
Aku selalu punya teman makan malam sekarang. Itu membuat banyak perbedaan. Teman makan malam manis yang loyal dan tampan. Ditambah aku sering mendapatkan tatapan iri dari pengunjung restoran karena aku mengandeng Iblis ini.
"Apa kau senang jadi pusat perhatian." Kami bertemu untuk makan malam di sebuah restoran dan aku melihatnya berjalan ke meja disaksikan banyak mata yang mengaguminya.
Dia meringis mendengar pertanyaanku.
"Aku sudah terbiasa Nona Penyihir, aku tampan dari kecil. Kau tak usah khawatir, aku tak punya kebiasaan melirik dan langsung melibas sembarangan orang. Aku sudah belajar banyak, aku tahu bagaimana memilih orang, lagipula sekarang kau satu-satunya." Playboy ini memang membawa benih kesombongan dari rahim Ibunya.
Aku tak menanggapi perkataannya. Aku hanya meliriknya dan tersenyum, padanganku kembali le buku menu. Bagiku jika dia setia itu bagus, perkataan adalah perkataan, janji bisa tak ditempati, manusia bisa mengecewakan, akan terlalu riskan berani terlalu berpegang pada kata-kata manusia. Yang bisa membuktikannya adalah waktu.
"Sayang, kau tak percaya kata-kataku?" Aku menaikkan pandanganku dari buku menu.
"Aku percaya."
"Kau tak antusias? Aku hanya mengatakan ini padamu."
"Aku senang kau mengatakannya. Dan aku di sini untukmu sampai kapanpun." Dia mulai bisa tersenyum karena kubalas begitu.
Aku tak mengatakan ini tak menyenangkan, dalam mungkin tiga bulan ini hidupku lebih berwarna, banyak indah terjadi, aku sangat menikmati waktu bersamanya, dia kekasih terbaik, pecinta ulung, kekasih yang royal dan murah hati, hidupku jadi dipenuhi banyak bunga-bunga dan pelangi.
Dan mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.
"Baiklah, kupikir selama ini kau datar-datar saja, Aku berusaha membuatmu terkesan sebenarnya. Tapi nampaknya kau tak pernah tergila-gila padaku seperti wanita lainnya. Aku kadang bertanya apa kau berpikir aku berbohong padamu?"
"Tidak, aku percaya padamu. Apa aku tidak bersamamu sekarang, hidupku dipenuhi warna karenamu. Dan aku merasa bahagia, tak ada alasan untuk tidak merasa bahagia. Dan kau kekasih terbaik. Terima kasih untuk hari-hari ini."
Dia tersenyum padaku dan menggengam tanganku.
"Aku juga bahagia bersamamu."
Walaupun kami bahagia, kami baik-baik saja, semuanya terasa seperti di padang rumput penuh bunga-bunga bermekaran, selalu ada kekhawatiran di hatiku apa ini akan seterusnya begini.
Apa aku siap putus cinta? Kekhawatiran itu membuat ada sebagian dari diriku yang tidak sepenuhnya membiarkan diriku terlalu terlena. Aku tetap bekerja seperti biasa, tidak merencanakan apapun yang luar biasa dalam kepalaku. Bahkan aku belum percaya hubungan ini akan berakhir ke pernikahan. Aku tidak merencanakan apapun di kepalaku.
Rencanaku tetap, pengeluaran, investasi, rencana pensiun masih yang lama. Aku takut memikirkan sesuatu lebih dari itu, takut pikiranku yang terlalu tinggi membawaku jatuh terlalu sakit, walaupun orang tuanya bahkan mendukungku sejak awal aku tak ingin memikirkan apapun selain menjalaninya seperti air mengalir.
Satu hal yang kupikirkan adalah jika aku menikah dengannya harus ada perjanjian tentang biaya pendidikan anakku dan biaya kehidupannya jika kami berpisah. Tidak ada bayangan terlalu indah selain itu.
Musim gugur sudah tiba di NY, yang artinya kami akan merayakan Thanksgivings sebentar lagi, kali pertama aku menghabiskan autumn di NYC.
Jadi sore ini David mengajakku berjalan di Fort Tryon Park di Queens, duduk di sana melihat daun-daun yang berguguran dan berwarna jingga.
Walau di negara bagian California kami juga punya pemandangan foliage (daun berganti warna dan gugur) seperti ini tapi udaranya tak sedingin NY. Aku dan David berpegangan tangan diantara para pengunjung yang lain, duduk dan berjalan di udara NY yang sekarang sudah jatuh di bawah 10°C dan malam biasanya di 5-6°C.
Berjalan di pemandangan ini eperti kau bisa merasakan cinta yang menua dan didewasakan oleh waktu. Beberapa pasangan yang sudah cukup berumur tampak berjalan bersama. Itu pemandangan yang sempurna bagiku, melewati musim demi musim bersama, kadang ada di bawah banyak kesulitan tapi kadang juga seperti hari ini ada banyak waktu yang baik, akhirnya sampai di penghujung hidup merasa sudah nyaman bersama bukankah itu pemandangan yang sangat indah.
"Apa yang kau lihat." David bertanya padaku, saat melihat mataku terfokus pada sesuatu.
"Pasangan tua itu. Mereka nampak sempurna bukan." Dia ikut menatap mereka sekarang.
"Iya, mereka pasangan yang mengagumkan."
Apa mungkin kami akan menjadi seperti itu. Tetap bersama sampai akhir musim. Aku tak tahu, aku mencoba tidak berprasangka buruk. Tapi aku juga tidak bisa bilang aku punya harapan terlalu besar dalam tiga bulan ini. Banyak yang harus di lalui di depan.
Tanganku di genggam oleh David dan dia membuatku melihat padanya.
"Kita akan seperti mereka." Aku memandangnya dengan takjub.
"Benarkah? Kau harus ingat kau yang mengatakan itu sendiri." Apa dia benar berniat untuk mengakhiri petualangannya? Padahal wanita-wanita itu pasti rela membuka kakinya dengan sukarela untuknya walau tak dijanjikan apapun.
"Tentu saja, aku yang mengatakan sendiri." Semoga dia mengingat apa yang dikatakannya hari ini padaku seumur hidupnya. Aku tersenyum padanya.
"Kenapa?"
"Apa yang kenapa?"
"Bukankah suatu keuntungan punya banyak wanita yang bersedia tidur denganmu?"
"Kau sampai sekarang masih tak percaya aku mau bisa berubah bukan?" Aku hanya meringis mendengar kata-katanya. "Aku hanya mulai mengerti apa yang Xavier katakan tentang tak usah membagi dirimu dan waktumu dengan orang yang hanya lewat. Masa seperti itu seharusnya sudah berakhir bagiku. Dia bilang jika manusia itu belajar, maka jika umurnya bertambah maka kebahagiaan akan punya bentuk yang lain. Bukan lagi gadis-gadis tapi ikatan yang lebih dalam. Jika kau masih terjebak dengan gadis-gadis cantik maka hidupmu sia-sia. Aku berpikir itu benar juga..."
Xavier, pengacara perusahaan kami yang merupakan sahabat David. Ternyata Iblis ini punya seorang teman yang cukup bisa membawanya kembali menjadi manusia normal pada umumnya.
"Aku suka temanmu itu, dia punya pengaruh baik padamu."
"Kau menyukainya? Ingat dia sudah menikah." Dia mengetuk keningku, mungkin karena aku bilang aku lebih suka Xavier daripada Iblis ini. Ternyata dia bisa cemburu juga.
"Apa kau cemburu pada temanmu sendiri." Aku menertawakannya sekarang.
"Kau pernah mengatakan kau lebih menyukainya daripada aku." Mungkin teman yang baik itu bisa menyadarkannya dan memberinya inspirasi seperti yang dia bilang.
"Kita selalu punya kesempatan jika sama-sama berusaha. Jadi mari sama-sama berusaha untuk selalu bersama dan berkomitmen satu sama lain." Aku menggengam tangannya dan mengucapkan janji itu.
"Kita akan jalan-jalan melihat musim gugur setiap tahun untuk mengingat janji kita. Aku mencintaimu." Sekarang aku terpaku padanya. Kata-kata aku mencintaimu itu baru sekarang diucapkannya. Setelah mungkin tiga bulan kami bersama.
"Kau tahu apa itu mencintai David Montgomery. Itu kata-kata yang harus kau pertanggungjawabkan."
Perasaan berbahagia ini terlalu indah untuk digambarkan dengan kata-kata. Aku melihat tangannya yang mengengam tanganku.
"Aku akan memegang tanganmu dan kita akan berjalan-jalan setiap musim gugur melihat pemandangan ini."
"Setuju..."
Semoga di tahun-tahun di depan sana, kami bisa melihat musim gugur bersama.
POV Author
Sommer Ray, gadis cantik itu penasaran siapa yang menjadi kekasih David Montgomery. Siapa yang bisa mengalahkannya. Dia bukan dari latar belakang keluarga biasa, setidaknya walau tak sebesar nama Ignazio tapi keluarganya punya reputasi.
Dia bahkan pernah bertemu dengan Ibu David yang mendukung mereka. Walaunpun dia tidak tahi bahwa Ibu David mendukung siapapun yang bisa mengubah David untuk berkeluarga. Hubungan pertemanan singkat mereka setahun yang lalu sangat membekas di hatinya dan dia jatuh cinta kepada pria setampan dewa Narcissus itu.
Jadi dia bertanya pada assisten David untuk mencari keterangan dan mendapatkan kenyataan bahwa dia dikalahkan oleh seorang wanita yang merupakan teman David satu kantor, dengan posisi mereka bisa dikatakan wanita itu adalah pegawainya sendiri walaupun jabatannya adalah direktur keuangan tetap saja wanita itu hanya
Ini tidak bisa diterima bagaimana wanita seperti itu bisa menarik perhatian David. Dia melihat foto wanita itu, tak ada yang istimewa, malah seperti nerd berkacamata, dengan tubuh yang tidak menarik dan wajah biasa, seorang pegawai biasa seperti itu apa yang bisa dibanggakan.
Dia masih tak percaya David begitu lurus, dia melihat daftar pacarnya yang luar biasa itu, gadis-gadis dengan tubuh luar biasa, sampai dia sangat termotivasi menjaga tubuhnya demi bersaing dengan mereka dan sekarang gadis ini dengan tubuh lurus seperti papan cucian. Apa bagusnya!?
Dia masih punya hubungan kerjasama dengan perusahaan David. Akhir tahun ini dia harus ke jaringan hotel mereka di Karibia dan melakukan pemotretan di sana untuk promosi di istagram dan youtube channel nya dengan beberapa media influencers lainnya. Dan promosi itu dilakukan serentak, untuk mendapatkan traffic di liburan akhir tahun dan mereka yang mendapat kontrak itu berkumpul di jaringan hotel untuk review konten. Dan biasa David ada di sana.
Ini kesempatan untuk menghancurkan gadis itu. Dia sudah menghubungi gadis-gadis yang lain mereka juga terkejut David bisa punya kekasih yang tidak pantas bersaing dengan mereka. Mereka sama-sama ingin mendapatkan David di ranjang mereka. Dan mereka membuat persiapan di sana.
Giselle Fox, Joana Crowley, Tara Abrams, Alessandra Reeves, dan Ray Sommer. Lima orang media influencers ini masing-masing punya lebih dari 3 juta pengikut di sosial medianya, mereka hanya punya 1 malam dimana mereka diundang ke sebuah hotel di Puerto Rico, dan keesokan harinya di sebar ke hotel dan resort-resort di kepulauan Karibia untuk membuat konten.
"Kita akan mematahkan hati gadis tak tahu malu itu, kalian bawa yang kubilang, dia akan lihat bagaimana dia harus berbagi David Montgomery dengan kita, jika dia menolak berbagi, dia boleh putus dengan David Montgomery." Sommer Ray yang menjadi otak rencana penjebakan itu mengumpulkan gadis-gadis segera setelah mereka semua sampai.
"Kau benar. Kita akan menjebak David. Aku sudah tak sabar melihat gadis itu menangis berdar*ah-dar*ah, saat kita membuat kekasihnya telanja*ng dan menunggangi kita!" Satu dari lima gadis cantik yang lain membalas.
Rencana yang sudah mereka susun sempurna, itu melibatkan obat perangs*ang, makanan yang menang di susun dengan menu aprosiac, kamera yang merekam dengan jelas apa yang terjadi, kemampuan mereka dalam memanipulasi laki-laki.
David yang datang karena membeli satu lahan baru di Puerto Rico, memamg setiap tahun bertemu dengan gadis-gadis influencer yang dipilih untuk promosi jaringan hotel mereka. Kali ini dia berencana hanya untuk menyapa mereka, tak ada rencana dalam pikirannya untuk berbuat apapun malam itu.
Tapi dengan jebakan di depannya, mustahil dia bisa lolos.
Gadis-gadis itu dikumpulkan di villa resort dan kru mereka dikumpullan di dua bangunan yang punya tiga sampai kamar luas untuk pengarahan teknis. Dan sore ini David rencanannya menyapa mereka.
"Dia bilang akan datang." Seorang gadis melihat ke ponselnya. "Ayo cepat."
Mereka membuat persiapan, makanan, minuman, tapi yang terpenting adalah menahan David di waktu yang cukup untuk mendapatkan obatnya bereaksi.
David datang ke villa dengan kolam renang pribadi itu. Semua orang bersiap, mereka kebanyakan hanya mengenakan baju pantai yang minim, tiga sengaja sedang bermain air di kolam dan tidak akan menyerang David, mereka hanya akan show off beberapa bagian tubuh nanti secara tidak sengaja. Sementara Ray dan seorang gadis bernama Joana akan mengajak David mengobrol sambil makan.
"David,.." David datang dan Joana yang menyapanya. Dia memakai baju terusan putih pendek dengan bunga-bunga kecil yang kelebihan muatan dan kadang menyingkapkan banyak hal dari atas sampai bawah karena angin dengan nakal menyingkapnya.
Gadis-gadis yang bermain di pinggir kolam menyapanya dengan melambaikan tangan tidak bergerak terlalu agresif.
"Kami sudah memesan makanan, ayo temani kami mengobrol sebentar." Joana dan Ray bertugas membuat David nyaman dan minum setidaknya. Mereka menyiapkan mojito yang segar, dan menawarkan David.
David meminum gelas pertamanya karena dia memag agak haus, semua orang tidak luput mengawasi sambil dua gadis yang telah menjadi teman tidur David mengajaknya mengobrol.
Lima belas menit suasana di kolam menjadi panas. Dua gadis beraksi saling berciuman sambil menempelkan diri mereka di kursi pantai, sementara yang lain mengatur kamera merekamnya.
"Apa yang mereka lakukan." David yang tak sadar sudah diperangkap secara halus jelas panas dingin dengan pemandangan di depannya. Tubuhnya berontak seketika.
"Ohh mereka hanya merekam video live On*lyFan*s." Joana dengan santai menanggapi. Sementara dua gadis di depannya membuka lebih banyak lagi. Dan satu gadis membacakan permintaan fans yang berarti ratusan orang itu mengelontorkan dollar tambahan untuk itu. Pekerjaan setengah jam itu bisa saja menghasilkan gaji sebulan untuk orang biasa.
** On*lyFan*s \= streaming live online enak2 wkwkwk (buat yang gak tau) 🤣🤣🤣
"Sh*it!" David masih laki-laki, belum jadi biarawan. Jelas naik dengan cepat . Ray mendekatinya. "Nikmati saja, kau membayar kami lebih banyak dari mereka." Ditariknya David ke posisi lebih dekat untuk melihat apa yang terjadi.
"Dua orang membayar masing-masing 200 untuk melihat kalian saling menggesek. Ehmmm.... 8 orang!"
"Dikabulkan..." Gadis Adegan selanjutnya membuat laki-laki manapun tak akan mampu beranjak. Dengan suara rint*ihan dan show yang luar biasa itu, mangsa sudah masuk ke dalam perangkap.
"Deretan depan penonton berhak mendapatkan pelayanan istimewa." Ray menyisip ke kanan, sedang Joana ke kiri, sesuatu yang sudah siap di bawah sana dielus dengan ahli oleh kuku-kuku berjari lentik itu.
"Sayang, aku selalu suka kau yang luar biasa ini." Ray melakukan sesuatu yang lain. Lebih jauh lagi, dia berjongkok di bawahnya, melepas ikat pinggangnya dan melakukan sesuatu yang bisa kau bayangkan sendiri.
"Sayang, aku bagaimana jika kau selesaikan saja kami. Malam ini kami milikmu, aku sudah sangat merindukanmu."
Untuk laki-laki yang sudah diambang pelepasan, tak mungkin menolak apapun sekarang atau kau akan diingat sebagai pengecut. David Montgomery yang sudah dibius secara halus dan didorong ke dalam jurang kenikmatan itu tak punya pilihan lain selain menyelesaikan tuntutan tubuhnya sendiri.
Semua wanita itu melakukan tugasnya dengan baik, kamera tersembunyi yang sudah di siapkan merekam video terekam dengan sempurna.
David pergi, perasaan bersalah ada di hatinya sudah melanggar janji ke Carla. Tapi tadi nampaknya tak ada yang bisa dia lakukan.
Di sisi lain gadis-gadis itu bersorak saat kepergian David.
"David akan menjadi single lagi. Carla Winston kau pikir siapa kau yang bisa merebut David dari kami!" Dan merekapun tertawa bersama-sama.
Badai akan datang. Dan kali ini badai besar yang akan mencabut kepercayaan Carla kepada David. Sekali playboy tetaplah playboy, kata-kata itu mungkin terdengar benar sekarang...