat sampai di mana dia bertahan.
"Kalau begitu sampai jumpa kurasa. Tahun baru carilah gadis-gadis untuk menemanimu."
Aku meninggalkannya. Dia berani muncul di LA? Sungguh kesia-siaan karena aku akan membuatnya menunggu bertahun-tahun.
Kita lihat apa dia ada untuk musim gugur di LA.
\=\=\=\=\=\=
Kami melewatkan liburan tahun baru dengan damai. Walaupun dengan perasaaan kesal, marah dan patah hati yang datang silih berganti. Mom yang akhirnya tahu kisah cinta yang hancur setelah beberapa bulan itu hanya tersenyum miris mendengar ceritaku.
"Yah mungkin pria dengan jiwa bebas seperti itu selalu ingin bermain di ladang yang baru."
"Kau benar Mom. Aku merasa begitu bodoh mempercayainya. Dan lucunya dia selalu berkeras itu adalah jebakan. Dia bilang dia mau menyusulku ke LA."
"Benarkah? Dia menyusulmu ke LA?"
"Tenang saja Mom, aku tak akan begitu bodoh mempercayainya lagi." Mom hanya diam mendengar itu, sampai sekarang adegan di video itu masih terbayang-bayang dan membuatku merasa ingin memukulnya setiap bertemu dengannya.
"Apa tidak ada kemungkinan dia menyesal, dia sudah mengikutimu ke LA."
"Dia tidak layak dipercaya Mom, dia mengatakan akan menghabiskan musim gugur setiap tahun bersamaku tapi dia menghabiskan waktunya intuk lima orang gadis itu. Kau harusnya melihat video itu, dia teelihat sangat menimatinya, jika kau melihatnya pendapatmu akan sama Mom"
Ibunya menyerah membuat komentar. Nampaknya dia yakin putrinya ìni lebih tahu apa yang dia rasakan.
Tak lama aku masuk kembali ke kantorku di LA, Los Angeles yang kucintai, penuh sinar matahari dan aku selalu merasa suasanya lebih santai dan menyenangkan daripada NY.
Aku senang kembali ke sini. Suasana kantor LA yang lebih terasa lebih hidup langsung membangkitkan semangatku. Jauh lebih baik daripada NY yang terasa muram. Tapi sayangnya aku harus menghadapi kekeraskepalaan David yang akan menyusulku kemari. Apa dia akan mengambil kantor di LA? Apa dia berganti memegang pantai Barat dengan Vincent?
Memikirkan kemungkinan itu semangatku surut lagi. Aku harus menghadapinya tiap hari lagi. Aku melangkah ke lobby kantor siang itu setengah semangatku hilang.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu." Aku menoleh karena suara itu dekat sekali. Christian Rawley tersenyum padaku dengan manis dan langsung menggandeng tanganku sehingga membuatku hampir terlombat karena kaget, dia memanggilku sayang?! Sebuah kedipan dan remasan keras di tanganku membuatku tahu itu ada permintaannya untukku bekerja sama karena di sampingnya ada seorang gadis cantik melihatku dengan tatapan penyelidik.
"Sayang ada apa?" Aku terpaksa ikut sandiwara ini karena dia memintaku menjadi pacar pura-puranya. Cristian adalah anak salah satu pemegang saham yang bekerja di sini. Walaupun sahamnya jelas tidak sebesar keluarga Dabis.
Tiba-tiba aku melihat cara bagaimana menyelesikan masalah dengan David.
bersambung besok