
"Aku memberimu 50% jika aku melakukannya."
"Àpa?" Sekarang aku berhenti berusaha mencubitnya.
"Perjanjian pranikah itu isinya aku membayarmu 50% dari semua portofolioku jika terjadi perselingkuhan." Aku membelalak sesaat.
"Oh ya?" Aku meringis sekarang, apa dia berani membuat taruhan begitu besar. "50%? Kau serius?"
"Kau bisa tanya sendiri Xavier yang lebih kau percaya daripada aku itu." Aku menatapnya dengan senyum kecil sekarang.
"Kau tidak berpikir aku akan kasihan denganmu bukan, jika kau berani membuat perjanjian seperti itu denganku. Kau berani mengkhianatiku akan kubuat kau membayar setiap sennya. Aku akan menyewa pengacara perceraian paling mahal di US untuk mengurusmu dengan baik."
"Aku tahu kau Penyihir nekat, kau bahkan rela membayar 3000 dollar sia-sia dalam sehari untuk kencan bohongan dengan pria yang kau pikir bisa mengalahkanku itu." Aku meringis, jadi dia menginterogasi pacar bohonganku itu.
"Itu sepadan dengan services yang kudapatkan."
"Service apa maksudmu? Apa cakupan 3000 dollar? Termasuk tidur denganmu juga?" Nadanya langsung meninggi. Sekarang aku memperoleh kesempatan untuk membalasnya lagi.
"Itu deal rahasia." Akhirnya aku bisa sedikit mempermainkannya.
"Sekarang kau keterlaluan. Perjanjian itu harus bekerja sebaliknya juga. Jika kau yang kedapatan selingkuh, aku akan menyuruh Xavier menyita 50% assetmu juga." Aku tertawa, dia cemburu dengan kesepakatan yang tak diketahuinya.
"Deal." Aku menjawabnya dengan ringan. Jelas aku setuju dengan perjanjian adil dan bagaimanapun aku serta anakku mendapat 50%, apa lagi yang aku perlukan.
"Well-well, kita punya deal. Ngomong-ngomong soal pacar sewaanmu itu, kurasa tak mungkin kau memintanya tidur dengannya. Kurasa kau memintanya pura-pura terlihat tidur denganmu bukan?"
"Siapa bilang, kau seenaknya tidur dengan lima orang. Apa kau tak boleh dibalas biar kau tahu rasanya." Dia tertawa kecil sekarang. Nampaknya tak percaya dengan ucapanku. "Apa yang kau tertawakan. Lepas, aku masih marah denganmu." Aku mencoba melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku, tapi dia malah mengetatkan pelukannya. Aku harus menahan dad*anya yang begitu dekat padaku. Sementara bibi*rnya hampir menggapaiku.
"Masalahmu cuma satu Penyihir. Hanya aku yang bisa membuatmu berteria*k pua*s." Dia memandangku dengan seksama dan membuatku menyadari bahwa kami sangat dekat, kehangatan tub*uhnya membuatku ingin membalas pelu*kannya. Rasa menye*ntuh kuli*tnya, bulu lebat yang entah kenapa membuatku ingin merasakan sensasi ketika menye*ntuhnya lagi membuat darahku berd*esir lia*r . "Kau tak merindukanku sayang?"
"Aku membencimu." Aku tetap mendorongnya menjauh tapi dia tidak membiarkan aku menjauh satu inchipun.
"Penyihir cantikku, aku berbuat salah. Aku menyesalinya, mengikuti tu*buhku dan berbuat kesalahan yang sangat menyakitkan untukmu, tapi untukku juga. Maafkan aku, aku sangat merindukanmu." Permohonan untuk berdamai itu diucapkan sambil memelukku, menciu*m leherku, dia tahu aku tak bisa bertahan untuk godaa*n itu. Des*ahan tak sadarku lolos saat dagu dan bi*birnya bekerjasama menyapu kulitku.
"Sayang, suaramu itu bisa membuatku langsung bangun. Kau tidak akan menyiksaku lagi bukan. Aku sudah mengadaikan setengah diriku untuk mendapatkan maaf darimu." Aku mau tak mau tertawa.
Dia melihatku yang sudah tertawa.
"Aku ingin menyentuh tempat anak kita. Kira-kira dia laki-laki atau perempuan?" Tangannya menyentuh peru*tku, walaupun itu masih rata, tapi sesuatu ada di sana sedang berkembang dengan kecepatan menakjubkan.
"Aku ingin perempuan. Dia pasti pintar sepertiku."
"Aku ingin laki-laki, aku bisa mengajaknya memonton pertandingan Lakers." Aku tersenyum sekarang. "Tapi jìka perempuan juga tak apa, dia pasti bisa mengalahkan siapapun seperti Ibunya."
"Tentu saja, dia akan mengalahkan semua orang. Jika dia pria, kau akan bertanggung jawab jika dia jadi berandalan sepertimu."
"Apa yang bisa kulakukan sayang. Anakku memang terlalu tampan, dia akan mengikuti jejak Ayahnya nanti. Tapi ada saatnya dia akan sadar dan memilih satu wanita saja."
"Aku sudah tahu kau akan menjawab begitu." Aku mencubit perutnya sehingga membuatnya meminta ampun lagi. "Dia tidak akan sepertiku. Karena dia punya Ibu yang luar biasa yang membuatnya mengerti bagaimana menghargai wanita. Dan jika dia perempuan maka dia akan tahu mana pria yang baik karena dia melihat bagaimana Ayahnya menyayangi Ibunya." Aku tersentuh dengan kata-katanya sekarang.
"Aku berusaha tidak mengecewakan anak-anakku. Sudah kubilang aku tidak ingin membuat anakku melewati hal yang sama denganku "
"Kalau begitu mungkin kau perlu ganti nama dari Iblis ke Daddy."
"Dan dari penyihir ke Mommy." Kami sama-sama tertawa sekarang. Baiklah, aku memutuskan untuk berusaha percaya padanya untuk kali ini lagi.
"Aku merindukan memelukmu lagi Penyihir..." Dia mulai menciumku lagi, kali ini aku membiarkan diriku menanggapinya. Membalas ciumannya dengan rasa rindu yang sama besarnya.
"Sayang, malam ini aku tidur di kamarmu." Dia tidak menunggu untuk mengangkatku ke kamarku.
"Kau membuat ranja*ngku sempit." Dia tertawa dan menurunkanku dengan lembut. Tapi setelahnya dia menyerbuku dengan ciu*man panjang sambil tangannya bekerja membersihkan penghalang yang ada di tubuh*ku.
Aku menyerah dengan cepat, sudah ba*sah dari tadi.
"Tubuhmu sudah mengenalku, kau sudah sangat basah."
"Kenapa kau banyak sekali membuat komentar."
"Aku perayu ulung. Kau mungkin lupa itu." Aku setengah tertawa menanggapinya. "Baiklah, aku langsung saja, ini sudah mau meledak dari tadi." Melihat perut kokohnya diatasku dan merasakan sesuatu masuk dengan perlahan membuatku tak bisa mengendalikan diriku.
"Ehm...aku ingin datang." Dia mempunyai kemampuan menemukan sudut yang tepat. Entah bagaimana dia melakukannya jelas aku naik dengan cepat walau dia melakukannya dengan perlahan. Jam terbang nampaknya sangat berpengaruh dengan kemampuannya mengira-ngira posisi ini.
"Sayang aku tak akan bertahan lama, sial kenapa bisa membuah*imu itu menyenangkan sekali. Kau mau tambahan anak lagi berapa sayang."
"Kau sangat berisik." Aku sedang konsentrasi tapi dia sangat berisik. Mana mungkin aku memikirkan mau tambahan anak berapa.
"Fu*ck Carla, jangan mencen*gkramku seperti itu. Aku akan keluar. Fuc*k..." Dia menjadi lebih besar, aku langsung terpacu dan menekankan ping*gulnya padaku.
"David, ...." Kali ini dengan cepat aku melengkungkan pungg*ungku. Bersamaan dengan dia menekan lebih dalam dan tubuhn*ya tersent*ak, rasanya banyak sekali. Mungkin seperti yang dia bilang depositnya sudah penuh.
Kami saling memandang satu sama lain. Dengan gelanyar kepuasan masih berjalan di tubuhku. Itu sesi yang sangat menyenangkan setelah sekian lama.
"Banyak sekali." Di bawah terasa sesuatu yang keluar dan hangat.
"Banyak, karena kau menghukumku lama sekali. Tapi tak apa ada satu yang sudah menetap padamu."
"Daddy sangat bangga dengan hasil usahanya rupanya."
"Tentu saja, berkat dia aku punya kesempatan lagi. Jika tak ada dia kesempatanku hampir kurang dari 1%. Tapi dia membuatnya menjadi 100%. Xavier bilang aku selamat jadi penghuni panti jompo karena dia."
Aku mau tak mau tertawa keras. Temannya itu nampaknya sangat tepat.
Dan malam ini kami memulai lembaran baru. Kuharap dia tidak akan mengecewakanku lagi. Karena sekali lagi dia mengecewakanku bayarannya adalah setengah dari dirinya.
Dan aku serius akan menuntut setiap sennya.