
Pembaca Mak yang baik hati, mohon bacanya jangan ditumpuk-tumpuk ya, persentase bacanya jadinya jatohππ, penilaiannya hanya 2 hari dari sejak terbit.
*MT tuh ud mangkin pelit, ketat pula aturannya haizzz, mau protes ya percuma, cuma bisa minta kalian bantu bacanya jangan ditumpuk-tumpuk. πππ *
Minta tolong yakk
update tiap hari akan di push ke sistem 6.29 malem mulai hari ini .
Jadi jam 7 malem harusnya udah naik, kasian yang nungguin hehe....
π₯π₯π₯π₯π₯..πΈ...πΈ....πΌ....πΈ...πΈ..π₯π₯π₯π₯π₯
Hari kedua, full satu hari aku bergantian menemani CEO Gabriel Ignazio dan Tuan Juan Ignazio meeting dari pagi sampai sore dengan GM zona kami. Pertemuan besar ini aku menyediakan data dan rasio yang kami analisa dari semua pendapatan, dan biaya selama satu tahun yang lalu sehingga jika ada masalah dan hambatan seharusnya bisa terlihat dan bisa dipikirkan bersama.
Makan siang bersama mereka secara berkelompok, selain itu aku juga kenal dengan Direktur Wilayah Barat, karena ini pertemuan kami kembali sehingga banyak orang yang harus kusapa. Aku bahkan tak sempat menyapa David dari siang sampai petang ini.
Akhirnya malam menjelang dan aku bisa agak santai untuk makan malam. Seorang mengetuk kamarku. Kupikir itu adalah David. Aku mengintip pada lubang pintu dan kutemukan itu memang dia.
Kali ini dia memakai pakaian kemeja pantai yang santai untuk makan malam. Dilihat dari sisi manapun dia tetap Iblis, semua pakaian yang dipilihnya sepertinya tak ada yang tak bagus, seperti yang biasa, walaupun dia memakai singlet dia tetap juara. Lebih bagus tak memakai apapun...
"Sayang, kau siap untuk makan malam?" Panggilan sayang itu entah kapan aku terbiasa.
"Tunggu sebentar. Aku belum berganti pakaian." Aku masih dalam bath rope untuk makan malam.
"Iya tentu."
Aku pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Gaun coktail dengan garis design A-Line berwarna cream dengan bunga besar pink ini cantik, aku baru membelinya, tapi ada masalah yang tak kupikirkan. Aku perlu bantuan untuk menarik resletingnya. Aku tergoda oleh motif indahnya tanpa memikirkan bagaimana cara memakainya tanpa bantuan.
Bantuan satu-satunya ada di depan. Astaga, ...
"David." Tepaksa aku meminta bantuannya.
"Hmm?" Dia melihatku yang keluar dari kamar mandi.
"Apa?"
"Aku minta tolong dengan resletingnya."
"Ohh baiklah." Dia mendatangiku di lemari dengan kaca tinggi, sehingga aku bisa mematut gaunku. Suara resleting ditarik ke atas membuatku lega ini sudah selesai. "Gaun yang cantik, pilihanmu bagus." Dia menatapku dari kaca. "Akan tambah cantik dengan ini."
Aku tak sadar apa yang ingin dilakukannya, sebuah liontin kecil dengan mutiara dan kalung tipis datang padaku tanpa di duga.
"Apa ini." Dia mememakaikannya dan merapikan rambutku dengan gerakan terlatih.
"Hanya hadiah kecil untukmu. Terlihat cocok dengan gaunmu. Kau suka?" Aku harus mengingat dia orang yang royal, hadiah ini salah satunya.
"Kau tak menaruh tagihannya ke kantor bukan?" David langsung tertawa dan membalikku untuk menghadap ke arahnya. Dia membuatku kaget, jantungku langsung berdebar sendiri.
"Kau boleh memeriksa sendiri nanti. Katakan padaku apa kau suka hadiahnya."
"Iya ini bagus. Terima kasih." Jika berdua begini aku tak nyaman, satu pembisik mengatakan lari dari depannya, pembisik lain mengatakan untuk mencabut bulu yang tumbuh lebat di tangannya. Wangi parfumnya tercium lebih wangi, ada wangi top notes yang baru kucium saat ini ada seperti mandarin dsn lavender kurasa, wanginya menyenangkan (top notes: wangi parfum yang tercium pada lima belas menit pertama)
"Jika kau ingin sesuatu kau bisa mengatakannya padaku." Aku tersadar dari wangi menyenangkan yang kucium.
"Tidak. Sekarang tidak ada apapun." Aku menatapnya sebentar lalu mengalihkan pandanganku. Aku ingin pergi dari depannya, jarak 30cm ini terlalu dekat. Dia menahan tanganku, mambuatku kaget lagi ketika telapak tangannya menyentuh kulitku. Aku menjauh selangkah darinya.
"Maaf... " Dia melepas pegangannya, mungkin dia sadar aku tak nyaman dengan pegangan tangannya.
"Tak apa." Aku berkata tak apa, tapi aku mengambil jarak juga darinya. Rasa penasaranku tak cukup untuk membuat aku nyaman dengan sentuhannya. Kali ini dia tak memaksa dia melepasku pergi menjauh ke arah bedku.
"Parfummu apa?"
"Apa?" Mungkin dia tak yakin dia mendengar aku bertanya tentang apa parfumnya.
"Wangi parfummu enak." Dia tersenyum kecil dengan kata-kataku.
"Tampaknya kau hanya menyukai parfumku tapi tidak aku." Itu kata-kata yang sangat benar. Aku hanya tersenyum. "Aku kena karma nampaknya, mempermainkan perasaan wanita dengan mudah, sekarang orang yang kusukai hanya menyukai parfumku."
Aku ingin tertawa mendengar dia mengasihi dirinya sendiri, tapi sedikit tersanjung karena dia mengatakan menyukaiku.
"Itu memang karmamu karena menyukai penyihir sepertiku."
"Tak apa, langkah pertama setidaknya kau menyukai parfumku, itu batu pijakan pertama." Aku meringis mendengar kata-katanya, playboy yang satu ini memang pantang menyerah jika belum mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Apa yang bisa kukatakan, setidaknya aku menyukai semangatmu."
"Jika kita putus, apa kau akan membenciku selamanya. Itu kenapa kau minta kembali ke LA?" Dia sudah bertanya bagaimana jika kami putus, yah mungkin dia sendiri tak yakin pada tekadnya.
"Aku bukan membencimu selamanya. Aku menawarkan perasaanku sendiri. Membenci orang itu melelahkan, walaupun aku istrimu aku tak memilikimu."
"Kenapa begitu..."
"Manusia berubah dari waktu ke waktu, tak ada gunanya terlalu percaya pada manusia. Bukan tak kecewa, tapi manusia selalu mengecewakan, bahkan orang tuamu kadang mengecewakanmu. Jika kita putus kita akan sangat jarang bertemu, mungkin hanya setahun sekali, aku bisa melupakan rasa kecewanya dengan cepat dan meneruskan hidupku. Hanya itu hal yang akan terjadi, sederhana bukan. Jika kau suamiku juga sama, ya mungkin yang terjadi lebih rumit, tapi aku punya pilihan bukan seperti Ibuku, pilihanku jelas aku tak akan hidup dengan orang yang melamggar komitmen... aku harus meneruskan hidupku, aku tak punya energi untuk membenci seorang manusia lain begitu lama. Kebencian akan melukai diriku sendiri lebih dalam..."
Dia diam dengan perkataanku. Aku mendekatinya, menaruh tanganku di dada bidangnya, kali pertama aku menyentuhnya.
"Jangan berjanji apapun denganku David. Berjanjilah dengan dirimu sendiri. Bagiku aturannya cuma satu, kau berkomitmen aku juga sama, kau melanggar komitmen aku juga akan menghilang dalam hidupmu."
Dia mengengam tanganku.
"Aku akan ingat perkataanmu hari ini."
"Wangimu memang enak." Dia terkekeh sekarang.
"Kau boleh memelukku jika kau ingin."
"Tidak. Nanti saja. Aku belum terbiasa denganmu." Mungkin aku perlu terbiasa dengannya, bagaimanapun kami berstatus kekasih, ada saat kami terbiasa bersama dan perasaanku padanya jauh lebih baik dari saat ini. "Tidak apa bukan?"
"Tak apa tentu saja, kita baru dijodohkan Ibu dengan sedikit memaksa."
"Kenapa playboy mesti dijodohkan Ibunya bukankah itu memalukan." Dia tertawa.
"Kau benar ini memalukan. Kau merasa menang aku harus memakai bantuan Ibuku mendapatkanmu?" Aku menatapnya, dia bilang dia mendapatkanku, apa ini hanya soal mendapatkan seorang gadis baginya. Atau aku yang terlalu berperasaan negatif atas semua perkataannya.
"Sebenarnya ini bukan soal mendapatkan seseorang David."
"Lalu...?"
Pertanyaannya membuatku berpikir ni akan menjadi perjalanan yang sulit kurasa. Kurasa aku tak bisa memasang harapan terlalu tinggi. Ini sulit...
"Tak apa aku hanya berharap kita berjalan layaknya teman baik." Mulai saat ini aku hanya akan punya harapan untuk menghilangkan rasa penasaranku. Dengan berpikir begitu aku bisa tersenyum padanya.
"Teman baik itu pasti. Aku baik ke semua temanku, terlebih lagi padamu kekasihku." Perayu ini terlalu pandai memainkan kata-kata. Itu sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Baiklah, ayo pergi." Aku kehilangan minat padanya begitu mendengar kata-katanya.
"Tunggu dulu." Dia menahan tanganku.
"Apa?"
"Apa aku salah bicara padamu?"
"Maksudmu?"
"Kenapa kau ingin pergi, apa makan malam lebih menarik daripada bersamaku." Untuk saat ini itu benar.
"Kita dalam kunjungan kerja. Aku profesional yang harus menjaga sikap di depan kolega, bukan sepertimu pemilik. Jangan samakan posisi kita. Tapi baiklah..."
Hanya untuk menghilangkan rasa penasaran. Aku maju ke depannya, meraih tengkuknya, dan dalam sekejab bibirku meraihnya, ci*uman pertama dalam tujuh tahun ini. Tak butuh lama untukmya menangapi, lengannya dengan kuat memeluk pinggangku dan menarikku mendekat. Rasanya lucu, cium*an normal, tanpa pertukaran penghuni tubuh dan singkat aku menarik diriku.
"Sudah?" Dia membiarkanku menarik diri, tapi aku tetap berada dalam pelukannya.
"Sudah."
"Singkat sekali..."
"Kita baru pacaran kemarin."
"Kau sangat sopan."
"Kau sudah penuh? Perlu bantuanku?" Aku melompat jauh ke depan, jika ini harus dilakukan tanpa perasaan apapun maka ayo lakukan. Aku harus fokus menghilangkan rasa penasarannya, tanpa mengharapkan apapun darinya. Jika tahap ini sudah selesai, barulah tahap berikutnya datang. Lebih cepat ini selesai lebih baik, perasaanku tak terlalu terpengaruh... ini hanya penelapasan dan membunuh rasa penasaran. Mungkin selanjutnya dia akan mulai mencari teman tidur baru...
"Tadi kau mengatakan kita baru pacaran, lalu kau langsung mengatakan ingin membantuku.
"Kau tak suka bantuanku."
"Jelas aku menyukainya."
"Anggap saja aku penasaran. Lepaskan aku, aku perlu menghadiri makan malam. Setelah makan malam kita selesaikan urusan kita." Dia menatapku yang berada dalam pelu*kannya. Entah apa pikirannya aku tak perduli.
"Kau membicarakan ingin tidu*r denganku seperti membicarakan bisnis Carla."
"Ini memang bisnis yang menyenangkan David, bukankan kau bilang kau akan membuatku merasakannya pertama kali." Tentu saja aku membutuhkan keahliannya yang tersohor itu. Lagipula dia memang menarik, pikiranku selalu membayangkan apa yang bisa dilakukan t*ubuh luar biasa itu. Mungkin itu akan membantuku merasakan hal yang belum pernah kurasakan.
"Aku bersedia menunggu jika kau belum siap."
"Aku bukan peraw*an."
Kucium dia sekarang, kali ini aku membuka bi*birku, membiarkan lidahku mengapai bib*irnya, dia menanggapi ciu*manku, otakku harus dikondisikan juga. Ciu*man ini akan membantu, kali ini aku menempel padanya, tanganku menyentuh lengannya yang berb*ulu itu dan merasakan tekstur unik laki-laki ini. Sisi primitif penaklu*kan yang terpancar jelas di tubuhnya.
"Kau ga(gah, kau benar aku berkali-kali membayangkan kau diatasku dan menekanku dibawahmu."
"Kau suka dibawah..." Dia berbisik sambil menci*um rahangku dan terus ke atas telingaku, aku menyukainya.
"Aku suka itu... aku suka melihat bo*kon*gmu yang se*xy ini bekerja keras memua*skanku, kau sudah sangat terlatih bukan." Kuremas bo*kon*g se*xynya itu dengan tanganku dan dia membalas dengan menciu*m bi*birku dan membelitkan lida*hnya padaku.
"Nona penyihir, ternyata kau punya sisi l*iarmu sendiri."
"Tentu saja." Tanganku bergerak lia*r ke depan tubuhnya, merasakan bagian lain dirinya yang sudah terbangun dan bisa kurasakan dari gaunku. Napasnya berubah saat aku merem*asnya dan menatap matanya.
"Kita akan membereskan ini dalam tiga jam ke depan. Kau harus bersabar. Ambillah kartuku saat kau meninggalkan ruangan ini. Datang padaku jam 10.30. Mandilah dulu... Aku suka wangi sa*bu*n mandi."
Dengan kata-kata itu aku berjalan pergi meninggalkannya. Kuambil tasku dan aku keluar pintu dengan kartu cadangan yang ada di tasku.
Ini akan terjadi. Satu langkah yang menyenangkan, dan ini hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Tak ada perasaan apapun terlibat.
Aku tak akan terlalu banyak berharap pada David Montgomery.